
Jay kasihan pada Kevin mendapat cobaan bertubi-tubi. Jay bukannya tak takut kalau penyakit trauma Kevin muncul secara mendadak. Pukulan batin terusan menerpa laki muda ini. Apa dia sanggup menanggung semua derita ini sendirian. Gina terkapar di ruang ICU sekarang ditambah pula papanya sakit. Tidak pusing namun cukup bikin puyeng.
Kevin terpaksa pergi ke bagian administrasi untuk lapor kalau papanya ada di ruang tindakan menunggu dirawat. Rumah sakit ini lebih pentingkan prosedur berobat ke rumah sakit ketimbang urus orang sakit dulu. Harusnya pihak rumah sakit lebih peka menangani pasien. Beri penyelamatan dulu barulah pendaftaran.
Kevin tak bisa berbuat banyak selain ikuti peraturan yang telah ditetapkan pihak rumah sakit. Kevin juga tak mungkin persulit para perawat. Mereka hanya pelaksana, peraturan dibuat oleh atasan wajib dipatuhi bila ingin berobat di situ.
Jay dan Gani pasang wajah laki ditinggal mati bini. Muram durja kehilangan gairah. Keduanya bukan kesal disuruh ursu papa Kevin melainkan ngantuk setengah mati. Kesempatan untuk mencuri waktu pejamkan mata sirna sudah. Mereka pasti akan disuruh berangkat ke kantor setelah pulang dari rumah sakit. Kapan lagi bisa tidur bila sudah berada di kantor dengan segudang pekerjaan.
Mata Jay agak memerah menahan serangan ngantuk tak bisa di toleransi. Gani lebih lumayan karena terbiasa bangun subuh. Mata berat namun masih bisa ditahan. Gani kasihan juga pada temannya sehingga menarik Jay duduk di bangku rumah sakit cari tempat strategis untuk pejamkan mata sekejap. Gani pilih paling sudut biar enak sandaran.
Gani mendorong Jay untuk duduk tanpa beritahu laki itu membuatnya hampir terjerembab ke lantai. Tingkah Gani memang agak kasar karena dia sendiri juga ngantuk namun tak bisa ngelak karena yang sakit adalah adiknya. Sesulit apapun dia harus bersabar lalui cobaan ini.
Jay agak kesakitan terbentur sandaran stainless walau tak sesakit rasa ngantuk menggila. Jay merasa sudah tua tak bisa begadang lagi. Dulu mereka sanggup tidak tidur sehari semalam tapi kini zaman keemasan mereka sebagai manusia kalong sudah sirna. Semua hanya tinggal kenangan kosong.
Jay mengelus bahunya yang kena benturan sambil lontarkan tatapan kesal pada si bebek. Jay mengira Gani sedang menambah penderitaannya.
"Kau gila ya? Stress ke rumah sakit jiwa sono. Dipotong jadi santapan ODGJ."
Gani mencibir mengejek tidak iba pada Jay walau tahu laki itu sedang menderita dalam segalanya.
"Mata lhu udah kayak mata vampir. Tidur sono. Gue akan temani kak Kevin lihat kondisi papanya." ujar Gani pasang setelan angkuh seolah dia manusia kuat tahan banting.
Jay mengangguk tanpa peduli Gani itu tulus atau tidak. Dia butuh waktu untuk istirahatkan mata. Hati Jay masih teringat pada tugas yang masih setumpuk di kantor. Ditimpa terus makin menyulitkan dia untuk mengerjakan semua berkas.
Jay memeluk tangan lalu bersandar pada sandaran bangku stainless mencari posisi nyaman untuk bertemu buah hati dalam mimpi. Gani tersenyum tipis senang Jay telah melakukan apa yang dia inginkan.
Sesaat kemudian Gani kembali ke tempat papa Kevin dirawat. Kelihatannya Kevin sudah mendaftar semua data papanya ke bagian administrasi. Lelaki itu kini berdiri mematung dekat ruang IGD menunggu hasil pemeriksaan para dokter yang akan dianut saat penyakit papanya. Gani cukup kasihan kepada Kevin namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan badai yang benar pak Kevin segera berlalu.
Gani berjalan sampai di depan Kevin mengharap lelaki itu mengatakan sesuatu. Sekedar basa-basi juga boleh untuk menghidupkan suasana yang agak kaku.
"Ada kabar kak?" tanya Gani dengan suara perlahan.
"Tadi sudah diambil sampel darah untuk dicek di lab namun kondisinya jauh lebih bagus sekarang. Dia sudah sadar walaupun masih sesak."
"Apa kata dokter Kak?"
"Masih observasi..."
Gani manggut-manggut sok tahu padahal belum ada keputusan mengenai sakitnya papa Kevin. Sebenarnya Kevin sangat malas untuk menjumpai papanya itu namun Kevin juga tidak bisa pura-pura bodoh tidak pedulikan papanya itu. Kevin memang membenci papanya tapi dia tidak sekeras Gina yang membenci papanya sampai ke dalam-dalamnya.
"Maaf!!! Ada yang bernama Kevin? Pasien sudah sadar mau bicara. Kondisinya sudah stabil. Silahkan!" seorang para medis keluar dari ruangan mencari keluarga pasien.
"Aku Kevin..." Kevin maju selangkah. Perawat cowok itu tersenyum ramah mempersilahkan Kevin ikut ke dalam ruangan. Gani melihat sisi lain dari perawat yang satu ini. Yang cowok malah ramah beda dengan yang cewek. Yang tadi wajahnya kaku kayak kena semen beton. Keras tanpa ada perasaan.
__ADS_1
Gani lega masih ada perawat yang ramah. Tak semua kaku dan kasar seperi yang dia temui tadi. Gani membalas senyum perawat ramah itu dengan sopan.
Kevin dan perawat itu segera masuk ke dalam ruang IGD. Gani pilih tinggal di luar tak mau ikut campur urusan keluarga adik iparnya.
Di dalam ruangan Kevin melihat papanya terbaring di atas ranjang warna hijau muda dengan mata sayu. Pak tua itu tampak sangat gelisah takut Kevin mengeluarkan kalimat tak sedap di depan perawat yang juga berdiri di situ.
"Gimana? Sudah enakan?" tanya Kevin duluan sebelum papanya buka mulut. Suara Kevin berkesan datar tak ada emosi.
"Sudah enakan... maafkan papa merepotkan kamu!"
Kevin menghela nafas tak tahu harus jawab apa. Kalau dia keras apa yang akan dipikirkan oleh perawat. Mereka pasti akan vonis Kevin anak durhaka kurang ajar pada orang tua. Mereka kan tak tahu apa-apa tentang keluarga ini.
"Kenapa bisa begini?"
"Papa demam sudah dua hari lalu. Mince dan Luna tak open dan lupa kasih papa makan. Asam lambung papa naik dan mereka usir papa pergi dari rumah. Papa terlalu lemas untuk lawan mereka." kata papa Kevin dengan suara bergetar. Nada suaranya membuat orang iba hati. Perawat yang berada di situ sangat prihatin dengan keadaan papa Kevin.
Dada Kevin terasa sesak dengar penjelasan papanya. Perbuatan Mince sidah keterlaluan tega usir orang yang sedang sakit. Di mana otak dan hati nurani mereka. Saat papanya kaya raya mereka lengket seperti lintah. Giliran jatuh miskin main usir. Papa Kevin sudah petik karma dari perbuatannya pada mantan istri. Kesedihan papanya dituang oleh manusia yang sama yakni Mince.
"Apa surat rumah atas nama dia?"
"Bukan..masih atas nama papa. Mereka dapat bantuan dari Peter untuk usir papa. Katanya papa sudah tak ada guna."
Kevin menahan nafas mendengar nama orang yang terlibat dalam pengusiran ini. Teganya Peter lakukan hal ini pada orang sakit. Seharusnya Kevin sudah bisa menduga kalau dari awal Peter terlibat dalam urusan ini. Banyak hal buruk yang dilakukan oleh Peter untuk merebut kekayaan dia termasuk tidak pantas dia minum.
"Suratnya di mana?"
"Ada sama mereka. Mereka kuasai semua surat tanah dan BPKB mobil. Memang ada beberapa mobil atas nama mereka."
Kevin merasa geram atas laporan papanya. Selama ini papanya sudah piara ular berbisa. Kini ular itu berbalik kepala mematuk papanya dan menyebar bisa.
"Aku akan lapor polisi. Aku akan tuntut mereka lakukan pencurian dan penggelapan aset. Tak usah pikir apapun biar aku yang ambil kembali hartamu. Apa kalian menikah secara resmi?"
Papa Kevin menggeleng, "Hanya nikah siri."
Kalau mereka hanya nikah siri lebih gampang buat Kevin untuk lakukan sedikit kekerasan. Kevin akan buat Mince mendekam di penjara temani Angela yang sudah booking tempat di hotel gratis itu. Mereka yang culas harus rasakan gimana pahitnya jadi narapidana.
"Hari ini juga aku akan lapor polisi. Anda istirahat saja. Aku akan minta bibik datang temani kamu."
Mata orang tua itu berkaca-kaca menahan rasa haru. Papa Kevin ingat perbuatannya di masa lalu terlalu konyol dan bodoh. Semua sudah terlambat karena Kevin terlanjur tak hargai dia. Semua kekayaan Kevin sekarang tak ada hubungan dengannya lagi. Anak itu usaha sendiri sampai segini sukses.
"Hati-hati kamu nak! Selama ini Peter kerjasama dengan Luna untuk hancurkan kamu. Anak Luna itu anak Peter. Mereka sudah hubungan cukup lama. Semua rencana yang dijalankan Peter adalah hasil rancangan Luna."
"Ya Allah... ternyata Peter sejahat itu. Aku akan copot semua jabatan dia di perusahaan lihat apa dia masih bisa sombong." Kevin benar-benar sangat marah pada Peter. Orang yang paling dia percayai ternyata ular berbisa juga. Secara diam-diam menaman racun ke tubuh Kevin perlahan.
__ADS_1
Kini semua kejahatan sekitar Kevin terungkap satu persatu. Kevin sesali mengapa baru sekarang papanya buka cerita. Apa selama ini papanya ikut komplotan Mince dan Luna.
"Papa baru tahu semua ini sewaktu papa terbaring tak berdaya. Mereka mengira papa tidak mendengar makanya berembuk masalah ini dan menceritakan semua rencana jahat mereka. Andai papa cepat tahu takkan biarkan mereka sakiti kamu."
Kevin menarik nafas lega papanya tidak sejahat itu. Tak mungkin juga papanya harap dia hancur tak bersisa.
"Apa rencana mereka?"
Papa Kevin melirik ke arah perawat yang ikut menguping. Sangat tidak etis bicara masalah keluarga di depan perawat yang tugasnya melayani orang sakit. Lirikan papa Kevin menyadarkan perawat itu untuk tahu diri mundur agak menjauh. Apa yang akan disampaikan oleh papa Kevin pasti rahasia tak boleh disebar ke orang lain.
Perawat itu keluar beri kesempatan pada Kevin dan papanya ngobrol. Siapa tahu itu pesan terakhir pasien. Ajal seorang manusia siapa yang tahu. Detik ini bernafas lancar detik selanjutnya bisa saja berhenti total. Maka biarlah mereka ngobrol dari hati ke hati.
Setelah merasa aman barulah papa Kevin menarik badan untuk duduk biar lebih enak bicara. Sesak nafas perlahan memudar bersama Kevin mau layani dia bicara. Perasaan Papa Kevin jauh lebih nyaman saat ini. Semua ini berkat cairan infus yang mulai mengalir ke dalam pembuluh darah pasien.
"Peter akan rebut semua perusahaan kamu. Dia kan manipulasi semua dokumen lalu minta kamu tanda tangan untuk kepentingan proyek. Itu bukan untuk proyek melainkan pengalihan perusahaan."
"Cara basi... perusahaan aku sudah dialihkan ke Gina. Sekarang Gina yang jadi bos. Aku ini hanya pegawai dia. Sejuta tanda tangan aku juga tak laku lagi." Kevin tertawa sinis ingat rencana busuk Peter. Dasar orang tak tahu diri. Sudah diangkat dari tempat sampah belagu pula.
"Syukurlah kalau gitu! Yang penting kamu harus hati-hati. Sekarang papa tak punya apa-apa lagi selain rumah dan beberapa mobil. Ada sebidang tanah dari kakek kamu. Papa akan berikan semua kepadamu. Papa tak butuh semua itu lagi."
Kevin malas bahas soal harta. Kevin punya segalanya untuk apa warisan papanya. Tidak terbersit di hati Kevin untuk terima pemberian dari papanya.
"Nanti kita bicara lagi. Sekarang istirahat saja. Bibik akan datang rawat anda."
Papa Kevin merasa sedih karena Kevin masih enggan memanggilnya papa. Anak itu masih gunakan bahasa resmi ber anda pada papanya. Papa Kevin tak bisa salahkan Kevin bila belum mampu beri kata maaf.
"Kevin...maafkan papa ya!"
Kevin hanya melirik papanya dengan ekor mata belum mau jawab. Jujur Kevin belum bisa buang jauh kenangan buruk masa lalu. Masih terlalu dini ucapkan kata memaafkan. Kevin masih perlu waktu untuk berdamai dengan luka di hati.
"Aku pergi dulu. Jaga kesehatan!" Kevin melangkah pergi untuk urusan lebih besar. Kevin tak bisa biarkan meja dan Luna berbuat semena-mena menguasai seluruh harta papanya. Sebaliknya Kevin ingin mengusir mereka dari rumah yang ditempati oleh papanya itu. Kevin akan membuat mereka tidak mendapat apa-apa selain rasa penyesalan.
Kevin minta perawat agar merawat papanya dengan baik dan memberi ruang yang bagus agar beliau bisa beristirahat dengan tenang. Kevin berani meninggalkan bapaknya karena melihat kondisinya sudah jauh lebih baik.
Gani segera mendekati Kevin karena melihat rona wajah laki itu makin memburuk setelah jumpa papanya. Gani tidak berani bertanya apa-apa kalau Kevin tidak mau bercerita. Gani merasa tidak berhak mencampuri urusan keluarga Kevin. Biarlah Kevin sendiri yang menyelesaikannya dengan cara yang dia inginkan.
"Gan... kau ajak Jay pulang ke rumah berberes dan langsung ke kantor. Kalau Peter data meminta dokumen apapun jangan berikan terutama mengenai proyek yang sedang berjalan di pulau Sumatera. Satu lagi...kau simpan semua stempel perusahaan."
Gani melongo datang-datang Kevin melibatkan nama Peter. Orang itu sudah cukup lama menghilang dari peredaran mata mereka. Mengapa mendadak dilibatkan dalam urusan keluarga.
"Kenapa pak Peter? Dia sedang main luncuran mau masuk jurang?"
"Peter termasuk dalang dari sakitnya aku. Dia pikir aku masih seperti dulu terpaku pada obat yang dia berikan."
__ADS_1
Gani mengepal tinju geram pada kelakuan Peter antar Kevin ke jurang kehancuran. Sia-sia Kevin baik padanya selama ini. Kebaikan Kevin dibalas dengan tuba. Kalau Gani sekuat Gina pasti takkan segan layangkan bogem gratis di mulut manusia keji itu biar tak bisa mengeluarkan kalimat jahat lagi. Jika perlu robek sekalian supaya tak ada suara lagi sama sekali.