JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Bertamu Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Luna bangkit dari kursi menantang Ardi. Luna mana mau menyerah begitu saja kendatipun Ardi bilang sudah ada bukti untuk jerat mereka. Bisa saja itu gertakan kosong untuk jatuhkan mental mereka.


"Enak saja bawa kami. Ada bawa surat perintah dari kantor? Jangan-jangan kalian orang suruhan mau celakai kami!" bentak Luna halau rasa takut dengan sok galak. Luna sedang berjudi dengan nasib. Siapa tahu dia berhasil gertak polisi yang dia anggap gadungan.


Ardi puji nyali Luna lebih gede dari nyali beruang. Nasib buruk sudah diujung tanduk masih teguh tak mau ngaku salah.


Ardi menyodorkan map di atas meja biar dibaca oleh Luna. Menghadapi orang berotak bebal tak perlu tarik urat leher. Capek sendiri. Lebih sodorkan apa yang menjadi keharusan seorang polisi bila hendak menangkap orang.


Luna tetap bergaya angkuh mengambil map itu lalu buka dan baca isi ketikan di atas kertas putih. Semua lengkap tertera stempel dari kantor polisi setempat. Raut wajah Luna berubah gelap namun dia belum mau akui kekalahan. Lain dengan Mince telah mati kutu tak bisa berkotek lagi. Suara ayam betina berkotek hendak bertelor tak diperdengarkan lagi. Ayamnya sudah tak bisa bertelor saking ketakutan.


Sekarang baru takut. Di mana kata takut itu sewaktu lakukan kejahatan. Kalau mereka masih lakukan perlawanan mungkin hukuman akan diperberat yakni menghadang aparat lakukan tugas.


"Gimana nona Luna? Dan lagi kami bawa ketua RT untuk jadi saksi. Lebih baik kalian ikut ke kantor. Di sana kalian bisa bela diri jika perlu bawa pengacara untuk melawan kami. Kalian punya hak bela diri." Ardi berbalik serang Luna.


Luna melemparkan map itu secara kasar tak hormati aparat sedang laksanakan tugas. Luna tidak rela dibawa ke kantor polisi walaupun masih bisa lolos dari jeratan hukum. Sejuta alasan bisa mereka kemukakan untuk bela diri.


"Kami mau jumpa papa. Dia sangat sayang pada kami tak mungkin dia lapor kami. Katakan di mana papa. Ini pasti hanya salah paham." Luna masih ngotot bela diri.


Dapat dibayangkan betapa malunya bila ditangkap oleh pihak kepolisian. Nama baiknya di kalangan sosialita akan segera runtuh bila tersiar dia ditangkap oleh polisi.


"Maaf...untuk saat ini korban masih dalam perawatan akibat dianiaya oleh kalian. Kalian tak usah takut bila tak salah. Apa kita bisa berangkat sekarang?" Ardi bosan bila harus berdebat dengan wanita. Untung pula Mince tak ikut kancah debat. Kalau tidak suasana akan makin riuh. Siapa bisa lawan mulut ember emak-emak.


"Tidak...kami mesti cari pengacara dulu. Kita urus besok saja. Ini sudah malam. Jam istirahat."


Pak RT mulai kuatir akan terjadi pemaksaan. Luna samasekali tidak kooperatif bisa berakibat fatal. Kehadiran polisi tentu saja sudah ada perhitungan apalagi yang datang bukan satu dua orang. Pihak polisi sudah bawa anggota lebih untuk berjaga bila terjadi perlawanan.


"Maaf nona Luna...kukira lebih baik kalian ikut bapak-bapak ini. Kalian belum tentu akan dijadikan tersangka bila bukti tidak cukup untuk menjerat kalian. Yang penting jika benar kalian tidak bersalah maka tidak perlu takut. Cukup menjawab apa yang kalian ketahui." bujuk pak RT menengahi biar cepat selesai.


"Pak RT enak aja omong. Kenapa tidak pak RT saja yang ke sana? Pokoknya kami mau jumpa papa kami dulu. Selanjutnya biar urusan kami. Ini hanya salah paham antara kami dan papa." Luna bersitegang tak mau tunduk perintah.


"Baik...kami akan pertemukan nona dengan pak Ibrahim namun tetap harus di kantor. Pak Ibrahim berada di bawah perlindungan kami maka tak bisa sembarangan ketemu. Gimana? Kita berangkat?" Ardi berusaha sabar.


Mince angkat kepala menatap Ardi ingin tahu apa yang dikatakan oleh polisi itu benar atau tidak. Mince ketar-ketir takut masuk penjara bertanggungjawab semua perbuatannya. Sedikitpun Mince tak terpikir kalau suaminya akan melawan. Dia pikir suaminya sudah hilang daya tak ada orang mau bantu. Mengharap Kevin sudah pasti tak ditanggapi.


"Bisa jumpa suami aku?" lirih Mince hilang sombongnya.


"Pasti jumpa Bu...yang penting kita proses dulu pengakuan ibu dan nona. Belum tentu juga kalian salah jadi kita proses dulu laporan yang masuk dan keterangan ibu. Kami sengaja datang malam untuk menjaga muka kalian. Siang hari pasti jadi tontonan."


Luna tersadar kalau polisi sudah baik hati jaga harga diri mereka. Mengapa otaknya tidak cas berpikir sampai ke situ dibawa siang bolong. Pamornya langsung drop masuk parit campur dengan tinja. Gengsinya sebagai sosialita kandas.


"Ok...tunggu kami ganti baju. Yok ma...ganti baju tercantik!" Luna melengos angkuh masuk ke kamar. Mince meringsut ikuti Luna ke kamar lain untuk berpakaian lebih rapi.

__ADS_1


Keduanya tidak tahu kalau mimpi buruk sedang menghampiri mereka. Langkah mereka akan terhenti di kantor polisi karena semua bukti mengarah kepada mereka. Kini tinggal menangkap Peter untuk dimintai keterangan mengenai perbuatan menganiaya orang tua. Mereka bertiga akan dikumpulkan untuk menyatukan keterangan mengenai perbuatan mereka menggelapkan harta Papa Kevin dan menganiaya orang tua itu.


Tim lain berburu Peter dirumahnya. Mereka harus bergerak cepat tak memberi peluang kepada Peter untuk kabur dari jeratan hukum. Membawa Peter tidak sesulit membawa kedua perempuan yang banyak tingkah. Peter lebih kooperatif mengikuti prosedur karena merasa tak ada guna melawan.


Suara dering telepon membangunkan Kevin yang baru saja tidur karena kelelahan mengayuh sampan berlayar di samudra luas bertaburan cinta. Gina telah lelap setelah bercinta dengan Kevin untuk kedua kali. Yang ini lebih indah karena mereka tak malu lagi. Sudah bisa saling memberi dan menerima. Kevin tak puas-puas mereguk kesegaran tubuh Gina yang masih gres.


Kevin bahagia bisa miliki Gina seutuhnya tanpa ragu. Siapa tahu Tuhan berbaik hati karuniakan keturunan kepadanya. Hidup Kevin takkan kesepian lagi.


Kevin mengangkat ponsel tak mau Gina terusik oleh deringan cukup nyaring. Di keremangan cahaya lampu tidur Kevin melihat layar ponsel tertera nama Peter. Jam digital di ponsel menunjukkan pukul satu dini hari. Mengapa Peter tak punya akal sehat ganggu waktu tidur orang.


"Halo..." Kevin menyapa dengan suara serak.


"Vin...maaf ganggu tengah malam. Aku ditahan di kantor polisi."


"Kok bisa? Kau perkosa anak orang ya? Narkoba?" tebak Kevin di sela ngantuk dan lelah.


"Ngawur kamu...aku dituduh aniaya papa kamu."


Kevin terdiam. Nyatanya Ardi bergerak cepat ciduk komplotan manusia berhati serigala. Sudah dikasih makan tak bisa jinak. Malahan balik menggigit sang majikan. Kevin bersyukur Peter kena batunya.


"Emang kamu lakukan hal itu?"


"Ini jam berapa bro? Besok saja. Kamu di sana tak diapain kan?"


"Ngak sih tapi risih ditahan di kantor polisi."


"Aku ke sana juga tak bisa ngapain. Besok aku akan cari pengacara bebaskan kamu. Itu kalau kau tak bersalah. Maaf bila kau terlibat sama manusia-manusia culas itu! Jujur aku tak bisa bantu bebas."


"Vin...omong apa kamu? Aku ini saudaramu...tega kau lihat aku di penjara?"


"Untuk apa takut bila tak bersalah. Ini bukan soal tega tapi soal kau ikutan atau tidak. Hukum itu punya mata. Dia bisa lihat siapa benar dan salah."


"Bukankah kau benci pada papamu? Untuk apa bela dia? Dari dulu dia juga tak open padamu."


"Aku memang tak suka padanya bukan berarti aku mau dia celaka. Semua kejahatan Tuhan yang balas. Besok kita bicara lagi. Aku mau tidur. Jaga diri." Kevin mematikan ponsel secara total. Kevin. Sudah hafal kalau orang tua Peter bakal telepon ganggu tidurnya. lebih baik menghindar ketimbang terganggu kebahagiaan yang baru dia reguk bersama Gina.


Kevin memandangi wajah Gina dalam tidur. Di saat tidur wajah itu demikian imut tak bikin jantung orang takut bertatapan mata dengannya. Pandangan mata Gina sanggup menembus relung hati bikin nyali duluan menciut.


Kevin membelai wajah cantik Gina perlahan puas punya istri cantik pula sejuta talenta. Cukup satu Gina dalam hidup Kevin. Tak perlu Gina lain yang bikin pusing. Kevin sudah petik pelajaran dari kasus Subrata dan papanya. Tak selamanya selingkuh bawa nikmat. Nikmat sesaat sengsara seumur hidup.


"Aku bersumpah hanya ada satu wanita dalam hidupku yaitu kamu sayang." bisik Kevin walau tak didengar Gina. Sumpah setia seorang laki sejati.

__ADS_1


Kevin kembali berbaring memeluk Gina dari samping. Biarlah Peter rasakan nyamuk di kantor polisi. Ntah pakai senjata Laras panjang atau cukup gunakan pistol todong darah lelaki tak punya hati itu.


Kevin memejamkan mata menyongsong esok cerah bersama wanita kesayangan. Mimpi indah akan hiasi malam hingga fajar menyingsing. Serba indah tanpa awan mendung tutupi cahaya kemilau mentari.


Tak ada kicauan burung bangunkan Gina. Yang ada hanyalah suara adzan dari mesjid membangunkan umat untuk laksanakan sholat pertama di hari ini. Di luar udara masih dingin meski tak sedingin di kutub Utara. Orang yang keluar rumah menuju ke mesjid harus merapatkan pakaian hindari sergapan angin nakal.


Gina menggeliat manja merentangkan tangan melemaskan otot kaku tanpa digerakkan berjam-jam. Wanita ini memutar tubuh kiri kanan sampai dapat posisi nyaman.


Puas lakukan gerakan olahraga terbatas Gina memalingkan wajah ke kiri lihat lelaki pujaan hati masih pulas dalam tidur. Mau bangunkan tak tega lihat betapa nyenyak Kevin tidur namun Gina tak boleh beri hati pada orang malas laksanakan sholat. Gina tak mau Kevin jadi umat murtad tak indahkan panggilan adzan.


Gina mengumpulkan pakaian yang berserakan di lantai kamar gara Kevin tak sabaran bersatu dengannya. Pakaian dilepaskan sembarangan laku terbang sana sini seperti pakaian tak ada harga. Gina tersenyum sendiri kenang memori indah bersama Kevin semalaman. Rasanya Gina mulai jatuh cinta pada Kevin. Pesona Kevin telah mencairkan kebekuan kalbu Gina. Satu cinta untuk seumur hidup.


Adzan tak henti bersahutan memanggil umat untuk datang ke mesjid. Gina cepat-cepat menepis pesona Kevin dengan melengkapi tubuhnya dengan pakaian. Dia harus jadi raja tega mengusik mimpi Kevin. Kalau dimanja dari awal maka selamanya Kevin akan begitu tak indahkan kewajiban umat muslim.


Gina berdiri di samping Kevin mengguncang tubuh tanpa pakaian itu. Ada rasa jengah hinggap di dada melihat laki dewasa tanpa pakaian penutup dada. Bagian bawah masih tertutupi oleh selimut maka mata Gina begitu pedih. Gimana lah kalau Kevin telanjang total di depannya saat ini. Bisa semaput Gina menahan rasa malu.


"Abang...bangun bang!" panggil Gina gunakan nada lembut. Nada yang paling jarang dia gunakan.


Kevin mengintip Gina dengan mata menyipit lantas tutup lagi abaikan sang istri. Ngantuk Kevin belum terbayar maka dia hendak lunaskan sampai puas barulah bersedia bangun.


"Sudah adzan bang! Bangun dan sholat."


"Boleh tidak mandi?" tanya Kevin tanpa buka mata.


"Ishhh... Tak tahu malu! Sudah jadi suami orang harus beri contoh yang baik. Tak bisa jadi imam untuk apa punya keluarga? Kita sudah diikat jadi satu keluarga maka Abang harus tanggung jawab. Yang paling dasar tak bisa Abang penuhi gimana mau bawa bahtera ini berlayar ke tengah laut menantang badai?" Gina beri ceramah gratis bikin kuping Kevin panas. Pagi-pagi sudah kena ceramah. Diabaikan pasti akan muncul semua dalil dan aturan berkeluarga dari A sampai Z.


Betul kata orang kalau cewek itu punya power bisa kalahkan laki dengan tubuh mungil. Bukan pakai tenaga tapi pakai omelan sepanjang rel kereta api. Bahkan rel saja kadang terputus. Ini takkan putus bila tak dituruti.


Kevin menyibak selimut putus asa. Tak guna lawan istri tercinta bila sudah bawa agama dalam ceramah. Seratus persen Kevin akan keok.


Gina menjerit kecil tatkala Kevin keluar dari selimut dengan santai. Tak ada sehelai benangpun menempel di tubuh itu. Mirip bayi baru lahir tanpa dosa. Tak bawa seutas benang.


Kevin tertawa terbahak-bahak senang goda istrinya di pagi buta. Gina masih malu padahal semalam semua sudah jadi miliknya. Tak ada rahasia antara mereka lagi namun kok mendadak sok malu. Apa cewek memang banyak ulah biar dibilang suci.


"Kok malu? Bukankah semalam kamu sudah raba semua?" olok Kevin makin senang goda Gina.


Gina menutup mata dengan telapak tangan jauhi Kevin masuk ke kamar mandi untuk mandi wajib. Ini sudah menjadi keharusan buat semua umat muslim mesti mandi junub bila telah lakukan hubungan intim. Apalagi akan dirikan sholat yang mesti bersih lahir batin.


Kevin tersenyum sendiri tak lanjut goda Gina. Biarlah Gina mandi duluan agar mereka bisa laksanakan sholat jemaah. Kevin masih harus banyak belajar ilmu agama dari Gina. Kevin yakin bisa selama ada keinginan belajar. Menimba ilmu agama tak ada kata terlambat. Yang penting ada niat.


Kevin berbaring lagi sambil menunggu Gina selesai mandi. Kevin bisa saja ikut mandi tapi takut tergoda lagi maka dia pilih menunggu. Sungguh berbahaya mandi bersama di saat masih dalam suasana pengantin baru. Gairahnya tak pernah padam begitu lihat Gina. Gimana dia bisa tahan bila Gina tak memakai pakaian. Tak usah diajar libidonya pasti merangkak ke puncak. Kevin tak jamin bisa menahan diri.

__ADS_1


__ADS_2