
Gina tak keberatan memberi rasa nyaman dan ketenangan kepada lakinya. Terlepas Kevin cari kesempatan atau memang sedang butuh sandaran Gina tak bisa menolak keinginan Kevin. Gadis ini memeluk Kevin erat-erat biarkan laki itu mencari panggilan jiwanya. Kevin tak boleh drop lagi karena kantor butuh dia untuk berkembang lebih maju.
Bibik yang lihat kedua anak muda ini saling menjaga tersentuh hati. Tugasnya sedikit ringan karena sudah ada yang bisa menenangkan Kevin bila sedang terpuruk. Rencana bibik antar minuman terhenti oleh karena kemesraan antara dua anak muda itu. Bibik memutar badan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Mereka pasti lapar. Bibik mengajak keponakannya untuk bantu di dapur agar cepat kelar.
Mai gadis sederhana anak desa berwajah lugu. Mai belum tersentuh polusi pergaulan kota yang penuh huru hara. Dia hanya gadis desa mencari rezeki bersama bibik di kota. Di desa susah cari kerja karena terbatas hanya petani. Maka itu Mai mengadu nasib ke kota.
Kita tinggalkan keluarga Kevin yang baru terbentuk. Kita meninjau ke sudut kota lain melihat kehidupan di salah satu rumah mewah yang sedang terjadi perang mulut di dalam keluarga. Keluarga Mahabarata yang terkenal akan segera runtuh akibat keserakahan Subrata dan Angela serta pola hidup Lucia yang tak tahu gimana manfaatkan uang dengan hemat.
Angela, Subrata dan Lucia duduk di ruang tamu bicarakan masa depan mereka. Kejayaan Mahabarata akan segera pindah tangan. Gina tidak beri toleransi kepada Subrata untuk bagi waktu bayar sisa hutang. Besok Subrata harus rela ditekan oleh Gina yang kejam menurut Angela.
Lucia tidak ambil pusing karena dia sedang bahagia akan segera satu ruang dengan Kevin. Dunia mau kiamat juga bukan urusan dia. Semuanya tak penting buat Lucia selama bisa dekat dengan Kevin. Lucia tak tahu kalau dia sedang perjuangkan suami orang lain.
"Papa...kamu harus bisa tekan Gina untuk serahkan semua kekuasaan kepada kita. Dia anakmu harus patuh kepada kamu. Masak urus satu anak tak becus." Angela berseru dengan semangat juang zaman penjajahan. Angela hanya bisa memaksa tak tahu kalau Gina tak mudah ditaklukkan. Subrata sudah malas melawan anaknya sendiri karen tahu di mata Gina tak ada lelaki bernama Subrata dala keluarga.
Harusnya Subrata malu karena Gina dan Gani besar di tangan lelaki lain serta berhasil didik kedua anak itu menjadi orang hebat. Sedangkan Lucia tak bisa hasilkan apapun selain bikin onar. Bikin kepala Subrata menjadi sakit saja.
Subrata menatap istrinya yang seperti nenek sihir kehilangan ramuan setan. Di mata Subrata istrinya tampak seperti setan yang punya kuku runcing hendak cekik leher dia sampai mati. Angela mendorong Subrata menaklukkan Gina agar patuh padanya. Dasar apa Subrata punya hak meminta Gina serahkan aset berharga milik gadis itu. Subrata sama sekali tidak memiliki kontribusi di dalam hidup Gina. Sungguh tak tahu malu kalau kehendak merampas seluruh milik gadis itu. Apa yang sudah diberikan Subrata kepada Gina dan Gani kalau bukan rasa sakit hati mendalam.
"Aku baru tahu kalau kamu memiliki penyakit jiwa. Kamu pikir kedua anak itu orang bodoh yang bisa kita permainkan? Mereka bukanlah Lucia yang bisa dibodohin dengan mudah? Apa kamu lupa apa yang telah kita lakukan kepada mereka. Kamu pikir mereka akan menyalakan seluruh kekayaan mereka kepada kita? Apa yang ada di otak kamu sungguh luar biasa." kata Subrata pelan namun terdengar mengandung nada putus asa.
"Jadi kau akan biarkan kami hidup dalam kemiskinan? Aku tak mau?" ujar Angela sambil buang muka. Wajahnya sungguh masam mengandung unsur kemarahan mendalam.
"Apa kita punya pilihan lain? Kita hanya perlu hidup sederhana. Kita masih punya aset walau tak sebanyak dulu."
"Apa cukup beli tas Hermes terbaru?" seru Angela berang lupa kalau Subrata sedang hadapi masalah cukup besar.
"Tas kamu sudah cukup banyak... untuk apa beli lagi? Mulai saat ini kita harus hidup berhemat karena pemasukkan kita tidak seperti dulu. Dan lagi saham kita di perusahaan sangatlah minim."
__ADS_1
"Itu yang aku tak mau... apa kata teman-teman arisan aku bila tahu aku tidak bisa membeli tas baru lagi. Sungguh memalukan seorang istri Mahabarata tidak mampu membeli tas baru." Angela makin cemberut karena Subrata tidak sedikitpun mendukungnya.
"Angela... mungkin kamu sudah terlalu lama hidup berada dalam posisi nyaman sehingga melupakan masa lalu kamu. Kamu jangan lupa kalau kamu telah merampas hak anak-anak Sarah! Dan sekarang dengan sangat tidak tahu malu kamu ingin merebut hak mereka lagi. Mungkin aku terlalu bodoh menganggap kamu adalah wanita yang pantas dijadikan teman hidup. Ternyata aku salah besar telah menganggap kamu sebagai wanita yang bisa menemani aku sampai ajal tiba. Sekarang terserah kamu mau bagaimana. Aku tak mungkin mengganggu kehidupan anak-anakku lagi karena aku telah banyak berbuat salah kepada mereka. Sekarang mereka telah sukses menjadi manusia yang berguna maka harusnya aku mendukung mereka bukan menghancurkan mereka seperti yang ada di otak kamu." Subrata makin melihat dengan jelas siapa sesungguhnya wanita yang dia cintai selama ini. Wanita yang diangkat dari masa lalu kelam. Ternyata bukan hanya masa lalunya yang kelam hatinya juga setelah masa lalunya.
"Kenapa kamu pa? Apa kau pikir mereka anggap kamu sebagai papa mereka? Kalau mereka anggap kamu sebagai papa tentu saja akan hormat pada kamu dan serahkan semua aset perusahaan. Gina belum pantas jadi komisaris, papa yang pantas dan aku ibu komisaris. Itu baru namanya punya anak." Angela dengan tak tahu malu masih berharap Subrata terhasut untuk merebut kekuasaan Gina. Mereka bisa gunakan jalan pintas habisin Gina dan Gani maka secara otomatis mereka bisa kuasai harta kekayaan Gina yang sekarang tak terhitung.
"Mama...betapa jahat mama. Harta Gina tak ada hubungan dengan kita. Itu kekayaan dari sebelah mereka. Mereka tidak merebut kekuasaan kita tapi kalau papa memang harus bayar hutang itu memang kewajiban papa. Buang jauh pikiran mama untuk bermain curang. Mama maunya sadar bukan makin tamak. Tuhan sudah beri kita kenikmatan jadi jalani saja. Kalau memang sekarang saatnya kita jatuh ya terima saja. Tak perlu banyak drama. Cia tak setuju kalau mama punya rencana licik. Gimana pun mereka adalah adik Cia." Lucia bangkit melawan sang mama yang dia anggap sudah kelewatan. Sejahatnya Lucia belum terpikir untuk celakai saudara sendiri.
Angela tidak terima telah menambah satu lagi orang menentang kebijakannya. Maunya Angela semua orang tunduk kepadanya karena dia merasa telah menjadi ratu dari dunia ini. Angela sudah terbiasa menjalani kehidupan yang serba mulus karena kekayaan Subrata. Angela tidak terima dimiskinkan oleh Gina.
"Kau gila ya? Apa kau pikir setelah perusahaan dikelola oleh Gina Kamu bisa menggunakan uang dengan sesuka hati? Kemewahan kita akan segera berakhir harusnya kamu merasa prihatin bukannya membela anak-anak gembel itu." seru Angela kesal pada Lucia. Angela menganggap Lucia sebagai pengkhianat keluarga.
Subrata merasa kepalanya pusing mendengar perdebatan antara anak dan istrinya. Kali ini Subrata mendukung Lucia yang lebih mempunyai hati kecil. Sangat jauh beda dengan Angela yang telah berumur tapi hatinya picik.
"Kuingatkan kamu jangan sekali-kali mencoba menyentuh kedua anak itu. Kalau terjadi sesuatu kepada kedua anak itu maka aku tidak akan memaafkan kamu. Seumur hidup aku tidak ingin melihat kamu lagi."
"Baik... papa pikir tanpa papa aku tidak bisa hidup? Aku tetap bisa hidup mewah walaupun tanpa dukungan papa. Papa lihat saja nanti papa akan mengemis dan memohon kepadaku agar tetap berada di samping papa." Angela berdiri dengan angkuh melontarkan tatapan tajam ke arah Subrata.
Subrata bukannya menantang mata Angela malah membuang muka menatap ke arah lain. Subrata sudah terlalu lelah menjalani kehidupan yang penuh dengan kepalsuan walaupun tidur di atas tumpukan dolar. Semua itu bukan miliknya melainkan uang dari perusahaan opanya Gina. Kini mereka menagih hutang otomatis sebagian aset Subrata akan berpindah kembali kepada perusahaan Gina.
Angela masih berdiri menunggu reaksi Subrata apa akan membujuknya untuk tetap berada di rumah atau membiarkannya mencari kesenangan di luar. Lucia tidak ambil peduli dengan omongan ibunya malah dengan santai memeriksa kukunya yang baru saja dicat warna-warni. Subrata sama sekali tidak bergeming malahan berkesan cuek dengan semua ancaman Angela.
Angela menghentakkan kaki di lantai beberapa kali lantas dengan membawa sejuta rasa besar meninggalkan ruang tamu yang mewah itu. Angela ingin memperlihatkan kepada Subrata kalau dia mampu tetap berada di posisi atas walaupun tanpa uang dari Subrata.
Lucia dan Subrata tidak ambil pusing dengan ancaman Angela. Mereka juga sudah terlalu lelah menghadapi wanita yang sangat tamak itu. wanita yang tidak tahu dengan kata syukur. Sudah jelas masa lalunya kelam diangkat dari comberan masih saja berlagu.
Sebenarnya Angela ragu untuk melancarkan aksinya memboikot keluarganya. Tetapi bila Angela tidak melakukan sesuatu maka sebentar lagi segala kemewahannya akan sirna. Apapun caranya Angela harus tetap mempertahankan posisinya sebagai ratu dari Mahabarata.
__ADS_1
Angela pura-pura susun pakaian bikin aksi hendak kabur dari rumah. Mungkin dengan aksi ini Subrata akan luluh dan akan minta Gina serahkan semua aset kembali kepada mereka. Angela tak tahu dengan siapa dia sedang berhadapan. Gina bukanlah wanita muda yang mudah diprovokasi. Gina sudah pernah jalani hidup keras bersama kumpulan preman malah dia yang jadi kepala preman. Angela mungkin belum tahu hal ini.
Angela masih sok hebat mau pergi dari rumah cari kehidupan yang dia idam kan. Subrata pasti akan kaget bila dia mau kabur dan menahannya. Di sini Angela akan menekan Subrata habisan.
Lucia masih berada di rumah tamu sedangkan Subrata sudah hilang ntah ke mana. Rasa jengkel hinggap di hati Angela merasa Subrata sudah tak peduli padanya. Pasti ini semua karena pelet yang telah dia mantra mulai luntur. Subrata telah bermain melawan dia.
"Mau pergi tour ma?" tanya Lucia santai tak anggap mamanya mau kabur. Lucia anggap enteng Angela.
"Mama mau pergi dari sini. Di sini tak ada yang bisa mama harapkan lagi. Kau dan papa kamu sama saja bela orang lain. Mama sakit hati tau ngak?" ujar Angela menyeret koper hendak keluar dari rumah. Mulut bilang mau pergi tapi kaki terasa berat untuk melangkah keluar. Sekali dia pergi maka sulit baginya untuk kembali. Coba kalau Subrata betulan usir dia maka tamatlah hidupnya.
"Tuh mama tahu kata sakit hati! Mama tahu ngak sakit hati Bu Sarah dan anak-anaknya? Kadang Cia malu ingat kelakuan mama terhadap Bu Sarah tapi semua terlanjur. Yang mama harus lakukan adalah sadar dan tobat. Terserah mama saja mau ke mana. Asal mama ingat kalau sekarang teman mama sedang ilfil pada mama yang punya masa lalu kelam. Lucia takkan tahan mama cari jati diri. Mungkin ini lebih baik buat mama renungi semua yang terjadi pada kita. Mungkin inilah yang namanya karma." Lucia mempersilahkan Angela keluar jika memang itu yang terbaik.
"Baik... kalian jangan harap mama mau balik sini sebelum papa kamu ambil kembali perusahaan juga aset Gina. Gina itu anak maka wajib berbakti pada orang tua."
Lucia sedih melihat mamanya demikian egois. Gina tak pernah ganggu mereka tapi mengapa mamanya selalu sirik mau kuasai seluruh hidup orang lain. Dasar apa mereka rebut harta Gina. Tak ada hubungan sedikitpun dengan mereka.
"Orang tua gimana yang harus dibakti? Pada kalian berdua yang telah hancurkan hidup mereka? Sadar ma...kita yang harus malu pada mereka." Lucia menggeleng sangat malu pada mamanya. Beginilah kalau orang hidup dari harta. Imam setipis kertas tisu. Sudah tipis mudah sobek pula.
"Kamu ini anak durhaka bukannya membela Mama melainkan membela orang lain. Mereka itu tak pernah menganggap kamu sebagai kakak untuk apa kamu membela mereka?" bentak Angela marah kepada anaknya.
"Aku tidak peduli mereka menganggap aku sebagai kakak atau tidak. Yang aku bela adalah kebenaran bukan membela darah daging. Aku ini manusia yang masih mempunyai hati nurani."
Angela ingin sekali menampar mulut Lucia agar sadar apa yang dia katakan. Demi membela orang lain dia berani melawannya padahal Angela telah habis-habisan buat Lucia hidup sebagai seorang tuan putri.
"Kau pikir untuk apa mama melakukan semua ini? Mama lakukan semua ini adalah untuk kebaikan kamu. kalau kita mendapat semua asetnya Gina maka kita akan tetap kaya sampai 7 turunan. Tidak perlu memikirkan hidup susah."
Lucia tertawa sinis karena mamanya masih juga memikirkan harta yang bukan hak mereka. Kadang Lucia menyesali mengapa terlahir dari rahim seorang perempuan yang tidak tahu malu. Kalau boleh memilih Lucia juga tidak ingin dilahirkan oleh Angela. Segala sesuatu ada yang ada pada Angela semuanya bernoda hitam.
__ADS_1