
Peter tak banyak omong lagi. Laki ini segera tinggalkan ruangan Kevin untuk bersiap berangkat ke pulau Dewata mengurus hotel yang makin menurun prestasinya. Rencana Kevin berjalan sukses singkirkan Peter sebelum pak Julio datang untuk diskusi soal proyek. Peter tak perlu ikut campur masalah ini. Biarlah pak Julio sendiri yang tentukan akan dibawa ke mana proyek ini. Dana yang berputar sekitar proyek bukan kecil maka Kevin harus hati-hati agar tidak tekor.
Gina seperti Dewi keberuntungan Kevin. Di tangan wanita muda ini semua diperlancar. Kevin mendapat bantuan tangan handal dari mantan preman insaf. Mimpi seribu kali Kevin tak sangka akan dapat bantuan besar dari Gina.
Kevin sangat lega kalau Peter tak rewel memaksa hendak tinggal di kota. Dengan demikian Kevin akan lebih gampang negosiasi dengan pak Julio soal proyek yang bakal mereka kerjakan. Yang pasti akan minus Peter.
Menjelang sore Pak Julio baru datang bersama seorang lelaki muda yang tak kalah keren dari Kevin. Pak Julio sudah ditunggu dari tadi langsung disambut oleh Gina dengan suka cita. Kini mereka bisa mulai tangani proyek besar harapan Kevin untuk meraup untung. Kalau proyek ini sukses maka ke depan nama perusahaan Kevin akan makin dihargai di dunia bisnis.
Pak Julio senang sekali jumpa dengan keponakan tersayang. Pak Julio sangat harap Gina mau gabung di perusahaannya namun Pak Julio juga ngerti kode etik memperkerjakan seseorang tak boleh merebut karyawan perusahaan lain. Pak Julio mau Gina datang secara suka rela.
Kelvin mempersilahkan pak Julio masuk ke ruang kerjanya yang masih kalah jauh dari ruang kerja pak Julio. Aset pak Julio berkali lipat dari aset Kevin namun laki itu tak perlihatkan gaya angkuh. Malahan pak Julio tak segan datang ke kantor Kevin untuk luruskan permasalahan proyek. Dalam aturan harusnya Kevin yang datang pada pak Julio.
Gina, Hadi dan Naruto ikut masuk untuk ikut membahas semua kekurangan dalam proyek ini. Gina menaruh harapan pada Naruto dan Hadi untuk buat gebrakan menerobos kekurangan menjadi satu gambaran baru.
"Well...kuperkenalkan ini Delano! Insinyur kami yang akan kerjasama dengan kalian."
Kevin menyalami Delano dengan sopan. Delano juga membalas salam Kevin tak kalah hangat. Tampaknya Delano orang ramah gampang diajak diskusi. Semoga saja ini awal dari keberhasilan Kevin.
"Silahkan duduk dulu! Tak enak ngobrol sambil berdiri" Kevin mengajak tamunya duduk di sofa untuk hadirkan suasana akrab.
Ketiga pembesar itu duduk di sofa sementara ketiga anak buah Kevin masih mematung menunggu perintah dari majikan. Belum waktunya mereka ikut campur urusan sketsa. Masih menunggu ide dari pak Julio.
"Maaf pak. Mungkin kita ada sedikit perubahan dalam rancangan. Hanya perubahan kecil tak berarti. Mari kuperlihatkan perubahan itu. Ayok Gina! Ambilkan rancangan yang dibuat Naruto!" Kevin meminta Gina yang bergerak.
Gina segera melaksanakan permintaan Kevin tanpa banyak omong. Pak Julio tersenyum senang melihat keponakan dipercayai oleh Kevin. Ini menunjukkan kualitas Gina sebagai seorang asisten kepercayaan bos.
Gina meletakkan gulungan gambar di atas meja lalu mundur ke belakang kembali ke tempat semula. Gina dan kedua rekannya tak ubah seperti manekin bisa bernafas. Mereka bertiga belum ada hak bicara sebelum ada izin dari Kevin.
Delano dan Pak Julio perhatikan gambar baru yang diberikan oleh Kevin dengan teliti. Memang ada sedikit perubahan karena ada ditambah seperti rest area. Lokasi yang dipakai cukup lebar supaya orang kena kendala kerusakan mobil bisa parkir mobil di tempat itu sambil menunggu bantuan. Satu pemikiran cemerlang membuat ada tempat buat orang yang lelah bawa mobil beristirahat di tempat lapang ini.
"Aku setuju tapi gimana penambahan budget? Apa kita ulangi kontrak baru?" Pak Julio setuju rancangan dari Kevin yang lebih menguntungkan mereka. Orang akan tak segan gunakan jalan ini bila fasilitas memadai.
"Tak perlu memperbaharui kontrak. Bapak cukup tambah budget sesuai hati nurani bapak. Berapa saja asal bapak ikhlas!" ujar Gina memotong pembicaraan Pak Julio. Gina merasa hanya buang uang saja membuat kontrak baru. Yang untung para notaris.
Pak Julio tertawa renyah mendengar Gina percaya pak Julio takkan main curang tak mau bayar penambahan biaya pembuatan rest area. Gina memang belum lama kenal pak Julio namun Gina bisa rasakan kalau pak Julio orang bisa dipercaya. Apalagi pak Julio itu adik ibunya. Gina letakkan rasa percaya seratus persen.
"Pak Kevin...gimana dengan usulan Gina? Kita cukup tambah budget atau memang harus buat kontrak baru?"
__ADS_1
Kevin menatap Gina meminta kepastian. Rest area yang bakal dibuat bukan cuma satu tapi cukup banyak. Biaya yang dikeluarkan juga bukan sedikit. Apa mungkin hanya bermodal saling percaya dan ucapan secara lisan menjadi acuan kontrak kerja mereka?
Gina mengangguk membuat Kevin tak bisa menolak. Mau tak mau Kevin ikut angguk setuju. Pak Julio tersenyum puas melihat Kevin pilih percaya padanya. Ini kerja sama ala keluarga namanya. Hanya bermodal kepercayaan saja.
Delano takjub lihat cara kerja Kevin yang tunduk pada asisten. Seberapa hebat asisten kecil ini mampu menundukkan bos besar perusahaan. Gadis ini sungguh menarik perhatian. Wajahnya dingin gambarkan sosok keras hati. Cantik namun sayang tak tampilkan profil manja gadis masa kini.
"Gini saja! Kalian hitung berapa biaya rest area! Dana itu kubayar cash saja! Tidak tercantum kontrak maka kita selesaikan di depan. Bukankah begitu Gina sayang?"
Semua menelan ludah dengar panggilan sayang pak Julio kepada Gina. Mereka belum tahu hubungan Gina dengan Pak Julio maka menduga-duga apa yang terjadi antara kedua orang itu. Gina hanya memberitahu kepada Kupret dan Jay mengenai hubungan dia dengan Pak Julio. Untuk sementara orang di dalam ruangan hanya bisa memberi pandangan negatif terhadap kedua orang ini.
Kevin kesal bukan main mendengar Pak Julio memanggil sayang kepada Gina. Menurut lelaki ini panggilan ini terlalu berlebihan. Masak di kantor orang Pak Julio berani tebar pesona. Kevin kontan beri nilai nol buat pak Julio. Kalau bukan terlanjur teken kontrak rasanya Kevin tak ingin kerja sama lagi dengan laki tak tahu malu macam pak Julio.
"Terserah bapak saja! Yang penting semua akan jalan sesuai yang tercantum dalam rancangan. Kami akan laksanakan semua perjanjian kita hari ini!"
"Ok..gitu saja! Lusa kalian sudah boleh berangkat ke kota M untuk buat persiapan awal. Delano akan ikut rombongan kalian."
"Siap pak!" Gina bersiap sambil beri hormat kepada pak Julio ala militer. Pak Julio tak bisa tahan tawa lihat keponakannya demikian bersemangat memulai debut sebagai kontraktor jalan. Pak Julio belum tahu latar belakang pendidikan maka tak bisa beri tempat pasti pada anak kakaknya itu.
"Bapak pegang janjimu lho! Kami pamitan dulu! Jumpa nanti malam!" Pak Julio dan Delano tak bisa lama di kantor Kevin karena masih ada janji lain.
Hati Kevin tercekat pak Julio mau jumpa Gina di malam ini lagi. Mau apa laki itu ganggu gadis remaja macam Gina. Apa Pak Julio tak sadar Gina bisa jadi anaknya ketimbang jadi pasangan. Usia mereka terpaut sangat jauh. Wajah Kevin berubah murung harus berhadapan dengan orang kuat untuk menyusup ke dalam hidup Gina. Untuk sementara Kevin tak ingin berpaling dari Gina. Satu Gina wakili seluruh wanita di muka bumi. Kevin tak butuh perempuan lain selain Gina si preman cewek.
Pak Julio mengelus kepala Gina selayang mata. Gerakan itu tampak hanya sekedar perhatian pada anak kecil namun itu sangat melukai retina mata Kevin. Mata itu seolah ditusuk jarum pentul. Kecil namun pedih.
Kevin biarkan Gina antar pak Julio dan Delano sampai ke pintu lift. Gina tampak puas dengan hasil diskusi sore ini. Kevin sudah dapat jawaban untuk kesabaran hadapi keculasan Peter. Kevin telah mendapatkan yang lebih baik dari seorang Kevin.
Lewat jam kantor Keenam orang itu tinggalkan kantor dengan kenderaan berbeda. Jay dan Kupret ikut Gina dan Kevin, sedangkan Hadi dan Naruto pulang dan dengan motor mereka. Tujuan mereka sama yakni kampung kesayangan mereka. Untuk sementara Kevin menjadi warga kampung sana sampai keadaan kondusif.
Kevin langsung masuk kamar begitu sampai di rumah. Laki itu ngambek tanpa alasan jelas bikin Gina bingung. Seharusnya Kevin senang proyeknya akan segera dimulai. Pekerjaan besar sedang menanti mereka. Tapi kok malah manyun kayak anak gadis kehilangan pacar.
Gina menyusul Kevin ke kamarnya walau hanya sampai di pintu. Gina mau tahu penyebab Kevin tampak loyo sore ini. Gina takut penyakit Kevin kumat bikin repot orang serumah. Ibunya sedang hamil tak boleh liat keributan dalam rumah. Om Sabri juga takkan izinkan orang berbuat onar bikin mood bumil jadi jelek.
Gina mengetok pintu sebelum masuk ke dalam kamar Gina yang sekarang jadi punya Kevin. Kevin sengaja tak kunci kamar seperti sudah tahu Gina akan datang padanya Kevin seperti peramal kondang mampu baca isi hati Gina. Mampu baca isi hati Gina tapi tak mampu analisa perasaan sendiri terhadap gadis di depannya.
Gina membuka pintu kamar lebar berdiri bersandar pada kusen kayu sambil bersidekap. Mata Gina menatap tajam lihat apa yang sedang dilakukan laki itu dalam kamar. Bersiap pergi mandi atau bertahap cari wangsit sebelum berangkat ke kota M. Kevin duduk di atas ranjang Gian membuang mata ke badan Gina yang berdiri santai di depan pintu. Gaya cool Gina mengusik kelakian Kevin. Kevin merasa dibanting oleh gaya cool Gina.
"Mukanya kok kayak cucian baru diperas?" olok Gina tak tanggung-tanggung buat Kevin mencibir.
__ADS_1
"Aku capek.."
"Mandi dulu pak! Tak baik bawa kotoran masuk ke kamar. Nanti kena virus baru nyaho!"
"Lusa aku akan ikut Delano ke kota M. Hadi dan Naruto ikut ke sana. Kau bisa handel perusahaan?"
"Insyaallah aku akan usaha pak! Tapi setelah bapak pulang dari kota M aku akan istirahat dari kantor. Jay akan gantiin aku jaga bapak!"
Kevin kontan berdiri mendengar Gina berniat resign dari perusahaan. Setan apa hinggap di otak gadis ini sampai tega tinggalkan Kevin di saat laki ini sangat butuh dia.
"Apa maksudmu Gin?"
"Aku ingin bantu ayah di bengkel. Anak buah ayah sudah bapak tarik empat orang. Siapa yang akan bantu ayah di bengkel kalau tak ada montir? Aku tak tega lihat ayah keluar masuk kolong mobil!" ujar Gina dengan wajah serius. Gina tak bercanda dalam hal ini.
Kevin tertegun nyaris lupa kalau dia telah merebut beberapa orang pegawai Om Sabri. Montir inti om Sabri sudah pada pindah ke kantor Kevin lalu siapa yang akan kerjakan pekerjaan kasar masuk kolong mobil? Kevin hanya mementingkan diri sendiri lupa ada yang tersakiti. Gina anak berbakti mana tega biarkan ayahnya bekerja sendirian di bengkel.
"Aku minta maaf lupa kalau mereka semua pegawai ayahmu! Kita bicara dulu sama ayah soal Hadi cs. Kita tanya pendapat ayah dulu ya! Kamu jangan cepat ambil keputusan resign. Aku bisa kasih kamu keringanan waktu bila mesti bantu ayah di bengkel." kata Kevin takut sekali Gina benar-benar resign. Kevin akan kehilangan sandaran paling besar bila Gina pilih keluar demi bantu ayahnya. Kevin belum siap ditinggalkan oleh Gina secara mendadak.
"Iya...bapak pergi mandi dulu! Nanti pak Julio mau datang ke sini!"
"Ngapain dia ke sini?" ketus Kevin tak suka orang kaya itu ikutan datang ke rumah Gina.
"Kenapa tak boleh datang bertamu? Bapak saja boleh nginap di sini masaka pak Julio tak boleh datang! Tak adil namanya!"
"Dia itu sudah berumur nona monster! Punya anak istri lagi... untuk apa datang usik anak kecil macam kamu?"
"Bapak cemburu ya?" olok Gina bikin muka Kevin memerah. Andai Kevin tahu kebenaran pasti akan malu sendiri cemburu pada paman Gina.
Gina masih suka iseng buat Kevin kesal. Biarlah laki itu berpikir sesuka hati apa hubungan pak Julio dan Gina. Sekali-kali sport jantung sangat bagus untuk pelatihan kesehatan jantung. Anggap saja senam jantung.
"Cemburu? Nggaklah! Cuma aku tak suka pak Julio ganggu anak muda macam kamu! Kamu masih muda masih punya banyak waktu pilih calon pendamping hidup. Masih banyak pemuda sehat siap meminang kamu!"
"Meminang dengan bismillah? Bapak juga mau ikut meminang aku?"
Kevin mendelik oleh sikap konyol Gina. Sungguh gadis tak tahu malu berani goda bos.
"Kau mau kupinang?"
__ADS_1
"Nggak...aku masih banyak tugas belum selesai! Takutnya selesai aku sudah nenek peyot. Jadi belum berani pikir soal cinta! Pacaran suka ubah sifat orang. Lupa daratan...yang ada melayang di atas awan mengumpulkan mega-mega berlambang cinta. Keasyikan sampai lupa tujuan utama hidup."
"Ya ampun nona... berumah tangga seiring dengan tugas. Sudah menikah juga masih bisa kerja. Aku mau kok pinang kamu dengan bismillah!" Kevin mulai lancarkan serangan kacaukan pikiran Gina. Jiwa muda Gina masih labil soal cinta. Yang penting Kevin pandai membimbing Gina untuk mengenal cinta tulus.