
"Aku berencana resign dari perusahaan Pak Kevin untuk fokus di bengkel saja!" ujar Gina tiba-tiba melukai hati Kevin. Kevin tak sangka Gina mempunyai pikiran untuk tinggalkan kantornya demi bengkel Om Sabri yang telah kehilangan sebagian anggota.
"Tak boleh nak! Kamu tak boleh habiskan waktumu di bengkel. Ayah tak mau kamu tenggelam dalam tempat tak tepat. Kamu masih muda punya masa depan cerah. Tetaplah kejar mimpimu nak! Ayah tak setuju kamu resign!" Om Sabri menolak permintaan Gina membuat Kevin menarik nafas lega. Dia tak perlu membuka mulut karena ada yang telah mewakili dirinya menolak Gina resign.
"Tapi kita tak bisa membiarkan bengkel mati begitu saja! Bengkel itu adalah tumpuan harapan ayah!"
Om Sabri merasa terharu melihat betapa sayangnya Gina kepada dirinya. Tidak sia-sia dia habiskan waktu puluhan tahun membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Balasan Gina melebihi darah daging sendiri. Anak kandung sendiri belum tentu setia macam Gina.
"Ayah bisa kok nak! Kerja pelan-pelan saja!"
Pak Julio dan Kevin dapat merasakan betapa rumah ini penuh cinta kasih. Mereka saling menyayangi dan saling melindungi demi kebahagiaan orang tersayang. Kevin makin tak ingin keluar dari lingkungan penuh kedamaian ini. Apapun cara dia harus sukses menangkan hati Gina yang ntah terbuat dari apa. Keras sulit diluluhkan.
"Begini saja Gin! Kau boleh kerja part time! Kamu boleh kerja setengah hari seperti dulu bila memang ingin bantu ayah! Kau dan Jay membantuku menyelesaikan pekerjaan kantor." Kevin angkat suara sebelum Gina ambil keputusan total ingin tinggalkan dia kembali ke bengkel.
Om Sabri tersenyum salut pada kebaikan hati Kevin terhadap Gina. Syarat yang diberikan oleh Kevin sudah memenuhi harapan Gina. Dia bisa membantu Om Sabri di bengkel serta bekerja membantu Kevin di kantor. Di mana ada bos sebaik itu lagi? Kalau Gina menolak artinya memang tak ingin bekerja di kantor Kevin. Bengkel hanyalah alasan Gina untuk keluar dari perusahaannya Kevin.
"Terima saja! Mana ada bos sebaik kak Kevin! Jangan keras kepala lagi!" Gani turut bujuk Gina untuk terima tawaran Kevin. Gina hanya diam tak langsung beri reaksi. Tawaran ini memang menggiurkan semua pegawai namun Gina ingin fokus masalah Mahabarata serta ikut lomba design perhiasan tingkat dunia.
Kayaknya Gina harus jujur pada Kevin mengabarkan kalau dia mau ikut kejuaraan lomba perhiasan tingkat dunia. Semoga saja Kevin mendukung dia ikut lomba. Gina tak keberatan bila hasil designnya jadi milik Kevin kelak bila tembus final. Harapan sih mendapat nama namun bila cuma tembus final itu sudah merupakan prestasi buat seorang anak muda macam Gina.
"Gina..coba saja dulu! Kalau kau tak betah masih ada perusahaan kita. Bapak siap tampung kamu bila mau berkarir di tempat bapak!" Pak Julio tak ketinggalan beri semangat agar Gina yang berprestasi tak berakhir di tempat kumuh.
"Iya pak!"
Semua lega Gina telah beri jawaban walau terdengar sangat singkat. Yang paling senang tentu Kevin. Dia nyaris kehilangan tangan kanan sempurna. Untunglah Om Sabri peka tak biarkan Gina habiskan waktu di bengkel. Gina berhak tunjukkan prestasi di bidang sesuai keinginan dia. Bekerja di tempat Kevin sangat sesuai dengan keahlian Gina design perhiasan.
"Nah...sekarang kita bahas hal tak kalah penting dalam sejarah hidup keluarga Mugen. Aku mau adakan acara syukuran kehamilan isteri aku tercinta Sarah. Kita undang anak yatim piatu makan bersama di balai desa. Kalian harus datang ya!" Om Sabri bicara mengarah pada pak Julio selaku kerabat Sarah. Bukan sekedar kerabat melainkan kakak kandung laki itu maka Julio berhak ikut campur urusan Sarah.
"Mana mungkin kami lewatkan! Kita adakan acaranya di hotel saja! Aku yang akan urus semuanya! Kalian tak perlu repot!" Julio kontan tanggap ingin membayar waktu yang terbuang antara dia dan Sarah.
"Jangan di hotel! Anak-anak pasti segan datang! Kita adakan saja di balai desa biar lebih merakyat. Seluruh warga kita undang untuk berdoa buat adik Gani dan Gina. Semoga dia menjadi adik yang baik buat kedua kakaknya."
Pak Julio tak menampik alasan yang dikemukakan oleh Om Sabri. Mereka bukan berpesta melainkan hanya acara syukuran atas kehamilan Sarah. Mereka bukan mencari kemegahan melainkan minta doa dari seluruh warga kampung untuk keselamatan Sarah dan bayinya.
"Baiklah! Aku yang akan atur semuanya. Netti sangat pengalaman bila disuruh urus segala macam pesta dan hajatan. Netti ini mantan WO ternama. Ya kan Netti?"
Isteri Pak Julio mengangguk lembut. Netti ikut senang lihat suaminya punya keluarga selain dirinya. Bisa berbuat sesuatu untuk keluarga suaminya merupakan anugerah tunjukkan bakti sebagai isteri shalihah buat pak Julio.
"Tentukan saja tanggalnya! Dari dekorasi dan hidangan biar aku yang atur!" Netti beri tanggapan positif melegakan pak Julio.
Sarah dan Om Sabri saling berpandangan. Rencana mereka hanyalah acara syukuran kecilan seputar kampung saja. Mengapa berubah menjadi acara besar pakai dekorasi segala. Mau tolak tak enak pada Netti dan Julio yang baru pertama kali memberi sesuatu kepada kakak kandung yang lama tak jumpa.
"Tak usah terlalu mewah dek Netti! Hanya syukuran saja!" tukas Bu Sarah merasa tak enak pada Julio.
"Pasti kak! Aku akan atur yang terbaik!"
__ADS_1
Bu Sarah pilih percaya pada Netti daripada beri kesan menolak niat baik adiknya. Bu Sarah tahu Julio berusaha dekat dengannya untuk mengenal Sarah lebih jauh. Mereka terpisah puluhan tahun jadi masih harus saling mengenal lebih dalam.
Om Sabri kurang suka acaranya diserobot oleh Julio. Harusnya dia yang mengurus semua acara ini. Om Sabri maunya semua biaya keluar dari koceknya karena dia adalah bapak dari sang janin.
Namun untuk hormati niat Julio om Sabri ikutan diam. Biarlah semua ini diatur oleh Julio agar tali saudara tak terguncang hanya karena masalah sepele.
"Gimana kalau kita ke rumah pak RT sekalian perkenalan kalau Sarah punya saudara." usul Om Sabri ajak Julio untuk mulai tampil sebagai wali Bu Sarah.
Julio tentu saja dengan senang hati menerima ajakan Om Sabri. Laki ini tak sabar mau diakui oleh kakak sebagai adik.
"Kalian di sini saja. Biar kami yang jumpa pak RT." Pak Julio bangkit dengan gagah sudah dapat lampu hijau bergabung dalam keluarga kecil om Sabri.
"Aku ikut!" Kevin tak mau ketinggalan di rumah. Dia harus unjuk diri termasuk bagian dari keluarga om Sabri. Sudah dapat sedikit pengakuan akan lebih gampang masuk ke dalam keluarga kecil itu.
Ketiga laki gagah itu segera jalan keluar ke rumah pak RT untuk kabarkan akan buat acara syukuran di kampung ini. Pak RT pasti takkan menolak selama acaranya tidak melanggar hukum. Apalagi ini acara santunan anak yatim-piatu.
Di rumah tinggal Bu Sarah dan kedua anaknya serta Netti. Suasana sedikit canggung setelah yang laki pergi. Netti kurang akrab dengan Sarah maka agak segan lontarkan obrolan. BI Sarah lebih tua dari Netti maka Netti wajib hormati Bu Sarah.
"Kenapa tak ajak adik-adik kemari tante?" Gani mencairkan suasana kaku dengan pertanyaan sangat umum.
"Adik-adik kamu sedang belajar. Jadwal mereka sangat padat! Mereka sudah dipersiapkan dari dini untuk sekolah di luar negeri setelah tamat di tanah air."
Gani manggut-manggut sok tahu setelah dengar penjelasan Netti. Orang tua baik selalu memikirkan masa depan anak jauh hari.
"Aku tak sabar ingin jumpa adik-adik aku. Siapa nama mereka Tante?"
Gani dan Gina tertawa karena waktu itu Gina datang ke rumah pak Julio sebagai Gino. Belum ketahuan dia cewek.
"Apa mereka sudah tahu kak Gino mereka itu seorang cewek?"
Netti mengangguk. "Nabila makin tak sabar karena punya kakak perempuan perkasa. Dia mau seperti kak Gina. Cepatlah datang temui mereka Gina!" pinta Netti berharap Gina respon harapan adik sepupunya.
"Aku akan datang besok. Pasti datang!" Gina beri kepastian membuat Netti tersenyum senang.
"Masak hanya Gina yang ditunggu. Kak Gani tidak laku ya?" Gani agak sedih tak ditunggui oleh kedua anak Julio. Hanya Gina jadi idola anak-anak tanggung itu.
"Hei siapa bilang kak Gani tak ditunggui?? Mereka tak sabar ingin jumpa kalian. Besok mesti hadir ya!"
"Siap Tante..!"
Bu Sarah dan Netti saling lempar senyum damai. Netti tak kalah senang punya keponakan sangat baik dan tahu diri. Mereka tak pernah nyusahin Julio walau pun tahu Julio kaya raya. Jangan meminta sesuatu! Mendekat saja mereka keberatan.
Selanjutnya Bu Sarah dan Netti ngobrol seputar masalah bayi dan kehamilan Bu Sarah. Gani dan Gina sudah tidak tertarik pada obrolan begituan pilih mengundurkan diri masuk ke kamar. Gina masih banyak tugas belum terselesaikan terutama cek kontrak kerja Subrata.
Gina juga harus lanjut design perhiasan untuk dikirim Ke Perancis. Gina akan melakukan yang terbaik agar bisa tampil di ajang bergengsi buat seorang designer perhiasan.
__ADS_1
Tepat jam sepuluh Gina tidur karena itu sudah jadwal tidurnya dari dulu. Bangun pagi bantu ibu di dapur. Kini Gina tak perlu bantu masak karena Bu Sarah sudah pensiun jadi penjaga warung nasi. Kegiatan kelola warung nasi berhenti total.
Gina tak tahu kapan pak Julio pulang. Seusai kerjakan pekerjaan Gina langsung tidur walaupun dia punya kesempatan ramah tamah dengan adik ibunya itu. Gina bukan seperti Gani suka pamer cari muka. Sudah ada muka masih juga cari lagi. Kelebihan duit kali untuk beli maskeran.
Gina terbangun di pagi subuh seperti biasa. Gina sudah terbiasa bangun pagi walaupun tidak ada kegiatan memasak di pagi hari lagi. Suasana rumah sepi senyap tanpa ada kegiatan.
Di luar rumah juga sepi tak ada kegiatan orang. Orang masih senang bergulung dalam selimut di pagi dingin ini. Yang paling senang tentu saja buat yang punya pasangan. Bisa memeluk orang tercinta lebih lama.
Gina si jomblo sejati buka pintu rumah hirup udara pagi sebelum dikotori oleh polusi. Langit masih gelap belum ada tanda-tanda mentari sudah siaga unjuk diri.
Gina mengisi paru-parunya dengan udara bersih karena sebentar lagi udara akan bercampur dengan asap kendaraan.
Tak ada siapapun di luar. Lampu jalan dan lampu teras rumah tetangga masih nyala. Ini menerangi suasana sepi di pagi ini.
Gina ambil sapu mulai membersihkan halaman rumah tak seberapa luas. Kotoran juga tak terlalu banyak karena Bu Sarah tak biarkan kotoran berserakan di rumahnya. Wanita itu duluan bersihkan rumah.
Gina tak menyadari kalau ada orang ikut bangun di pagi buta ini. Orang itu ikuti kegiatan Gina lewat tatapan mata. Rasa kagum makin terpancar di bola mata Kevin terhadap Gina. Gina merupakan wanita sepesial buat Kevin.
"Gin..."
Gina hentikan kegiatan goyang sapu begitu dengar ada yang panggil namanya. Otomatis tubuh Gina memutar menghadap ke pemilik suara.
"Pak Kevin? Kok bangun pagi?"
"Gani sudah bisa panggil aku kakak mengapa kau tak bisa? Kau sengaja jaga jarak dengan aku?" Kevin pindah tubuh keluar rumah lalu duduk di kursi teras.
"Sama saja panggil apa. Tidak nyenyak tidur?"
"Nyenyak...bahkan aku tak konsumsi obat tidur lagi. Aku sangat damai di sini. Kuharap kau tidak kumat usir aku!"
"Emang aku orang stress pakai acara kumat. Sebenarnya bapak ini tak ada sakitnya cuma bapak mau terima lingkungan luar. Tubuh bapak tak terima tempat terasa diancam. Di sini tak ada yang ancam bapak maka Bapak merasa damai. Bapak harus menata diri untuk menerima perubahan." ujar Gina tetap berdiri di tengah halaman teras.
Kevin termenung mendengar ulasan Gina. Semua memang tergantung pada usaha Kevin sendiri. Hanya dia yang bisa kontrol perasaan sendiri. Kevin harus berani lawan rasa trauma pada masa lalu.
"Aku akan usaha asal kamu tak tinggalkan aku. Aku tak berani tanpa kamu." Kevin tak malu akui kalau dia butuh Gina. Terserah Gina mau nilai dia sebagai lelaki pengecut.
"Pak...aku ini bukan siapa-siapa! Semua tergantung kemauan bapak. Kalau bapak merasa aman bersama aku maka aku akan temani bapak melangkah sejauh bapak sanggup."
Jawaban ini yang diharapkan oleh Kevin. Gina tidak meninggalkan dirinya di saat dia masih belum mampu hadapi dunia ini sendirian. Kevin tak menyesal telah beri izin pada Gani pergi nonton show bintang K pop di Korea. Dia mendapat ukuran tangan dari jemari mungil Gina. Gani yang bawa Gina kepada Kevin. Gina telah merubah dunia kelam Kevin mendapat sedikit cahaya.
Perlahan dunia Kevin pasti akan terang benderang mendapat sinar dari cinta sejati. Kevin berharap mendapatkan kekuatan dari Gina.
"Semalam aku sudah transfer uang kamu. Apa kau sudah terima?"
"Aku tak punya e banking dari mana dapat notifikasi?"
__ADS_1
Kevin hampir lupa gadis istimewa di depannya tak punya ponsel pintar. Dia masih betah dengan ponsel jadul tak bisa internetan.
"Aku akan beli ponsel pintar untuk kamu. Kenapa tak mau pakai smartphone? Kau masih muda tapi menutup diri dari teknologi. Kau tak suka berhubungan dengan orang di medsos?"