JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Ungkap Kisah Sedih


__ADS_3

Satpam tersenyum seraya acungkan jempol ke bawah minta Gina masuk ke dalam rumah penuhi panggilan Kevin. Pak satpam senang ada cewek masuk ke rumah untuk membuktikan bahwa Kevin bukan lelaki punya kelainan jiwa suka sesama jenis.


Gina menatap satpam sekilas barulah bergerak masuk ke dalam pintu yang sudah terbuka lebar siap menyambut Gina. Rasa segan pasti ada terbersit di hati. Baru pertama kali datang ke rumah bos saudaranya membawa beban tidak kecil. Kevin sudah janji mau cerita sesuatu walaupun Gina belum tahu apa yang akan disampaikan oleh laki itu.


Kevin sudah duduk di sofa yang pasti mahal warna hitam dari bahan kulit. Gina memang orang miskin namun untuk menilai mana barang bagus mana barang imitasi. Perabotan seluruh ruangan pasti telah jebol kantong Kevin baru tersusun rapi di posisi tersendiri.


Gina tak segera duduk menanti perintah Kevin ijinkan dia duduk atau berdiri seperti patung manekin. Kevin bukannya persilahkan Gina ambil tempat malah menatap gadis itu bikin Gina grogi. Kalau di sekitar itu ada lubang tikus Gina akan kabur ke situ dulu sambil tunggu Kevin buka suara.


Faktanya tak ada lubang tikus bisa dimasuki. Rumah itu terlalu rapi jadi sarang tikus.


"Aku kok salut padamu. Bisanya kamu jadi cowok selama sepuluh hari. Hebat banget kamu sampai aku terkecoh."


"Bukan aku hebat tapi bapak kurang jeli. Masa tak bisa beda suara cewek dan cowok." bantah Gina.


"Kamu dan Gani kan makhluk ampibi. Darat ok air juga ok. Siapa terpikir kalau kamu itu seorang anak gadis." kata Kevin gusar disalahkan Gina kurang teliti.


"Itulah kekurangan Bapak tidak mau berpikir! Kalau Bapak mau berpikir lebih jauh pasti akan menangkap kekurangan aku. Tapi semuanya sudah berlalu dan aku telah melaksanakan tugasku dengan baik." sahut Gina santai merasa tak berdosa telah tipu Kevin.


"Baik? Sekarang aku mau menentukan tanggung jawabmu karena kamu telah berani naik ke tempat tidur aku. Selama ini belum pernah ada perempuan tidur bersama aku selain kamu. Kamu mau mengelak tidak mau bertanggung jawab terhadap aku?" Kevin mulai cari kesalahan Gina supaya anak ini ada rasa bersalah padanya. Kevin mau lihat sampai di mana keluguan Gina terhadap hubungan perempuan dan lelaki.


"Bapak yang salah membawa aku masuk ke dalam kamar bapak! Kenapa pula aku yang harus disalahkan? Seharusnya aku yang rugi diajak tidur oleh seorang lelaki yang tak kukenal. Aku juga belum pernah naik ke tempat tidur lelaki." tukas Gina kurang senang di pojokan terusan oleh Kevin.


"Pokoknya kamu harus bertanggung jawab terhadap aku." Kevin terpaksa gunakan cara kotor untuk bikin Gina bertekuk lutut. Gadis sekasar Gina namun lugu tak bisa diajak bicara dengan baik-baik. Harus ada sedikit syok terapi mental baru gadis ini mau menyerah.


Gina termenung bingung tak tahu harus bagaimana bertanggung jawab pada Kevin. Dalam pikiran Gina cuma ada pergi sejauh mungkin daripada Kevin.


"Lalu tanggung jawab model apa bapak mau? Konferensi pers nyatanya aku yang salah? Atau mengatakan bahwa kita sekamar karena salah paham?"


Kevin ingin sekali buka otak Gina lihat apa isinya. Mau bongkar hubungan mereka sama saja umumkan Kevin pernah sekamar dengan seorang wanita. Orang pasti akan mengejar berita siapa wanita itu.


"Kamu ini orang gila ya? Mau kasih tahu semua orang kita pernah tidur bersama? Nama baik kita berdua akan hancur lebur. Kau tahu apa yang ada di pikiran orang?" bentak Kevin mulai jengkel pada kebodohan Gina.


"Lalu bapak mau gimana? Mau memberi aku sanksi dengan membayar denda? Aku tak punya uang." kata Gina tanpa rem. Kalau sudah cerita masalah uang Gina akan lebih sensitif lagi. Dia sendiri sedang membutuhkan uang mana mungkin dia mau membayar Kevin untuk hal yang tak pernah dia lakukan.


"Kau tak perlu bayar pakai uang. Cukup kita tunangan agar batinku tenang."


Gina merasa kakinya disengat kelabang super raksasa sampai kebas tak terasa lagi. Kevin ini waras tidak? Ajak orang tunangan seperti ajak pergi makan nasi goreng. Lancar tanpa hambatan.


"Pak ..kita ke rumah sakit ya! Takutnya penyakit bapak kumat sampai ngomong ngawur. Yok kuantar ke sana!" Gina segera dekati Kevin mau menarik tangan laki itu untuk diajak periksa kejiwaan. Takutnya Kevin jadi gila terlalu banyak tidur di atas tumpukkan duit.

__ADS_1


"Sembarangan kamu ini! Aku ini lelaki perawan. Tidur dengan wanita tentu saja rugi." jawab Kevin masih ngotot pertahankan argumentasi dia yang rugi.


Gina tertawa sumbang ingin sekali cekik Kevin sampai batang leher patah. Sejak kapan ada cowok perawan. Yang ada gadis perawan. Dunia orang ini terbalik-balik seperti orangnya.


"Pak...yang perawan itu aku bukan bapak. Bapak seumur gini ngaku belum pernah dekat wanita. Katak pun ikut ketawa. Jelek lagi suaranya. Bapak bawa aku ke sini hanya untuk dengar omong kosong bapak? Aku mau balik jaga Gani. Capek omong sama orang kurang waras."


Gina malas layani orang tak punya akal sehat. Kevin anggap Gina itu apa? Boneka bisa disetel sesuka hati? Gina juga punya perasaan walau miskin. Kalau ajak kerja mungkin masih masuk akal tapi untuk tunangan dengan laki ini Gina akan berpikir sejuta kali.


"Gin...kau mau lepas tangan setelah apa yang terjadi di antara kita?"


Gina menghela nafas tak tahu harus omong apa. Mengapa anak ini ngotot harus tunangan dengannya. Masih banyak wanita lebih ok dari dirinya. Salah satunya Lucia si plagiat.


"Bapak mau apa? Aku boleh bantu di kantor tapi tidak untuk hal yang menyangkut masa depan. Kalau aku tunangan hanya karena jaga perasaan bapak lalu masa depan aku gimana? Bapak akan bilang kita putus secara baik-baik? Pak...aku ini miskin tapi masih ada sisa sedikit harga diri." ujar Gina melemah malas berdebat dengan Kevin. Orang kaya anggap mereka yang miskin bisa dipermainkan sesuka hati. Mereka tak tahu betapa sakit bila dilecehkan.


Gina tak peduli gimana reaksi Kevin lagi. Dia tak mungkin ikuti permainan orang kaya. Gina harus tegas supaya tak dipandang rendah.


Gina melangkah pergi hendak tinggalkan rumah Kevin. Tak ada guna berdiri lebih lama di situ. Yang ada hasrat hajar orang bergelora di dada. Salah-salah bisa terjadi tindakan kekerasan.


"Gin...aku punya penyakit jiwa!" kata Kevin sebelum langkah Gina mencapai pintu besar.


Gina tertegun mendengar nada suara Kevin yang terdengar putus asa. Gadis ini menghentikan langkah membalik badan menatap lelaki yang duduk lesu di atas sofa mahal. Keangkuhan yang selama ini melekat di tubuh Kevin seakan tertutup oleh kabut kelabu sehingga tidak terlihat lagi.


"Duduklah! Aku akan jujur padamu. Hanya Peter yang tahu penyakit jiwa aku. Dan sekarang kukatakan padamu."


Gina menjadi tertarik apa yang dikatakan oleh Kevin. Semoga saja laki ini tidak sedang bersandiwara cari perhatian Gina. Gunakan kekurangannya untuk mengikat Gina.


Perlahan Gina memutar langkah kembali ke arah Kevin lantas duduk di salah satu sofa yang telah tersedia. Gina akan mendengar apa yang akan diceritakan oleh lelaki itu.


Kevin agak sungkan buka mulut tapi dia harus tegas agar Gina bersedia berada di sampingnya sampai dia merasa mampu interaksi dengan dunia wanita.


"Aku mempunyai trauma terhadap wanita. Masa laluku kelam akibat ulah bapak aku. Ibuku bunuh diri karena tak tahan tekanan batin. Bapak punya isteri sampai lusinan sampai dia sendiri tak ingat wanita mana dia kencani." Kevin terdiam sejenak lihat reaksi Gina.


Gina pilih diam jadi pendengar yang baik. Biarkan Kevin tumpahkan semua isi hati biar lega.


"Bapak bawa pulang satu persatu wanita ke rumah sampai terakhir dapat seorang wanita muda yang berprofesi peragawati. Wanita itu cantik sekali dan ingin kuasai seluruh rumah dan minta bapak suruh kami pindah dari rumah. Bapak aku tidak mau dan mempertahankan ibuku karena Bapak memang mencintai ibu. Cuma sayang dia salah menyalahgunakan rasa cinta itu. Sejak kehadiran wanita itu keluarga kami makin kacau karena setiap hari terjadi pertengkaran antara Ibu dan wanita itu. dan sialnya Bapak selalu membela wanita itu dan memukuli Ibu karena hasutan wanita itu. Waktu itu aku masih sangat muda berusia sekitar 14 atau 15 tahun begitu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela Ibu karena bapak juga akan memukuli aku bila keras kepada wanita itu. Pada suatu malam wanita itu datang ke kamar aku dan melecehkan aku. Aku berteriak minta tolong tapi justru wanita itu membalikkan fakta bahwa aku yang ingin melakukan hal tak senonoh kepadanya. Bapak aku mempercayainya dan menghajarku setengah mati serta memukuli ibu. Aku ingat Ibu memohon agar Bapak menghentikan pukulan kepadaku tapi bapak justru makin keras memukul aku sampai aku pingsan. Sejak itu aku sangat membenci wanita dan merasa jijik bila disentuh oleh wanita. Aku merasa sesak dan gatal-gatal bila bersentuhan dengan wanita sampai sekarang." Kevin kembali diam untuk mengambil jeda nafas.


Gina menjadi kasihan pada Gani yang jalan hidupnya hampir mirip dengannya. Cuma ibunya tegar tidak nekat seperti ibu Kevin. Gina mulai paham mengapa Kevin tak bisa dekat dengan wanita. Tapi Gina juga wanita mengapa Kevin tidak bereaksi berdekatan dengannya bahkan minta dipeluk. Kalau dulu Kevin masih mengira Gina cowok maka tidak ada perasaan ganjil.


Sekarang Gina sudah tampil dengan wajah aslinya tetapi Kevin masih bisa menerimanya. Ini harus dikaji mengapa bisa terjadi hal ini.

__ADS_1


"Kaulah satu-satunya wanita yang bisa kudekati setelah kejadian di masa lalu. Aku selalu ingin dekat denganmu untuk menyembuhkan diriku. Sekarang kamu sudah tahu riwayat hidupku yang tidak indah. Kau masih ingin membantuku atau tidak terserah kamu. Aku ingin sembuh hidup normal seperti lelaki lain."


Gina menjadi bimbang untuk menjawab pernyataan Kevin ini. Kalau dihitung-hitung ini sangat merugikan Gina sebagai seorang gadis. Dia harus selalu berada di sisi Kevin untuk menormalkan kejiwaan lelaki ini.


"Aku ingin membantumu tetapi tidak perlu sampai harus tunangan. Kata-kata kamu tadi hanyalah untuk menjebak aku di dalam suasana tidak kondusif ini."


Kevin tertawa tidak sangkal kalau semua yang dia katakan tentang lelaki perawan hanyalah salah satu cara untuk mengikat Gina di sampingnya. Kevin tidak mempunyai cara lain selain menipu Gina untuk merasa bersalah.


"Kau mau bekerja untukku?" tanya Kevin harap cemas takut Gina menolak.


"Aku tidak bisa kerja full time di kantor kamu. Aku masih harus membantu Om Sabri di bengkelnya karena banyak mobil memang aku yang sedang tangani. Aku akan masuk kerja dari jam 08.00 sampai waktu Zuhur. Setelah itu aku akan kembali ke bengkel dan memberi les seperti biasa. Bagaimana?"


"Kalau dibutuhkan untuk kerja full time kurasa kamu harus menyediakan waktu. Tapi aku janji itu tidak setiap hari hanya sewaktu-waktu diperlukan. Kamu akan menjadi asisten aku menggantikan Gani."


Gina kaget mendengar Gani akan dikeluarkan karena dirinya. Gina dapat membayangkan betapa kecewanya Gani bila dipecat gara-gara dia bekerja untuk Kevin. Gina sama sekali tidak ingin merebut posisi Gani di kantor ini.


"Lalu Gani? Dia kerja apa?"


"Dia akan diangkat jadi manager. Lebih tepat dikatakan dia naik pangkat. Tentu saja dia akan mendapat fasilitas lebih daripada seorang asisten. Kuharap kamu puas dengan keputusan aku ini."


Gina menarik nafas lega mendengar saudaranya akan naik pangkat menjadi manager. Ini merupakan kabar baik dan sangat membanggakan keluarga. Gani baru setahun kerja di situ sudah mendapat kenaikan pangkat sangat signifikan. Jarang-jarang orang mendapat kesempatan yang demikian bagus. Gina tentu saja tidak ingin Gani melewatkan kesempatan ini walaupun dia harus berkorban.


"Terimakasih pak! Gani pasti akan sangat senang naik pangkat. Ibu pasti akan makin bangga pada Gani." Gina tak bisa menyimpan luapan kegembiraan yang menyelimuti seluruh dadanya.


"Apakah kalian cuma berdua bersaudara?"


"Iya cuma berdua. Dia abang dan aku adik cuma kadang bisa berubah bila anak itu buat masalah. Ibuku gunakan posisi ini untuk bela Gani."


"Kau pasti sering siksa dia maka ibumu membela Gani."


"Kedengarannya sangat mengerikan aku menyiksa saudara sendiri. Gani itu suka bikin masalah di kampung maka harus ditertibkan."


Kevin sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan oleh Gina. Kevin tak tahu kalau Gani sudah kumat akan berdandan seperti perempuan keluyuran di jalan. Hal ini yang sangat dibenci oleh Gina karena saudaranya itu menyalahi kodrat. Namun Gina tidak membongkar keburukan Gani di depan Kevin. Takutnya nanti Kevin berubah pikiran tidak akan mengangkat Gani menjadi manager lagi.


"Aku bisa rasakan kehangatan dalam keluarga kamu walaupun tanpa kehadiran seorang bapak. Memangnya Bapak kamu ke mana?"


"Kami tak mengenalnya dan tak mau kenal. Kami sama sekali tidak ada hubungan dengan orang yang menanam bibit di dalam rahim ibuku. Bagi kami orang itu adalah bibit penyakit yang harus dihindari. Dia itu bukan manusia lebih pantas disebut setan gentayangan."


Giliran Kevin termangu mendengar hujatan Gina terhadap orang yang disebut sebagai bapak. Cerita apa lagi di dalam keluarga Gina sampai anak itu sangat membenci orang yang disebut bapak.

__ADS_1


__ADS_2