JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Kevin Kaget


__ADS_3

Dalam hati Kevin kesal Om Sabri sangat ramah pada pak Julio. Mengapa om Sabri ramah padahal Pak Julio sudah bawa isterinya. Namun Kevin belum bicara mau tahu dalam rangka apa Pak Julio berkunjung ke tempat Gina.


Bu Sarah dan Gina keluar karena di ruang tamu sangat ramai. Pak Julio kontan berbinar melihat kakaknya dalam keadaan sehat walaupun dalam kondisi berbadan dua. Pak Julio bergerak maju menyalami Bu Sarah disusul isterinya yang cantik. Bagaimana tidak cantik? Suami kaya raya punya gudang uang. Rugi kalau tak lakukan perawatan di salon ternama.


"Kak...apa kabar?" pak Julio mencium tangan Bu Sarah disusul isterinya. "Ini adik ipar kakak namanya Netti!"


Pak Julio memperkenalkan isterinya kepada Bu Sarah. Netti tak segan memeluk kakak dari suaminya sambil tersenyum. "Akhirnya mas Julio punya keluarga."


Kevin merasa kepalanya pusing lihat adegan di luar dugaan dia. Ada apa pak Julio dengan Bu Sarah. Mengapa pak Julio sangat hormat kepada Bu Sarah bahkan menciumi tangan ibunya Gina.


Kevin menggeser badan ke arah Gina mau tahu di ruang ini sedang ada sinetron kejar tayang model apa. Kevin dipenuhi tanda tanya apa hubungan pak Julio dengan keluarga om Sabri.


"Ssttt...ada apa ini?" tanya Kevin sambil berbisik kecil.


Gina menoleh sekilas ke arah Kevin lalu kembali fokus kepada keluarganya. Gina malas menjelaskan kepada Kevin hubungan mereka. Nanti Kevin malah pikir dia sedang pamer kekuasaan pak Julio. Gina punya backing sangat kuat untuk bergerak balas dendam.


"Pak Julio mau lamar aku!" sahut Gina membuat kerongkongan Kevin serasa ketelan biji kedondong. Sakit kena duri tajam biji buahan asem itu. Sudah asem sakit lagi.


"Gila ya! Bawa isteri lamar kamu! Kau mau sama laki tua gitu?"


"Ya mau...kudu sayang kok! Aku isteri ke tujuh!" jawab Gina hampir membunuh Kevin tercekik oleh rasa kesal. Dia mau lamar Gina namun ditolak. Giliran laki tua lamar dia malah terima. Apa gadis ini punya kelainan jiwa? Suka pada lelaki gaek?


"Kau ini ada gilanya ya? Kenapa mau jadi wanita simpanan dari pada jadi isteri aku?" kali ini Kevin bicara agak besar memancing perhatian yang lain. Kini semua mata mengarah pada kedua anak muda ini.


Gina tersenyum malu ketahuan sedang adu mulut dengan Kevin. Pak Julio tertawa lebar paham mengapa Kevin ada di rumah kakaknya. Pak Julio menduga Kevin suka pada anak kakaknya itu.


"Pak Kevin mau lamar keponakan aku?" tanya pak Julio lembut dan pelan.


Kevin kembali terpana dibuat oleh pernyataan Pak Julio. Mengapa malam ini banyak sekali kejutan menaikkan adrenalin Kevin. Kevin merasa kupingnya tersumbat salah dengar pengakuan pak Julio terhadap Gina. Pak Julio mengatakan Gina keponakannya berarti Gina itu saudara Pak Julio bukan calon isteri.


Di saat begini Gina sempat juga kerjain Kevin. Kevin hampir saja percaya kalau Pak Julio datang dengan maksud tertentu. Pak Julio demikian memanjakan Gina pasti ada niat terselubung. Pikiran Kevin mengembara ke mana-mana ciptakan imajinasi di luar akal sehat. Gina mau sama Pak Julio karena punya power. Andai ini terjadi betapa rendah akhlak Gina.


"Pak Kevin sudah punya calon orang Afrika pak! Lagi operasi plastik biar tidak gelap." sahut Gina membuat Gani tak dapat tahan tawa. Gina memang luar biasa iseng. Bos sendiri jadi korban kenakalan Gina.


"Oh..kirain mau sama keponakan bapak! Bapak terima kok! Kalian pasangan serasi! Kita akan jadi satu keluarga besar bila rencana indah ini terwujud!" Pak Julio beri lampu hijau kepada Kevin untuk meraih cinta Gina. Hidung Kevin berkembang dua kali lipat dapat angin surga dari pak Julio. Laki ini tentu tak ragu mengangguk setuju dimasukkan dalam daftar keluarga.


"Aku memang suka pada Gina tapi Gina yang jual mahal tak mau terima aku! Aku sudah tebalkan muka tinggal di sini tapi tetap ditolak! Kumohon pak Julio mau jadi penengah kami!" Kevin mengakui perasaan di depan orang ramai agar Gina tak bisa mengelak kejujuran hatinya.


"Itu gampang! Aku kita ngobrol soal ini! Semuanya tergantung pada ayah Gina! Hanya ayah yang berhak tentukan Kevin diterima atau tidak!" Pak Julio memberi hak pada Om Sabri untuk tentukan masa depan Gina. Om Sabri memang paling berhak bicara karena anak-anak besar di tangannya. Subrata memang ayah kandung namun dia telah membuang kesempatan menjadi ayah buat Gina dan Gani.


Gina menatap kuatir pada Om Sabri. Gina takut om Sabri koplak izinkan Kevin menjadikan dia sebagai calon isteri. Gina belum mau memikirkan soal jodoh sebelum lihat orang yang paling dia benci masuk jurang.


"Ayah tak menolak asal Gina terima! Ayah juga suka pada nak Kevin! Semua ayah serahkan pada Gina!" Om Sabri tak langsung terima melainkan beri jawaban bijak.

__ADS_1


Kevin sedikit kecewa namun tak patah semangat. Selama Gina ada bersamanya maka jalan menuju ke pelaminan selalu terbuka. Kevin takkan siakan Gina yang sudah berbuat banyak untuknya. Dari awal jumpa Kevin memang sudah senang pada Gina jadi perasaan itu bukan karena apapun melainkan karena cinta.


"Kalau jodoh takkan ke mana! Saya ke dapur dulu ya!" Gina mengelak pilih masuk dapur siapkan minuman untuk adik ibunya. Kevin ikutan masuk berniat bantu Gina membuat minuman untuk tamu.


Walaupun itu adik Bu Sarah tetap saja tamu yang harus dijamu. Kevin masih penasaran mau tahu dari mana hubungan keluarga dengan pak Julio. Mengapa Gina menutupi fakta dia keponakan orang kaya itu. Hal ini membuat pikiran Kevin jadi liar merambah ke mana-mana.


Gina menyiapkan beberapa gelas bagus untuk diisi dengan minuman. Sekarang bikin minuman juga sudah super gampang. Tinggal buka botol maka aneka rasa minuman siap saji terhidang. Kevin perhatikan betapa cekatan Gina mengerjakan semua pekerjaan.


"Gin...itu benaran saudara kamu?" Kevin berdiri di belakang Gina mengejar kebenaran.


"Adik kandung ibu!" sahut Gina acuh tak acuh.


"Kenapa kau tak mau mengakui dia om kamu?"


"Mau pamer punya paman kaya? Apa hebatnya kita akui harta orang lain? Yang ada pada kita itulah milik kita! Aku ini dasarnya miskin sekarang makin miskin karena gaji aku tak pernah turun!" ujar Gina sambil ingatkan Kevin dia belum gajian.


"Astaghfirullah...kenapa aku lupa kau belum dibayar gaji? Namamu tak ada dalam daftar gaji karyawan maka tak masuk rekening kamu! Berikan rekening kamu biar besok aku transfer!"


"Besok libur tuan pelit! Janji bonus dan gaji semua bohong!" omel Gina menagih semua janji Kevin. Kevin meringis malu melupakan kewajiban seorang majikan bayar gaji bawahan. Dia berhutang terlalu banyak pada Gina. Uang gaji juga bonus penjualan perhiasan yang cukup diminati.


"Aku akan transfer melalui e banking! Maaf ya aku lupa! Terlalu banyak masalah membuat aku lupa hal penting ini!"


"Ok...sekarang bawa minuman ini ke depan! Aku akan bawa sedikit cemilan!"


Semua terkesima lihat CEO perusahaan besar jadi pengantar minuman untuk tamu. Gani menelan air ludah puji nyali Gina mengerjain Kevin. Mimpi apa semalam bosnya itu sampai harus disuruh-suruh oleh Gina.


Pak Julio tak kalah kaget melihat Kevin yang biasa sangar jarang bergaul bertekuk lutut pada Gina. Ini yang dinamakan cinta buta atau kharisma Gina terlalu menonjol mengalahkan CEO.


Kevin meletakkan nampan di atas meja ruang tamu lalu duduk di samping Gani. Gani yang bangkit membagikan minuman ke hadapan setiap orang di ruang ini. Tak mungkin juga Kevin yang lakukan hal ini. Sudah bersedia mengantar minuman sudah merupakan hal luar biasa buat seorang CEO. Gina memang raja tega tak lihat siapa sedang dia hadapi. Bos perusahaan tak bisa melawan pesona Gina.


"Silahkan minum om...Tante...!" Gani mempersilahkan adik ibunya cicipi minuman hasil godokan Gina.


"Terima kasih nak! Kalian harus datang ke rumah untuk jumpa adik-adik kalian! Mereka sangat pingin jumpa Gina untuk belajar karate dan belajar ngaji!"


"Besok kami ke sana om! Besok kan libur ada waktu luang! Hari biasa selalu kerja!"


"Jangan asal janji lho! Gina sudah janji tapi tak pernah muncul!"


Gani tak heran kalau Gina tak tepat janji. Anak itu selalu sibuk apalagi sekarang dia kerja merangkap sana sini. Kapan dia punya waktu istirahat hanya dia yang tahu.


"Besok aku yang akan ajak dia ke rumah Pak Julio!" janji Kevin ikutan dukung kedua saudara kembar itu bertandang ke rumah paman mereka.


"Bagus...sekalian aku panggil penghulu ya?"

__ADS_1


"Iya pak! Setuju..." Kevin cepat jawab godaan Pak Julio. Kalau ada yang dukung dia dekati Gina pasti akan ada kemajuan. Mengharap Gina yang bergerak sampai tunggu kucing bertelor juga takkan terealisasi.


"Ok...mahar anak kami sangat mahal lho!"


"Kupersembahkan semuanya pada Gina asal dia mau jadi isteri aku! Seluruh aset limpahkan padanya juga tak masalah. Dia yang jadi CEO juga ok!"


Pak Julio anggap Kevin sedang bercanda namun beda dengan Gani ketakutan bila Gina yang jadi pemimpin. Hari baik karyawan akan segera berakhir. Gina akan plonco mereka sesuka hati.


"Stop...Gina tak usah jadi bos! Cukup jadi asisten saja kak Kevin! Hidupku akan segera tamat bila dia bos! Mana ada bos suka nyiksa orang." Gani cepat tolak keinginan Kevin limpahkan harta buat Gina.


Orang yang diomongkan muncul membawa sedikit cemilan di piring. Gina hidangkan kripik kentang balado buatan Bu Sarah. Makanan sederhana namun tetap nikmat bila dinikmati bersama keluarga dalam suasana penuh kekeluargaan. Gina membungkukkan badan letakkan piring di atas meja plus beberapa garpu kecil untuk mengambil makanan sederhana itu.


Pak Julio selalu merasa Gina melebihi Gani. Dari sini pak Julio sudah berat sebelah lebih perhatian pada Gina. Tak ada yang bisa salahkan Pak Julio bila lebih hargai Gina. Soalnya penampilan Gani memang mengundang rasa tak simpatik. Mana ada cowok lemah gemulai seperti kain sari orang Indian kena tiupan angin kencang. Meliuk sana sini.


"Lagi omongin buruk aku ya?" Gina melontarkan tatapan membunuh pada Gani.


"Sembarangan tuduh...tuh om Julio mau kita ke rumahnya besok. Besok kan libur! Kamu sudah janji ke rumah om tapi ngaret melulu!" ujar Gani dengan bibir putar sana sini bikin Gina geram. Kumpul keluarga masih juga keluarkan jurus andalan mulut emak kena cabe rawit.


"Maaf pak! Saya sangat sibuk akhir-akhir ini! Iya besok kami akan datang!"


Pak Julio tertawa heran mengapa dua anak ini memanggilnya dengan dua versi. Gani dengan panggilan lebih manja yakni om sedangkan Gina pilih berada dalam koridor resmi masih gunakan panggilan baku yakni bapak. Kembar tapi cara berpikir jauh berbeda. Bukan itu saja. Dalam keluarga saja kedua anak itu ada perbedaan. Gani selalu manja panggil Bu Sarah mami sedang panggil om Sabri sebutan papi. Gina cukup dengan panggilan sahaja yakni ayah dan ibu.


"Gina ikut Gani saja panggil om! Kita bukan di kantor jadi tak usah resmi sekali! Oya...gimana calon keponakan aku yang lain? Apa sehat?"


Pertanyaan ini mengarah pada Bu Sarah yang sedang hamil. Bu Sarah melirik isteri adiknya dengan malu. Hamil di usia melebih batasan orang hamil cukup beresiko tapi tak mungkin juga menolak rezeki yang telah diberikan oleh Yang maha kuasa.


"Alhamdulillah sehat..."


"Ini kak ada sedikit bawaan untuk ibu hamil! Semoga kakak suka!" Netti menyodorkan paper bag yang dia bawa dari rumah. Netti memberikan paper bag itu dengan sopan kepada Bu Sarah. Netti bangkit hampiri Bu Sarah walaupun jarak mereka cukup dekat. Netti ingin katakan dia harga Bu Sarah sebagai kakak dari suaminya.


"Untuk apa repot dek! Kalian mau datang sudah merupakan hal bahagia. Ayo di minum!"


"Iya kak!" Netti kembali duduk di samping suaminya. Rumah Bu Sarah sangat mungil tak layak diisi oleh beberapa orang. Tak lama lagi akan ada anggota baru menyebabkan rumah ini makin sesak. Pak Julio bukan tak memikirkan kondisi rumah kakaknya. Cuma pak Julio tak mau sok langsung tawarkan rumah baru.


Kevin mau tinggal di situ membuktikan rumah ini penuh kehangatan walaupun tak seindah rumah gedongan milik pak Julio. Namun pak Julio takkan biarkan keluarga kakaknya berdesakan dalam satu rumah. Dia harus membujuk Gina dan Gani untuk pindah ke rumah lebih layak. Pak Julio harus lakukan hal ini tanpa melukai harga diri om Sabri.


"Gimana usaha bengkel bang Sabri?"


"Lumayanlah tapi sekarang aku kurangi terima kenderaan. Montirnya ada kabur!" kata Om Sabri tanpa emosi. Om Sabri tak marah walaupun sebagian anggota bengkel telah direkrut oleh Kevin.


Om Sabri juga tidak egois mementingkan diri sendiri menahan para anak muda untuk lebih maju. Om Sabri juga mengharap mereka memiliki masa depan lebih cerah menghabiskan waktu di bengkel. Gimanapun bekerja di kantor lebih menjanjikan membuat para anak muda bisa menabung menyongsong hari depan lebih cerah.


Kevin menjadi tak enak telah merebut anggota bengkel Om Sabri. Tetapi Kevin memang betul-betul membutuhkan tenaga mereka untuk membantunya menyelesaikan proyek dari Pak Julio.

__ADS_1


__ADS_2