JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Bukti


__ADS_3

Gina mendengus tak terlalu open pada candaan teman-teman yang mulai rasakan aura anak gadis dalam diri Gina. Mereka akan kehilangan sosok cool yang doyan hajar orang bermasalah. Gina mulai tunjukkan sisi kewanitaannya. Jujur semua akan mengatakan kalau Gina itu cantik. Sayang kejiwaan gadis ini sedikit menyimpang punya jiwa doyan hajar orang bermasalah.


"Mana Kupret?" mata Gina mencari orang yang dia tugaskan mematai Peter. Anak itu minta Gina datang namun dia sendiri belum datang. Alamat kena omelan tajam Gina. Kupret tak tahu kalau Gina sangat kuatir pada nasib Kevin. Laporan singkat Kupret telah membekas di benak Gina. Kini Gina mengetahui telah terjadi konspirasi untuk menjatuhkan Kevin. Biangnya harus dibasmi dulu agar nyawa Kevin tak di ujung tanduk. Kevin hanya tampak keren di luar namun dalam sangat rapuh.


"Katanya pergi beli rokok sebentar! Dia akan segera balik untuk mempertanggungjawabkan tugas yang kamu berikan kepadanya!" sahut Jay yang sedang naik daun jadi supir Kevin. Sekarang tunggangan Jay adalah mobil Kevin yang mahal. Harga Jay menjadi mahal sejak punya mobil pinjaman dari bos.


Gina mengajak Kevin cari tempat lebih nyaman untuk tempatkan pantat. Di sekeliling bengkel mana ada tempat bersih selain kursi untuk tamu yang menunggu mobil diperbaiki. Gina mengajak Kevin duduk di situ sambil menunggu kehadiran Kupret.


Kevin seperti orang bodoh ikuti semua arahan Gina. Makin ke sini Kevin makin hilang pamor. Kevin seperti kena pelet sama Gina. Dia hanya bisa percaya pada Gina seorang saja.


"Aku tumbuh di antara barang berat ini! Aku tak punya pilihan lain selain ikut ayah. Keahlian utama aku memang montir."


"Aku salut padamu! Kamu anak perempuan tapi punya nyali sangat besar. Kau berani lawan kezaliman sedang aku tak punya itu. Aku sendiri tak tahu bagaimana aku bisa tumbuh sampai hari ini."


"Diumpan ya pasti gede dong! Bapak harus punya keberanian biar bisa keluar dari trauma bapak! Semua bayangan buruk itu harus bapak lawan baru bisa kontrol perasaan sendiri. Sekarang bapak sudah tahu model apa manusia yang ada di samping bapak."


Kevin mengusap wajah tak tahu harus omong apa lagi. Orang paling dia percaya ternyata juga musang berbulu domba. Dari luar tampak baik tapi ternyata isinya keji.


"Aku tak tahu Gin! Kalau di rumah gini jangan panggil aku bapak! Panggil Abang atau mas!"


"Jangan biar aku lupa daratan! Aku ini orangnya suka lupa diri kalau sudah diberi kekuasaan. Biarlah kita tetap begini biara ada batasan. Eh itu Kupret! Hei sini kau!" Gina melambai meminta Kupret hampiri dirinya.


Kupret mengajak seorang kawan untuk memberi laporan pada Gina hasil kerja mereka. Kedua pemuda itu cengar-cengir menemui wanita paling perkasa di mata mereka.


Mata Gina yang indah menatap tajam ke arah dia orang itu sekedar peringatan jangan buat laporan tak pasti. Kupret dan temannya yang bernama Naruto menunduk tak kuasa lawan tatapan tajam yang mampu menembus ulu hati kedua pemuda itu.


"Perkenalkan dulu! Ini pak Kevin bos aku juga bos Jay dan Hadi. Ini adalah orang yang harus kalian lindungi. Di mana jumpa dan setiap waktu. Sekarang keluarkan bukti yang kalian rekam."


Kupret dan Naruto menyalami Kevin sambil membungkukkan badan armada takluk. Mereka bukan takluk pada Kevin melainkan takluk pada asisten Kevin. Kupret menyerahkan ponselnya kepada Gina untuk buktikan bahwa laporan mereka adalah laporan akurat disertai rekaman konkrit. Gina melontarkan tatapan menyeramkan sebelum membuka ponsel Kupret yang termasuk model kekinian walaupun bukan high class.


"Yaelah nona Rambo! Simpan tuh mata! Jangan bikin malam jadi panas dengan bara api di matamu! Jadi cewek harus ada pelangi di matamu!" Naruto beri masukan agar Gina jangan perlihatkan tampang seram melulu.


"Jangan harap ada pelangi! Tai mata yang banyak!" timpal Kupret bikin Kevin tersenyum merasa lucu dengan kelompok anak muda bertampang seram namun menggelikan.


Gina tak tanggapi gurauan sahabatnya. Dia lebih tertarik pada isi rekaman ponsel Kupret. Tanpa menemukan kesukaran Gina berhasil mencari rekaman yang dimaksud Kupret. Ada beberapa rekaman di situ. Semua tayangkan Peter bersama Luna. Mereka tampak mesra walau tidak gandengan. Bahkan ada rekaman Luna datang ke rumah Peter dan tak keluar lagi. Gina menghela nafas tak sangka Peter adalah orangnya Luna. Artinya Peter sandiwara menyudutkan Luna sekeluarga sewaktu datang ke kantor Kevin.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Gina perlihatkan rekaman kepada Kevin. Kevin melihat dengan mata kepala sendiri rekaman yang sangat menyakiti hati laki itu. Mince memaksa dia menikah dengan Luna sementara Peter dekat dengan Luna. Rencana jahat apa sedang dirancang keluarga licik itu untuk kuasai harta Kevin. Untunglah Gina sangat cerdik ungkap kalau harta Kevin akan disumbang ke yayasan anak yatim piatu bila terjadi sesuatu pada Kevin. Kini mereka tak berkutik tak bisa berbuat macam-macam pada Kevin. Nyawa Kevin melayang maka seluruh harta juga melayang.


"Gila Peter ini!" desis Kevin tak habis pikir apa mau Peter bekerjasama dengan orang yang paling dia benci.


"Bapak masih tak percaya bukan? Sekarang bukti sudah lengkap. Apa rencana kita selanjutnya untuk singkirkan Peter ke tempat jauh?"


Kevin mengembalikan ponsel Kupret dengan pikiran kacau balau. Semua bukti mengarah pada Peter bekerjasama dengan pihak papanya untuk hancur lebur Kevin. Peter sangat berbahaya bila masih berada di sekitar Kevin. Bisa jadi laki itu nekat berbuat keji.


"Aku akan pura-pura tak tahu semua ini. Aku akan kirim dia ke Bali kelola hotel di sana! Untuk proyek pak Julio kita bisa cari insinyur lain. Kita rapat dengan pak Julio tanpa perlu libatkan dia!"


Naruto dan Kupret iba pada Kevin. Punya uang dan kekuasaan belum tentu bisa beli keselamatan. Kevin harus bertarung dengan saudara sendiri demi mencapai keselamatan.


"Aku setuju...kalau kita singkirkan dia secara langsung akan lebih berbahaya. Soal insinyur kurasa aku punya calon kuat! Si Hadi itu insinyur baru kena PHK akibat perusahaan tempat dia kerja bangkrut. Uang perusahaan dibawa kabur oleh isteri pengusaha. Istri kabur bersama dewan direksi yang terima uang proyek. Besok aku akan interview Hadi." Gina bangkit sambil menepuk pantatnya dari debu bengkel.


"Nona Rambo pilih kasih nih! Aku juga insinyur lho! Malah aku spesial jalan dan jembatan. Kok nyasar ke Hadi? Dari itu kan spesialis konstruksi rumah." Naruto angkat tangan rekom diri sendiri untuk ikut dalam proyek Kevin.


Gina menepuk jidat nyaris melupakan kalau Naruto juga seorang pakar insinyur tapi sial dipecat gara anak majikan suka padanya. Bos tak suka pada Naruto yang miskin maka pilih pecat anak itu. Naruto kecewa dan patah hati maka pilih hidup di jalanan tak gunakan ilmu yang dia kumpul di kampus.


Kevin suprise tak sangka di balik kekumuhan tersimpan banyak potensi siap pakai. Mereka tersiakan berbagai alasan tak jelas. Kevin tak bisa langsung pakai mereka sebelum yakin kemampuan kedua orang itu. Kevin harus bahas skema rancangan dengan kedua insinyur jalanan ini sebelum diangkat jadi penanggung jawab proyek.


"Besok kalian berdua ikut rapat! Kalian bisa pelajari dulu proyek sebelum terjun ke lapangan!" Kevin tetap bijak beri kesempatan pada dua orang ini untuk perlihatkan kemampuan mereka. Bekerja pakai mulut tak ada guna tanpa hasil.


"Aku Hasan pak dipanggil Kupret oleh anak-anak! Nama besar ku adalah pemberian nona Rambo! Aku bukan insinyur melainkan sarjana teknik mesin. Aku kerja di bengkel Om Sabri."


"Tak kusangka hari ini aku jumpa anak muda berpotensi namun tak tersalurkan. Kau datang saja ke kantor! Mungkin aku akan punya pekerjaan untukmu. Lalu insinyur satu lagi mana?"


Gina ingin sekali korek kuping Kevin agar dengar lebih jelas kalau dia sebut Hadi. Hadi sudah jadi satpam di rumah Kevin mana mungkin muncul di sini. Mereka harus hubungi Hadi untuk buka lembaran baru menjadi seorang insinyur lagi.


"Pak Kevin...Hadi itu satpam di rumah bapak! Antenanya cepat amar macet! Aku akan teleponi dia untuk ke kantor. Sekarang kita sudah punya jalan mundur! Semoga Naruto selihay dalam cerita komik!"


Naruto mencibir harapan Gina. Naruto itu pahlawan dalam serial komik. Pahlawan yang disukai anak-anak kecil. Di alam nyata Naruto ini hanya pecundang tanpa kerja tetap kalau tak ditampung om Sabri. Om Sabri telah sabar bimbing mereka ke jalan benar. Jasa om Sabri takkan terlupakan oleh pemuda kampung ini.


"Kami pasti datang pak! Bapak jangan beri kami jabatan di bawah nona Rambo ya! Nanti kami tak berbentuk dicincang gadis kejam ini!"


Gina berkacak pinggang menantang Naruto anggap pemuda itu sedang bangun arena untuk bertarung secara terbuka. Gina takkan beri belas kasihan kepada pemuda yang baru dia angkat. Baru diberi pekerjaan sekarang sudah membangkang.

__ADS_1


"Besok aku akan buka praktek jadi tukang cukur. Aku akan cukur gratis semua orang yang kelebihan bulu terutama untuk kamu. Untukmu aku akan gunakan pisau potong sapi. Tajam takkan sakit kok! Kau akan jadi pelanggan pertama." Gina menepuk bahu Naruto. Gina demikian santai tak perlihatkan sikap marah walau dibilang kejam. Gina malah bersikap bersahabat menunggu Naruto jadi pelanggan bila dia jadi tukang cukur.


Naruto menangkap gelagat Gina sedang mengancam dengan cara ramah. Ramah namun mematikan. Salah Naruto juga usik macan cantik perlihatkan taring panjang. Kupret tertawa ngakak lihat Naruto meringis sedih. Salah makan obat sampai harus telan pil sangat pahit.


Kevin menggeleng lihat cara Gina ancam teman sendiri. Gaya aneh dalam bersahabat.


"Tak apa pak! Jadi bawahan nona Rambo juga baik kok! Besok kami pasti datang!" Naruto cepat ralat sebelum Gina menunjukkan tatapan membunuh tanpa pedang. Tak berdarah namun tembus ke jantung.


"Kami permisi ya! Oya...bapak beliin hp untuk nona Rambo ya! Hpnya produk zaman kakek moyang aku!" kata Naruto sambil lari ambil langkah seribu sebelum Gina ngamuk. Ponselnya selalu jadi bahan pembicaraan satu kampung. Barang pantas dikirim ke museum hp masih juga dipakai dengan bangga.


Kevin merasa usulan Naruto sangat masuk akal. Ponsel Gina memang parah banget. Tak bisa digunakan di saat dibutuhkan untuk keperluan lebih luas. Mau kirim foto maupun rekaman memang tak bisa dilakukan pada ponsel jadul Gina. Seperti saat ini, untuk lihat rekaman saja harus langsung tatap muka. Coba kalau ada smartphone tak perlu jauh datang berkumpul hanya untuk lihat rekaman. Bisa dikirim via wa maupun media lain. Kevin memang harus bekali Gina dengan ponsel canggih untuk komunikasi di dunia Maya.


"Tak usah kuatir...yang penting kalian datang ke kantor saja!" jawab Kevin mulai bisa berbaur di kalangan bawah. Untuk nikmati hidup tak perlu harus selalu di atas. Yang sederhana namun bisa buat hati gembira.


"Iya pak Kevin! Aku akan datang bersama Hadi! Kami ke sana dulu! Aku Hasan ya pak! Jangan bawa kutu Kupret ke kantor!" Hasan alias kutu Kupret beritahu Kevin kalau nama aslinya Hasan bukan Kupret seperti panggilan Gina.


Kampung ini cukup aneh. Setiap orang punya nama panggilan aneh. Gani top dengan sebutan bebek sedangkan Gina monster Rambo. Kini ada kutu Kupret dan Naruto. Kevin tak tahu Jay dan Hadi punya inisial apa pula. Jangan-jangan nanti dia juga diberi julukan out of record dari Gina. Gadis itu kan ada sedikit sintingnya. Sudah keras suka asal omong.


Kupret dan Naruto sudah gabung dengan yang lain tinggalkan Gina dan Kevin merasakan betapa dingin udara malam. Udara dingin namun hati Kevin terasa sedikit hangat. Dia mulai punya teman walau tak akrab. Teman yang tidak menampilkan wajah palsu. Mereka hadir dengan segala keluguan serta kejujuran kendatipun jalan hidup mereka keras. Contoh paling nyata adalah Gina. Gina orangnya keras namun jujur tidak licik.


"Dingin pak?"


"Lumayan namun segar! Oya kapan kau akan balik rumah sakit untuk lihat luka kamu? Nanti malah busuk di dalam!"


"Tak usah pak! Biar diurus Indy saja! Dia juga dokter kok!"


"Emang dia buka praktek?"


"Tidak tapi untuk sekedar lihat luka kurasa dia bisa! Tak usah kuatir pak! Pulang dari sini kita singgah ke tempat Indy!"


"Gina...lebih baik besok kita ke rumah sakit! Kalau terjadi sesuatu bisa langsung di tangani!"


Gina mengerut kening kurang senang Kevin membuat harapan tak disukai Gina. Belum periksa sudah mengharap Gina terjadi hal tak diinginkan.


"Bapak mau tangan aku diamputasi?"

__ADS_1


Kevin kaget mengapa Gina terpikir dia punya niat jelek padanya. Kevin justru berharap Gina hidup lebih lama agar ada yang jaga dia. Mana mungkin dia berpikiran buruk pada gadis ini.


"Macam saja kamu ini! Kalau tangan kamu diamputasi siapa akan gandeng aku? Ayok kita ke dokter Indy!" Kevin menarik tangan Gina berlalu dari bengkel. Lebih baik bawa gadis ini ke dokter dia suka sebelum muncul lagi kalimat kurang sedap di kuping.


__ADS_2