JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Jadi Gadis Kevin


__ADS_3

Gina manggut mengiyakan kata Bu Dokter. Ternyata penyakit Kevin tak semudah yang dia bayangkan. Laki itu juga hidup dalam tekanan. Kevin lebih sulit jalani hidup karena harus mengelola perusahaan yang hidupi ratusan karyawan. Sedangkan Gina hanya memikirkan keluarganya dan dendam yang membara di dalam hati. Gina telah mulai mengibar bendera perang kepada keluarga Mahabharata. Sasaran Gina selanjutnya adalah Lucia agar bisa mempermalukan Subrata yang memiliki seorang anak penipu. Gina akan telanjangi kebohongan Lucia selama ini.


"Aku bersedia dampingi pak Kevin selama pengobatan namun kuharap dalam batas wajar. Aku tak ingin masa depanku tertutup hanya gara-gara seorang Kevin."


Bu Clara mengangguk-ngangguk memaklumi keadaan Gina yang notabenenya adalah seorang gadis muda. Tak mungkin juga dia mengorbankan masa depannya untuk pengobatan Kevin yang belum tentu mencintainya.


"Ibu ngerti. Kamu hanya perlu membantunya memulihkan kepercayaan diri saja. Dia selalu menganggap seorang wanita itu adalah parasit lebih tepatnya bakteri yang akan melukai dirinya. Kalau dia bisa menghapus paradigma itu maka dia akan segera sembuh."


"Amin... lalu langkah apa yang harus kulakukan agar pak Kevin bisa keluar dari masalahnya ini?"


"Ya kamu harus tunjukkan sisi kewanitaan kamu. Biar dia melek kalau kau juga seorang wanita. Makhluk yang paling dia takuti selama ini."


"Baiklah Bu! Kalau cuma itu aku akan berusaha."


"Satu lagi... usahakan berada di sampingnya dalam 24 jam. Jadikan dirimu bayangan dia."


Gina melongo mendengar permintaan bu dokter yang di luar akal sehat. Tak mungkin juga dia 24 jam berada di sisi Kevin karena dengan demikian dia akan tinggal bersama dengan lelaki itu. Padahal jadwal kerja Gina hanya setengah hari.


"Itu tak mungkin Bu. Masa aku harus bermalam bersama pak Kevin. Ini menyalahi aturan kita."


Bu Clara tersenyum, "Aku tahu. Paling tidak setelah Kevin istirahat kau bisa pergi. Dia akan minum obat penenang sebelum tidur."


"Tapi Bu..sewaktu kami tugas di kota M, aku tak melihatnya minum obat tidur. Tidurnya nyenyak kok!"


"Itulah kuncinya! Dia tenang berada di sampingmu maka kaulah obat paling manjur untuk dia. Berjuanglah bangkitkan rasa percaya diri Kevin!"


"Iya Bu...aku akan lakukan yang terbaik!"


"Aku boleh minta nomor ponselmu? Kau bisa kirim chat bila ada perkembangan."


Gina tersipu malu diajak chatting. Chatting pakai hp jadul?


"Aku tak punya smartphone. Tapi Bu Dokter bisa teleponi aku."


Bu dokter lagi-lagi dibuat surprise oleh Gina. Hari gini masih ada anak remaja tidak memiliki smartphone. Gina adalah benar-benar gadis unik yang sudah langka. Kuat, kokoh dan cantik.


"Baiklah! Sekarang kau sudah ngerti semua tentang Kevin. Kuharap kamu jangan kupas penyakitnya di depan dia karena ini akan menambah buruk kondisinya. Dia akan makin minder sehingga sulit capai hasil maksimal."


Gina mengangguk setuju. Apa Gina punya pilihan lain selain setuju. Gina sudah terlanjur hadir dalam hidup Kevin jadi tidak tak punya jalan mundur lagi. Membantu orang sama saja menabung pahala. Gina akan kerjasama bantu Kevin selama laki itu betul-betul berobat.


"Ok...waktunya bangunkan dia! Kau anggap tak tahu apa-apa ya biar harga diri Kevin tidak terluka." Bu Dokter ingatkan Gina kalau kejiwaan Kevin buruk.


"Bu dokter tak usah kuatir. Orang ini cukup kuat untuk dibully. Di kantor dia yang bully aku."


Bu dokter tidak paham permainan anak muda. Kalau Kevin suka bully Gina artinya naluri kemanusiaan Kevin mulai muncul. Dia mau interaksi dengan wanita tapi tak tahu cara tepat maka dia mulai dengan mempersulit gadis muda yang berdarah panas ini.


"Terserah kalian saja! Aku lihat rona wajah Kevin juga lebih baik dari sebelumnya. Kurasa ini berkat kamu. Aku sudah lima belas tahun rawat dia. Baru kali ini lihat ada perubahan pada Kevin. Yok kita bangunkan dia!" Bu Dokter ajak Gina balik ke ruang terapi yang nyaman.


Gina hanya bisa ikut tanpa bisa lakukan apapun. Dia hanya bisa mendampingi Kevin tanpa ngerti teknik pengobatan. Orang macam Kevin mempunyai ego tinggi. Dia punya power tapi terselip kekurangan. Kevin sengaja sombong untuk tutupi kekurangan dalam dirinya.

__ADS_1


Bu dokter Clara membangunkan Kevin dengan tepukan di bahu laki itu. Bu Clara lakukan itu secepatnya kilat agar Kevin tidak sadar telah disentuh oleh Bu Dokter. Sungguh menyusahkan orang penyakit Kevin ini. Orang yang paham penyakit laki ini harus pandai jaga jarak dengan laki ini.


Kevin merentangkan tangan merasa nyaman setelah tidur dibawah pengaruh pengawasan dokter Clara. Yang pertama dilihat laki ini adalah Gina. Gina menunggu tak jauh dari tempat Kevin tiduran. Kedua mata saling bertautan tanpa isyaratkan sesuatu. Kali ini Gina tidak menatap Kevin dengan tajam. Gina menurunkan sedikit ego supaya perasaan Kevin lebih tenang.


"Ok...sekarang kita mulai pengobatan melalui Gina! Kalian dua harus lebih sering bersama. Dan kau Gina cobalah tampilkan sisi feminim kamu!" Bu Dokter memberi arahan pada Gina untuk pulihkan rasa percaya diri Kevin. Semua akan dimulai dari Gina.


"Ya Bu! Aku akan usaha cuma mungkin aku kurang pakaian gaun. Tapi aku akan usaha." Gina berjanji tetapi tidak bisa memberi hasil maksimal. Dalam keseharian Gina selalu berpakaian ala cowok karena memang pekerjaan yang dia geluti mengandung unsur lelaki. Mana mungkin memakai gaun ataupun daster bersembunyi di bawah kolong mobil.


"Usahakan saja ya! Sekarang kalian boleh lanjut kegiatan lain. Pasien sedang menunggu." Bu dokter mengusir Kevin dan Gina secara halus. Kedua anak muda ini sudah cukup lama berada di dalam ruang prakteknya.


Sekarang giliran pasien lain mendapat pengobatan dari bu dokter. Pasien yang ditangani oleh dokter Clara memang membutuhkan waktu yang cukup panjang sehingga dalam satu hari Clara hanya menerima 3 atau 4 pasien.


Kevin segera mengajak Gina tinggalkan ruang praktek Bu Dokter. Tak enak terlalu lama menyita waktu Bu Dokter. Pasien lain juga pasti sedang menunggu antrian.


Kini keduanya telah berada kembali ke mobil Kevin. Selanjutnya tentu saja kembali ke kantor menyelesaikan tugas yang tertunda. Proyek Pak Julio akan segera di mulai maka mereka butuh konsentrasi ke arah itu. Tak lama lagi Peter akan pindah kantor ke kota M untuk tinjau langsung pekerjaan tersebut.


Gina jalankan mobil lebih pelan. Jalanan juga sudah berkurang macet. Jam kantor sudah berlalu. Kini hanya kenderaan pribadi lalu lalang sekedar meramaikan jalan raya.


"Kita ke butik pakaian sebentar!" kata Kevin membuyarkan konsentrasi Gina.


"Alamatnya?"


"Lurus saja sampai lampu merah belok kanan. Lalu ambil kiri." Kevin tak beri alamat hanya beri arahan ke mana Gina harus bawa mobil.


Gina ngomel dalam hati menduga Kevin sedang mengasah otaknya. Kevin pikir otak Gina setumpul bulatan telur. Gina pun tidak cerewet memajukan mobil sesuai arahan Kevin. Setolol apa Guna tak bisa tangkap ke mana roda mobil harus bergulir.


Gina antar Kevin sampai di depan butik dengan tulisan keren Amelia Boutique. Gina hentikan laju mobil biar Kevin bisa menemukan apa yang dia cari. Gina tak mau ikut campur urusan pribadi Kevin. Dia cuma bertugas mengerjakan pekerjaan kantor dan membantu Kevin menemukan kesembuhan.


Kevin tidak segera masuk ke dalam butik melainkan menunggu di depan mobil. Gina hanya berdiam diri di dalam mobil menunggu bosnya berbelanja menghambur isi kantong.


Kevin mengetok pintu pintu kaca mobil dengan sedikit kasar. Gina tak tahu apa yang diinginkan oleh lelaki itu terpaksa menurunkan kaca mobil.


"Turun..!"


Gina menunjuk hidung sendiri heran mengapa dia harus ikut turun. Toh dia tidak ingin membeli pakaian jadi untuk apa dia masuk ke dalam toko jual pakaian mahal itu.


"Ayok turun!" Kevin mengulang perkataannya meminta Gina turun dari mobil.


Gina membuka safety belt lalu ikut turun menemani bosnya. Dalam pemikiran Gina mungkin Kevin tidak nyaman sendirian berada di toko yang pasti dilayani oleh wanita. Kini saatnya dia tampil sebagai superhero melindungi Kevin dari godaan cewek-cewek bermata dolar.


Seorang gadis muda membuka pintu untuk mereka karena dari balik kaca mereka sudah melihat bayangan pasangan remaja ini.


"Selamat datang!" sapa Gadis itu dengan ramah.


Harum buahan menyeruak membuat hidung Gina yang terbiasa dengan bau oli merasa dimanjakan. Sehari-hari Gina berkutat dengan bau oli dan gemuk lahar sehingga merasa senang berada di tempat yang bersih.


"Mana mbak Amelia?" tanya Kevin tak melihat pemilik butik.


"Ibu ada di dalam. Akan segera kupanggil! Silahkan pilih pakaian yang cocok!"

__ADS_1


Kevin mengangguk lantas matanya mengitari seluruh pakaian terpajang di gantungan baju dan terpasang di tubuh manekin. Semuanya tampak indah untuk ukuran gadis muda.


Gina mencari tempat nyaman untuk menempatkan pantatnya yang indah di atas bangku-bangku yang telah disediakan di butik ini. Tak ada gunanya cuci mata bila tidak ada niat membeli. Mending menghemat pancaran sinar mata agar tidak lelah memprototi pakaian yang bukan miliknya.


Mata Gina tertuju pada seorang wanita muda berpakaian sangat minim seperti bakal kain sedang naik harga jadi harus irit. Tubuh wanita itu sangat mungil sehingga dengan pakaian sangat minim tampak lebih imut.


"Kevin sayang...tumben datang sendiri. Cari pakaian untuk siapa? Lucia atau ada peri dari kahyangan." kata wanita ramah mengandung unsur menggoda.


Gina menduga Lucia juga langganan butik ini karena cukup kenal dengan Kevin dan Lucia.


"Aku butuh pakaian untuk calon isteri aku. Tak boleh mini, harus ada lengan, di bawah lutut."


Amelia terbahak-bahak dengar permintaan Kevin terhadap bakal baju untuk wanita yang dia sebut calon isteri. Amelia penasaran gadis yang dikatakan Kevin seperti apa. Gadis mana beruntung merebut perhatian laki ini.


"Kau bawa dia?"


"Tuh!" Kevin menunjuk Gina yang hanya terpaku sekaligus bingung. Sejak kapan dia dinobatkan menjadi calon istri Kevin. Pacaran saja belum bagaimana langsung menjadi calon istri.


Amelia menancap mata ke arah Gina lantas tersenyum. Gadis sederhana tapi tatapan matanya mengandung magis membuat orang segan beradu mata dengan gadis itu.


"Wow...bidadari belum terpoles! Sudah ganti selera ya Vin!"


"Sudah jangan cerewet! Carikan baju untuknya! Modelnya harus sesuai dengan pesanan aku! Aku tak ijinkan siapapun kagum pada calonku."


Gina anggap kepala Kevin tersenggol sehingga jadi miring. Gina malas membantah membiarkan Kevin ngomong sesuka hati. Biarlah orang berpikir apa tentang dia yang penting dia tidak rugi.


"Ok....ayo sini nona cantik! Kau sangat beruntung jadi wanita Kevin! Yang ingin jadi wanita Kevin antri dari Sabang hingga Merauke."


"Sudah ganti mbak! Tak ada Merauke lagi. Yang ada Papua. Maunya mbak bilang saja dari kutub Utara sampai ke kutub selatan. Yang ngantri beruang kutub semua." Gina usilin Amelia membuat Amelia tertawa geli. Humoris juga calon Kevin yang satu ini. Suara dia datar namun menggelitik.


Gina dibawa ke dalam untuk test pakaian sesuai pesanan Kevin. Semula Gina agak keberatan dibawa jadi boneka hidup test pakaian untuk menyenangkan Kevin. Sesuai amanah Bu Dokter maka Gina bersabar ikuti aturan Kevin.


Tak sampai sepuluh menit Gina digiring ke depan Kevin. Gina mengenakan gaun berwarna pink pudar dengan lengan pas dekat siku. Pakaiannya sangat sopan karena tertutup walaupun sedikit ketat.


Pakaian itu menonjolkan lekuk tubuh Gina yang sangat indah. Tak ada lemak lebih dengan perut rata tanpa tonjolan sedikitpun. Tinggi tubuh Gina memang tidak setinggi tubuh peragawati namun cukup indah di mata.


Kevin terpesona melihat Gina telah utuh sebagai seorang anak gadis. Jantung Kevin berdetak kencang saksikan lelaki mudanya telah tampil utuh sebagai seorang anak gadis. Kevin tak tahu detak di jantungnya itu karena tak bisa menerima Gina sebagai seorang gadis atau hatinya sedang tersentuh oleh kehadiran gadis ini di dalam hidupnya.


Kevin berdiri mendekati Gina lantas mengelilingi tubuh gadis ini. Kevin puas dengan baju yang direkomendasi oleh Amelia. Gina tampil lebih cantik dan feminim dengan busana yang sangat tepat untuknya.


Kevin mencoba ulurkan tangan menyentuh bahu Gina untuk rasakan sensasi sentuh wanita muda itu. Kevin ingin tahu bagaimana reaksi tubuhnya setelah melihat Gina muncul sebagai seorang gadis.


Semula Gina ingin menghindar namun teringat kata Bu dokter kalau Kevin harus merasakan sisi kewanitaan Gina maka Gina diam saja pundaknya dipegang oleh Kevin.


Kevin pura-pura menyentuh kain di badan Gina rasakan kehalusan kain baju itu. Ternyata memang lembut nyaman ditempatkan di tubuh.


"Bagus...kau kirim yang beginian ke kantor beberapa helai. Warnanya jangan norak! Aku anti warna merah dan orange. Yang lain boleh. Ingat tak boleh menonjolkan aurat."


"Cuma pakaian? Tas? Sepatu branded?" tawar Amelia dapat pelanggan tajir. Kapan lagi lihat Kevin bawa anak gadis langsung ke butik. Mahal Kevin yang memilih model pakaian.

__ADS_1


Gadis yang dibawa Kevin pasti bukan sembarangan orang barulah bisa rebut hati laki ini.


"Tidak perlu.." potong Gina cepat sebelum Kevin borong barang tak berguna. Gina samasekali tidak tertarik pada tas dan sepatu bikin ribet. Gina tak pandai pakai sepatu high heels. Nanti malah bikin malu jalan terseok-seok karena belum terbiasa dengan sepatu berhak tinggi.


__ADS_2