JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Penyakit Masa Lalu


__ADS_3

Gina mengintip dulu apa ibunya sudah tidur atau belum. Bahaya kalau lihat Gani dalam kondisi seperti orang kurang waras. Akal sehat sudah di gerogoti oleh ulat nafsu duniawi. Gani lupa kalau perbuatannya akan menyakiti ibu yang telah susah payah melahirkan dirinya.


Suasana rumah sepi. Teras juga sepi tanpa adanya kehidupan. Tampaknya semua aman. Mereka bisa bergerak masuk ke dalam rumah.


"Ayo masuk! Dan kau Afif tidur sini saja. Apa kau mau pak ustad lihat kamu seperti dakocan dibuang dari lantai sepuluh? Kau telepon ke rumah katakan tidur di rumah Gani! Awas kalau kalian bikin ulah lagi Aku takkan baik hati lagi." ancam Gina tak main-main.


Gani dan Afif menunduk rasakan kebaikan hati Gina malam ini. Biasa Gina jarang baik hati bila ada orang bikin onar di kampung. Maka itu di sini Gina dijuluki Rambo pembasmi kejahatan.


Sambil mengendap-endap ketiga anak muda ini masuk ke dalam rumah. Untunglah Bu Sarah sudah masuk kamar sehingga mereka bebas membersihkan semua sisa make up di kamar mandi.


Gina tak urus kedua banci kalengan ini lagi. Dia sedang pusing pikirin uang yang diminta pak Haji. Mungkin dia harus jual motornya agar ada tambahan walau tidak cukup. Nanti Gina akan pikir cara lain lagi bayar sisa uangnya yang masih capai ratusan juta.


Gina cek saldo di rekeningnya yang tak seberapa. Uang dari Lucia masih utuh tapi dia takut gunakan karena takut suatu saat Lucia berhasil tahu siapa tukang rancang gambar dan tukang edit video.


Gina pikir dia akan diskusi dengan om Sabri minta pinjam duit untuk lengkapi semua pembayaran. Gina tak tega memberitahu pada ibunya, takut Bu Sarah kuatir. Wanita itu sudah cukup hidup sengsara jadi biarlah sisa hidup ditanggung oleh anaknya.


Pagi subuh Gina bangun seperti biasa. Membantu ibunya sudah jadi tugas rutin. Kadang Gani akan bantu juga bila sedang tidak lembur.


Seusai sholat Gina pergi ke dapur lihat ibunya yang pasti sedang berkutat dengan bumbu dapur. Bau harum masakan akan tercium hingga ke tetangga. Semua sudah hafal kebiasaan Bu Sarah yang akan masak pagi subuh. Masakan Bu Sarah segar maka langganan cukup banyak.


Pagi ini Gina tak melihat ibunya. Bahan makanan juga tak tampak bertumpuk di meja seperti biasa. Gina mengerjit alis heran ke mana ibunya.


"Bu...Bu..." panggil Gina pelan takut menganggu tetangga di pagi subuh gini. Suasana sepi setiap suara mudah bergema sampai keluar rumah.


"Sini..." terdengar sahutan dari kamar Gani.


Gina putar badan masuk ke kamar saudaranya. Mau apa ibunya pagi sekali sudah ada di kamar Gani. Apa kejadian semalam telah tersiar ke kuping ibunya.


Bu Sarah dalam kamar Gani sedang kompres Gani yang terkapar tak berdaya di atas ranjang. Di sampingnya masih ada Afif duduk di atas ranjang.


"Gani kenapa?" bisik Gina tak urung terkejut lihat Gani tampak kurang sehat.


"Demam tinggi.." sahut Afif pelan.


"Kok bisa? Bukankah semalam masih sehat?"


"Ngak tahu...jam dua tadi dia bangunkan ibu bilang sakit kepala. Ini sudah panas badannya."


"Kita bawa ke rumah sakit saja! Takutnya Covid ataupun DBD. Lebih cepat kita tangani lebih bagus. Aku akan ambil mobil om Sabri. Kalian bersiap bawa baju dan kain. Aku mandi sebentar dulu."


"Iya nak!"


Gina segera mandi lalu sholat. Dia tetap harus laksanakan panggilan umat Islam. Gina tak lupa doakan kesembuhan Gani.


Gina terpikir apa mungkin Gani ketakutan jumpa setan semalam maka dia kolaps. Namun Gina tidak menyesal telah beri hukuman pada Gani. Memang harusnya dia tegas pada Gani agar tidak bikin malu keluarga.


Gina keluar rumah gunakan motor ke bengkel Om Sabri untuk pinjam mobil. Angin subuh yang segar menyambut Gina yang sedang galau. Belum selesai satu masalah kini muncul lagi masalah baru. Kapan hidupnya akan tenang. Banyak sekali masalah tak terduga.


Gina terpaksa bangunkan om Sabri yang mungkin masih tidur. Lajang karatan tidur siang sedikit tak ada yang ngomongin. Suka-suka mau tidur sampai jam berapa.

__ADS_1


"Om...om.." Gina mengetuk pintu rumah Om Sabri dengan kuat. Kalau tak kuat om Sabri bisa saja tak dengar. Laki itu akan bangun bila alarm jadwal antar Bu Sarah ke warung berbunyi. Subuh begini lelaki itu pasti belum bangun.


"Om..om..." Gina masih gencar memanggil Om Sabri.


"Iya...sabar..." Om Sabri nya muncul dengan muka bantal kelas berat. Jelas sekali Om Sabri baru turun dari tempat tidur membukakan pintu untuk Gina.


"Om...pinjam mobil ya! Gani demam tinggi."


"Astaghfirullahaladzim.. kok bisa? Gara kejadian semalam?"


Gina mengedik bahu belum bisa memastikan mengapa Gani mendadak demam. Bisa jadi Gani demam karena efek rasa takut yang berlebihan. Anak itu kan lebih banyak jiwa pengecutnya daripada berani.


"Kita bawa ke rumah sakit dulu om! Ntar step pula. Sudah kurang waras ditambah gila pula. Ijin ya om!"


"Pergilah! Nanti kabari om ya! Om akan nyusul nanti. Om atur teman kamu urus bengkel dulu."


"Iya om...om tak usah kuatir! Anak itu tak bakalan lewat karena belum bayar dosa. Dia pasti akan sehat."


Sabri memberikan kunci mobil buat Gina untuk bawa Gani. Sabri juga sayang pada Gani namun kejiwaan Gani ada sedikit menyimpang maka wajar Gina marah. Namun bila sampai membuat Gani masuk rumah sakit juga bukan hal baik.


Gina tak buang waktu segera antar Gani ke rumah sakit tempat biasa pegawai Kevin dirawat. Mereka punya jaminan kesehatan di rumah sakit yang ditentukan oleh perusahaan. Semua biaya pegawai yang sakit akan ditanggung oleh perusahaan asal berobat di rumah sakit yang telah ditentukan.


Wajah Gani memang sangat pucat karena demamnya sangat tinggi. Dasar si hati batu Gina sedikitpun tidak merasa ibah kepada Gani. Kalaupun Gani sakit karena terkejut itu adalah karena kesalahannya sendiri. Siapa suruh menyimpang daripada kodrat.


Rumah sakit yang ditentukan oleh perusahaan Kevin cukup bagus. Bersih dan tenang. Perawatnya juga ramah. Mereka langsung sambut kehadiran Gani begitu masuk rumah sakit. Gani dipandu ke ruang tindakan pertama yang biasa disebut IGD.


"Bu...silahkan daftar dulu ya! Pasien akan kami tangani." ujar perawat wanita dengan suara lembut mendayu. Perawat model gini bisa membuat pasien sakit jadi cepat sembuh. Yang galak hanya menambah penyakit pasien. Dari penyakit musiman bisa jadi serangan jantung akibat dibentak-bentak.


"Lapor saja nama kantor dan namaku. Nanti akan ditangani." kata Gani dengan suara lemah. Pipi Gani memerah saking panasnya. Matanya merah berair akibat kelewat panas.


"Baik..aku ke sana!" Gina sambut perkataan Gani. Enak banget kalau pihak perusahaan mau tanggung semua biaya perawatan karyawan. Sebulan boleh sakit sekali biar dapat waktu liburan gratis di rumah sakit.


Ternyata benar kata Gani. Begitu Gina sebut nama perusahaan serta nama Gani sudah tercantum dalam daftar sebagai pasien tanggungan perusahaan. Pihak rumah sakit akan hubungi perusahaan menyatakan bahwa ada pasien dengan nama Gani dirawat di situ.


Apa om Sabri juga mampu tanggung pegawai bengkel yang jumlah tak seberapa? Om Sabri mungkin belum sehebat Kevin. Om Sabri hanyalah toke bengkel kecilan. Masukan juga tak seheboh perusahaan Kevin. Lepas untuk gaji karyawan susah syukur.


Selepas lapor data Gani pada pihak rumah sakit Gina kembali bergabung dengan Bu Sarah dan Afif.


Gani sudah dipasang selang infus di tangan untuk pertolongan pertama karena suhu badan cukup panas. Cairan infus bisa membantu menurunkan panas sekalian disuntikkan obat penurun panas.


Cairan darah diambil sampel untuk cek lab penyebab demam tinggi Gani. Ada infeksi ataupun kena covid yang menjamur di tanah air.


Gani tertidur di atas brankar ruang igd pengaruh obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Gani sudah agak tenang tidak sepucat tadi. Obat yang disuntikkan mulai bereaksi menurunkan panas secara perlahan.


Gina membawa ibunya duduk di ruang tunggu sambil menunggu hasil diagnosa penyakit Gani. Bu Sarah tampak sangat kuatir kesehatan Gani. Gani tidak sekuat Gina maka itu Bu Sarah lebih perhatian pada Gani. Kalau orang tak tahu akan kira Bu Sarah anak tiri kan Gina. Semua yang terbaik untuk Gani. Gina sudah terbiasa di abaikan tak ambil pusing lagi.


"Bu...Bebek akan cepat sehat. Tak usah kuatir ya!" Gina menepuk punggung tangan ibunya.


"Ibu kuatir penyakitnya kumat lagi. Dulu waktu kecil dia pernah demam tinggi sampai tak sadar diri beberapa hari. Kata dokter imun tubuhnya kurang kuat. Ibu takut dia kenapa-napa."

__ADS_1


"Bu...dia saja sanggup keliling Korea seorang diri. Artinya dia itu kuat. Semua orang pasti akan sakit. Mobil saja kadang mogok walaupun baru. Tenanglah! Bebek akan sembuh." Gina berusaha memberi rasa aman pada Bu Sarah jangan banyak pikir yang bukan-bukan.


"Amin...eh kau tidak masuk kerja?"


"Yaelah ibu...Gani sakit masih sempat pikir kerja. Om Sabri tahu kok Gani sakit. Bentar lagi dia akan datang jenguk anaknya! Bu..kami suka pada Om Sabri. Kenapa tidak ijinkan beliau jaga kita?"


Bu Sarah menatap anaknya dalam-dalam seakan ingin menyelami isi hati Gina. Perkataan Gina tulus keluar dari mulutnya atau hanya ingin menyenangkan Bu Sarah.


"Kau serius nak?"


"Sejuta rius Bu. Om Sabri itu tulus pada kita. Beliau sudah seperti bapak buat aku dan Gani. Tanpa beliau kita tak mungkin melangkah sejauh ini. Om Sabri pasti bisa jaga kita. Kita tak usah menoleh ke belakang, hari depan masih menunggu kita untuk berjuang. Percayalah Bu!"


"Beri ibu waktu untuk berpikir!" lirih Bu Sarah menunduk. Dalam hati Bu Sarah tak ingin mengecewakan kedua anaknya tapi di dalam lubuk hati terdalam masih tersimpan kenangan manis bersama mantan suami. Bu Sarah masih ragu pada perasaan sendiri sehingga plin plan menentukan jalan ke depan.


"Pelan saja Bu! Sini peluk aku! Biarlah aku jadi pendamping ibu selamanya. Gin takkan tinggalkan ibu selamanya."


Gina memeluk Bu Sarah seperti dua bocah kecil sedang melepas rasa kangen mendalam. Afif yang saksikan keakraban kedua anak ibu itu ikut terharu. Gina memang sadis tapi dia anak baik. Baik pada semua orang asal berada di koridor jalan benar.


Kedua anak ibu itu tak sadar ada sepasang mata melihat mereka dari jauh. Ada pancaran sinar keraguan di mata itu untuk memastikan orang yang dia lihat sama dengan orang dalam pikiran. Untuk jawab keraguan itu orang itu hampiri tempat di mana Gina dan ibunya menunggu hasil pemeriksaan Gani.


Lama orang itu berdiri di samping Bu Sarah dan Gina. Orang itu masih belum yakin seratus persen kalau itu adalah orang yang dia cari.


"Sarah??" keluar juga suara orang itu.


Bu Sarah mendorong tubuh Gina menjauh karena kaget dengar suara yang paling tak ingin dia dengar. Mengapa pagi ini dia sial sekali harus bertemu mimpi buruknya.


Gina langsung berdiri melihat orang itu mematung di depan mereka. Tatapan penuh rasa benci Gina lontarkan ke arah orang itu.


"Ayo pergi Bu!" Gina menarik tangan Bu Sarah tinggalkan orang itu. Gina benci dan jijik pada orang ini. Orang yang bikin hidup mereka sengsara.


"Tunggu..." seru orang itu menahan langkah Bu Sarah dan Gina.


Kalau orang itu bisa tahan langkah Gina berarti orang itu sedang dapat berkah. Tak seorangpun sanggup tahan Gina kalau dia sudah putuskan apa yang ingin dia lakukan.


"Kita lihat bebek Bu! Tak baik sembarangan bicara dengan orang tak dikenal."


Bu Sarah tidak mengatakan apapun selain mengikuti langkah Gina menuju ke ruang IGD. Sarah sendiri tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang tidak ingin dia temui. Pertemuan ini hanya membuka luka menganga dari masa lalu.


Subrata melongo mendengar Gina berkata seakan dia itu sumber penyakit tak boleh didekati. Takut tertular penyakit mematikan.


Subrata memandangi punggung Bu Sarah dan Gina yang jauhi dia. Subrata tidak habis pikir mengapa pancaran mata gadis yang dia temui mengandung dendam membara. Siapa sebenarnya gadis cantik itu? Subrata merasa pernah bertemu dengan gadis itu tetapi lupa di mana.


Secara diam-diam Subrata mengikuti ke mana kepergian Bu Sarah dan Gina. Subrata ingin tahu apa yang dilakukan kedua orang itu di rumah sakit. Siapa yang datang berobat ke rumah sakit.


Subrata melihat kedua orang itu masuk ke ruang IGD. Kedua orang itu sedang menunggu siapa berobat. Rasa penasaran suprata makin memuncak didorong oleh rasa ingin tahu. Untuk mendekati Bu Sarah saat ini Subrata belum punya keberanian mengingat ada pengawal yang tak bersahabat.


Untuk menjawab semuanya Subrata hanya bisa bertanya pada perawat siapa yang dirawat di ruang IGD. Subrata hanya mendapatkan penjelasan singkat karena pihak rumah sakit tak boleh bocorkan data pasien. Tak semua orang mau berbagi penyakit pada orang lain.


Subrata hanya diberitahu kalau yang sakit seorang pemuda sedang demam tinggi. Itu saja informasi dia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2