
Oma dan Bu Sarah hanya bisa ikut berdoa saja. Bu Sarah juga tak ingin perusahaan keluarga suaminya hancur karena korupsi merajalela di sana. Biarlah Gina gunakan tangan besi tangani orang-orang berhati busuk itu. Bu Sarah yakin Gina takkan beri maupun mereka yang main curang di belakang pemilik perusahaan. Pas pula dia diangkat jadi pemilik baru maka orang yang bersangkutan pasti takkan lolos dari kejaran Gina. Tinggal tunggu tanggal mainnya.
Dalam tempo seminggu Gina telah pecahkan semua kemelut dalam tubuh perusahaan opa dia. Ternyata tak sulit lacak ke mana uang larinya uang perusahaan. Uang tak punya kaki maka dia lari tentu saja dibantu oleh kaki tangan kotor. Kevin ikut juga bantu Gina cari di mana letak kesalahan dalam perusahaan opa. Keduanya saling membahu bongkar tabir yang menutupi kecurangan dalam tubuh perusahaan opa.
Kevin dukung Gina habisin orang-orang culas itu walau resikonya dia bisa kehilangan Gina setiap saat. Kevin sudah siap hadapi gempuran keluarga papanya. Kevin harus tegas seperti Gina baru bisa atasi semua kejahatan Mince.
Gina sepertinya telah lupa kalau benang bekas luka belum dicabut. Gadis ini lupa segalanya bila telah bekerja. Gina meremehkan hal kecil yang bisa bahayakan jiwanya. Kevin yang ingat kalau benang di tangan Gina belum dilepaskan sesuai janjinya kepada dokter. Kevin tahu betapa teledornya Gina soal kesehatan sendiri maka pagi ini dia minta Jay langsung ke rumah sakit tanpa persetujuan Gina. Bicara dengan gadis ini sama saja bicara dengan angin. Masuk kiri keluar kanan.
Gina melongo melihat mobil mengarah ke rumah sakit. Gadis ini belum ngeh tujuan Kevin antar dia ke rumah sakit. Gina malah mengira Kevin kurang sehat mau kontrol kesehatan langsung ke sini. Kevin sudah tak percaya pada dokter Clara yang kerja sama dengan Peter bohongi dia.
Mobil berhenti persis di depan pintu rumah sakit untuk turunkan Kevin dan Gina sementara dia pergi mencari tempat parkiran. Kevin melangkah masuk ke rumah sakit tanpa bicara dengan Gina. Kevin sudah hubungi pihak rumah sakit untuk atur jadwal Gina cabut benang di tangan. Mereka hanya menunggu panggilan dokter saja untuk cek kondisi luka gadis ini.
Kevin mengajak Gina duduk di tempat para pasien menunggu antrian dipanggil dokter. Pagi ini belum banyak pasien menunggu. Ntah orang sakit berkurang atau memang masih terlalu pagi belum ada yang datang berobat.
"Bapak sakit?" tanya Gina meneliti rona wajah Kevin cari di mana rasa sakit laki itu. Sejauh ini Kevin tampak sehat malah wajah jauh lebih baik daripada dulu. Tidak tampak kusut dan pucat.
Kevin mengerling jengkel pada gadis ini. Apa isi otak anak ini sampai lupa tangan masih ada perban. Kerja seenak perut tak ingat luka di tangan bisa saja infeksi.
"Nona Gina.." suara perawat memanggil nama Gina berkumandang di antara para pasien.
Gina melongo menunjuk hidung sendiri heran mengapa dia harus berobat lagi. Dia sudah merasa ok tak ada masalah.
"Ngapain aku dipanggil? Salah informasi kali..ayok kita konfirmasi!" Gina menarik tangan Kevin tergesa-gesa hendak jernihkan masalah dengan perawat kalau yang benar berobat bukan dia.
Kevin menyentil dahi Gina tak bisa berkata-kata dengan mulut. Ingin sekali Kevin gigit hidung mungil Gina Agara gadis ini sadar tangannya masih bermasalah.
"Kau mau tanganmu diamputasi? Sekian lama belum juga copot benang jahitan."
Gina mendekap mulut saking kaget. Sumpah mati dia tidak terganggu oleh perban di tangan walau sudah lusuh. Bukan warna putih melainkan keabu-abuan.
"Aku lupa!" seru Gina.
Kevin menarik nafas dalam-dalam. Mengapa di dunia ini ada cewek secuek ini terhadap keindahan tubuh. Kalau giliran gadis lain pasti sudah menuntut Kevin minta operasi plastik untuk hilang bekas luka. Yang ini luar biasa lupa kalau di pernah terluka.
"Ayok kita masuk!" Kevin melingkar tangan ke bahu Gina ajak gadis ini masuk ke ruang praktek dokter. Gina melirik sekilas tangan laki itu tapi Gina tak menepis tangan Kevin anggap Kevin hanya memberi rasa aman.
Kedua masuk ke dalam ruang praktek disambut seorang dokter cewek. Kevin juga tak kenal dokter itu karena mereka hanya diarahkan ke mana harus berobat.
"Assalamualaikum.." sapa Gina sopan.
"Waalaikumsalam.." sahut sang dokter ramah. Gina bersyukur ternyata dokternya juga seiman dengannya. Gina makin tenang untuk lanjut perlihatkan luka bekas jahitan. "Silahkan duduk! Apa keluhan?"
"Oh gini dok! Sebulan lalu Gina terluka dan dijahit! Sekarang mau datang buka benang jahitan!" Kevin wakili Gina membeberkan kronologi kejadian dulu.
__ADS_1
"Sudah sebulan baru datang? Ya ampun...kalau benangnya sudah bersatu dengan daging maka kita harus lakukan operasi kecil untuk cabut benang itu. Ayok aku lihat lukanya?" dokter itu tampak panik mendengar cerita Kevin. Sang dokter memberi kode pada perawat untuk siapkan alat tangani luka Gina.
Gina disuruh pindah ke tempat perawatan untuk bisa memeriksa lebih detail. Gina tenang saja tak anggap itu hal besar. Justru Kevin geram ingin jitak kepala Gina supaya sadar bahwa kesehatan itu bukan main-main.
Pertama-tama kain perban digunting oleh perawat barulah sang dokter periksa. Ternyata luka itu masih merah belum kering total. Sang dokter geleng kepala baru kali ini jumpa orang super cuek. Luka lumayan panjang tak dianggap sebagai penyakit.
"Sebulan lukanya belum kering..luka kamu pasti sering kena air maka lama kering. Kalau dijaga mungkin sudah sembuh. Jangan gitu nona! Hal kecil ini bisa sebabkan kamu kehilangan tangan. Mari kita buka dulu jahitan! Nanti jaga jangan kena air selama beberapa hari ya! Olesi salep biar tak infeksi." dokter itu memberi nasehat sambil mengurus luka Gina.
"Sebenarnya bukan sebulan dok tapi sebulan lebih. Ini orang memang manusia besi. Tak bisa patah cuma bisa karatan. Tuh otaknya karatan dok!" Kevin menambah omelan biar Gina tahu semua kesal padanya.
"Sebenarnya ini bukan cuma tanggung jawab nona ini. Bapak sebagai suami juga wajib pantau kesehatan isteri apalagi isterinya masih muda. Bapak yang harus turun tangan jaga dia!" sang dokter balik omelin Kevin anggap laki itu suami tak punya rasa tanggungjawab.
Kevin mau bantah kalau Gina bukan isterinya namun dia telan bantahan itu. Senang juga ada orang anggap Gina isterinya. Laki mana tak mau gadis seperti Gina. Super Hero tak mempan diancam.
Gina masem-masem senang Kevin juga kena omelan dokter. Gina sengaja biarkan dokter salah paham hubungan mereka suka dengar Kevin diomel orang. Gina bukan senang diakui isteri oleh Kevin melainkan suka lihat Kevin kena omel.
Tak sampai satu jam luka Gina sudah siap ditangani. Tinggal bayar dan tebus resep obat. Luka Gina hanya ditutup dengan kain kasa sekedarnya. Tidak diperban lagi. Jujur Gina merasa lega terbebas dari kain jelek itu. Gerakan tangan juga terasa lebih bebas tanpa lihat kain menyebalkan itu.
Gina tampak ceria tinggalkan rumah sakit. Gina melihat papan nama yang sangat besar membentang sepanjang depan rumah sakit. Gina tak mau ingat nama itu karen atak berharap balik ke sini. Dia akan sehat selamanya sampai ajal menjemput.
"Jangan nakal isteriku!" seru Kevin saksikan Gina mulai liar gerakan tangan seperti mau test fungsi tangannya.
Gina mendelik memajukan bibir cibir kegembiraan Kevin anggap dia sebagai isteri. Belum terlintas di benak Gina menjadi bini siapapun sebelum misinya tuntas semua. Tuhan berpihak pada Gina buka jalan lebih lebar menghukum mereka yang jahat. Sudah pasti Subrata akan jatuh ke tangan Gina. Gina sudah temukan kecurangan laki itu. Sangat gampang buat laki itu bangkrut dalam sekejap.
Gina dan Kevin lanjut ke kantor Kevin. Tampak kantor Kevin berjalan aman tak ada riak sejak kepergian Peter. Peter cukup banyak bermain di belakang Kevin hampir kuasai setengah dari pegawai kantor menjadi bawahan dia. Tanpa Peter orang-orang itu tak bisa berkuti karena Kevin dan Gina kuasai seluruh gerakan kantor.
Gina minta izin pada Kevin untuk berangkat ke kantor pusat milik opanya. Opanya yang dikenal pak Mul telah menunggu Gina untuk rapat perpindahan kekuasaan kepada gadis itu. Di saat ini Gina akan sikat mereka yang main curang. Gina sudah kantongi orang yang bermasalah dan berjanji takkan baik hati pada mereka yang bermain cantik di belakang. Gina menemukan kerugian perusahaan hampir triliunan selama tiga tahun ini. Gina bisa bayangkan berapa goni uang opanya ditilep oknum kurang ajar. Gina akan beri pelajaran buat mereka agar diajar sedikit hati nurani.
Kevin tak bisa tahan langkah Gina karena dia sudah janji akan izinkan Gina berkiprah di kantor opanya. Kevin dukung Gina sikat para tikus pengerat itu.
Gina berangkat ke kantor opa dengan taksi online. Motor dia tertinggal di rumah karena ikut Kevin gunakan mobil. Gina persiapkan mental hadapi ajang lebih besar dari kantor Kevin. Dia tak boleh gugup karena sadar pasti akan banyak rintangan untuk capai puncak. Dia tak perlu merangkak karena opa telah sediakan tangga buat dia naik ke atas tanpa susah payah.
Gina memandangi gedung berlantai banyak itu lekat-lekat yakin kelak dia akan habiskan sebagian waktu di tempat ini. Kalau banyak masalah Gina pasti akan terjebak lebih lama di tempat ini.
Setelah puas cuci mata tempat yang akan jadi kantornya Gina baca bismillahirrahmanirrahim baru dengan langkah gagah masuk ke dalam. Gina jumpai gadis penjaga meja resepsionis untuk cari tahu di mana posisi opanya saat ini.
Gadis cantik tersenyum ramah pada Gina tunjukkan dia memang resepsionis andalan kantor. Gadis itu belum tahu kalau gadis sederhana di depan ini akan menjadi majikan dalam hitungan jam. Siapapun Gina tetap saja dia layani dengan ramah.
"Ada keperluan apa nona?" tanya gadis itu super ramah.
"Aku mau jumpa opa aku! Aku dipanggil oleh opa ke sini!"
"Oh..anda nona Gina??"
__ADS_1
"Lho kok tahu?" Gina kaget gadis itu tahu persis namanya.
"Tahu dong! Pak komisaris sudah pesan kalau ada yang bernama Gina adalah cucunya harap di antar ke ruang kerjanya. Ayo silahkan nona Gina! Aku akan antar kamu!"
"Tak usah repot! Cukup katakan di lantai berapa opa bertugas. Aku bisa kok ke sana! Kakiku sehat walau tangan sakit!" canda Gina membuat gadis di depannya tertawa lebar. Gadis itu suka pada Gina tak sombong walau cucu pemilik perusahaan. Orangnya sederhana tak berlebihan sok kaya.
"Pak Komisaris sudah pesan harus layani nona sebaiknya!"
"Kamu sudah cukup baik! Terimakasih niatmu! Cukup katakan di lantai berapa opa bekerja. Tak baik tinggalkan meja tugas! Aku juga pegawai kantor macam kamu jadi tahu suka duka jadi pegawai. Terus saja laksanakan tugasmu! Kita akan jumpa lagi nanti. Oya siapa namamu?"
"Aku Denada.."
"Ok Denada aku mau jumpa opa dulu!" Gina melambai berjalan mencari lift. Kantor ini lumayan besar maka Gina harus mulai belajar lingkungan kantor ini.
Baru beberapa langkah Gina jalan sudah putar badan balik lagi ke tempat Denada. Seperti ada sesuatu yang tertinggal. Denada menunggu apa yang diinginkan oleh Gina. Katanya mau jumpa opa tapi balik lagi.
"Nona cantik...sepertinya kamu belum bilang di lantai berapa opa bertugas."
"Oh maaf..nona keburu pergi sih! Lift ada di sebelah kanan paling ujung. Pak Komisaris bertugas di lantai dua puluh. Apa perlu kuantar?"
"Tidak perlu.. terima kasih cantik!" Kali ini Gina berjalan ke arah yang ditunjukkan Denada. Semoga tak ada kendala mendapatkan ruang kerja opanya.
Di depan lift ada beberapa karyawan hendak menuju ke tempat masing-masing. Mereka juga menunggu lift turun dari atas. Di situ ada tiga lift aktif. Gina tak tahu mana yang akan antar dia ke tempat kerja opanya. Bagi Gina semua lift itu sama selama punya cara kerja sama yakni antar karyawan ke tujuan.
Karyawan situ menatap Gina yang asing di mata mereka. Baru hari ini mereka melihat gadis muda ini. Berpenampilan sederhana namun sangat cantik tak kalah dengan bintang sinetron. Gina malah lebih menarik tanpa kena dompol sebakul bedak.
"Mau ke lantai berapa nona kecil!?" salah satu cowok berbuat ramah pada Gina.
"Anda bertanya padaku?" Gina menunjuk hidung untuk pastikan pertanyaan itu ditujukan padanya.
Cowok berbadan tegap itu manggut kalem seakan mau tunjukkan di laki ramah. "Ya kamu...orang baru ya?"
"Sangat baru..baru kali ini kemari! Aku mau ke lantai dua puluh."
Laki itu terdiam tak keluarkan suara dengar tujuan Gina. Itu daerah terlarang tak semua karyawan boleh ke sana. Hanya para dewan direksi boleh masuk ke kawasan elite buat petinggi perusahaan.
"Kau mau jumpa siapa?" akhirnya laki itu kembali bersuara.
"Opa aku! Beliau sudah tunggu aku di atas!"
"Opa? Kamu cucu pak Mul?"
"Iya..ada yang aneh? Aku manusia kok bukan alien."
__ADS_1