JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gina Dongeng


__ADS_3

"Direktur? Yang bener pak? Masa baru masuk kerja sudah diangkat menjadi direktur." seru Gani tak percaya Subrata menawarkan posisi yang sangat baik buat dirinya.


Subrata mengangguk menyakinkan Gani kalau dia tidak sedang berbohong. Gani lebih mudah diurus ketimbang Sarah dan Gina. Mungkin ini jalan Subrata dekati putra putri kandungnya.


"Kau bisa ajukan resign dari kantor Kevin. Tak usah lamar kerja lagi. Tinggal kamu masuk kerja saja."


Gani kelihatan sangat antusias dapat kemudahan masuk ke dalam kantor Subrata. Siapapun menginginkan posisi lebih tinggi daripada yang sekarang. Gani menganggap dirinya sedang beruntung mendapat penawaran yang sangat bagus. Dari asisten naik ke manager dan sekarang mau diangkat menjadi direktur. Mimpi apa dia mendapat kemudahan yang sangat bagus.


"Gani...ibu larang kamu pindah tempat kerja! Apa kamu lupa siapa yang pertama percaya padamu? Memberimu segala kemudahan? Jangan seperti kacang lupa akan kulit ya!" semprot Bu Sarah.


Hati Bu Sarah mendidih lihat cara Subrata dekati anaknya. Bu Sarah duga Subrata tahu siapa pemuda di depannya. Gunakan kekuatan materi beli hati Gani.


"Tapi mami..gaji direktur lebih dari gaji manager! Gina tak perlu banting tulang bekerja untuk cicil rumah lagi. Aku akan tutupi semua hutang kita." Gani berkata dengan jujur kondisi keluarga mereka.


Subrata kembali dirundung rasa menyesal mendengar kesulitan ekonomi keluarga mantan isterinya. Sarah berjuang dari bawah membesarkan kedua buah hatinya tanpa bantuan siapapun. Kini kedua anaknya telah menjadi orang berguna walaupun belum sukses. Di situ tidak ada jasa Subrata sedikitpun. Apa hak Subrata datang mengganggu ketenangan keluarganya. Sarah tidak akan membiarkan Subrata berada di lingkungan keluarganya.


"Asal kau tahu nak! Kita memang miskin tetapi kita tidak pernah mengemis dan menipu orang. Kita bukan orang munafik yang mengandalkan kebohongan untuk mencapai apa yang dia inginkan." ujar Sarah dengan sikap tegas supaya Subrata punya perasaan malu hendak mendekati anak-anaknya.


"Iya mami...aku jadi manager saja. Maaf ya tuan papa nona Lucia! Mami aku tak mengizinkan aku keluar dari perusahaannya pak Kevin. Aku harus tetap berada di situ."


Subrata harus menelan rasa kecewa yang mendalam karena telah ditolak oleh Gani. Tampaknya jalan untuk maju merangkul anak-anaknya masih terjal untuk Subrata. Belum lagi harus berhadapan dengan Gina yang konon katanya lebih sadis dari Sarah.


"Anak muda... kesempatan itu hanya datang sekali. Kelak belum tentu ada kesempatan ini lagi." Subrata masih belum menyerah untuk membujuk Gani agar mau dekat dengannya. Dia harus berusaha merebut Gani dari Sarah karena dalam diri Gani mengalir darah Subrata.


"Terima kasih pak! Mami sudah bilang gitu ya gitu! Dan lagi Gina juga belum tentu setuju. Dia jauh lebih setia dari aku. Orangnya susah pak! Tak bisa diintervensi."


"Kau takut pada adikmu?"


"Takut sekali. Tangannya kecil tapi beracun. Dia tak suka orang jahat. Tak ada ampun bagi berhati bangkai." Gani promosi kekejaman Gina bikin Subrata terdiam.


Gina adalah tantangan buat Subrata. Artinya untuk dekati anak-anaknya dia harus lalui sifat keras Gina dulu. Andai Gani takut pada Gina susah di rayu lagi. Subrata harus mulai dari Gina dulu baru bisa masuk keluh jauh.


"Bapak akan datang lagi. Setiap saat kau mau kerja di kantor bapak diterima dengan senang hati."


"Sudah? Silahkan pergi dari sini pak! Anakku mau istirahat. Bapak datang ke sini hanya ganggu ketenangan kami. Silahkan keluar!" Bu Sarah mulai gelisah takut Subrata pengaruhi Gani dengan bujuk rayu. Iman Gani tidak sekuat Gina. Anak itu mudah terhasut oleh rayuan. Jalan satu-satunya adalah melarang Subrata berada di sekitar mereka.


Subrata menatap tajam kepada Sarah tak suka Sarah keras padanya. Dulu Sarah adalah isteri patuh. Diceraikan saja tidak protes. Dia pergi setelah sidang cerai diputuskan.


Sarah tidak menurunkan mata menantang mata laki itu. Kalau Sarah selalu mengalah maka dia akan kehilangan anak tersayang. Kenapa sial sekali harus jumpa kembali dengan laki ini. Ini membuktikan dunia ini selebar daun kelor. Sejauh mungkin menghindar tetap saja bertemu.


Subrata tak bisa keras sekarang karena takut Gani simpan rasa antipati padanya. Pupus harapan mengambil putranya. Dia sudah punya Lucia maka kehadiran Gina tidak terlalu penting lagi. Cukup rebut Gani sebagai putra pewaris.


"Baiklah! Bapak pergi dulu ya nak Gani! Besok bapak akan datang lagi. Kamu mau di belikan apa?"


"Tidak perlu. Urus saja keluarga bapak yang terhormat. Kami orang miskin tak pantas berteman dengan orang dari kalangan punya latar belakang setinggi langit." sindir Sarah seakan ingin ingatkan Subrata bahwa isteri yang dia banggakan tak lebih sampah masyarakat.


Subrata tergugu tak mampu membalas sindiran Sarah. Faktanya Angela memang dari kalangan insan berkalang noda hitam. Dicuci sebersih apapun tetap saja tersisa noda yang tak bisa dihapus.


Subrata pergi tanpa berkata apa-apa. Dalam hati Subrata kesal pada Sarah tidak menurut lagi. Maunya Subrata mantan istrinya itu tetap lugu dan gampang dikelabui. Subrata tak tahu kalau waktu akan mendidik seseorang menjadi matang dan tegar.


Gani heran melihat ibunya jadi judes terhadap papanya Lucia. Biasa mamanya tidak pernah judes kepada siapapun bahkan selalu ramah. Mengapa mamanya sangat tidak menyukai papanya Lucia. Gani belum bisa menjawab karena masih ingin mengetahui siapa Subrata itu di dalam hidup Sarah.

__ADS_1


"Mami mengenal pak Subrata? Dia orang tajir lho! Perusahaannya sangat besar dan maju. Maunya Mami mengizinkan aku bekerja di sana karena kesempatan untuk maju lebih besar." kata Gani tanpa prasangka buruk.


Bu Sarah menggeleng tak ingin bahas Subrata dengan Gani. Lelaki itu tak pantas jadi bahan perbincangan dalam keluarga. Subrata adalah sosok setan bagi Sarah.


"Tak usah sebut orang itu lagi. Ibu ingatkan kamu jangan sekali-kali dekat dengan orang itu! Suatu saat kau akan sadar bahwa dia itu bukan manusia baik. Kau fokus dengan posisi manager kamu. Jangan terpikir yang aneh-aneh!"


Gani tak berani membantah. Ibunya sudah beri peringatan berarti itu adalah perintah. Sedikitpun Gani tak ingin melawan perintah ibunya. Gani dan Gina memahat motto surga di bawah telapak kaki ibu di dalam otak. Semua perintah ibu harus dipatuhi.


"Siap ibunda ratu! Besok Gani akan mulai masuk kantor."


"Istirahat dulu di rumah sampai pulih seratus persen. Toh Gina sudah wakili kamu bekerja! Hargai pengorbanan adikmu!"


"Iya ibunda ratu. Hamba akan patuh." Gani menutup perihal Subrata. Tak ada cela buat dia maju ke depan jadi direktur.


Harusnya Gani berpikir secara waras, kalau tidak ada apa-apanya Subrata tak mungkin memberi posisi sangat strategis kepada Gani. Pasti ada sesuatu di balik penawaran menggiurkan ini. Gani harus hati-hati sesuai dengan pesan ibunya agar jangan mendekati Subrata.


"Ibu pergi keluar sebentar. Coba tidur!" kata Bu Sarah seraya meraih tas yang tergeletak di atas meja.


Untunglah bed satu lagi tak ada pasien sehingga Gani bisa istirahat tanpa gangguan pasien lain. Kadang pasiennya anteng justru yang jaga buat bising. Apalagi yang jumpa tukang ngorok. Pasiennya bukannya cepat sembuh malah tambah parah.


Sepeninggalan ibunya Gani segera angkat telepon lapor pada Gina tentang kehadiran Subrata dan tawaran kerja menggiurkan. Gani mau tahu pendapat Gina. Siapa tahu Gina mendukung dia maju sebagai direktur. Asal Gina setuju lebih gampang bujuk maminya.


Gani sedang bayangkan ponsel jelek Gina berdering dengan nada dering yang jelek. Gani juga tak habis pikir mengapa adiknya itu tidak tertarik gunakan ponsel pintar. Padahal Gina itu dasarnya pintar. Apa mau gadis itu.


"Assalamualaikum dek! Di mana?"


"Kau tebak di mana?" terdengar Gina mendesah dengan nafas berat.


Gina tertawa kecil karena tebakan Gani hampir betul cuma Gina tidak sedang pegang kunci Inggris melainkan obeng untuk setel rem mobil pak Julio.


"Sudah ada kemajuan. Sudah sehat? Siap diajak lari maraton?"


"Ogah...kulit aku bisa gosong kena sinar ultraviolet. Bisa pudar namaku sebagai lelaki terganteng di kantor."


"Aku lagi kerja. Kamu mau omong apa?"


"Mau omong apa ya? Aduh gara demam kepala Ku jadi tulalit! Oya...tadi papanya nona Lucia datang menjenguk aku. Dia bawa buahan. Herannya mami judes banget padanya."


Gina terdiam di bawah kolong mobil. Gerakan tangan Gina jadi kaku dengar orang yang paling dia benci datang jenguk Gani. Andaikata membunuh dilegalkan mungkin Subrata adalah target pertama Gina.


"Woi Gin...tidur ya?" seru Gani tak sabar karena Gina tak urung jawab.


"Jauhi dia!"


"Ya ampun...kalian perempuan sangat kompak ya! Memusuhi orang sama. Dia itu baik lho! Nawari aku jadi direktur di perusahaan Mahabarata. Kamu bujuk mami ijinkan aku kerja di sana."


"Kau mau kerja di sana? Kalau kau berani akan Kupatahkan kakimu biar pincang. Pincang permanen."


Gani kaget Gina sama dengan ibunya tak ijinkan Gani bekerja di sana. Biasa Gina akan dukung Gani capai kemajuan tak peduli harus korban diri sendiri. Tapi kali Gina tidak senang Gani capai prestasi lebih baik. Ada apa? Pertanyaan itu berkelebat di benak Gani.


"Kok seperti mami?"

__ADS_1


"Kalau kau tahu kebenaran maka kamu juga akan seperti mami."


"Ngak dong! Aku sih pingin banget jadi direktur muda. Bawa mobil mahal ke kantor dan pakai jas seperti pak Kevin."


"Emang kamu bisa nyetir?"


"Ngak sih! Kan cuma pingin. Ajari aku nyetir ya! Persiapkan diri jadi orang hebat."


"Gani sayang...aku tak akan ulang dua kali ya! Hindari Subrata! Dia itu demit! Bukan makhluk ciptaan Tuhan melainkan setan dari neraka."


"Idihhh serem amat kalimatmu! Kau tak suka bukan berarti aku juga harus tak suka. Orang dia suka padamu kok! Sangat ramah."


Gina menimbang mau buka cerita pada Gani tentang Subrata. Om Sabri sudah wanti-wanti kepada Gina untuk tidak menceritakan kepada Gani. Mulut Gani persis seperti bebek berbunyi sepanjang hari. Senang tidak senang tetap kwek kwek.


"Gan...kau sudah sehat untuk terima gempuran mental?"


"Sehat...aku siap asal jangan dihajar! Muka mahal ku tak boleh bonyok. Ayo apa?"


"Pertama bersumpah lah kau takkan omong apa-apa pada ibu. Kedua jaga mulut jangan asal cuap! Ketiga bingkem!"


"Stop...satu dua tiga kok buntutnya sama? Kamu mau omong piye nduk?"


Gina menarik nafas dalam dalam agar jangan sesak dada sebab harus ulang kisah sedih ibunya. Gina kasihan pada ibunya maka tak mau omong apapun walau sudah tahu kisah sedih sang ibu.


"Ada satu keluarga bahagia baru nikmati pernikahan selama setahun. Kebahagiaan itu terkoyak sewaktu sang suami mulai main gila dengan psk di night club. Sang suami tergila-gila pada psk sebelum nikahi isterinya bahkan punya seorang anak. Sang isteri tak tahu kalau suaminya piara barang buangan. Psk itu tak mau jadi simpanan terusan mulai bergerak cari kesalahan sang isteri dan sukses fitnah sang isteri hingga dicerai suami. Suami tolol itu lebih memilih mempercayai perempuan PSK itu. Dia menceraikan istrinya tanpa memberi apapun kepada istrinya padahal waktu itu istrinya sedang mengandung. Dia dengan teganya mencampakkan istri yang baru dia nikahi setahun demi seorang perempuan malam." Gina berhenti sejenak beri kesempatan pada Gani untuk komentar. Gina tak percaya Gani tak menangkap sesuatu dari ceritanya.


"Gin.. dari mana kau dengar kisah ini?"


"Dari mana kau tak perlu tahu. Asal kau tahu isteri yang dicampakkan dengan susah payah membesarkan dua anak kembarnya hingga jadi manusia. Dia bekerja apa saja untuk hidupi kedua anaknya. Untunglah ada lelaki baik selalu dampingi dia hingga sekarang."


"Gin.. kamu mau katakan kalau wanita yang diceraikan itu adalah ibu kita? Dan suami kurang ajar itu adalah Pak Subrata?"


"Menurutmu?"


"Psk itu adalah mamanya nona Lucia dan Lucia adalah anak hasil selingkuhan?"


"Menurutmu?"


"Subrata campakkan mami kita untuk seorang *****?"


"Menurutmu?"


"Kurang ajar...dia tak pantas mendapat belas kasihan dari kita. Mami hidup di ujung jarum sementara mereka hidup di ayunan mahal sampai lupa daratan."


"Nah itu kamu ngeh! Masih ingin jadi direktur? Ibu tak ingin berjumpa dengannya lagi maka memilih pergi menjauh. Siapa sangka akhirnya mereka berhasil bertemu lagi."


"Ogah...kok aku mual ya? Hamil kagak tapi perut melilit. Artinya nona Lucia anak haram Subrata dengan emaknya si wanita sejuta umat. Kita ini aslinya anak Subrata yang legal. Wah..enak banget ulat bulu kegatelan itu!"


"Kita bukan anak Subrata melainkan anak Bu Sarah. Ayah kita adalah om Sabri. Dia lebih berhak disebut ayah. Dia yang rawat kita dari kita masih pinyit. Gan.. jangan pernah terpikir untuk akui setan sebagai orang tua! Nanti kamu ikutan jadi setan."


"Aku sudah ngerti. Jauhi bibit penyakit! Kita sudah bahagia walau dalam keterbatasan. Ok...aku akan fokus jadi manager aku saja! Kenapa kau baru cerita sekarang? Rugi aku sempat agungkan setan itu! Rasa kagum aku kok jadi ilfil?"

__ADS_1


"Sama setan kok kagum? Lupakan orang kayak gitu! Sekarang kita fokus cari duit dan usahakan Om Sabri menikah dengan mami kamu biar setan tidak gentayangan di sekitar kita."


__ADS_2