
Gina memandang tak senang pada ibunya selalu dahulukan Gani dalam segala hal. Kadang Gina curiga dia itu bukan saudara Gani melainkan anak pungut seumuran Gani lalu diangkat jadi anak.
"Bu...di tong sampah mana ibu pungut aku? Kembalikan ke sana aja deh! Gin rela kok!" rengut Gina tersinggung ibunya dahulukan Gani.
"Huusss omong apa kamu? Ibu hanya kasihan pada adikmu. Seorang kakak kan harus lindungi adiknya. Kamu tega adikmu sakit?"
"Bodo..Aku sendiri banyak kerja. Aku mau kumpul duit ke pengadilan kukuhkan status aku sebagai kakak. Akan kutendang adik kurang ajar yang selalu nyusahin. Seorang kakak kan berhak didik adik." ancam Gina melontarkan kilatan mata setajam mata pisau silet.
Gani meraba lehernya seolah sudah kena besetan mata pisau tajam itu. Tak luka tapi bikin bulu kuduk merinding.
"Ibu salah omong! Ibu sudah pikun karena dijejali ratusan gombalan papi. Aku bisa kok kerja tugas sendiri. Aku bisa..." Gani angkat tangan hindari konflik dengan Gina. Bad mood Gina kambuh bahayakan jiwa. Salah-salah kuping bisa melebar saingi kuping gajah.
Gina mendengus tak open tanda menyerah Gani. Kalau ada bendera putih pasti sudah dikibarkan.
Gina lanjut makan dengan santai. Sabri dan Sarah hanya bisa menghela nafas. Kembar tapi jiwa sangat kontras. Satu keras dan satunya lembut. Ntah sampai kapan keduanya baru bisa tampilkan jiwa mereka sesungguhnya. Jiwa yang tertukar.
"Makan!" bentak Gina membuat Gani kelabakan. Bentakan kecil saja sudah buat jantung Gani mau copot. Gimana kalau suara Rambo Gina berkumandang. Jantungnya tak copot lagi malah terbang ke Antartika ngumpet ketakutan.
Gani patuh menyuap sendok demi sendok nasi ke mulut. Makanan itu terasa pahit, kecut, pedes dan asam. Tak ada kata nikmat. Gani paksa makan sampai habis takut kena jari mungil Gina.
Gina duluan selesai makan langsung angkat piring ke belakang untuk dibersihkan. Bu Sarah melirik gerakan Gani sekilas sebelum ke dapur. Bu Sarah mau yakin Gina sudah di belakang barulah berani komentar pada Gani.
"Kamu betulan banyak tugas?"
"Iya mami...malam ini begadang deh!" jawab Gani suram.
"Ibu minta Gina kerjakan ya! Kasihan kamu harus jaga malam! Besok tak bisa bangun pula."
Sabri mendehem tak suka cara Bu Sarah manjakan Gani. Gani tak boleh begadang apa Gina boleh? Gina juga harus masuk kantor esok hari. Bahkan kerja di kantor sama.
"Kerjakan sendiri! Gina juga harus ke kantor besok." ujar Om Sabri datar. Om Sabri memang lebih sayang pada Gina karena anak itu lebih matang dan dewasa. Beda dengan Gani yang kekanakan. Bu Sarah terlalu manjakan Gani sehingga anak itu tak bisa dewasa.
"Iya Pi! Aku ke kamar dulu ya! Tidak bantu di dapur lagi." Gani meninggalkan meja makan tanpa semangat. Bayangan tempat tidur nyaman harus pupus. Tugas tetap tugas.
Malam makin tua. Kegelapan rajai seluruh persada membuat lampu seperti jutaan kunang-kunang bertebaran seluruh kota. Kelap kelip berkedip main mata dengan setiap orang yang memandangnya.
Angin malam bertiup makin tak ramah mencubit setiap insan yang berpas-pasan dengan bayu malam itu.
Di dalam rumah sederhana tampak dua anak muda sedang berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Dia anak muda itu adalah si kembar Gani dan Gina.
Gina sedang merancang perhiasan baru untuk ikut kompetisi design perhiasan dunia tahun ini. Bermodal tekad Gina akan mencoba terobos pasaran internasional. Gina harus berani maju buat rancangan atas nama sendiri. Tak perlu sembunyi di balik kesuksesan Lucia lagi.
Lewat tengah malam Gina keluar dari kamarnya menyeberang ke kamar Gani. Gina mau lihat sampai di mana keteguhan Gani terhadap pekerjaan. Anak itu terlalu cepat senang naik pangkat. Tidak tahu resiko menjabat jabatan tinggi. Makin tinggi jabatan makin besar resiko pekerjaan.
Hati Gina terenyuh lihat Gani tertidur di depan laptop. Sudah begini tak usah ditebak tugas Gani belum kelar. Kalau sudah kelar pasti dia sudah pindah ke tempat tidur. Buktinya dia tertidur di depan laptop. Jamin belum menyelesaikan tugas.
Gina menghela nafas tak tahu sampai kapan dia harus jadi pembantu Gani. Apa-apa selalu Gina yang selesaikan. Tampaknya tugas Gani ini Gina juga yang akan selesaikan.
Perlahan Gina pindahkan tubuh Gani ke kasur. Dasar tidur kebo. Dipindahkan ke ranjang sama sekali tidak bangun. Enak saja dia tidur berayun di alam khayalan sesuai apa diharapkan.
__ADS_1
Setelah Gani aman di ranjang barulah Gina selesaikan tugas Gani. Gina tak tahu pas atau tidak. Yang penting dia sudah niat bantu ketimbang besok Gani kena ayakan mulut Kevin.
Kicauan burung bangunkan Gani dari tidur lelap. Anak ini berusaha mengingat apa yang terjadi. Kayaknya semalam dia kerjakan tugas sampai larut malam. Selesai atau tidak tugasnya dia sendiri tak tahu.
Gani cepat-cepat turun dari ranjang lihat pekerjaan yang harus dia serahkan pada hari ini. Mata Gani berhenti berputar tatkala lihat satu sosok berpakaian hitam tidur di depan meja tempat dia bekerja.
Gina tertidur di depan meja hanya berbantal kedua lipatan tangan sementara laptop masih menyala. Hati Gani terharu lihat pengorbanan Gina padanya. Dia memang sering nyusahin adiknya itu. Dasar Gani tak tahu diri. Sudah tahu sering nyusahin Gina masih juga betah bikin ulah.
Gani tak tega bangunkan Gina memilih perlahan keluar dari kamar. Takut berisik ganggu tidur Gina.
Di luar Gani jumpa dengan Bu Sarah yang mulai aktifitas masak-masak untuk jualan. Sudah istirahat beberapa hari kini sudah waktunya kembali jualan.
"Selamat pagi mami.." sapa Gani mengecup pipi ibunya dengan manja.
"Gimana tugasmu?"
"Dikerjakan Rambo! Dia masih tidur di kamar Gani. Kasihan dia begadang semalaman."
"Gina bantu kamu?"
Gani mengangguk, "Aku ketiduran mami! Eh bangun pagi sudah ada Rambo!"
"Kamu ini selalu nyusahin adikmu! Kamu sudah dewasa harus belajar lebih tanggung jawab. Jangan selalu bikin ulah pancing emosi Gina! Bantu ibu di dapur dulu! Biarkan Gina tidur! Bukankah dia juga kerja?"
"Iya mami...ayok biar hari ini aku ganti dia bantu mami! Aku yang beruntung punya adik serba bisa."
"Sadar ya syukur!"
"Mami...Gina kok pintar ya? Apa mami kasih otak lebih pada Gina?" ngoceh Gani bikin Bu Sarah mendelik marah.
"Sembarangan omong! Itu karunia Tuhan. Kamu juga bisa kalau mau. Cuma kamu ini malas. Sekarang keluarkan sayuran di kulkas. Kita mulai masak!"
Gani melaksanakan perintah Bu Sarah sambil berpikir mengapa otak Gina lebih cas darinya. Takutnya Bu Sarah berat sebelah beri porsi otak lebih banyak pada Gina. Giliran ke dia cuma dapat seupil maka otaknya pas-pasan.
Pikir tinggal pikir. Pekerjaan membantu ibu sudah di depan mata. Biasanya Gina yang bantu ibunya lakukan semua ini tapi berhubung
Gina masih tidur maka Gani harus berkorban gantiin Gina lakukan tugas. Tak ada pilihan lain selain ikuti arahan Bu Sarah memasak semua makanan untuk jualan.
Matahari sudah tinggi sewaktu Gina membuka mata. Sinar matahari sudah menerobos masuk dalam kamar Gani lewat jendela kaca. Gina mengucek mata memandang sekeliling lihat dia sedang di mana. Gina melihat meja kerja bukan miliknya. Meja ini lebih rapi dari mejanya penuh pernik hiasan kayak anak gadis.
Gina bangkit dari kursi kerja Gani membawa langkah keluar dari kamar Gani. Dengan bawa muka bantal Gina mencari orang di rumah. Gina berharap jumpa seseorang bisa diajak diskusi masalah tugas Gani.
Gina hanya melihat Om Sabri yang sekarang jadi ayahnya. Om Sabri baru saja keluar dari kamar mandi bersih-bersih. Rambut laki itu basah beri kesan baru saja lakukan ritual intim dengan ibu Gina. Gina tak mau suudzon pada laki itu. Bisa jadi kepala penuh ketombe maka harus rajin keramas.
"Selamat pagi ayah." sapa Gina sambil tutup mulut. Mulutnya belum sempat jumpa air takut bawa hawa naga kelas berat.
"Pagi...kok telat pagi ini?"
" Ayah tebak mengapa aku telat?"
__ADS_1
"Kau kerjakan tugas Gani? Ayah bukan larang kamu membantu Gani tapi kamu harus didik dia belajar kata tanggung jawab. Dia itu manja sekali. Anak laki tak boleh gitu."
Gina benarkan kata Om Sabri namun Gani sudah usaha namun gagal. Gina juga tak mungkin biarkan saudaranya kena marah di kantor. Kadang mulut Kevin itu tak bisa direm kalau sedang kesal. Ini akan merusak reputasi Gani di kalangan pegawai. Gina ingin melindungi saudaranya dari semua ancaman.
"Dia sudah usaha tapi tak kelar. Aku mau bersiap ke kantor. Ibu sudah beres-beres?"
"Sudah...dibantu Gani."
Gina tersenyum melihat Gani memiliki hati nurani. Sudah dibantu dia pun bersedia membantu menyelesaikan tugas yang biasa dibebankan kepada Gina. Impas sudah rasa capek semalaman begadang kerjakan tugas Gani. Dalam berkeluarga memang seharusnya saling membantu agar timbul keselarasan. Untunglah Gani memiliki perasaan tidak menyusahkan Gina melulu.
Seperti pagi sebelumnya Om Sabri membantu cara membawa semua bekal untuk jualan. Sebelumnya status Om Sabri hanyalah sebatas teman sekarang lelaki itu telah menjadi suami dari Bu Sarah maka harus lebih bertanggung jawab terhadap keluarga ini. Sebenarnya Om Sabri merasa lebih nyaman kalau Bu Sarah tidak jualan lagi namun Om Sabri juga tidak ingin melarang Bu Sarah melakukan sesuatu yang dia senangi. Selama Bu Sarah merasa nyaman dan senang maka Om Sabri akan dengan senang hati mendukungnya.
Gani duluan berangkat ke kantor karena dia duluan siap bertempur dengan pekerjaan yang sedang menantinya. Tinggal lah Gina masih harus beres-beres sebelum berangkat ke kantor. Sebenarnya Gina sangat malas berangkat ke kantor karena akan terikat seperti seekor kucing dikurung di dalam kandang. Namun karena Gina terlanjur janji kepada Kevin maka dia harus melaksanakan apa yang telah dia janji.
Gina tiba di kantor sebelum Kevin datang. Gina segera bereskan sisa tugas semalam yang belum kelar karena dia duluan pulang sebelum jam kantor.
Baru saja Gina duduk di kursi, teleponnya berdering tanda ada panggilan masuk. Gina menarik benda kecil itu dari saku celana lihat siapa rajin amat pagi-pagi sudah hubungi dia.
"Assalamualaikum Pak!" Gina duluan menyapa setelah tahu siapa telepon.
"Waalaikumsalam...sudah ke kantor?"
"Sudah pak! Bapak sudah berangkat ke kantor?"
"Ini sedang dalam perjalanan ke kantor. Semalam bapak sudah menceritakan semuanya kepada Ibu. Ibu senang sekali ingin mengajak kalian semua makan malam bersama di rumah. Kapan kalian ada waktu untuk memenuhi undangan dari ibu?"
"Gin harus tanya pada ibu dulu."
"Baik...bapak tunggu kamu. Oya...kamu turun sebentar! Ibu ada titip sarapan untukmu. Bapak akan antar ke kantormu tapi tak bisa singgah lagi."
Gina tertegun tiba-tiba mendapat perhatian dari orang baru. Gina belum terbiasa mendapat kebaikan dari orang luar. Gina paling takut tanam budi takut kelak susah bayar. Namun Gina tidak tega juga menolak kebaikan hati keluarga Pak Julio. Mungkin hanya sekedar sarapan tidak akan menjadi masalah.
"Untuk apa repot pak."
"Tidak repot nak... Ibu telah membuat sarapan untuk kita semua. Gani juga dapat bagian karena kalian dua sama di mata bapak. Ayo cepat turun! Bapak sudah dekat dengan kantor kamu."
"Iya pak! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Gina menyimpan benda mungil alat komunikasi miliknya. Ada sedikit rasa kurang enak di hati namun dia tetap harus hadapi. Semua serba mendadak bikin hidup Gina terganggu.
Gina turun ke lantai dasar gedung menunggu kehadiran pak Julio. Andaikata ada orang tahu orang sekaya Pak Julio antar sarapan untuk Gina pasti bikin heboh. Orang yang tak tahu hubungan mereka pasti akan menancapkan pikiran negatif pada mereka berdua. Nama Gina akan dikaitkan dengan gelar baru yakni pelakor. Cuma Gina tak sempat berpikir sejauh itu. Yang penting dia berada di jalan benar.
Gina melihat mobil mewah Pak Julio masuki pelataran parkir gedung kantor Kevin. Tanpa buang waktu Gina hampiri mobil itu begitu berhenti di depan pintu kantor. Gina tak mau jadi pusat perhatian orang lain. Seorang pak Julio antar sesuatu pada Gina ini merupakan kejutan besar.
Pak Julio turun dari mobil berikan tas berisi sarapan untuk Gani dan Gina. Kedua orang ini tak tahu di pintu gerbang kantor menyusul masuk mobil mewah lain. Dari balik kaca mobil dua pasang mata menatap ke arah mobil Pak Julio. Dari jauh mereka lihat pak Julio berikan sesuatu pada Gina lantas lelaki itu menepuk pipi Gina penuh kasih sayang.
Kevin mendesah kurang senang ada orang mesraan di kantornya pagi hari. Perbuatan Gina sudah membuat keresahan di lingkungan kantor. Semua orang tahu pak Julio memiliki keluarga tenteram jauh dari gosip miring. Muncul pula anak kemarin sore ingin mengoyak kedamaian dalam keluarga pak Julio. Kevin tak bisa biarkan Gina melakukan hal tak terpuji itu.
__ADS_1
Mobil pak Julio meninggalkan gedung kantor Kevin dan berpapasan dengan mobil Kevin yang akan masuk kantor. Mobil pak Julio beri klakson ntah apa maksudnya. Mau pamer dapat daun muda di kantornya. Kevin gigit bibir tahan emosi. Gina harus diberi pelajaran agar tidak sembarangan tebar pesona.