JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Kevin Bisa


__ADS_3

Jay melirik raut wajah Kevin berkali-kali pantau mengapa bosnya kaku sekali. Mau tanya langsung atk punya nyali.


Mobil terus melaju ikuti gerakan mobil lain mencapai tujuan sendiri. Jalanan belum begitu macet walaupun tidak bisa kencang. Asal jangan terjebak kemacetan saja sudah syukur.


"Kita langsung ke kantor atau mau singgah di satu tempat lagi." Jay coba cari tahu apa bosnya ini butuh sesuatu.


"Kita ke hotel.."


Jay hampir saja menabrak mobil di depan mendengar ajakan Kevin untuk pergi ke hotel. kata hotel memang selalu mendatangkan image buruk di benak setiap orang.


"Astaghfirullah..." Jay mengucap begitu sempat injak rem untuk hindari kecelakaan akibat kaget pagi-pagi Kevin ajak dia ke hotel. Jumpa klien juga tak mungkin sepagi ini.


"Hei kenapa kamu?" Kevin ikutan kaget Jay rem mendadak.


"Kaget pak...sepagi gini ngapain ke hotel? Coba kalau monster tahu bapak ke hotel sepagi ini bisa rata wajah kita diamplas anak itu."


Lagi-lagi Gina jadi mimpi buruk buat laki hidung belang. Kelihatannya Jay sangat kenal sifat Gina tak suka orang cabul.


"Pikir apa kamu ini! Aku ke hotel mau jumpa ayah dan ibu Gina. Mereka kan mau ke luar negeri maka aku ingin melamar Gina sebelum mereka berangkat." Kevin berterus terang hapus dugaan negatif Jay.


"Melamar monster? Apa bapak sudah habis pikir? Sekali bapak masuk kandang monster selamanya bapak akan terkurung di dalamnya. Gina bukan orang bisa dipermainkan. Kalau bapak nikahi dia mata bapak harus lurus ke depan. Mau cuci mata merupakan hal tabu."


Kevin tertawa dengar Jay promosikan kejelekan Gina. Gina itu tidak seram cuma anak itu masih belum bisa move on dari kesedihan ibunya diselingkuhi oleh Subrata.


"Dia tidak seseram itu. Justru aku menemukan dia sangat setia dan baik hati. Di luar saja tampak seram tapi di dalam dia itu selembut tahu sutra."


"Itu aku akui...Gina memang setia kawan dan baik tapi dia itu benci laki cabul. Bapak takkan punya kesempatan melirik cewek lain bila jadian sama dia. Kita ini cowok kadang muncul sifat iseng usilin cewek. Kalau bapak lakukan kiamat hidup bapak."


"Aku tahu...Gina sudah buka sifat kejamnya itu. Aku anggap itu satu tantangan. Kita ke hotel saja. Doain aku diterima oleh Om Sabri."


"Semoga saja. Gina itu anak kesayangan om Sabri. Om turunkan semua ilmu pada Gina termasuk cara tangani para preman macam kami. Jaringan om Sabri sangat luas kini diwariskan pada Gina."


Kevin manggut-manggut paham. Kalau Om Sabri tak wariskan pada Gina siapa lagi mampu teruskan perjuangan laki itu. Berharap pada Gani jauh dari harapan. Laki kemayu itu hanya bisa mengandalkan Gina sebagai backing bila ada masalah. Tak mungkin Om Sabri percayakan warisan pada anak itu. Gina lah orang paling tepat menerima semua hasil kerja keras om Sabri.


Tak terasa mobil telah mencapai hotel yang dimaksud Kevin. Kevin menatap bangunan tinggi itu dengan hati tak karuan. Akankah dia berhasil melunakkan hati Om Sabri meminang anak kesayangan laki itu.


Berhasil atau tidak Kevin tetap harus usaha. Kevin tak boleh mundur walau ada lautan terbentang di depan mata. Makin sulit meraih perhatian Gina makin terbakar semangat Kevin untuk mencuri hati gadis itu.


Jay menunggu Kevin mengumpulkan segala keberanian untuk menjumpai kedua orang tua Gina. Kevin termasuk hebat berani menghadapi orang tua Gina seorang diri. Laki itu melangkah sendirian tanpa didampingi keluarga. Kevin tak bisa mengandalkan siapapun kecuali diri sendiri. Orang yang paling dia sayangi dan dia percaya justru mengkhianatinya bergabung dengan keluarga jahat sebelah ayahnya. Maka itu Kevin mengambil inisiatif tidak mengandalkan siapapun selain keteguhan diri sendiri.


"Perlu kudampingi?" tegur Jay membuyarkan lamunan Kevin.

__ADS_1


"Biar kucoba sendiri. Kamu tunggu saja di sini. Kamu cukup bantu doa saja."


"Pasti pak." Jay acung jempol beri spirit pada Kevin.


Kevin menarik nafas dalam-dalam barulah buka pintu mobil melangkah keluar menuju ke hotel. Sebelum mencapai pintu hotel Kevin meneleponi om Sabri untuk minta izin jumpa. Kevin tak mungkin masuk ke kamar hotel Sabri untuk lamar anaknya. Paling mereka akan jumpa di ruangan hotel maupun restoran.


"Assalamu'alaikum...selamat pagi om! Ini Kevin." sapa Kevin begitu tersambung ponsel om Sabri.


"Waalaikumsalam...tumben telepon pagi-pagi. Apa anak-anak bikin ulah menyulitkan kamu?"


"Oh tidak om...Gani dan Gina sudah berangkat kerja. Aku ada di depan hotel tempat om nginap."


"Nah lho...ayo sini ke restoran hotel! Kami sedang sarapan. Bentar lagi mau pulang ke rumah. Om tunggu kamu di sini."


"Iya om.. terimakasih. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam.."


Hati Kevin sedikit tenang mendapat sambutan baik dari Om Sabri. Semoga saja om Sabri tetap baik sewaktu dia utarakan niat tulus mempersunting anak gadis laki itu.


Kevin ayunkan langkah mencari restoran yang dimaksud om Sabri. Kevin bukan cuma akan hadapi Om Sabri melainkan opa Gina dan Omanya. Kevin belum tahu sampai di mana kekuasaan opa terhadap hidup Gina. Gina itu anak baik pasti akan patuh pada arahan keluarga.


Om Sabri melambai pada Kevin begitu Kevin masuk ke lokasi restoran. Restoran hotel belum banyak pengunjung karena masih lumayan pagi buat turis asing. Mereka mana mau bangun terlalu pagi hanya untuk nikmati secangkir kopi hangat. Hanya ada beberapa orang duduk di kursi menikmati sarapan pagi sambil ngobrol santai termasuk keluarga Om Sabri.


Kevin telah harungi lautan dan mendaki gunung terjal barulah tiba di hadapan om Sabri sekeluarga. Sambutan semuanya cukup baik namun bagi Kevin itu sebuah cobaan mental apa dia sanggup lalui kesulitan ini.


"Ayo duduk anak muda! Sudah sarapan?" tanya Opa paling ramah. Dari pertama jumpa opa sudah suka pada Kevin yang dia anggap generasi muda mampu jawab tantangan kehidupan di masa sulit ini.


"Sudah opa...sarapan bersama Gina dan Gani." sahut Kevin kaku. Kevin kehilangan pamor berada di antara orang tua Gina. Kewibawaan seorang CEO ludes berganti seorang pengecut ketakutan di ancam oleh sekelompok orang padahal keluarga om Sabri tak lakukan apapun terhadap Kevin. Malah mereka berkesan sangat ramah.


"Jangan berdiri terus! Duduk sini sama opa. Opa suka pada anak muda yang kreatif."


Kevin menarik kursi di samping opa agak segan duduk semeja dengan para orang tua Gina. Pada hari biasa Kevin takkan segrogi gini. Berhubung ada niat terselubung membuat tingkah Kevin menjadi aneh. Sikap jantan Kevin sirna seketika setelah berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan. Kevin minder sendiri padahal keluarga Om Sabri tidak melakukan apa-apa terhadapnya.


"Tidak ke kantor nak Kevin?" Bu Sarah bertanya dengan lembut seperti biasa.


"Rencananya sih iya tapi aku punya hal penting ingin kusampaikan. Aku harus katakan sebelum om dan ibu berangkat ke Jerman." Kevin makin gugup dekati ujung topik utama. Keringat dingin bermunculan di kening tanpa diminta oleh laki ini. Dalam hati Kevin mengutuk kebodohan sendiri tak bisa gentle hadapi situasi grogi ini.


"Mau omong apa? Kok mendadak gagap?" timpal Om Sabri seakan menikmati kesengsaraan Kevin.


Kevin menunduk mengatur nafas sebelum utarakan niat baik meminang Gina untuk dirinya. Kalimat sederhana namun seperti bongkahan batu harus dikeluarkan dari bibirnya. Berat banget.

__ADS_1


"Aku...aku...suka pada Gina. Aku ingin melamarnya sebelum om dan ibu berangkat ke Jerman." Kevin berkata sambil memicingkan mata takut melihat ke wajah om Sabri.


Seketika hening. Tak ada yang mau menjawab perkataan Kevin. Semua mata tertuju pada keberanian Kevin ungkap isi hati melamar pujaan hati. Mereka tak berhak marah karena semua orang punya hak untuk menyatakan isi hati. Diterima atau tidak itu urusan kesekian.


"Kau serius nak? Gina bukanlah gadis yang pandai ambil hati laki. Dia punya banyak kekurangan. Orangnya pemarah." Bu Sarah paling duluan sahut permintaan Kevin.


"Kekurangan Gina akan kujadikan kelebihan aku. Aku juga tak luput dari segala kekurangan. Biarlah kami saling melengkapi!" Kevin mulai bersikap jantan agar tidak diejek sebagai laki cupu.


"Kami tahu kamu anak baik tapi semua berpulang pada Gina. Kalau Gina setuju kami juga setuju. Dia yang jalani kehidupan maka keputusan ada di tangan Gina. Kami hanya mendukung." Om Sabri tidak menolak juga tak menerima. Om Sabri mau Gina yang tentukan masa depan sendiri. Bagi Om Sabri profil Kevin cocok untuk Gina. Kevin agak penyabar sedang Gina sedikit pemarah.


"Gina menyerahkan semuanya pada om dan ibu."


"Kalian sudah bicara?"


"Sudah om...aku datang minta persetujuan om dan ibu serta opa dan Oma. Gina takkan terima aku bila tidak direstui oleh anda semua."


"Kalau gitu kita terima saja. Kapan rencana kalian resmikan hubungan kalian?" Opa ikut campur karena Gina menyebut opa dalam rencana masa depannya.


"Aku rencana menikah dulu besok di kantor RT kita. Peresmian akan kami tunda sampai om dan Ibu balik sini. Kami menikah dulu untuk hindari fitnah. Kalau biasanya ada Om dan ibu maka saya bisa leluasa tinggal di rumah. Sekarang Om Dan ibu akan berangkat maka kami pikir lebih baik kami menikah supaya hindari gunjingan orang." Kevin berterus Serang isi hatinya untuk menjaga nama baik Gina. Namun Kevin tidak mengutarakan janji dia kepada Gina untuk tidak melakukan hubungan intim sebelum Gina betul-betul memastikan untuk hidup bersamanya.


"Baiklah. Kita pulang dulu urus sama orang kelurahan. Lusa om Sabri berangkat artinya waktu kalian cuma tinggal besok. Kau pergilah ke kantor. Serahkan pada om soal ini. Om tidak banyak pesan cuma ingat jangan sekali-sekali sakiti anak om. Kalau kau laku om pastikan hidupmu akan sengsara seumur hidup." kata Om Sabri pelan namun mematikan.


Kevin mengangguk yakin takkan berpaling dari Gina. Kevin sudah memetik hasil dari buah perselingkuhan. Kenikmatan sesaat harus dibayar dengan penderitaan seumur hidup. Kevin telah bersumpah di dalam hati tidak akan pernah mengecewakan wanita yang menjadi istrinya. Siapapun orangnya tetap akan mendapat tempat seumur hidup tanpa ada kadaluarsanya di dalam hati Kevin. Apalagi orangnya itu ada lagi Gina yang dia puja dari awal jumpa.


"Aku berjanji om...Gina adalah yang pertama dan terakhir. Aku mau jujur aku punya penyakit tak bisa dekatan dengan wanita selain Gina. Gina adalah satu-satunya wanita yang bisa kusentuh. Tapi itu bukan topik utama. Yang utama aku sangat sayang pada Gina. Kalau pun aku tak bisa menyentuh dia maka aku akan berobat sampai bisa menyentuh dia. Tuhan maha adil hadirkan dia untukku." Kevin merasa tak perlu rahasiakan penyakitnya biar kedua orang tua Gina yakin kalau Gina adalah satu-satunya wanita untuk Kevin.


Semua yang ada di situ kaget Kevin mempunyai rahasia tersembunyi yang tak mereka ketahui. Ternyata Kevin dekat dengan Gina mempunyai alasan sendiri. Om Sabri bersyukur kalau Gina berarti buat Kevin. Segala prasangka buruk terhapus setelah adanya pengakuan jujur Kevin.


"Kau ke kantor. Om akan hubungi kamu setelah ngobrol dengan Gina. Kalau Gina telah menerima kamu berarti kami secara resmi terima kamu juga. Dan kamu harus bimbing Gina dalam berbisnis karena dia itu orang baru di dunia bisnis. Didik dia agar bisa memahami persaingan dagang yang kadang terdengar licik."


"Iya om...itu sudah jadi kewajiban aku. Kami akan saling membantu memajukan perusahaan yang ditinggalkan oleh Opa. Aku juga sangat membutuhkan Gina untuk membantuku di perusahaan aku sendiri. Kami akan saling menjaga agar semua serentak maju ke depan."


Mata opa bersinar mendengar pernyataan Kevin yang menenangkan hatinya sebagai orang tua. Nama Kevin sudah cukup kondang di dunia bisnis sebagai pengusaha muda yang sukses. Opa tidak ragu lagi bila Kevin mendampingi Dina mengurus perusahaannya. Kevin tentu tidak akan tinggal diam bila terjadi sesuatu kepada Gina. Merestui Gina dan Kevin mendapat keuntungan berganda karena Gina sudah ada yang menjaga dan sudah ada yang membimbingnya lebih terampil di dunia bisnis.


"Kalian anak muda akan menjadi tombak tajam perusahaan kita. Opa tak kuatir lagi bila kamu bersedia berdiri di belakang Gina." timpal opa makin semangat untuk segera kembali ke Jerman. Opa bisa pensiun dengan tenang bila sudah ada penerus berbakat.


Kevin anggap acara lamarannya berjalan sukses karena Gina sudah mengatakan kalau kedua orang tuanya merestui maka dia akan mengikuti semua arahan orang tuanya. Om Sabri sudah tidak menolak dia berarti Kevin bisa laksanakan rencana sesuai plan awal.


"Kalau gitu aku berangkat ke kantor menunggu keputusan om semua. Dan sebelumnya terimakasih telah menerima aku. Aku tak punya keluarga dekat maka aku wakili diri sendiri memberanikan diri melamar Gina. Kumohon maafkan aku bila kalian anggap lancang."


Opa makin suka pada Kevin dia anggap tahu diri. Selalu kedepankan perasaan orang tua tanpa malu minta maaf bila bersalah.

__ADS_1


"Kamu maklum. Tenanglah anak muda!" Opa menepuk bahu Kevin beri kekuatan.


__ADS_2