JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Baru Tahu Ya


__ADS_3

Ferdinand tertawa sumbang menahan rasa ngantuk akibat terlalu happy habiskan malam bersama para wanita kekurangan bahan pakaian. Sana sini terbuka siap menampung jemari nakal lelaki hidung bertatto aneka warna.


"Ini juga mau pulang. Tumben mulai nongol lagi sekian lama absen sarapan cuci mata." gurau Ferdinand meraih bangku di samping Kevin.


Sementara itu Imam merasa ada sesuatu yang aneh di antara ketiga orang ini. Imam merasa pernah lihat cewek cantik yang dibawa Kevin untuk sarapan pagi. Imam berusaha ingat di mana pernah jumpa wanita muda ini. Otak kecil Imam terus berputar sambil tertangkap file terdahulu. Otak Imam sudah konek gambaran wanita muda di depannya.


"Gino....ya kau ini Gino! Tapi kok cewek...?" seru Imam menunjuk Gina setelah ingat siapa wanita muda ini.


Ferdinand langsung mengalihkan perhatian pada orang yang ditunjuk Imam. Ferdinand melongo melihat seorang dara cantik tanpa polesan menatap mereka tanpa emosi. Wajahnya datar seperti pertama kali jumpa di kota M.


"Kamu ini cewek ya. Sudah kuduga dari dulu tapi dasar Kevin ngotot kamu ini laki. Mana ada cewek bulu mata lentik dan kulit sehalus sutera. Hebat ya kamu Vin..sembunyikan identitas asisten kamu!" Ferdinand meninju perut Kevin dari samping saking kesalnya di bodohi Kevin. Padahal waktu itu Kevin juga kena tipu muslihat Gina. Dia juga mengira Gina itu cowok cantik.


"Demi kenyamanan bekerja maka Gina menyamar jadi cowok. Aku minta maaf kalau kalian merasa tertipu." Kevin berkata dibarengi senyum kecil.


Imam dan temannya tida banyak bicara melainkan takjub melihat Gino telah menjadi cewek cantik. Imam sudah duga kalau Gino itu seorang cewek. Seluruh bentuk tubuh Gino waktu itu sudah wakili profil sosok cewek. Dugaan Imam tidak meleset sedikitpun namun berhubung Kevin ngotot asistennya cowok ya mereka terima saja.


"Ok aku terima permintaan maaf kamu! Untuk perlihatkan ketulusan kamu harus izinkan nona Gina menjadi asisten aku pula. Gantian aku tatap wajah cantik asisten sempurna ini. Tuh Gani sudah balik jadi Gina boleh dong dibawa ke kantor aku." Ferdinand berkata seraya mengerling genit pada Gina.


Gina buang muka tanpa bicara. Gani kuatir di dalam diam Gina akan beri reaksi mengerikan. Ferdinand anggap Gina adalah barang bisa dioper sana sini. Gina tak harga samasekali di mata laki gempal itu. Seenak dengkul minta Gina pada Kevin. Apa mereka tak tahu kalau Gina adalah seorang komisaris juga pemilik perusahaan Kevin sekarang ini.


"Maaf sobat! Gina takkan ke mana-mana karena dia adalah milik pribadi. Di mana ada aku di situ ada Gina." ujar Kevin tegas tak mau beri angin surga pada Ferdinand.


"Pelit amat...aku percaya kamu masih banyak stok yang model gini! Aku kan rawat nona cantik ini sebaiknya. Aku jamin dia akan hidup gelimang kemewahan."


Kevin dan Gani menahan nafas takut Gina meledak dianggap perempuan matre. Bisa bonyok si gentong lemak ini. Laki ini terlalu pede dengan kekayaan sehingga hina orang sesuka hati.


"Maaf ya sobat! Gina tak perlu kemewahan. Dia sudah miliki segalanya." Kevin masih sabar hadapi sahabat hidung belang. Kevin tak cari ribut hanya bikin mood pagi jelek. Rencananya mau bersenang-senang dengan istri malah berantakan. "Satu lagi Nand..hormati Gina dong! Dia bukan mereka yang kemaruk nama dan harta."


Ferdinand tertawa renyah anggap ocehan Kevin hanyalah untuk kuasai Gina untuk diri sendiri. Memang baru kali mereka lihat Kevin bawa cewek di tempat umum walaupun sebatas asisten.


"Kau kebangetan Vin...lihat asisten kamu! Apa yang dia miliki? Di mana kalung berlian dan ponsel mahal terkini. Kau ini kuper tak bisa paham kebutuhan cewek. Gini nona Gina...kau ikut aku saja. Kujamin prestasi kamu akan cepat meningkat dan naik pangkat asal kau yakin dan patuh. Bersama Kevin si manusia jadul takkan ada peningkatan." Ferdinand berbalik rayu Gina untuk pindah kerja sama dia.

__ADS_1


Untunglah di samping Ferdinand ada Gani. Kalau tidak laki itu pasti akan menyentuh Gina untuk merayu Gina mau jadi asistennya. Imam dan Adam bungkam tak tahu harus omong apa setelah tahu kalau asisten dianggap laki ternyata seorang wanita cantik. Ferdinand sedang merayu Gina maka mereka berdua berdiam dulu untuk melihat kelanjutan cerita singkat ini.


Imam memang sangat terpesona pada kecantikan Gina sejak dari dulu. Sejak pertama jumpa Imam sudah tahu betapa indahnya sepasang bola mata itu. Cuma sayang Imam telah memiliki keluarga tidak berani menggoda Gina seperti yang dilakukan oleh Ferdinand.


"Aduh pak Ferdinand! Gina itu tak perlu meningkat karena dia sudah berada di posisi the top. Kalian salah sangka terhadap Gina. Gina bukan pengincar harta orang lain." Gani mematahkan semua bayangan Ferdinand tentang Gina.


"Apa maksudmu Gani?"


Gani meringis menimbang apa harus kasih tahu kalau Gina itu adalah komisaris bukan wanita pengincar dolar. Gani serahkan pada Kevin sebagai pemilik sah Gina. Kalau sang suami mau bongkar status Gina itu ada hak Kevin. Hanya Kevin yang bisa tentukan posisi Gina di mata temannya.


"Nand...Gina itu keponakan pak Julio sekaligus komisaris satu perusahaan besar! Untuk apa kemewahan darimu? Aku saja tidak sebanding dengan posisi Gina. Jangan berlebihan hina orang. Tak semua cewek itu matre. Kau lihat Gina! Kekayaannya melebihi kita tapi dia tetap sederhana."


Ketiga teman Kevin bagai diketok palu Godam setalah dengar penjelasan Kevin. Gadis muda yang mereka lecehkan ternyata punya posisi setinggi Mahameru. Ferdinand menekan air ludah terasa pahit. Kesombongannya langsung sirna begitu terkuak status Gina. Herannya mengapa Gina mau jadi asistennya Kevin bila punya perusahaan besar. Bisa jadi Kevin hanya gertak mereka untuk jauhi Gina. Kevin mau kuasai Gina untuk diri sendiri. Itu yang terlintas di benak Ferdinand.


"Yang serius Vin? Ngaku keponakan pak Julio bisa dituntut lho!" ujar Ferdinand melemah. Suaranya yang mirip katak birahi jadi mengecil.


"Telepon pak Julio tanya apa punya keponakan Gina dan Gani? Mereka berdua adalah saudara kembar. Gani juga asisten aku bukan? Mereka bukan orang gunakan kekuasaan orang tua untuk naik kepuncak. Mereka mulai dari bawah bekerja di perusahaan orang lain sebelum pimpin perusahaan sendiri. Gina sudah tamat maka dia telah bekerja di perusahaan sendiri untuk sementara Gani masih belajar sampai mapan untuk mengambil alih perusahaan lainnya." Kevin sengaja melambungkan status kedua saudara kembar itu agar para pria hidung belang tidak terusan mengganggu Gina.


"Kau beruntung Vin! Aku yang ketinggalan kereta tak tahu di tempat kamu ada dua anak titipan pak Julio. Pantesan proyek jatuh ke tangan kamu. Sudah ada backing kuat sih!" Ferdinand menghubungkan proyek dengan hubungan Gina dan Gani. Padahal waktu itu Kevin juga belum tahu kalau Gina itu keponakan Pak Julio.


Kevin malas membantah. Apapun yang dia katakan takkan masuk di otak Ferdinand lagi. Otak mereka terlanjur cetak kalau Kevin dapat proyek model KKN.


"Maaf ya pak! Proyek itu takkan kelar bila andalkan koneksi. Yang penting kita lihat adalah kinerja kerja seseorang. Bukan meraup keuntungan dengan menurunkan kualitas pekerjaan. Itu membahayakan pengguna jalan. Apa bapak tak pernah berpikir keselamatan para pengguna jalan?" sekak Gina mengingatkan kembali rencana jahat mereka mau menang proyek dengan jalan curang.


Suara Gina begitu dingin ingin membekukan orang yang ingin berniat jahat. Sikap Gina sudah mencerminkan seorang pemimpin. Tegas tidak bertele-tele mengungkapkan apa yang telah terjadi sekaligus membantah bahwa di dalam proyek ini terjadi nepotisme.


Ferdinand dan Imam saling berpandangan dengan malunya karena niat mereka telah terbaca oleh Gina. Pantesan mereka tidak menang karena Gina telah mengetahui rencana busuk mereka. Umur Gina boleh di bawah kedua pengusaha itu tapi cara pikir Gina melebihi mereka.


"Aku jadi bingung apa yang kalian debatkan dari tadi. Ceritakan apa yang telah terjadi sampai kalian berdebat panjang hanya untuk seorang Gina!" Adam yang dari tadi dia membuka mulut karena tidak mengetahui jalan cerita. Sewaktu berada di kota M Adam tidak berada di tempat sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi di saat itu.


"Sudah tak perlu kepo...hari ini mataku terbuka kalau masih ada barang langka yang tak bisa sembarangan kita sentuh. Aku minta maaf bila telah lancang anggap semua wanita itu matre." Ferdinand memilih mengalah karena melihat situasi tidak menguntungkan di pihaknya. Tak ada guna bersih tegang dengan keluarga kaya raya yang mempunyai jejak kuat di dunia bisnis. Suatu saat pasti mereka pasti akan berjumpa bila masih berbisnis.

__ADS_1


Gina malas menjawab karena akan menurunkan elektabilitas dia sebagai seorang komisaris. Gina harus mempunyai wibawa tebal untuk kalahkan sifat ego laki yang merasa diri sendiri superhero.


"Gitu dong pak Ferdinand...ingatlah kalau rambut kita sama hitam namun isi dalam otak jauh beda! Kami takkan gunakan kekuasaan keluarga untuk mencapai puncak. Kami akan merangkak perlahan untuk sampai puncak. Tak lama lagi kalian akan mengenal seorang gadis muda merambah dunia bisnis bersaing dengan para lelaki." Gani mempromosi Gina yang sebentar lagi akan menguasai beberapa perusahaan termasuk perusahaan Kevin.


Ferdinand dan Imam tersenyum pahit menerima kenyataan bahwa gadis yang mereka sangka hanyalah gadis pemanis para pengusaha ternyata memiliki duri tajam dan kuku yang runcing. Duri itu digunakan untuk melindungi diri sendiri dan kuku yang tajam untuk menancap di daging para saingan.


"Iya... semoga ke depan kita bisa bekerja sama. Aku berjanji akan mengunjungi nona Gina kalau ada kesempatan untuk melihat peluang bisnis kita." Imam ikutan menyimpan sifat hidung belang karena telah jumpa lawan tangguh sulit ditaklukkan.


"Aku juga..." timpal Adam walau tak ngerti masalah. Mending ikutan ketimbang ketinggalan berita lagi. Harus Adam akui kalau wanita muda yang dijadikan topik sangat menarik apalagi kalau beri sedikit senyum manis. Dia kontan akan diabetes.


"Sudah lah tak perlu diperpanjang salah paham ini. Kita berada di lingkaran yang sama. Selama kita masih berbisnis pasti akan jumpa lagi. Kita sarapan bersama?" Kevin tak mau masalah ini dibuat panjang. Yang penting para pencari cinta semalam itu ngerti tak semua wanita bisa dibeli dengan uang. Masih ada yang pertahankan nilai seorang wanita berharga.


"Tak usah...kami hanya singgah sebentar. Mungkin lebih baik kami pulang tidur lagi. Oya Vin...aura kamu tampak lebih cerah! Matahari kamu telah terbit sinari wajahmu. Kami pamitan ya! Selamat pagi.." Ferdinand pilih mengundurkan diri sebelum makin malu disekak oleh Gina. Tampak jelas wanita muda itu kurang bersahabat.


"Pagi.." Kevin tak ada niat tahan mereka. Mereka itu pemabuk tak pantas berada di antara mereka. Cukup Gina beri mereka pelajaran agar tidak meremehkan orang lain.


Ferdinand dan kedua temannya melangkah pergi dengan langkah terseok-seok. Pagi-pagi kena sarapan tekanan mental. Bagus juga buat jadi bekal buat mereka untuk belajar lebih baik lagi jadi orang.


Gani tertawa ngakak senang sekali lihat sikap cool Gina sukses pukul mental orang itu. Gani acung jempol puji sikap keren Gina. Gina hanya mendengus tak anggap itu prestasi. Kalau masih banyak ngoceh Gina ingin beri sedikit pelajaran buat Ferdinand yang lancang itu. Untunglah laki itu tahu diri cepat kabur.


"Jadilah diri sendiri! Jangan melawan yang tak mampu kamu lakukan!" kata Gina ntah pada siapa. Bisa untuk Kevin juga Gani.


Kedua cowok itu bungkam tak bisa nyahut perkataan Gina. Kalimat itu sederhana tapi menusuk jantung. Kevin berpikir ulang apa dia menikahi Gina sudah tepat? Tangan Gina terlalu keras untuk digandeng. Sayang Kevin tak punya jalan mundur lagi. Dia sudah terlanjur dirantai bersama Gina.


Kegembiraan mereka terkoyak sesaat. Namun itu tak lama karena Gina dan Gani mulai ceria lagi. Hari yang indah sayang kalau harus diwarnai rasa tak bahagia. Tak lama pelayan membawa pesanan Kevin untuk mengisi perut. Bau harum makanan tercium ke hidung terutama bau kopi yang bikin kepala plong.


Gani mengendus harum kopi. Asap tipis masih terlihat lantas buyar kena hembusan angin. Asap hilang namun baunya masih tersisa. Gani tak sabar segera lengketkan pinggiran cangkir di bibir menyeruput cairan hitam itu. Gina perhatikan tingkah Gani sambil tersenyum. Semua yang dilakukan Gani hanyalah luapan kegembiraan bisa liburan bersama saudaranya. Mereka jarang pergi bersama karena kesibukan.


"Ayok dimakan kudapannya! Aku paling suka dim sum ayam." Kevin mengambil sumpit lantas mengambil sepotong letakkan di depan Gina. Kevin mau tunjukkan pada Gina kalau dia memang perhatian pada sang istri.


"Terima kasih bang. Abang makan yang banyak kalau suka. Aku jarang makan makanan begini. Mungkin tak sesuai dengan lidah montir bengkel." Gina perhatikan dimsum di piring kecil. Makan sepotong kecil apa cukup suapi segerobak cacing dalam perut. Makan sebungkus nasi Padang barulah pas untuk isi perut sebelum aktifitas.

__ADS_1


"Yee..yang montir siapa? Sekarang kamu komisaris lho sayang! Buang dikit aura montir. Ganti dengan profil komisaris sejati. Ayok makan!" Gani ikutan menambah sepotong lagi ke piring kecil di depan Gina.


__ADS_2