
Kevin merasa beruntung jumpa orang baik angkat dia keluar dari padang tandus. Kalau dia sendirian berdiri di gurun tanpa perlindungan yang ada kematian sedang mengincar nyawanya. Tuhan maha adil turunkan malaikat dari bumi tuntun dia keluar dari panasnya kemelut hidup.
Kevin tak malu lagi santap makanan yang di bawa Pak Julio. Jay ada pesan makanan online namun sampai saat ini belum juga nongol. Mending isi perut dengan makanan yang sudah ada. Nasi uduk lengkap dengan ayam goreng dan sambal tempe. Menu sederhana namun terasa nikmat di mulut di saat lapar begini. Perut Kevin sudah beri signal lapar setelah sebagian bebannya pindah ke bahu pak Julio. Kevin yakin pak Julio takkan kecewakan dia.
Hari berlalu tenang tanpa ada riak berarti selain menunggu Gina sadar. Dari pihak Mince juga tak ada pergerakan mungkin sedang bahagia berhasil kuasai harta papa Kevin. Biar lah mereka bergembira dulu sebelum masuk hotel gratis. Kevin tak sabar mau lihat Peter merengek minta ampun padanya. Kevin cuma satu kalimat sederhana yakni tak ada maaf bagimu.
Menjelang sore Lucia datang bersama polisi ganteng yang sudah seperti pengawal pribadi gadis itu. Kevin senang juga lihat Lucia bisa move on dari dirinya. Semoga Lucia dan polisi itu bisa klik bentuk kata Saranghae.
Lucia kelihatan sumringah kendatipun mamanya mendekam di penjara. Tak tampak kegundahan terukir di wajah cantik itu. Dia begitu santai berdiri di samping pak polisi ganteng. Ardi masih dalam pakaian dinas berwarna coklat muda. Kevin pikir benih cinta mulai ditaburkan dalam diri masing-masing anak muda itu. Kecambah akan tumbuh perlahan membentuk bentuk buah indah untuk dinikmati oleh insan dimabuk asmara.
Lucia menyapa Kevin dengan riang seolah antara mereka tak pernah ada masalah besar. Lucia seakan telah lupa kalau dia pernah tergila pada Kevin. Sudah ada pengganti Kevin yang tak kalah ganteng. Di mata Lucia sosok Ardi merupakan pahlawan menolong dia dari kesulitan.
"Gimana adikku mas Kevin?" kalimat pertama keluar dari mulut Lucia adalah kesehatan Gina.
Kevin beri senyum tipis untuk hormati komandan yang berdiri di samping Lucia. Ardi menyimak tanpa komentar Karena kurang kenal dengan Kevin. Tak enak masuk ke dalam pusaran dalam keluarga Kevin dan Lucia. Dia ada hanya temani Lucia.
"Alhamdulillah mulai ada kemajuan...gimana pak Subrata?"
Wajah Lucia agak murung begitu Kevin menyebut nama papanya. Subrata belum tahu kejadian tragis yang menimpa Gina. Lucia tak tahu harus dari mana bercerita kepada Subrata tentang kejadian Angela menusuk Gina. Takut papanya syok lagi dan kumat sakit.
"Papa sudah boleh pulang besok. Ini mengenai Gina...papa belum tahu tentang hal ini. Aku tak tahu gimana reaksi papa bila tahu mama telah melangkah terlalu jauh." kata Lucia mengandung kepedihan. Kini barulah tampak kalau sebenarnya Lucia itu rapuh. Dia berusaha menahan semua ini dengan berlagak kuat.
Kevin memahami apa yang dimaksud oleh Lucia. Namun mereka tidak bisa menutupi kenyataan lebih lama dari Subrata. Cepat atau lambat Subrata pasti akan tahu. Hak sebesar ini bisa disimpan berapa lama dari beliau.
"Kurasa lebih baik pak polisi yang menjelaskan secara perlahan. Kita tidak bisa menutupi semua ini. Baik buruk tetap harus kita jalani."
Ardi terpanggil menolong Lucia sekali lagi. Memang paling cocok Ardi yang bercerita kronologis kejadian yang menimpa Gina. Dia paling berhak bicara sebagai penyidik kasus ini.
"Aku akan bicara dengan papa kamu Lucia...benar kata pak Kevin! Kita tak bisa menutupi kejadian besar ini. Mama kamu sedang terjerat hukuman cukup berat kecuali nona Gina bersedia berdamai. Hukuman tetap dilanjut cuma tidak ada ancaman hukuman mati."
Kini keputusan hukuman Angela tergantung pada Gina. Apa Gina bersedia mencabut tuntutan atau biarkan Angela tanggung semua kesalahan dia. Paling ringan hukuman 15 tahun penjara. Bisa seumur hidup bisa juga hukuman mati karena tergolong pembunuhan berencana.
"Aku akan memohon pada Gina untuk beri keringanan. Gina itu keras tapi baik hati. Aku telah baca semua sifatnya. Dari luar dia dingin namun dalam hati hangat. Aku tahu apa yang kulakukan itu tak pantas memohon untuk orang salah namun aku tetap harus coba. Gimanapun aku tak mungkin lihat mamaku dihukum mati begitu saja. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan." Kalimat yang keluar dari mulut Lucia memang menyayat hati. Itu sudah menjadi tugas Lucia membela mamanya kendatipun itu belum tentu sukses. Semua tergantung pada kemurahan hati Gina.
__ADS_1
"Lakukan apa yang menurut kamu baik tapi kuharap jangan sekarang karena kondisinya belum stabil!"
"Aku tahu...aku bukan orang gila tak bisa lihat keadaan. Aku harap Gina cepat sembuh. Dia itu adikku..."
Lucia tak bosan sebut Gina itu adiknya. Ntah itu keluar dari hati kecil atau hanya penghias mulut agar Gina bersedia memaafkan mamanya. Kevin dan Ardi tak bisa menentukan apa yang bakal jadi keputusan Gina. Sedangkan orang yang bersangkutan masih dalam perawatan. Mereka bisa apa.
"Oya...pak Ardi..apa aku boleh minta petunjuk mengenai satu kasus?" Kevin mendadak teringat pada kasus papanya. Kevin bukan mau meminta haknya sebagai pewaris papanya namun minta keadilan untuk papanya. Apa yang jadi milik papanya harus kembali pada orang yang berhak.
"Tentu saja...coba cerita mungkin aku bisa bantu!"
Kevin mengajak Ardi dan Lucia duduk agar lebih enak bicara. Ngobrol sambil berdiri membuat suasana agak kaku. Apalagi apa yang akan disampaikan oleh Kevin lumayan berbelit. Butuh sekian waktu untuk jelaskan semua pada Ardi.
Kevin duduk di samping Ardi sedangkan Lucia bersebelahan dengan Ardi. Ardi terjepit antara Kevin dan Lucia. Kevin sengaja jauhi Lucia karena belum yakin bisa dekat dengan wanita itu. Kumat di saat ini bukan waktu tepat. Kevin masih harus urus cukup banyak masalah jadi harus kuat.
"Begini pak Ardi...papa aku menikahi seorang wanita di bawah tangan dan sekarang wanita itu kuasai seluruh aset papa san usir papa aku keluar dari rumah. Kini papa aku terbaring di rumah sakit. Apa aku bisa ambil kembali semua surat yang mereka ambil?"
"Maksudmu papa kamu kawin lagi dengan wanita lain selain mama kamu?" tanya Ardi mau tahu keseluruhan kisah keluarga Kevin supaya lebih gampang menyelidiki kasus ini.
"Iya...mama aku meninggal karena terlalu sedih. Sejak itu papa aku tinggal bersama wanita bernama Mince. Papa aku jatuh bangkrut dan mereka merampas sisa harta papa aku."
Lucia yang ikut mendengar hanya bisa menarik nafas sedih. Lagi-lagi korban manusia model mamanya. Mengapa di dunia ini muncul wanita tak tahu malu hanya cari kesenangan atas derita orang lain. Harusnya manusia model itu dihukum mati saja agar tak ada korban anak terlantar lagi. Gina sudah pernah menceritakan masalah Kevin kepadanya walaupun hanya sekilas. Kini Lucia makin paham mengapa Kevin tidak bisa berdekatan dengan sembarangan wanita. Kevin memiliki trauma berat terhadap wanita yang murahan itu.
"Aku akan hubungi pak Ardi bila sudah dapat semua keterangan dari papa aku. Aku belum bisa desak dia karena beliau juga masih sakit. Terimakasih sudah tanggapi masalah aku."
"Itu sudah jadi tugas kami pak Kevin...kita akan bela setiap rakyat yang dalam kesusahan." kata Ardi yakin kalau dia aparat bisa diandalkan. Tak memihak pada yang salah selain tegakkan keadilan.
Kevin lega mendengar jawaban tegas Ardi. Semoga saja Ardi bisa membantunya menyelesaikan kemelut keluarganya. Andai papanya berhasil ambil kembali asetnya maka Kevin tak perlu bingung cari tempat tinggal buat papanya. Papanya harus balik ke rumah sendiri walau tanpa Mince cs. Kevin akan mencari orang untuk mengurus papanya bila nanti Mince dan Luna keluar dari rumah itu. Orang model Mince tak bisa dipertahankan untuk tinggal bersama lagi. Sekali berbuat jahat maka seumur hidup predikat itu akan melekat dalam dirinya.
"Aku akan beri semua data tentang kedua perampok itu. Papa aku tak menikah secara sah namun mereka hidup bersama sudah puluhan tahun. Apa ini bisa jadi landasan hukum dia menuntut hak?"
Ardi menggeleng, "Dalam hukum tak kenal nikah siri. Dalam hukum itu tetap ilegal jadi kamu tenang saja."
"Tapi dalam agama mereka sah."
__ADS_1
"Sah dalam mulut saja. Tak ada kekuatan hukum tak ada guna. kalian pasti menang bila masuk ke pengadilan. Perempuan itu harus menyerahkan kembali asetnya kepada papa kamu bila tidak mau masuk penjara."
"Gitu ya..." Kevin kembali mendapat pencerahan soal hukum dari Ardi. Tak urung Kevin merasa lega mendapat kepastian mengenai status Mince di dalam keluarga papanya. Perempuan itu bukan apa-apa dan takkan menjadi apa-apa bila hukum telah berbicara. Untung juga bapaknya tidak menikahi muncul secara sah menurut hukum negara.
"Kami tunggu kehadiran pak Kevin di kantor. Dan lagi begitu nona Gina bisa kami temui mohon kerjasama ya!"
Kevin mengangguk tidak ingin menghalangi petugas untuk mencari kebenaran. Mereka pasti akan bertanya-tanya kepada Gina mengenai kejadian yang menimpanya. Gina adalah saksi sesuatu yang bisa meringankan ataupun memberatkan Angela. Namun semua itu masih harus membutuhkan waktu karena Gina belum bisa ditemui dalam waktu dekat ini.
"Kami akan hubungi pak Ardi bila Gina sudah boleh dikunjungi. Dokter larang kita temui dia karena takut pendarahan dalam."
"Kami akan sabar menunggu. Semoga nona Gina cepat sembuh agar kita bisa proses kejadian ini."
Kata-kata Ardi seperti vonis mati buat Angela walaupun itu belum terjadi. Lucia merasa jantungnya berdegup kencang takut hukuman mamanya diperberat oleh Gina. Dasarnya Gina memang membenci mamanya ditambah lagi kejadian ini maka kebencian itu akan makin melebar. Mungkinkah hati Gina akan seperti hati malaikat yang bersedia memaafkan orang yang bersalah? Lucia tidak berani membayangkan apa yang bakal terjadi pada mamanya.
"Mas Kevin... kalau Gina sudah mulai stabil aku permisi mau jenguk papa. Apa kami boleh pergi?" Lucia bangkit untuk halau kegundahan hati. Hati Lucia sungguh tak nyaman bila Gina keluar bersaksi untuk mamanya. Gimanapun Lucia tidak rela mamanya mendapat hukuman berat. Lucia tetaplah seorang anak yang ingin berbakti kepada mamanya.
"Oya...kirim salam untuk pak Subrata. Maaf aku tidak bisa datang menjenguk beliau karena kendala oleh kesehatan Gina."
"Tak apa yang penting Gina cepat sehat."
"Terimakasih sudah datang. Aku tak antar kalian keluar ya!"
"Huuusss emang kami anak kecil pakai diantar. Tungguin adikku saja." Lucia goyang tangan di udara diantar.
"Aku lupa kalau kamu punya pengawal pribadi." olok Kevin disambut tawa Lucia dan Ardi. Ardi senang bisa bergabung dalam keluarga besar penuh konflik ini. Ini merupakan tantangan buat Ardi untuk menyelesaikan kemelut yang membelit keluarga ini. Ardi berkeyakinan akan menyelesaikan satu persatu dengan baik.
"Kami permisi ya! Aku tunggu laporan kamu." ucap Ardi sebelum melangkah pergi. Kevin acungkan jempol tanda siap bila waktunya sudah tiba.
Lucia dan Ardi berjalan berdampingan menjauhi Kevin yang makin lega. Kevin telah mendapat seorang dukungan lagi untuk menyelesaikan masalah keluarga papanya. Sebenarnya Kevin sudah tidak sabar ingin mendepak Mince dan Luna dari rumah papanya namun kesehatan papanya belum memungkinkan dia untuk segera bertindak. Kalau papanya sudah mulai fit Kevin akan segera bergerak untuk membekuk manusia-manusia culas itu.
Kevin paling geram terhadap Peter yang dia anggap sebagai saudara paling dekat. Tak disangka Peter tega menusuk Kevin dari belakang. Sungguh manusia tidak tahu balas budi. Kevin bersumpah akan membuat Peter menyesali apa yang dia perbuat selama ini. Kevin akan mengambil semua kebahagiaan Peter di atas penderitaannya.
Kevin yakin dia mampu membuat Peter menderita karena mendapat sokongan dari Pak Julio dan kini muncul Ardi akan membantunya. Kevin tidak akan bertindak brutal menghajar Peter namun menghajarnya melalui jalur hukum agar laki itu masuk penjara dan tidak mendapat apa-apa. Tekad Kevin sudah bulat untuk mengantar Peter dan kelompoknya masuk ke dalam penjara.
__ADS_1
Untuk sekedar menenangkan hatinya Kevin kembali mengintip istrinya yang masih terbaring di dalam ruang ICU. Dari balik pintu ke pintu berjanji pada Gina untuk memberi keadilan kepada Gina walaupun jalan menuju ke sana cukup terjal. Kevin akan berjuang menegakkan keadilan buat Gina agar istrinya itu tidak dianggap tak mempunyai sandaran. Kevin berjanji akan melindungi Gina mulai saat ini walaupun kekuatannya tidak sekuat Gina.