
Kehadiran konco-konco Gina membuat rumah itu seperti ada pesta kecil. Suara canda riang warnai rumah itu seperti tak pernah terjadi hal tak menyenangkan di rumah itu. Yang ada hanya kegembiraan meluap dalam seluruh rumah Kevin. Kevin yang biasanya hidup dalam kesunyian merasakan suasana lain bersama kehadiran anggota Gina. Yang paling cerewet tentu saj Gani dan Sam. Keduanya tak henti celoteh buat suasana makin semarak.
Kevin dan Gina hanya memperhatikan luapan kegembiraan teman-teman mereka. Malam ini tak ada batasan antara bos dan bawahan. Mereka berbaur menjadi satu keluarga yang bahagia.
Kevin dan Gina duduk berdempetan di kursi sambil tersenyum. Hati Gina terasa lapang setelah lalui banyak cobaan. Kini dia mulia bisa adaptasi dengan Subrata dan Lucia. Disini Gina tak ingin menyalakan siapapun lagi selain mengajak diri sendiri untuk legowo menerima bahwa yang salah tetap akan mendapatkan jalan. Sekarang Angela telah anteng di dalam penjara merenungi semua kesalahan yang pernah dia perbuat. Gina tak perlu mengotori tangan membalas dendam. Angela sendiri karang cerita heboh antar dia ke penjara.
Kevin menggosok tangan Gina dengan tangannya. Kulit Gina sudah lebih halus sejak tidak berkutat dengan oli. Telapak tangan juga bukan tangan kuli lagi.Sudah ada aura wanitanya. Mungkin sekarang Gina sudah siap diajak menyandang gelar baru yakni sebagai seorang ibu. Kevin harus kerja keras menanam bibit unggul agar tumbuh benih subur.
Gina perhatikan tangan Kevin yang tak mau pindah dari tangannya. Tanpa sadar Kevin sedang meluapkan rasa rindu pada istrinya ini. Selama Gina sakit Dia hanya bisa memandangi wanita ini tanpa berani menyentuhnya. Padahal Kevin ingin sekali mengulang keindahan yang pernah dia reguk bersama Gina. Baru sekali mereka melakukannya setelah itu terputus total semenjak Gina jadi korban pembunuhan Angela.
"Abang ngak malu dilihat puluhan pasang mata?" ujar Gina pelan namun cukup jelas di kuping yang lain.
"Anggap saja kami buta tak bisa melihat." timpal Gani dari jauh membuat adik kembarnya tersipu malu. Suaranya sudah diperkecil namun masih juga terdengar oleh si bebek yang kupingnya super bionik.
"Iya tuh! Kalau sudah malam biasanya bebek itu rabun senja. Kamu tidak perlu kuatir Gina. Bebek tak bisa melihat apa-apa bila sudah malam tapi kami bisa." gurau Kupret menghadirkan rona merah di pipi Gina.
"Matanya mau dilakban? Di gudang banyak kok lakban hitam khusus lakban mata dan mulut usil." Gina menyahut tanpa mau mengalah kepada konco-konconya. Gina tentu saja tahu kalau teman-temannya itu sedang menggoda.
"Sudah jadi nyonya kikis dikit aroma monsternya kenapa? Pak Kevin bakal kabur ketakutan kalau monsternya sedang mengamuk. Begini saja... lebih baik kalian berdua cari tempat yang tertutup untuk menyatukan dua hati agar kami yang jomblo tidak gregetan. Kasihani jiwa jomblo kami yang meronta iri pada pasangan yang sedang kasmaran." sambung Jay mengusir Gina dan Kevin dari lingkungan mereka. Jujur mereka sangat iri kepada pasangan yang bermesraan ini.
"Ok... untuk menghormati jomblower maka aku membawa istri aku masuk ke dalam kamar. Silakan kalian berpesta sesuka hati asal jangan mengganggu tetangga! Kalau sudah terlalu malam untuk pulang kalian boleh menginap di sini." Kevin bangkit sambil menarik tangan Gina yang masih bersatu dengan tangannya untuk meninggalkan tempat pada para jomblo yang iri kepada mereka.
"Kami baru saja susun rencana mau main ke tempat tetangga yang tak jauh dari sini. Di situ ada peri-peri cantik memanggil jiwa kami untuk datang bertamu." Gani membuka kartu kalau mereka ingin menyambangi tetangga ujung yang memiliki beberapa anak gadis.
Kevin yang sudah lama tinggal di situ tidak mengetahui kalau di ujung tetangga ada anak-anak gadis. Justru Jay dan Gani yang baru datang mengetahui kalau di sana tersimpan peri-peri cantik membetot sukma mereka. Kevin benar-benar kuno sudah ketinggalan zaman tidak mengetahui kalau di luar masih banyak gadis cantik selain Gina.
Tapi secantik apapun gadis di luar takkan mampu mengguncang hati Kevin yang telah sangkut di jantung Gina.
"Pergilah tapi jangan buat onar buat sejarah jelek nama keluarga ini! Bertamu yang sopan."
Gani melompat girang mendapat lampu hijau dari Kevin. Jalan-jalan sampai ke ujung rumah tetangga sambil cuci mata. Siapa tahu ada yang nyangkut di hati maka janur kuning akan segera berkembang. Kini mereka semua telah memiliki pekerjaan maka wajar memiliki harapan membangun rumah tangga. Tentu saja dengan gadis yang mampu mendendangkan lagu cinta di kalbu. Gadis yang membuat mereka tersenyum sendiri bila terkenang wajah si gadis.
"Ok...kita come on!" Gani menyentik jari mengajak konconya jalan ke ujung jalan di mana mereka pernah lihat ada cewek cantik di sana.
__ADS_1
"Woi...ada bau selingkuh nih! Ingat Andara bro!!!" Jay mencolek kepala Gani ingatkan cleaning service yang sedang dekat dengan Gani.
"Cerewet...bikin bad mood saja! Andara itu point' penting. Yang ini hanya untuk buang tai mata. Cabut ngak?"
Berbondong para jomblo sejati mengikuti Gani yang duluan keluar rumah dengan gagah. Gani tampak keren tanpa bawa gaya gemulai. Dia tak ubah anak cowok tulen siap sambangi gadis untuk pedekate.
Gina menggeleng merasa lucu kalau Gani mulai kenal wanita. Rasa kuatir Gina perlahan sirna melihat Gani punya ras terhadap wanita. Sejak dulu Gina takut Gani terjerumus cinta sesama lelaki. Gayanya yang lebay selalu bikin Bu Sarah dan Gina kuatir. Punya sedikit minat pada cewek sudah melegakan Gina.
Hiruk pikuk berganti keheningan. Ruangan kembali sepi ditinggal oleh anggota Gina dari kampung. Kevin melingkar tangan ke bahu Gina seraya tersenyum menggoda. Tanpa berkata apa-apa Kevin menyeret langkah berjalan ke arah kamar mereka tanpa melepaskan rangkulan di bahu Gina. Andai Gina mau melawan dengan gampang dia lepaskan rangkulan Kevin. Sehubung Gina juga kangen pada pelukan hangat Kevin maka dia jadi kelinci manis ikuti pemilik masuk kandang.
Dalam kandang sang pemilik pasti akan membelai kelinci yang sekarang imut manis dan patuh. Suatu saat kelinci manis ini akan keluar taring gigit majikan merupakan hal yang bisa saja terjadi. Belum tahu kapan saatnya.
Kevin mendudukkan Gina di sisi tempat tidur barulah membantu wanita itu berbaring penuh kelembutan. Jelas sekali ada niat terselubung dalam sikap manis Kevin. Ada udang di balik rempeyek.
Sejauh ini Gina masih tak melawan ikuti arus skenario buatan Kevin. Gina mau lihat apa yang akan dilakukan lakinya ajak dia cepat masuk kamar. Otak Gina sudah tercatat kalau laki ini sedang dilanda rasa kangen tanpa batas. Gina tak boleh cepat menahan hasrat suaminya bila menginginkan dia malam ini. Manalagi kondisi Gina sudah siap menerima limpahan kasih sayang dari Kevin. Namun Gina main cantik tak segera beri reaksi pada tingkah Kevin. Dia kan wanita tak boleh cepat terlena seolah dia sangat butuh laki.
Jual mahal dikit akan menambah nilai Gina di mata Kevin. Menyerah seperti orang membutuhkan belaian laki menurunkan harga Gina. Kevin ikuti duduk di ranjang sebelah bertingkah genit isyaratkan kalau dia butuh sesuatu dari Gina. Gina dan Kevin sama-sama kurang pengalaman dalam soal bercinta. Kevin tak pernah pacaran akibat penyakitnya sedangkan Gina kurang minat pada laki gara-gara melihat ibunya tersakiti karena cowok.
Takdir tak sengaja menyatukan mereka yang sama-sama tak pernah pacaran. Maunya cinta mereka lebih indah dari pasangan manapun.
Gina memamerkan otot tangan kiri kanan tanda kuat. "Aku sudah fit untuk kembali ke Medan perang."
Mata Kevin berbinar jawaban Gina sesuai harapan dia. Kalau sudah sehat pasti sanggup ladeni gairah Kevin yang sudah naik ke puncak kepala.
"Abang juga siap masuki arena perang." seru Kevin semangat. Tanpa buang waktu laki ini melepaskan kancing kemeja agar lebih leluasa lakukan pertempuran nanti.
"Hei..hei Abang mau apa? Tak tahu malu buka baju di depan cewek."
"Malu kenapa? Tadi kamu bilang siap kembali ke Medan perang. Diajak perang kok malu?"
"Perang apa? Maksudku perang di perusahaan. Dasar suami mesum. Pikiran kotor dijadikan patokan." Gina menarik selimut menutupi badan hingga leher. Ini salah satu trik cewek bikin suami makin gregetan.
"Kirain perang di sini. Tapi aku tak keberatan dibilang mesum. Harus mesum baru dapat jatah. Aku hampir kena stroke tiap hari pendam rasa kangen. Terimalah suami mesum kamu." Kevin menyibak selimut Gina lantas masuk ke dalam selimut untuk hangati tubuh Gina yang dingin kena hembusan angin AC.
__ADS_1
Gina terpekik kecil merasa geli lihat Kevin tak sabar hendak terkam dia. Tak ada alasan Gina tak beri jatah pada Kevin. Mungkin dengan cara ini hati mereka akan makin bersatu. Selanjutnya hanya mereka yang tahu gimana menghabiskan malam indah ini. Indah buat Kevin dan Gina. Ceria buat kelompok Gani yang incar cewek tetangga.
Di sudut kota jauh dari rumah Kevin berlangsung kisah lain. Ardi dan beberapa anggota kepolisian samperin rumah Mince setelah dapat laporan dari nona Jamilah kalau Mince dan Luna sudah balik. Ardi dan anggota langsung bergerak menuju ke lokasi untuk amankan Mince dan Luna. Pihak kepolisian sudah dapatkan bukti kalau Mince cs aniaya papa Kevin. Tampak jelas seorang lelaki tua diseret keluar dari dalam kondisi tidak berdaya. Semuanya terekam kamera CCTV yang dipasang di rumah Jamilah.
Mince dan Luna dibantu oleh seorang lelaki berbadan tegap menyeret apa Kevin keluar dari pagar rumah. Mereka dengan teganya tinggalkan laki yang tak berdaya di luar pagar bahkan wanita muda sempat menendang perut laki yang tak berdaya. Setelah puas menyiksa laki itu mereka bertiga masuk ke dalam. Selanjutnya ada orang baik hati bantu laki tua itu ntah di bawa ke mana. Itulah kerumahnya Kevin di mana ditemukan oleh bibik.
Semua bukti ini akan jerat mereka dengan berbagai hukuman berat. Perampasan hak juga penganiayaan. Hukuman penjara pasti akan dihadiahkan kepada mereka yang kini merasa di atas angin.
Ardi dkk datang dengan dua mobil biasa untu hindari perhatian penghuni kompleks perumahan. Yang penting ada bawa surat penangkapan dari kantor polisi. Untuk melakukan penangkapan wajib bawa surat perintah penangkapan yang resmi dari pihak berwajib. Tanpa surat mereka bisa dianggap lakukan penangkapan ilegal.
Ardi dan salah satu teman turun dari mobil mengetuk pintu. Pintu pagar sudah tertutup rapat tanda penghuni sudah istirahat. Bahkan lampu teras sudah tak menyala mungkin untuk hemat listrik. Ardi dan temannya menunggu reaksi dari dalam namun tak ada tanda orang mau sambut tamu malam hari.
Padahal menurut laporan Jamilah baru setengah jam lalu kedua orang itu pulang dengan mobil taksi online. Tak ada mobil pribadi mereka. Di halaman depan juga tak ada mobil. Bisa saja mobil sudah tersimpan dalam garasi
"Tak ada respon..." bisik Ardi menatap ke rah pintu yang masih belum terbuka.
"Kita lapor kepada ketua lingkungan biar kita bisa bebas gebrek langsung." usul temannya mulai tak sabaran. Menunggu di depan pagar jadi umpan nyamuk bukan perkara menyenangkan.
"Bergerak...jangan heboh! Aku akan coba panggil lagi." Ardi tetap bersuara kecil. Keras dikit pasti akan menarik perhatian tetangga karena suasana komplek mulai sepi.
Sekeliling memang tak ada orang keluar lagi. Semua pada masuk rumah istirahat menyimpan energi untuk dikuras esok pagi. Teman Ardi kembali ke dalam mobil untuk diskusi sama teman lain mencari ketua lingkungan. Kalau mereka mau lakukan sedikit pemaksaan butuh dukungan ketua setempat. Tak bisa main koboian menangkap warga tanpa sebab musabab.
Jujur mereka tak tahu di mana rumah ketua RT. Mengetok satu persatu rumah tanya siapa RT dua jam juga tak kelar. Teman Ardi teringat pada ibu muda montok seberangan rumah sama papa Kevin. Mungkin mereka bisa mengandalkan nona Jamilah sebagai penunjuk jalan.
Lagi-lagi mereka harus merepotkan Jamilah. Jamilah sudah tunjukkan sikap sebagai warga teladan bantu aparat berantas kejahatan. Teman Ardi tak ragu mengetok pintu pagar rumah nona Jamilah lagi. Rumah itu juga sepi walau lampu masih nyala.
Nona Jamilah memang warga teladan. Teman Ardi tak perlu buang energi banyak ketok pagar rumah Jamilah. Wanita montok itu muncul tetap dengan pakaian seksi bikin mata laki nyalang.
"Ach pak polisi...mau masuk?" Jamilah membuka pintu pagar tanpa curiga. Jamilah masih ingat polisi yang datang saat hati masih terang.
"Terimakasih nona...maaf kami ganggu lagi. Kami mau jumpa ketua RT lapor kehadiran kamu. Tapi kami tak tahu rumah RT."
"Oh itu...di sebelah kita doang! Biar kupanggil..." Jamilah maju ke depan lalu balik ke rumah sebelah dengan ringan. Jamilah dengan senang hati bantu pak polisi tuntaskan kerja mereka.
__ADS_1
Teman Ardi bersyukur jumpa nona Jamilah yang baik hati. Membantu tidak tanggung-tanggung. Teman Ardi berdiri di belakang nona Jamilah menanti Jamilah panggil RT.
"Pak Kosim...pak Kosim..." teriak Jamilah cukup mengusik ketenangan komplek.