
Gina masuk dengan gagah seolah datang memang untuk berperang. Subrata agak kaget melihat Kevin datang bersama Gina. Menurut mata hati Subrata Kevin itu serius suka pada Gina. Gimana nasib Lucia yang tergila-gila pada Kevin. Subrata tak tahu harus berbuat apa karena keduanya adalah anak kandungnya. Dia tak bisa berpihak pada salah satu di antara mereka. Kevin lah jadi penentu siapa yang akan dampingi dia meniti hari sampai tua.
Subrata tak diberi waktu lama untuk menyesali pilihan Kevin. Kevin sudah unjuk gigi tampil bersama Gina sudah barang tentu Gina adalah terminal terakhir Kevin.
"Sudah siap nak?" tanya Pak Julio begitu Gina dan Kevin duduk seberangan dengan Subrata dan kedua pengacara dari pak Julio.
Gina mengangguk tanpa bersuara. Ekor mata Gina melirik Subrata dengan tatapan tak suka. Ntah kenapa rasa iba yang tadi sempat merasuki jiwa Gina mendadak pupus begitu lihat tampang lelaki tua. Tak ada ragu lagi untuk akuisisi perusahaan Subrata.
"Ok...pak Subrata...anda sudah siap alihkan saham sebesar tunggakan anda?" tanya Pak Julio menghadap langsung ke arah Subrata.
"Aku tak punya pilihan lain. Cuma kuminta posisi CEO tetap kujabat untuk sementara waktu sampai semuanya berjalan normal. Setiap tahun kita hitung untung rugi perusahaan sesuai besar saham kita. Aku tak tuntut apapun selain tetap ingin berada dalam lingkungan perusahaan." kata Subrata tegas tak mau kalah dari gertakan pak Julio.
Pak Julio tak segera iyakan permintaan Subrata. Ini tergantung pada kebijakan Gina. Sekarang Gina adalah pemegang saham terbesar di perusahaan Mahabarata maka dia yang berhak menentukan siapa duduk di jabatan penting itu.
"Kurasa permintaan pak Subrata tidak terlalu berlebihan. Dan lagi Gina juga sangat sibuk urus beberapa perusahaan maka kusarankan biarlah pak Subrata tetap duduk di posisi sekarang biar semua teratasi." Kevin dahului Gina menjawab. Kevin kuatir kalau Gina akan turun tangan besi terhadap papanya. Kevin tak mungkin biarkan Subrata langsung jatuh tersungkur seketika.
Pak Julio tak berani ambil keputusan karena ini tergantung kebijakan Gina. Pak Julio sadar apa yang dikatakan oleh Kevin sangat beralasan. Gina memang sangat sibuk pimpin beberapa perusahaan sekaligus. Perusahaan opa susah cukup menyita waktu Gina ditambah sekarang jadi pemilik perusahaan Kevin. Kesibukan Gina berlipat ganda.
Gina menghela nafas tak bisa berkata apa-apa sebab Kevin telah wakili dia menjawab permintaan Subrata. Kalau dia melawan Kevin artinya Kevin tak hargai Kevin sebagai suami.
"Baiklah! Aku setuju..." Gina mengalah malas berdebat.
Subrata secercah harapan terparkir di mata Gina. Ternyata putrinya itu tidaklah sekejam yang dia bayangkan. Masih ada rasa toleransi di hati gadis ini.
"Terima kasih nak! Nanti kamu kirim auditor untuk audit semua pemasukan dan pengeluaran di perusahaannya papa. Kita langsung mengaudit agar kamu tahu perputaran roda perekonomian di perusahaan kita ini." ujar Subrata tak ingin menyembunyikan apapun dari Gina. Toh Gina sudah masuk ke dalam lingkaran Mahabarata jadi berhak tahu semua yang ada di Mahabarata.
"Baiklah. Kita langsung tanda tangan peralihan biar tak buang waktu." Gina beri kesan enggan berlama-lama bersama papa kandungnya. Gadis ini mau menghilang sejauh mungkin dari laki tua yang telah menoreh luka di hati.
Pengacara mengeluarkan beberapa file untuk dipelajari oleh Gina maupun Subrata. Sebenarnya semua konsep dibuat oleh pak Julio untuk menyelamatkan keuangan keponakannya. Gina tidak perlu ragu untuk menandatangani semua berkas yang pasti menguntungkan dia. Pak Julio tak mungkin merugikan keponakan yang sangat dia sayangi ini.
Subrata membuka semua file sebelum tanda tangan untuk memastikan peralihan ini tidak merugikan dia secara total. Kalau bukan karena terdesak tak mungkin Subrata mau menyerahkan semua sahamnya kepada Gina. Lelaki ini tak punya pilihan lain selain mengikuti permainan Gina.
__ADS_1
Yang lain menunggu dengan sabar membiarkan Subrata membaca semua kontrak peralihan agar Subrata jangan merasa tertipu.
Gina terdiam gelisah tak sabar ingin cepat akhiri semua drama ini. Sebentar lagi dia akan jadi bos atas papa durhakanya. Lelaki tua yang dahulunya angkuh kini bukan siapa-siapa lagi selain CEO dalam nama saja.
Kevin merasakan kalau istrinya itu sedang dilanda gelisah kelas tinggi sehingga lelaki ini meraih tangan Gina di bawah meja. Niat hati Kevin hanyalah ingin menenangkan Gina agar jangan tampak gelisah di depan Subrata. Nanti lelaki ini akan ambil keuntungan dari kegelisahan Gina mengajukan syarat tak masuk akal pula.
Gina melirik genggaman tangan Kevin agak tenang dikit. Hanya satu genggaman cukup ampuh meredakan kegalauan Gina. Tanpa sadar Gina tersenyum tipis senang diperlakukan mesra oleh Kevin. Gina ini ogahan tapi butuh.
Kevin dan Gina saling lempar tatapan mesra tak hiraukan Subrata sedang meneliti semua isi dokumen peralihan. Keduanya tidak saling bicara namun mata yang bicara. Setiap lirikan mata masing-masing mempunyai makna tersendiri. Hanya mereka berdua yang ngerti maksud hati.
Tiba-tiba Subrata meraih pulpen di atas meja langsung teken di atas kertas bermaterai. Semua mata menyaksikan moments bersejarah ini. Bahkan Pak Julio foto sewaktu Subrata tanda tangan untuk jadi arsip bukti kalau ini memang Subrata sendiri yang tanda tangan. Tak ada rekayasa dalam dokumen peralihan.
Hati Gina tercelos melihat kalau Subrata telah runtuh akibat keangkuhan sendiri. Mahabarata yang top kini telah beralih kepemilikan. Mata Gina berkaca-kaca terharu akhirnya perjuangan mengembalikan harga diri Bu Sarah telah sukses. Orang yang aniaya ibunya kini bukan siapa-siapa lagi. Kebesaran Subrata telah runtuh menyisakan rasa sesal di hati laki tua itu. Anak yang dia campakkan telah berdiri lebih tinggi darinya. Gina tak mau tahu bagaimana perasaan Subrata sekarang. Yang penting rasa egonya telah terbayar.
Subrata mendorong map berisi dokumen untuk di tanda tangani oleh Gina untuk menyatakan kedua belah pihak telah setuju semua persyaratan yang tertera di dalam dokumen. Wajah Subrata tampak sedikit kaku mengingat kerajaan telah yang dia bangun bertahun-tahun kini telah beralih ke tangan anaknya. Mungkin ini yang terbaik untuk membayar kesalahannya di masa lalu. Sedikitpun Subrata rata tidak merasa terbebani oleh peralihan ini.
Gina cepat-cepat tanda tangan untuk tuntaskan impiannya. Gin harus akui kalau semua ini berkata bantuan opa dari Jerman. Tanpa campur tangan opa mungkin Gina masih harus merangkak perlahan untuk jatuhkan Subrata.
"Well.. kini semua telah selesai! Semoga ke depan kalian bisa bekerja sama membangun perusahaan yang telah dirintis bertahun-tahun. Apapun cerita bisa dibicarakan dengan baik-baik tanpa perlu melakukan kekerasan." pak Julio sengaja berkata demikian untuk mengingatkan Gina kalau dendamnya cukup sampai di sini.
Gina bukan orang bodoh yang tidak mengetahui kalau pamannya itu sedang mengingatkan dirinya agar menerima yang sudah ada. Keinginan terbesar Gina telah terpenuhi maka tak ada alasan buatnya untuk melanjutkan perseteruan dengan Subrata.
Gina mengangguk menerima apa yang dikatakan oleh pamannya itu. Subrata hanya tersenyum kecil merasa lega telah mengembalikan uang perusahaan opanya Gina serta membayar sedikit kesalahannya di masa lalu.
"Gina...cepat atau lambat semuanya akan jadi milikmu. Hanya kamu yang mampu di antara tiga anak papa. Papa tidak menyesal sedikitpun telah menyerahkan perusahaan kepada kamu. Perlahan papa akan mengundurkan diri dari perusahaan dan memberimu hak penuh untuk mengelola perusahaan." ujar Subrata mengharap Gina akan mengakuinya sebagai orang tua. Harus Subrata akui kalau diantara ketiga anaknya Gina yang paling berbakat di dalam segala hal. Gani memang anak laki satu-satunya tetapi tidak mempunyai wibawa sebagai seorang pemimpin. Kalau Lucia tak usah dibilang lagi. Anak itu tidak memiliki bakat apapun selain menghambur-hambur uang.
Gina sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab perkataan Subrata. Gina juga tak akan menerima pemberian Subrata bila ingin memberinya warisan. Gina mendapatkan perusahaan karena kesalahan Subrata sendiri. Wajar kalau Gina angkuh tidak terlalu menganggap perkataan Subrata sebagai kalimat penting.
Pak Julio selaku orang tua segera menyalami Subrata untuk mengukuhkan kalau mereka telah bersahabat. Semua dendam masa lalu hendaknya ditinggalkan dan membuka lembaran baru. Kevin juga ikutan menyalami Subrata tanpa diikuti oleh Gina. Gina masih belum bisa langsung menerima Subrata seketika walaupun telah menjadi bagian dari Mahabarata. Gina diam saja tidak bergeming dari tempat duduk tanpa berniat menyalami Subrata.
Subrata juga tak memaksa Gina untuk akui dia saat ini juga. Waktu mereka masih panjang untuk saling komunikasi. Subrata yakin suatu saat Gina akan berbalik mengakuinya sebagai papa.
__ADS_1
"Maaf! Aku masih ada kerjaan jadi aku pamitan." Gina berniat pergi agar tak duduk terlalu lama dengan laki yang tak dia harapkan.
"Silahkan! Besok kamu boleh ke kantor untuk lihat langsung lingkungan kantor baru kamu. Papa menunggumu setiap saat." Subrata belum menyerah untuk merebut perhatian Gina walaupun anaknya tidak menganggapnya sama sekali.
Sebenarnya Kevin merasa iba melihat Subrata yang asik ingin mendekati sang anak tetapi sang anak malah menjauh. Tapi apa mau dikata ini adalah murni kesalahan Subrata di masa muda. Kevin memetik pelajaran sangat berharga daripada kejadian hari ini. Semoga kelak dia tidak mengalami hari sial yang seperti dialami oleh Subrata. Kevin akan wanti-wanti kepada diri sendiri untuk tidak tergoda kepada wanita yang kelak akan menghancurkan seluruh hidupnya.
"Iya...aku akan beri kabar bila ingin ke sana. Assalamualaikum.." Gina melangkah pergi tanpa menoleh kepada siapapun. Kevin merasa tak enak meninggalkan Subrata maka terpaksa duduk menemani lelaki itu. Paling tidak Kevin harus menjaga muka Subrata karena lelaki itu adalah papa dari orang yang dia cintai.
"Maafkan Gina om... Gina memang begitu sifatnya karena lingkungan dia tinggal memang agak keras. Tapi hatinya baik dan lembut. Dia cuma tampak keras di luar saja." Kevin mengoreksi sifat Gina yang sesungguhnya agar Subrata tidak kecil hati.
"Om tahu... Om sudah mendengar cerita tentang Gina yang terkenal galak di tempat tinggalnya. Tapi dia selalu membantu orang di dalam kesusahan. Secara tak langsung Om juga yang menempati yang menjadi keras karena kesilapan Om di masa lalu." Subrata tidak malu mengakui kesalahannya di depan Kevin dan Pak Julio agar mereka tahu kalau Subrata telah menyesal apa yang telah terjadi.
Baru saja Subrata selesai ngomong demikian ponselnya berbunyi membuat lelaki tua ini mengeluarkan benda pipih itu dari saku baju. Subrata melirik Kevin dan Pak Julio untuk minta izin mengaktifkan benda itu. Subrata memang sedang menunggu kabar dari istrinya yang pergi dari rumah tanpa memberi kabar. Walaupun Angela berbuat sesuka hati tetap saja menimbulkan rasa khawatir di hati suratan. Baik buruk Angela sudah menjadi tanggung jawab Subrata.
Wajah Subrata berubah begitu begitu melihat layar ponsel. Wajah lelaki tua itu mendadak pucat pasi setelah membuka layar LCD di ponselnya. Lelaki itu mematung tidak berkata apa-apa namun terlihat sangat tertekan.
Kevin dan Pak Julio saling berpandangan tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Pengacara dan notaris yang mendampingi mereka juga diam tidak berkata apa-apa setelah melihat Subrata mendadak berubah aneh.
Benda pipih di tangan Subrata mendadak jatuh disusul tubuh Subrata terkulai jatuh ke lantai. Keempat lelaki yang masih berada di ruang rapat kantor Gina segera bertindak menghampiri Pak Julio dan membantunya untuk berdiri. Pak Julia yang paling dekat dengan Subrata berusaha mengangkat lelaki itu namun lelaki itu sudah terlanjur tak sadar diri.
"Bawa ke rumah sakit. Kasih tahu Gina kalau papanya mendadak kolaps." seru pak Julio kepada Kevin.
Pak Julio dan pengacara membantu Subrata untuk duduk di bangku walaupun sudah tak sadar diri. Mereka harus segera bertindak cepat untuk mengantar Pak tua ini ke rumah sakit sebelum terjadi hal-hal tak diinginkan.
Kevin segera meneleponi Gina untuk mengabari kalau Subrata mendadak pingsan di ruang rapat. Setelah itu Kevin memungut benda pipih yang jatuh di lantai untuk melihat apa yang menyebabkan Subrata mendadak pingsan setelah melihat isi pesan di ponselnya. Untunglah benda itu masih aktif tidak rusak walaupun terhempas ke lantai.
Kevin sendiri merasa sok setelah melihat layar ponsel yang menampilkan gambar dan video Angela bersama seorang lelaki di tempat tidur. Keduanya tidak berpakaian saling berpelukan mesra di tempat tidur. wajah lelaki itu memang tampak tidak jelas namun cukup memvisualkan kalau itu memang seorang lelaki.
Kevin menduga kalau Subrata syok melihat istrinya berselingkuh dengan lelaki muda di tempat lain. Pantas saja Subrata pingsan setelah mengalami dua hal sangat mengerikan di dalam hidupnya dalam tempo singkat. Baru saja kehilangan perusahaan disusul istrinya main gila dengan lelaki di satu tempat. Siapapun bakal mengalami tekanan mental bila melihat kejadian ini.
Tidak butuh waktu lama Gina telah sampai di situ dan cukup kaget melihat papanya telah terkapar tak berdaya di atas kursi. Pak Julio dan pengacara memegang Subrata agar tidak terjatuh ke lantai.
__ADS_1