JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Malam Naas


__ADS_3

"Mama kamu kenapa? Aku tak melihatnya dari tadi?"


Lucia mengusap wajah perlahan takut merusak make up di wajah. Lucia bukan seperti Gina yang tidak memperdulikan penampilan. Lucia sangat menghargai penampilan sekujur tubuhnya. Dia harus selalu nampak perfect di mata semua orang.


"Mama telah merusak kepercayaan dari papa. Tapi sudahlah! Semua sudah berakhir. Papa akan ceraikan dia."


Mata Gina menyipit tak percaya segitu mudah Subrata talak Angela. Apa wanita itu terima talak yang datang secara mendadak.


"Segitu parah kah?"


"Aku tak bisa bantu mama karena ini murni kesalahan dia. Sudahlah! Tak perlu bahas itu lagi. Sekarang kau sudah kuasai semua aset keluarga jadi jagalah baik-baik. Aku juga tak berbakat di bidang itu maka aku tak mau rebutan denganmu."


"Itu kamu salah nona Lucia. Papa kamu ada hutang pada perusahaan maka wajib bayar. Dan lagi papa kamu ada hutang pada perusahaan Pak Julio. Kalau dihitung-hitung papa tak ada apa-apa lagi namun aku masih berusaha beri dia sedikit muka. Dia tetap duduk di bangku CEO walau kekuasaan ada di tanganku. Aku yang akan bayar hutang pada Pak Julio. Apa ini bukan toleransi?" Gina kontan membantah supaya Lucia tak pikir dia rebut kekuasaan Subrata tanpa alasan jelas.


Lucia mana ngerti semua ini maka pilihannya percaya. Lucia tahu kalau Gina bukanlah orang jahat yang hendak remukan orang dalam sekali tepuk.


"Aku harus terima kasih padamu?"


"Tidak perlu...semua berjalan di atas hitam putih. Yang penting kamu sudah tahu mengapa aku ambil alih perusahaan papa kamu."


"Dari tadi kamu asyik sebut papa kamu. Apa dia bukan papa kamu? Dia itu papa kita. Dia juga cukup menderita hidup bersama mama aku tapi dia berusaha meredam semuanya karena tak mau sakit wanita lagi. Ya hasilnya begini!" Lucia mengedik bahu tidak pusing dengan nasib Angela. Angela adalah noda hitam dalam sejarah hidup Lucia.


Gina tak tertarik jawab perkataan Lucia. Sampai detik ini Gina belum bisa terima secara tulus kehadiran Subrata sebagai orang tua. Biarlah tetap begini agar dia tetap terkenang pada kasih sayang Om Sabri.


"Well...masih ada pertanyaan? Nanti papa kamu pikir kita berantem sehingga kena serang jantung jilid dua. Kita kembali ke kamarnya. Kami juga mau pamitan."


Lucia tertawa kecil menganggap Gina sedang bercanda. Mana mungkin juga mereka berantem di tempat umum. Hilang akal sehat juga tak perlu berbuat ekstrim.


"Aku boleh menjenguk Kevin?"


"Untuk sementara tak usah...dia masih takut jumpa kamu. Bukan takut padamu tapi traumanya terhadap kamu belum luntur. Mungkin besok di akan ke kantor tapi kuingatkan jangan ganggu dia! Jangan sempat orang tahu dia punya penyakit gitu!"


Lucia tak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Gina. Lucia harus bisa menjaga jarak dengan Kevin untuk keselamatan dan laki itu.


"Baiklah...apa kau mencintai Kevin?"


Satu pertanyaan yang paling sulit di jawab Gina. Gina sendiri belum yakin suara hati terhadap Kevin. Yang ada dia merasa nyaman bersama laki itu. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Namun untuk menghentikan perasaan cinta Lucia pada Kevin Gina tak punya pilihan lain selain mengiyakan pertanyaan Lucia.


"Kami saling menyayangi. Terlepas Kevin hanya bisa dekat aku atau bukan. Kami saling membutuhkan."


Lucia mengangguk walau dalam hati tak rela Kevin jatuh ke tangan adiknya. Namun apa dia mampu mengembalikan rasa percaya diri Kevin? Hanya Gina punya kemampuan itu.


"Aku akan jauhi dia. Satu lagi Gin...kumohon jangan musuhi aku! Aku juga tak pingin kita terjebak dalam situasi begini. Tapi semua telah terjadi apa kita punya kuasa putar balik waktu agar kisah ini tak pernah terjadi?"


"Aku tak pernah anggap nona musuh. Nona yang selalu musuhi aku bukan?"


"Stop panggilan nona...sebut aku ini kakak. Kak Cia..."

__ADS_1


Gina tidak jawab hanya tersenyum saja. Hati kecil Gina belum sampai ke tahap itu. Biarlah jalan perlahan sampai Gina bisa berdamai tulus dengan masa lalu.


"Yok kita kembali ke kamar." ajak Gina dahului Lucia tanpa menanti jawaban wanita muda itu.


Lucia terpaksa ngekor dari belakang mencoba memahami kondisi Gina. Lucia tahu perjuangan Gina capai kedudukan hari ini bukanlah mudah. Tidak seperti dirinya yang mendapatkan segalanya hanya dengan satu kalimat. Paling tidak hari ini Lucia telah mendapatkan jawaban dari semua kegalauan. Hati Lucia agak damai setelah tahu penyakit Kevin. Tak ada guna mengharap yang tak bisa disentuh. Hanya seperti menyentuh bayangan. Tampak tapi tak bisa dirasa.


Lucia dan Gina masuk mengundang tatapan penuh kekuatiran dari ketiga laki dalam ruang rawat terutama Subrata. Sebagai papa dari kedua bersaudara laki ini tak harap mereka bertengkar untuk hal yang sudah terjadi. Tapi begitu melihat Lucia dan Gina masuk barengan tanpa kekurangan apapun membuat lelaki itu bernafas lega. Perang yang di takutkan tidak pernah terjadi. Malah wajah Lucia sudah tidak cemberut kayak tadi.


"Kami mau pamitan pak. Besok tunggu hasil pemeriksaan dokter baru boleh pulang. Kalau dokter bilang nginap beberapa hari lagi ya nginap. Semua biaya rumah sakit aku yang akan menangani." ujar Gina lebih mirip perintah daripada memberitahu Subrata agar menuruti perkataan dokter. Inilah kewibawaan Gina.


"Tapi papa bosan di sini." sahut Subrata.


"Kalau belum sembuh betul untuk apa pulang? Kalau tiba-tiba kumat lagi apa harus segera balik ke rumah sakit? Besok aku yang akan konsultasi dengan dokter apa sudah bisa pulang atau tidak. Tak usah bikin persoalan menjadi ribet." kata Gina tetap datar bikin orang yang dengar tak bisa membantah.


Ada secuil rasa bahagia di hati Subrata kalau Gina beri perhatian walau berlindung di balik diagnosa dokter. Gina melarang dia pulang tentu saja kuatir kesehatannya. Semoga saja makin hari hati Gina makin luluh mau terima dia.


"Iya nak...kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya?" Subrata hanya sekedar beri wejangan orang tua namun Gani kontan bersorak. Peringatan Subrata telah wakili isi hatinya takut Gina kumat gila balap di jalan raya lagi.


"Tuh dengar! Tak boleh ngebut..." mulut bebek Gani langsung kwek-kwek.


Gina mendelik menyurutkan nyali Gani untuk protes lebih panjang. Gani memang jelas takut pada Gina yang jauh lebih cerdas dan kuat.


"Kami pulang... assalamualaikum." Gina ucap salam sebelum pergi.


"Waalaikumsalam.." Subrata harus jawab salam anaknya supaya dapat tempat di hati Gina. Subrata sangat berharap Gina bersedia membuka hati untuknya. Kini Gina menjadi tukang punggung perusahaan. Gina akan menjadi tiang penyanggah perusahaan Mahabarata.


"Sebenarnya mereka anak baik pa... kita yang bersalah telah merusak kebahagiaan mereka. Andai saja mereka mau menerima kita dan melupakan masa lalu kita merupakan keluarga yang bahagia." ucap Lucia juga merasa kehilangan sesuatu yang baru saja hangati dada.


"Semoga saja hari itu tiba nak! Kamu sudah seharian di sini, kalau kamu mau pulang, pulang dulu dan istirahat!"


"Ya nggaklah! Tak mungkin toh papa sendirian di sini."


"Papa sudah tak apa lagi. Kan ada perawat di sini."


"Papa yakin?"


"Yakin..."


"Baiklah! Kalau ada apa-apa papa telepon ya! Cia pulang mdndi dulu. Cia usahakan balik sini."


"Tak usah...kalau jumpa mama kamu tak usah berdebat lagi. Biarkan dia berbuat sesuka dia. Semoga mamamu cepat sadar kalau dia telah tersesat sangat jauh."


Lucia menyesali perbuatan Angela. Tapi apa daya dia mengajak sang mama kembali ke jalan benar. Lucia tidak berhak menghujat Mama sendiri karena dia adalah seorang anak.


"Cia minta maaf atas perbuatan mama. Dia telah membuat kita semua menderita."


"Lupakan nak! Cepatlah pulang. Hati-hati berkendaraan ya!"

__ADS_1


"Iya pa...kalau ada apa-apa jangan lupa telepon Cia ya!"


Subrata mengiyakan tak bisa angguk karena kepala di bantal. Subrata sangat senang lihat Lucia juga mulai belajar tanggung jawab terhadap orang tua. Dia punya anak-anak luar biasa. Ini jadi kebanggaan sebagai orang tua.


Lucia meninggalkan rumah sakit di kegelapan malam. Langit dipenuhi jutaan bintang di dampingi bulan berbentuk sabit. Dari langit tak ada penerangan berarti. Paling hanya mengandalkan cahaya lampu mobil menerobos jalan raya. Kepala Lucia masih dipenuhi cerita Gina tentang Kevin. Mengapa dia tak pernah curiga mengapa Kevin jarang dekatan dengan cewek. Dengan tampang dan kekayaan dia bisa saja gaet cewek manapun. Cewek mana tak ingin berlabuh di dada bidang milik perjaka tampan itu. Justru Kevin bersih dari semua skandal dengan cewek. Harusnya Lucia curiga jangan-jangan Kevin itu laki timun makan makan timun. Siapa sangka kalau Kevin punya masa lalu suram.


Lucia lega juga telah tahu penyebab Kevin menolaknya. Lucia menghibur diri sendiri kalau Kevin tak punya penyakit mungkin saja akan pilih dia sebagai pendamping. Bukan Gina yang datang belakangan. Anggap saja Kevin tak punya pilihan lain selain harus terima Gina karena cuma dia satunya wanita bisa sentuh Kevin. Hanya itu bisa Lucia terapkan dalam hati sekedar pelipur lara.


Suara benturan menyentak Lucia dari lamunan. Suar itu jelas dan keras membuat seluruh badan Lucia membeku. Tak usah di pikir Lucia tahu dia telah menabrak sesuatu. Ntah itu orang ataupun beton jalanan. Mobil Lucia auto berhenti.


Lucia mengatur nafas sebelum keluar dari mobil untuk lihat apa yang telah terjadi. Beberapa kenderaan berhenti memberi peluang pada Lucia untuk bertanggungjawab apa yang telah dia lakukan. Dengan gemetaran Lucia membuka pintu mobil melihat apa yang telah jadi korban kelalaian dia.


"Woi nona...bisa ngak bawa mobil?" seru seseorang keras pada Lucia sebelum wanita sadar apa yang telah jadi korbannya.


Lucia melihat seorang cowok gunakan helm terjatuh di samping motor yang tertidur santai di aspal. Beberapa orang mulai kerumunan membantu laki itu bangun serta dirikan motor yang sedang santai di jalanan itu. Beramai mereka bawa si korban ke tepi jalan agar tak timbulkan kemacetan. Lucia ikutan ke pinggir jalan lihat kondisi laki itu.


"Nona...bawa ke rumah sakit! Lebih baik pergi sekarang sebelum datang petugas. Nanti cerita akan panjang." usul salah satu pengguna jalan yang simpatik pada Lucia. Lucia tidak menampakkan gelagat mau kabur maka tak ada yang anarkis.


"Oh iya...ayo bantu bapak ini naik ke mobilku! Aku akan bawa dia ke rumah sakit. Dan tolong bawa motor bapak ini ke tempat aman. Aku akan bertanggung jawab perbaiki motor bapak ini." kata Lucia berusaha tenang walau ketakutan. Takut korban tiba-tiba mati pula. Cerita akan jadi panjang.


"Tak usah nona...hanya luka lecet!" tiba-tiba laki itu bersuara dengan suara yang bikin jantung berdebar. Suara bas yang sangat jantan. Lucia langsung terpesona oleh suara laki itu walau belum liaht tampang masih tertutup helm.


"Tak bisa gitu pak...nanti aku dibilang tabrak lari. Dikejar rasa dosa pak!"


"Nona ini betul bro! Mumpung nona ini mau tanggung jawab lebih baik cek ke rumah sakit. Kali aja ada yang patah."


Laki itu berusaha bangun lihat mana yang terluka. Laki itu memeriksa seluruh tubuhnya hanya dapatkan luka lecet di bawah lutut dan siku tangan. Itu hanya luka goresan aspal. Tak ada yang perlu dikuatirkan.


"Semua aman kok! Cuma motor yang mungkin harus masuk bengkel. Nona tenang saja...aku bukan orang mau cari kesempatan dalam kesempitan. Nona cukup tinggalkan nomor kontak agar aku bisa hubungi nona untuk biaya perbaikan." ujar laki itu simpatik tak ingin persulit posisi Lucia.


Orang yang kerumun mulai meninggalkan lokasi karena tak ada yang perlu dikuatirkan. Rasa toleransi tinggi sesama pengguna jalan membuat kita terharu. Semua tak biarkan laki itu menanggung rasa sakit sendirian. Maunya seluruh warga punya empati seperti itu untuk tunjukkan warga +62 memang pantas dapat acung jempol.


Lucia angsurkan ponsel mahalnya kepada laki itu agar catat nomor kontaknya. Lucia sengaja berikan ponsel agar laki itu yakin Lucia bukan asalan ngasih nomor kontak. Laki itu tertawa melihat betapa jujurnya Lucia.


"Kau sebut saja nomornya. Aku percaya padamu."


"Aku sendiri juga kurang hafal nomor kontak aku. Silahkan saja."


Laki itu tak sungkan terima ponsel mahal Lucia. Sekilas mata wanita muda ini bukan dari kalangan biasa. Benda pipih di tangan sudah tunjukkan status wanita itu. Laki itu menekan beberapa nomor di layar miscal ke nomor ponselnya. Nomor kontak Lucia akan masuk ke ponselnya secara otomatis.


"Sudah...sekarang pulang nona! Ini sudah malam. Tak baik seorang cewek jalan sendirian di malam gini." laki itu sok menasehati.


"Aku baru pulang dari rumah sakit. Papa aku sakit." Lucia bela diri ogah dianggap kupu-kupu malam keliaran cari mangsa.


"Oh maaf...semoga cepat sembuh ya! Oya...namaku Ardi!" laki itu mengulurkan tangan untuk kenalan. Lucia menyambut baik tangan laki bersuara sexy itu.


"Lucia Mahabarata..."

__ADS_1


"Wah nama pewayangan...ok...nona Lucia. Jumpa lagi nanti. Hati-hati bawa mobil. Jangan melamun terus! Coba kalau kencang mungkin aku sudah nginap di kamar jenazah! Pulanglah!"


__ADS_2