
Gina sudah hafal mulut comberan Gani kalau sudah nyaplak. Ngomong seenak dengkul. Harta apa mau dikuasai? Uang pas-pasan, rumah juga masih nyicil.
"Hei bebek...kau tak tahu kantor sedang under cover. Aku harus ungsikan pak Kevin sebelum dia jadi almarhum."
"Ngomong kayak detektif kaki lima. Aku tak ngerti bahasa Morse. Ngomong yang jelas!"
"Dari mana bahasa Morse...kamu yang pe ak! Gitu aja tak ngerti. Punya uang beli vitamin biar fokus. Punya uang beli bedak melulu." semprot Gina biar Gani takut padanya. Kalau Gina sudah keras baru anak itu takut.
"Ngapain beli vitamin? Kelewat pintar kamu akan kulangkahi. Aku mau beli pembalut yang ada sayap. Konon katanya ada yang bau parfum. Kau mau titip?"
"Bau parfum mayat. Kau akan kubalsem jadi mumi perlu parfum mayat. Siap-siap saja. Dari mana mau dimulai balsem? Kepala atau kaki?"
"Dasar monster sadis. Bicara bahasa manusia..mau apa cari aku? Jangan bilang kamu hamil anak Kevin ya!"
Gina mengganti posisi ponsel karena kupingnya agak panas karena teleponan terusan. Gina jarang ngobrol di telepon kalau tidak penting sekali. Memang tak ada yang dia hubungi karena dia jarang interaksi dengan sembarangan orang. Orang yang dekat dengan Gina hanya orang tertentu saja.
"Kau bersihkan kamarmu ya! Malam ini pak Kevin akan tidur di kamarmu. Dia dalam bahaya."
"Ya ampun nona cantik. Siapa berani sentuh bos besar kayak dia. Jangan kelewat jauh berkhayal jadi pahlawan buat bos! Lupakan saja! Aku akan tidur cantik di ranjang kesayangan aku."
"Kalau kau tak mau ngalah artinya aku yang harus tidur di sini jaga pak Kevin. Mau jadi ***** grade A. Senangkan punya adik ***** kelas tinggi? Kualitas Numero Uno..."
"Aku akan minta bantuan papi kuliti kamu. Kulitmu akan kujadikan bantalan sandal jepit. Mau coba?" Gani berbalik ngancam.
Orang sekeras Gina mana mempan di ancam. Apalagi yang ngancam bebek tak punya senjata mematikan. Disembelih tak bisa melawan.
"Coba saja! Kucukur bulu bebek baru kupanggang lalu masak gulai bebek minyak. Sayang kau tak punya kesempatan cicipi masakan aku."
"Monster gila...kapan kau mau hormat pada abang kamu? Adik durhaka."
"Baru sadar punya adik durhaka ya? Terlambat bro...mau kan bersihkan kamar kamu untuk pak Kevin?"
"Ada apa sebenarnya? Bukan tipe kamu bawa cowok ke rumah. Aku kenal kamu dek!"
"Aku terluka semalam karena ada orang ingin habisin pak Kevin. Aku lawan maka terluka. Delapan jahitan."
"Astaghfirullah...yang benar?" Gina mendengar nada panik dalam diri Gani. Walaupun sedikit kurang waras Gani merupakan saudara yang baik.
"Apa aku pernah bercanda dengan nyawa orang? Aku tak mungkin terusan di rumah pak Kevin maka ingin bawa pak Kevin ke rumah biar dia aman di tempat kita."
"Aku tak mau tidur di bengkel...aku akan tidur di kamarmu saja dan kamu yang di bengkel. Siapa lagi mau tidur di tempat berbau oli. Sesak nafas nanti."
"Baik...aku tidur di bengkel ayah saja! Kau bersihkan kamar kamu ya!"
"Sebenarnya kamu ini lucu. Apa bedanya pak Kevin tidur di kamar aku maupun tidur di kamarmu. Hanya beda ruang nona! Kan sedinding. Dia tidur di kamarmu saja."
"Kamarmu rapi bebek...kamarku berantakan!" Gina ungkap alasan mengapa dia usulkan Kevin nginap di kamar Gani. Kamar Gani harum dan selalu bersih sedangkan kamarnya kadang berantakan tak sempat dibenahi.
"Masuk akal juga ya! Kamarmu kadang kayak kapal pecah. Memalukan punya saudara cewek tapi jorok. Kamarku tak usah dibersihkan, justru kamarmu yang harus dibersihkan."
"Ok...kamu bersihkan! Gitu saja!"
"Woi...enak aja main perintah! Ada fee tidak? Tergantung kebutuhan tarifnya."
"Wow...main hitungan ya? Ok...berapa?"
__ADS_1
"Tergantung...kalau gunakan vacuum cleaner harganya cuci piring seminggu. Kalau pakai cotton Bud gratis deh! Sebulan baru bersih."
"Setahun jauh tak bakalan bersih kalau pakai cotton Bud. Gila ya gila aja sendiri! Aku tak mau tahu ya! Jam delapan malam aku akan bawa pak Kevin ke rumah.!"
"Sudah tanya pada mami dan papi? Apa mereka setuju kau bawa laki ke rumah. Aku sih takut pada papi tak terima pak Kevin."
"Itu tak perlu kau kuatirkan! Itu urusan aku! Cepat pulang dan kabari aku kalau sudah beres kerja! Ingat! Waktumu singkat!"
"Iya nona besar! Aku kok seperti hidup di masa penjajahan. Kerja rodi."
"Kau pernah dengar Jugun Ianfu? Wanita penghibur pada masa penjajahan Jepang? Kau lebih cocok jadi Jugun ianfu dari pada dipaksa kerja rodi."
"Kau...apa kau lupa abangmu ini cowok! Punya pistol air yang perkasa!"
"Oya??? Apa bukan pistol dari slime? Kenyal tak berbentuk." olok Gina buat dada Gani mau meledak. Enak saja meledek kelakian Gani. Gani laki cuma kemayu.
"Makin berani sama Abang ya? Kualat kamu kurang ajar sama aku! Sudah ach...Capek omong sama monster tak punya hati." Gani mematikan ponsel secara sepihak. Gina sama sekali tidak ambil pusing dengan kemarahan Gani. Bukan sekali dua kali dia berantem dengan Gina. Selalu panas tapi akhirnya baikan sendiri. Gani lebih membutuhkan Gina dari pada Gina butuh Gani.
Gina tersenyum sendiri bayangkan laki itu ngomel tak henti. Mulut comberan itu itu pasti maju mundur mirip moncong ikan belum kena air laut. Ngomel terus sampai tua. Gina tak tahu bawahan mana akan ketiban amarah manager baru mereka. Gani pasti lampiaskan rasa kesal pada anak buah sebagai corong keluar hawa panas dalam dada.
Gina teringat pada kata Gani kalau Om Sabri dan Bu Sarah belum tentu izinkan Gina bawa pulang Kevin ke rumah. Gani harus beranikan diri minta izin demi keselamatan semua. Baik di Kevin juga buat Gina. Gina tak perlu nginap di rumah laki lagi.
Sambil mengatur nafas Gina hubungkan ponsel ke ponsel pintar om Sabri. Walaupun lebih tua om Sabri sudah gunakan smartphone. Ponsel ditangan Gina adalah ponsel bekas om Sabri. Biar jadul namun sangat berarti buat Gina. Bukan dari harga ponsel melainkan sejarah ponsel itu. Om Sabri pertama punya ponsel itulah dia. Kini diwariskan kepada Gina.
"Assalamualaikum ayah!"
"Waalaikumsalam nak! Kau di mana sekarang?"
"Masih di rumah pak Kevin. Persoalan makin rumit dah! Ayah sudah dapat kabar dari penyerangan itu?"
"Kenapa ayah tak kasih kabar?" tekan Gina kurang senang Om Sabri tak segera beri kabar. Nyawa Kevin dalam bahaya om Sabri masih santai.
"Ayah pikir tunggu kamu pulang baru bicara. Sekarang apa rencana mu?"
"Persoalan tak segampang kukira. Ternyata yang ingin nyawa Kevin bukan orang lain melainkan orang paling dekat. Aku rencana bawa dia pulang tinggal bersama kita. Kita lindungi dia bersama-sama. Aku akan ajak Jay Abang Teo untuk kawal Pak Kevin."
"Ya Allah... sedemikian banyak musuh nak Kevin. Kau bawa dia pulang mau tidur di mana? Kamar kita pas-pasan."
"Dia tidur di kamar aku saja dan aku nginap di bengkel ayah."
"Mana boleh gitu? Anak ayah anak gadis mana boleh tidur di bengkel. Gini saja! Kau tidur di kamar bersama ibu. Ayah tidur di bengkel sampai nak Kevin aman."
"Tanya ibu dulu yah! Nanti malam aku bawa pak Kevin ke rumah ya!"
"Baiklah! Kamu hati-hati karena yang kau hadapi kelompok para mafia kriminal. Ayah tak mau kamu terlibat terlalu jauh dalam dunia kriminal. Oya paman Julio kamu sudah berkali ajak kita makan malam dirumahnya. Kapan kamu mau ke sana? Ayah yang tak enak seolah menolak undangan dia."
"Ayah dan ibu pergi sana bawa bebek. Aku sangat sibuk yah! Gina sudah tahu rumah pak Julio jadi kapan-kapan akan singgah."
"Ya ampun anak ayah! Paman kamu asyik tanya kamu. Kelihatannya dia sangat sayang padamu. Jangan kecewakan orang lebih lama!"
"Baiklah! Terserah kapan kalian ke sana. Gin ikut saja!"
"Itu baru anak ayah! Ayah tunggu kamu di rumah ya!"
"Iya ayah. Assalamualaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..."
Hubungan telepon otomatis putus. Gina kembali termenung sendirian di ruang tamu yang sepi. Kapan rumah ini akan semarak oleh tawa canda satu keluarga normal. Kevin punya anak isteri yang akan terangi seisi rumah. Mereka akan jadi pelita dalam dunia Kevin yang gelap gulita.
Gina berharap hari itu segera tiba. Gina pingin juga lihat Kevin menemukan pasangan sehidup semati. Untuk saat ini Gina tak bisa berbuat apa-apa karena Kevin belum sembuh dari trauma masa lalu. Hanya dia yang bisa dekat dengan Kevin. Tak mungkin hanya karena ini Kevin menikahinya tanpa rasa apapun. Keluarga mereka pasti akan hambar tanpa ada rasa. Gina tak mau tenggelam dalam kehidupan membosankan itu. Harinya masih panjang sampai titik akhir.
"Ssttt...nona.." Gina angkat kepala lihat ada bayangan satpam di depan pintu rumah. Rumahnya tidak terkunci permanen tapi tetap harus ada izin dari dalam satpam baru berani melangkah masuk.
Gina berdiri hampiri satpam cari tahu apa yang akan dilaporkan oleh penjaga gerbang pintu besar. Dengan satu tangan saja Gina mendorong pintu agar terbuka lebar.
Satpam itu membungkuk sopan begitu badan Gina menyembul dari dalam. Sikapnya memang pantas diberi pujian karena tahu adat dan jaga kesopanan.
"Pak satpam... ada apa ya?" tanya Gina ramah.
"Bisa bicara di luar nona?" satpam agak misterius membuat Gina mengernyit alis. Gina penasaran apa yang akan disampaikan oleh lelaki berbadan subur itu.
Gina ikuti permintaan satpam keluar dari rumah menuju ke pos jaga. Gina tidak takut sedikitpun satpam akan berbuat jahat. Sebelum laki itu berbuat sesuatu Gina sudah siaga berjaga-jaga.
Panas terik matahari tak halangi Gina berdiri di pos tempat satpam biasa menghitung jam berlalu. Gina bukan anak mami minta dimanja dengan segala fasilitas. Gina justru lebih mirip cowok gagah ketimbang cewek lemah lembut.
Satpam itu mengeluarkan smartphone edisi pertengahan. Tidak mahal namun multi guna. Gina mau ketawa lihat satpam punya hp lumayan bagus sedang dirinya harus terpaku pada hp model jadul.
Satpam itu utak-atik smartphone lalu perdengarkan rekaman yang membuat bulu kuduk Gina merinding. Jelas sekali percakapan ingin melukai Kevin dan rebut semua kekayaan Kevin. Manusia dari planet mana berani punya pikiran sejahat itu. Pantas Kevin sangat benci kepada bapak kandungnya. Lelaki itu dan isterinya itu sama jahatnya. Tak peduli hidup mati Kevin. Yang penting mereka hidup senang.
"Bapak simpan rekaman ini baik-baik ya! Suatu saat rekaman ini akan berguna buat pak Kevin. Mulai saat ini jangan biarkan siapapun masuk rumah ini. Jika perlu gunakan kekerasan usir mereka. Bukan kita kejam melainkan mereka minta dihajar."
"Siap non! Aku akan jaga sini sebaik mungkin."
"Bapak sudah lama kerja sini?"
"Delapan tahun non! Dulu ada teman ganti shift tapi sekarang tidak ada karena pak Kevin tak percaya pada orang lain."
"Bapak punya anak isteri?"
"Anak punya tapi isteri tidak."
"Meninggal?" tebak Gina asalan.
Satpam menunduk malu ditanya soal isterinya. Gina heran pada satpam. Bukannya jawab malah menunduk. Sedih ingat isteri atau ada hal lain bikin laki ini tak mau ungkit soal isteri.
Gina tak mau memaksa bila satpam tak ingin cerita. Gina bukan cewek kepo suka ikut campur urusan orang. Kalau mau cerita itu hak Satpam begitu juga bila enggan. Gina menepuk bahu satpam tanda damai. Tak ada unsur pemaksaan bila bersahabat dengan Gina.
"Aku masuk dulu ya pak! Bapak hati-hati jaga pintu gerbang. Cek dulu siapa yang datang baru boleh buka!"
"Isteriku kabur dengan tetangga." Satpam bukannya jawab permintaan Gina melainkan buka kartu tentang keluarganya. Lagi-lagi korban keluarga selingkuh. Mengapa dunia ini banyak sekali cerita perselingkuhan? Apa sudah tak ada cinta tulus mengikat sepasang anak manusia hingga ajal menjemput. Cinta sekarang murahan barang loakan di kaki lima.
"Bapak beruntung tahu kalau isteri bapak itu bukan manusia. Topeng setannya terbuka sendiri kan? Percayalah suatu saat bapak akan temukan wanita jauh lebih baik! Segalanya lebih baik." Gina memberi spirit pada satpam untuk berjuang keluar dari cinta palsu sang isteri.
"Terima kasih nona... anda orang baik!"
"Aku Gina pak! Tak usah pakai kata nona! Posisi kita sama yakni bawahan pak Kevin."
"Aku Mitro. Umurku tiga puluh lima tahun." Satpam menyambut baik keramahan Gina.
"Masih muda toh! Aku akan minta pada pak Kevin cari teman untuk ganti shift biar pak Mitro punya waktu cari pacar. Asyik di sini kapan jumpa wanita lain? Sini gersang hanya ada bibik dan aku." gurau Gina memancing tawa satpam.
__ADS_1
Gina tampak seram ternyata bisa juga bercanda. Mitro tak tahu kalau Gina juga bisa konyol bila bercanda dengan Gani.