JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Perasaan Gani


__ADS_3

Baru kali ini Lucia merasa berguna untuk orang lain kendatipun Gina belum tentu berterima kasih padanya. Sifat Gina yang sekeras baja sulit dilumerkan dengan kehangatan setinggi apapun. Semoga setelah lalui ketegangan ini semua akan berakhir baik walau ada yang harus dikorbankan. Siapa menanam dia yang menuai. Sudah tak dapat disangkal kalau Angela harus dikorbankan demi ketenangan semua orang.


Ardi dan Lucia segera mencari tempat Gina jalani operasi. Rumah sakit tempat Gina dirawat beda dengan rumah sakit tempat Subrata sedang jalani perawatan. Bagus juga biar Subrata tak tahu kalau anak yang paling dia kagumi sedang melawan maut. Ini takkan ganggu kesehatan pak tua itu. Kalau Subrata ikutan drop siapa yang akan kendalikan perusahaan.


Lucia meneleponi Gani tanya posisi adiknya itu. Putar-putar mencari hanya buang waktu saja sementara Gina sangat butuh pertolongan. Gina boleh angkuh tak mau akui Lucia namun saat ini Gina butuh darah Lucia untuk menyambung hidup. Maka itu hidup tak perlu merasa paling hebat. Suatu saat pasti akan butuh ukuran tangan orang lain.


Gani memberi petunjuk pada Lucia ke tempat pengambilan darah. Gani menanti Lucia di tempat dia baru sumbang darah. Kini giliran Lucia tunjukkan tanggung jawab sebagai seorang kakak sejati. Kebesaran hati Lucia dibutuhkan sehubung Gina sombong tak mau akui Lucia. Lucia boleh sakit hati pada Gina bahkan tak mau kasih darah juga wajar mengingat keangkuhan Gina.


Naluri seorang kakak tetap melekat dalam diri Lucia. Wanita muda ini dengan tulus memberikan darahnya sekaligus bayar kesalahan mamanya pada Gina.


Dari jauh Gani melihat Gina langsung melambai pada wanita itu untuk mendekat. Sambil lari kecil Lucia hampiri Gani tak peduli Ardi ikut dari belakang. Lucia harus gercep agar tak ketinggalan waktu.


Mata Gani menyala melihat Lucia datang bawa aparat. Gani mengira Lucia bawa backing untuk intimidasi mereka. Wajah yang tadinya penuh harapan kini berubah kuyu tak berani berharap banyak. Itulah manusia. Baru melihat langsung berpikiran buruk.


"Gan...ini kak Cia datang! Ayok cepat ambil darah kakak." Lucia menyodorkan lengan siap diambil darah. Gani menatap Lucia belum yakin wanita ini datang dengan niat baik.


"Serius?" mata Gani melirik Ardi agak segan. Ardi datang lengkap dengan atribut aparat kepolisian mengganggu pandangan mata Gani.


"Yaela nih bocah! Masih mau monster kamu ngak?"


"Mau dong! Ayok sini!" Gani menarik Lucia setengah menyeret. Gani terlalu semangat hampir lupa kalau Lucia didampingi polisi. Gani dan Lucia hilang di balik ruang UTD.


Tinggallah Ardi dan Jay di luar menunggu hasil donor darah Lucia. Ardi menanti dengan sabar karena memang punya kewajiban terhadap kasus ini juga ingin kenal lebih dekat gadis bernama Lucia. Kehidupan Lucia cukup menarik perhatian Ardi. Cuma Ardi belum ngerti gimana berantakan keluarga ini. Seorang ibu tega membunuh anak tiri dengan motif belum jelas. Menurut keterangan Angela dia sakit hati pada Gina yang telah merebut semua kebahagiaan mereka.


"Maaf... anda mengenal korban?" tiba-tiba Ardi bertanya pada Jay yang masih termangu belum percaya orang setegar Gina terkapar oleh satu tusukan.


"Eh iya pak! Kenal sekali pak!"


"Ayok kita duduk di sana!" Ardi mengajak Jay ke bangku kosong dekat ruang UTD.


Ardi duluan melangkah diikuti oleh Jay. Ini kesempatan buat Jay untuk bela Gina. Jay sakit hati bosnya hendak dibawa habisin hanya karena dendam pribadi. Itupun dendam tak jelas. Yang harusnya dendam adalah Gina. Mereka yang telah merebut kebahagiaan Gina sekeluarga sampai hidup dalam kekurangan. Jay tak akan biarkan Angela beri alasan menangkan diri wanita jahat itu.


Ardi menepuk bahu Jay ajak laki itu bicara jujur tentang apa yang dia ketahui mengenai kasus ini. Kasus ini bukan kasus kecil karena taruhannya adalah hukuman mati buat Angela. Di balik itu Ardi juga ingin bantu Lucia peringan hukuman mamanya. Namun Ardi tetap harus junjung tinggi supremasi hukum.


"Katakan yang kamu ketahui tentang korban."

__ADS_1


Jay menatap jauh ke depan berusaha membayangkan sosok Gina yang keras namun baik hati itu. Mereka memang agak segan pada Gina yang didukung om Sabri. Om Sabri punya latar belakang dunia mafia yang paling disegani lawan. Om Sabri hanya bermain di belakang layar tak tunjukkan kebolehan kontrol para mafia.


"Gina memang orangnya keras tapi dia tak pernah ganggu orang. Yang aku tahu Gina dan keluarganya hancur karena papa mereka diambil oleh tersangka. Gina sekeluarga tak pernah ganggu tersangka sampai suami tersangka punya hutang pada perusahaan opa Gina. Gina sita aset keluarga tersangka. Mungkin itu penyebab tersangka berusaha membunuh Gina."


Ardi manggut-manggut mulai paham sedikit motif Angela habisin Gina. Bermula dari masalah harta juga.


"Apa tersangka pernah terangan mengancam korban?"


"Tak pernah cuma kadang menyindir itu sudah sering namun tidak ditanggapi oleh Gina. Gina bukan orang suka iseng. Dia itu hidup dalam kesederhanaan. Gina tak malu bekerja apa saja asal itu halal. Bahkan dia pernah jadi montir bengkel untuk menyambung hidup."


Ardi mulai mengira bagaimana sosok Gina itu? Seorang gadis muda tak malu berkumpul dengan segala bau karatan dan oli. Sungguh gadis luar biasa. Ardi tak sabar ingin jumpa dengan gadis yang hebat itu. Semoga saja Ardi di kesempatan untuk kenalan dengan Gina. Gina di berakhir umur panjang untuk bisa kenalan dengan polisi bersuara seksi itu.


"Apa Gina sering cari masalah dengan keluarga tersangka?"


Jay menggeleng tahu Gina bukan orang usil suka campuri urusan orang lain. Dia hanya tekuni semua kerja dia tak mau tahu apa yang dilakukan orang lain.


"Tak pernah pak..aku kenal Gina. Pekerjaan dia sendiri saja tak pernah selesai mana ada waktu buat masalah dengan orang. Aku tak percaya kalau ada yang bilang Gina itu arogan dan kejam. Justru Gina sangat lembut hati walau dari Laura tampak keras."


Ardi manggut-manggut maklum. Berdasarkan cerita Jay Angela yang suka bikin masalah dengan Gina terakhir sampai nekat menusuk gadis itu dengan pisau dapur. Namun semua masih perlu pemeriksaan lebih lanjut. Ardi akan mengumpulkan semua keterangan berkenaan dengan Gina dan Angela. Ardi butuh waktu untuk menyelidiki kasus ini supaya keadilan ditegakkan.


"Kebenaran pasti akan terungkap."


"Itu pasti sahabat...kami berdiri di tengah-tengah tanpa berpihak. Kau tak perlu kuatir."


Jay cukup lega dengar janji Ardi. Semoga saja Ardi tidak termakan sogokan melepaskan Angela yang jelas bersalah. Sudah bukan rahasia lagi kadang hukum bisa dibeli. Yang punya kuasa bisa terbebas walau jelas telah lakukan kesalahan. Jay hanya bisa berharap kalau Ardi bukan salah satu polisi yang matanya berubah bila lihat materi.


Ardi tak bertanya lagi anggap keterangan Jay sudah cukup untuk hari ini. Sedikit banyak Ardi sudah ada gambaran motor Angela berbuat nekat. Untuk selanjutnya masih perlu minta keterangan orang yang berada di lokasi saat kejadian terjadi.


Keduanya berdiam diri menunggu Gani dan Lucia keluar dari ruang UTD. Ardi tak mau banyak celoteh untuk jaga wibawa biar tak dianggap sejajar dengan emak-emak tukang gosip. Ardi sudah dapat keterangan sekedar dari Jay sudah bisa jadi acuan untuk menyelidiki lebih lanjut.


Cukup lama keduanya menunggu akhirnya Gani memapah Lucia keluar dari ruang UTD. Wajah Lucia agak pucat setelah kehilangan sebagian darah untuk disumbangkan kepada Gina. Lucia sama sekali tidak permintaan Dani untuk ikut berpartisipasi menyelamatkan Gina. Ini untuk menunjukkan kalau dia adalah kakak yang baik buat kedua saudara kembar itu sekalian untuk membayar kesalahan yang telah dibuat oleh mamanya. Lucia tidak kuat bertanggungjawab atas perbuatan Angela.


Kali ini Gani mau tak mau harus memapah Lucia yang agak terhuyung karena mendadak kehilangan sebagian darah. Sebenarnya kondisi Lucia tidak bisa menyumbang darah karena sedang berada di bawah tekanan mental dan kurang istirahat. Lucia mengalami tekanan mental cukup membuatnya down. Pertama Subrata kena serangan jantung lantas Angela buat ulah membunuh Gina disusul Gina Dalma kondisi sekarat. Tak ada niat di hati Lucia untuk membuat Gina celaka. Itu sangat jauh dari angan Lucia.


Ardi bangkit menyambut Lucia membantu wanita itu duduk di bangku untuk menenangkan diri. Kondisi Lucia cukup menyedihkan namun Lucia tidak berkata apapun mengingat semua berawal dari keluarganya. Dia harus ikut membayar semua kesalahan yang telah diperbuat oleh Angela. Siapa suruh dia harus terlahir dari rahim orang yang sangat licik.

__ADS_1


Jay tersentuh juga melihat kondisi Gina yang cukup memprihatinkan. Untuk sesaat rasa benci kepada Lucia terkikis berganti rasa iba.


"Tunggu sini biar aku cari teh hangat!" selesai berkata demikian Jay meninggalkan ketiga orang itu mencari minuman untuk memulihkan kondisi Lucia.


"Kamu ok Lucia?" tanya Gani ikut prihatin. Untuk sementara dia harus kesampingkan rasa kesal pada keluarga Mahabarata. Lucia telah berbuat sebaik mungkin untuk selamatkan Gina. Bahkan wanita itu tak peduli keadaan dia juga sedang tak baik.


"Gani...apa sangat susah panggil sekata kak? Sejelek apapun aku ini kakak kalian. Darah kita sama." ujar Lucia lirih datangkan rasa haru.


"Apakah panggilan itu sangat berarti bagimu?" Gani balik bertanya serius. Gani menatapi Lucia lekat-lekat ingin cari apa tersimpan di lubuk hati wanita ini. Tulus mau punya saudara atau hanya ingin cari muka biar nanti mereka tak menuntut Angela berat.


"Sangat berarti...aku ingin mengingatkan diri sendiri kalau aku ini punya tanggung jawab sebagai kakak. Aku tidak meminta apapun dari kalian selain satu pengakuan. Aku tidak peduli dengan segala harta yang diperebutkan oleh mama aku. Aku hanya ingin hidup tenang menjadi kakak buat kalian."


Kalimat yang menyentuh keluar dari mulut Lucia. Gani menjadi bimbang mendengar perkataan manusia yang tampak sangat tulus. Gani dilanda kebingungan untuk menjawab segala permintaan Lucia. Terdengar sangat mudah tetapi sulit dilakukan. Hanya satu kak di mulut namun berat di lubuk hati.


Ardi diam saja beri ruang buat kedua saudara itu untuk saling mengakui. Ardi kasihan juga kepada Lucia yang terjepit di antara mamanya dan saudara. Keduanya merupakan orang yang sangat dekat dengan Lucia. Lucia harus berdiri di sebelah mana barulah bisa menjadi seorang kakak ataupun anak yang baik.


"Baiklah kak Cia! Semoga ke depan kita tak terlibat konflik lagi. Kau tahu Gina adalah panutan kami! Dia telah banyak berkorban untuk sampai hari ini. dia tidak pernah menikmati masa remaja dia selain mencari rezeki untuk menghidupi aku dan mami."


Seulas senyum tipis bertengger di bibir Lucia yang tampak agak pucat. Lucia terlihat sangat puas mendapat pengakuan dari Gani, kini hanya menunggu keajaiban dari Allah selamatkan Gina dari incaran maut. Semoga Allah menjawab doa dari orang yang benar-benar tulus kepadanya.


"Terima kasih Gani...ayok kita lihat Gina!" Lucia hendak bangkit namun gerakannya agak labil. Tubuhnya bergoyang hendak jatuh kalau tak segera ditangkap oleh Gani. Gani tak biarkan Ardi menyentuh Lucia. Ardi hanya orang asing yang belum pantas intim dengan Lucia. Gani tetap harus lindungi Lucia sebagai saudara.


"Kita tunggu Jay dulu. Bukankah dia sedang cari minuman untukmu? Nanti dia kecewa bila tak jumpa kita di sini." Gani mendudukkan Lucia lagi. Lucia tak punya daya melawan perintah Gani untuk kembali duduk.


Ardi mengangguk setuju dengan perkataan Gani. Mereka pergi begitu saja betapa kecewanya Jay.


"Kita tunggu Jay...kau juga kurang fit! Setelah ini kamu pulang istirahat di rumah. Aku akan antar kamu pulang." Ardi ikut mendukung Gani minta Lucia istirahat sebentar.


"Tapi Gina sedang operasi."


"Iya...kita juga tak bisa apa-apa kecuali menunggu. Tunggu di sini sama saja. Ya kan Gani?" Ardi melirik Gani. Gani manggut seiya dengan usul Ardi.


Lucia tak menyahut lagi. Wanita ini menutup mata untuk netralkan rasa pusing di kepala. Pikiran Lucia melayang tak bisa bayangkan kalau terjadi sesuatu pada Gina. Sisi lain mamanya sedang terancam hukuman berat. Tidak hukuman mati mungkin penjara seumur hidup. Lucia tak bisa bayangkan betapa menderitanya Angela bila harus habiskan sisa hidup di penjara. Itupun kalau lolos dari hukuman mati.


Gani merasakan derita Lucia sehingga merangkul pundak Lucia tanpa ikut serta rasa dendam. Lucia bukan wanita jahat seperti mamanya. Cuma sayang Lucia terbawa dalam kancah dendam masa lalu. Gani harus adil memilah masalah beri Lucia sedikit ketenangan.

__ADS_1


Lucia merasakan pelukan bahu dari Gani serta merta menyandarkan diri pada pundak Gani. Mungkin dengan demikian dia akan merasa lebih damai. Andai saja dari dulu mereka bisa begini mungkin tak ada tragedi pembunuhan ini. Namun apa Angela bisa terima kehadiran anak-anak dari mantan istri suaminya? Angela akan orangnya egois mau menang sendiri. Selalu merasa diri adalah manusia paling benar.


Ardi terharu melihat betapa rapuhnya Lucia. Kasihan wanita ini terjebak salam situasi tak menguntungkan. Lucia tentu tak tahu harus berpihak pada siapa. Kalau saja Ardi punya kesempatan melindungi wanita ini maka dia akan menyayangi wanita ini sepenuh hati. Tak ada Ardi ijinkan siapapun lukai hati wanita ini lagi.


__ADS_2