JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gina Sakit


__ADS_3

Menjamin keselamatan Kevin menjadi prioritas utama Gina. Kini Gina lebih mirip bodyguard daripada asisten Kevin. Gina bungkus semua dalam satu paketan. Borong semua.


Kevin sendiri tugas sebagai seorang gentleman. Asisten luka disuruh tetap kerja layani dia seperti biasanya. Gina ingin minta istirahat namun tak tega karena ingat kejiwaan Kevin. Bila Kevin sudah berada di bawah lindungan om Sabri nya maka Gina akan tenang. Om Sabri kan terkenal sebagai dedengkot preman. Semua pemuda kampung takut padanya.


Gina sukses bawa Kevin ke rumahnya yang mungil namun penuh kehangatan. Di rumah sudah lengkap armada keluarga om Sabri. Om Sabri, Bu Sarah serta Gani sudah siap siaga sambut tamu kehormatan. Mereka orang kecil tentu saja bangga ada tamu kaya bersedia tinggal di gubuk jelek milik mereka. Terutama Gani yang merasa mendapat kehormatan dikunjungi oleh CEO perusahaan tempat dia bekerja. Gina belum bercerita mengapa Kevin diungsikan ke sana. Gina sengaja tak bercerita karena mulut bebek susah dijaga.


Gina serahkan Kevin pada keluarganya lalu dia masuk ke kamar Gani untuk istirahat. Tubuhnya sudah tak sanggup menahan rasa lelah juga demam yang dideritanya. Gina tak mengeluh sekata pun walau badan terasa remuk dan kepala nyut-nyutan akibat luka di tangan. Gina tidak istirahat dengan baik memicu terjadinya demam makin tinggi.


Kevin melongo ditinggal oleh Gina begitu saja. Kevin seperti anak ayam ditinggal oleh induknya. Laki ini bingung tidak tahu harus bagaimana berada di rumah Gina walaupun ada Gani di situ. Kevin kurang akrab dengan Gani maka timbul rasa segan walaupun sudah diterima dengan baik.


Gani melihat raut wajah bingung Kevin ditinggal oleh Gina. Kevin canggung bersama orang yang serba asing. Dia memang kenal Gani namun sebatas bos dan bawahan. Beda dengan Gina yang tahu segala kebutuhan dia.


"Pak Kevin...ayok kuantar ke kamar! Gina mungkin sedang capek. Sebentar lagi dia akan datang kok!" Gani mempersilahkan Kevin masuk ke kamar Gina yang sudah dia bersihkan. Om Sabri dan Bu Sarah tidak komentar karena mereka memang kurang kenal dengan bos anak-anak mereka. Biarlah Kevin menjadi urusan kedua anak mereka.


Kevin mengangguk segan kepada Om Sabri yang tampak sangar sebagai lelaki sejati. Pantas Gina punya aura petarung profesional. Ternyata di rumah ada biang dari kekerasan.


"Permisi..." Kevin berjalan lewati kedua orang tua Gina dengan kesopanan patut diacung jempol. Jarang Kevin tunduk pada orang lain tapi kini dia tak berkutik dibawa ke tempat asing.


Gani duluan buka pintu kamar Ashura yang sudah dia sulap jadi kamar rapi jali. Tak ada pakaian kotor maupun buku-buku berserakan di atas meja dan tempat tidur. Debu juga dipaksa minggat dari kamar Gina. Gani tak lupa beri sedikit pengharum ruangan agar tak bau oli. Pakaian Gina kadang berbau oli bekas berhubung dia kerja di bengkel.


"Bapak tidur di sini! Ini kamar Gina!" lapor Gani sambil meletakkan koper Kevin di sudut kamar. Kevin mengernyit alis dengar dia disuruh tidur di kamar anak gadis. Lalu Gina mau diungsikan ke mana? Apa anak itu mau tidur di lantai atau ruang tamu yang juga kecil.


"Lalu Gina gimana?"


"Dia mau tidur di bengkel...bapak tak usah kuatir soal Gina. Dia itu fleksibel. Tetap tidur walau kita taruh di rel kereta api."


"Huuusss...itu saudara kamu! Anak gadis mana boleh tidur di luar rumah. Lebih baik kamu yang tidur sana!"


Gani meringis disuruh tidur di bengkel tempat paling menjijikkan sedunia. Tempat itu bawa trauma buruk bagi Gani karena di sana dia dan kedua kawan akrabnya ketemu hantu hasil rekayasa bocah nakal sewaktu mereka kena hukuman dari Gina.


"Pak..bengkel papi kami itu tempat kuntilanak beranak. Daerah paling menyeramkan di bumi ini. Aku takkan mau injak tempat itu lagi." Gani merenggut perlihatkan sikap anti pada bengkel. Lebih baik beri sikap menolak ketimbang menderita di bengkel nanti. Kalau Kevin bersikeras dia yang harus ke sana mau tak mau Gani harus patuh daripada posisi manager melayang.


Kevin belum tahu apa yang pernah terjadi pada Gani maka sedikit kesal pada penolakan Gani. Kevin anggap Gani itu egois hanya pentingkan diri sendiri tanpa memikirkan kondisi adik sendiri.

__ADS_1


"Tapi dia itu anak cewek."


"Aduh pak! Dia itu casing cewek tapi isi dalam Rambo. Cowok saja kalah dari dia. Dia itu jelmaan Gatotkaca abad ini. Otot kawat tulang besi." Gani ntah puji Gina atau sedang menyindir adiknya itu. Jujur Gani takut pada Gina. Sekali digertak Gina nyali Gani pasti menciut sampai titik terendah. Bahkan jadi minus.


Kevin tak bisa berkata lagi sebab apa yang dikatakan Gani mengandung fakta nyata. Jiwa Gina memang seperti seorang pejantan tangguh.


"Kalau gitu biar aku pulang saja. Biar Gina tidak terganggu oleh kehadiran aku!"


"Wuih jangan pak! Gina bawa bapak ke sini pasti ada sebab musabab. Dia itu orangnya perhitungan. Dia tak pernah peduli pada laki selama ini, bapak satu-satunya lelaki yang dia perhatikan. Bapak tak usah kuatir. Aku akan atur yang terbaik untuk kita semua." ujar Gani sok keren mampu selesaikan masalah tempat tidur. Padahal laki muda ini tak tahu harus bagaimana bagi tempat tidur bila Kevin larang Gina bermalam di bengkel.


Kevin tak ingin Gina tidur di bengkel bukan tanpa alasan. Dia itu anak gadis mana pantas tidur di tempat tak bersahabat untuk seorang wanita. Gani yang cowok saja menolak ke sana, bagaimana mungkin yang cewek harus ke sana.


"Baiklah! Aku percaya padamu."


"Ok..aku pergi lihat monster dulu ya! Bapak istirahat saja!"


Kevin manggut tanpa menjawab. Gani mengundurkan diri tanpa suara lagi. Dia harus segera cari Gina untuk diskusi masalah pelik ini. Terdengar sederhana hanya soal tempat tidur namun prakteknya sangat sulit kalau tak ada yang mau mengalah.


Sepeninggalan Gani, mata Kevin bergerilya sekeliling kamar Gina yang tak luas. Cuma kamar tiga kali tiga meter tanpa banyak perabotan apalagi hiasan layak kamar cewek lain. Yang paling berharga mungkin perangkat komputer di atas meja. Benda itu duduk angkuh di atas meja kerja Gina. Dari perangkat di atas meja meyakinkan Kevin kalau Gina itu seorang tukang gambar. Semua itu wakili apa pekerjaan Gina yang utama. Sayang Kevin tak bisa buka perangkat komputer Gina untuk cari tahu karya apa sudah dihasilkan oleh dara cantik itu. Komputernya pasti di kunci dengan kata sandi. Sia-sia bila Kevin ingin coba terobos sistim keamanan komputer Gina.


Sementara itu Gani segera jumpai Gina untuk diskusi pembagian tempat tidur sesuai harapan Kevin. Tetap harus ada yang ngalah barulah ada jalan keluar. Gani terobos masuk kamar tanpa permisi. Buat apa permisi orang itu kamarnya diserobot oleh Gina. Gani mau protes sebelum Gina berbuat sesuka hati tendang dia ke bengkel.


Dalam kamar Gani melihat Gina sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Gani itu tertidur seperti orang mati tanpa ada gerakan sedikitpun. Gani jadi tak tega mengusik tidur Gina yang lelap. Apa yang sudah terjadi sampai Gina begitu lelah. Gani melihat juga perban di tangan Gina. Jadi apa yang diceritakan oleh cewek ini adalah kejadian sesungguhnya. Gina tak bohong soal penyerangan terhadap Kevin.


Gani menyentuh lengan Gina perlahan iba juga pada adiknya yang mengambil alih tanggung jawab melindungi Kevin. Kalau kejadian ini terjadi di tangannya mungkin dia dan Kevin sudah almarhum. Masih untung ada Gina.


Kening Gani berkerut tatkala tangannya menyentuh kulit Gina panas membara. Gani menyentuh kening Gina untuk memastikan kalau Gina itu sedang demam tinggi. Gani menarik tangan karena suhu tubuh Gina memang sangat panas. Laki muda ini tersentak tak tunggu segera panggil ibunya untuk melihat kondisi Gina.


Gani berlari mencari Bu Sarah saking takut lihat adiknya tergeletak seperti orang mati. Fisik Gina biasanya seperti badak. Sulit ditumbangkan. Kok hari ini mendadak jatuh sakit. Apa mungkin pengaruh luka di tangan tidak tertangani dengan baik.


"Mami...monster demam!" seru Gani bergema di seluruh ruangan rumah. Rumah mereka tak besar sehingga seruan ini sampai juga di telinga Kevin yang sedang melamun dalam kamar Gina. Laki ini tergerak keluar untuk lihat apa yang sedang terjadi di luar kamar.


Bu Sarah dan Om Sabri yang lagi di dapur untuk siapkan makan malam segera berhamburan menuju ke kamar Gani. Jantung om Sabri nyaris mau copot lihat anak kesayangan tak berdaya di atas ranjang. Om Sabri belum pernah saksikan Gina jatuh sakit sampai sedemikian rupa. Biasa paling pilek ringan, minum obat warung juga sehat.

__ADS_1


Bu Sarah menyentuh kening Gina ikutan kaget karena tubuh anak itu luar biasa panas. Mereka harus segera bertindak sebelum terjadi hal lebih fatal.


"Gan..kau panggil dokter Indy sebentar! Ibu ambil kompres dulu untuk beri bantuan pertama." Om Sabri beri instruksi menangani demam Gina. Dia harus tenang baru bisa selesaikan masalah. Kalau semua panik bukannya tambah membaik malah kacau balau.


Gani dan Bu Sarah segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Om Sabri. Perintah om Sabri memang jalan paling jitu. Panggil dokter serta kompres agar Gina tidak kena radang otak.


Kevin hanya bisa terpana tak tahu harus bagaimana. Ternyata tak semua pengalaman hidup didapat mengandalkan uang. Langsung berbaur dengan masyarakat adalah guru paling baik. Selama ini Kevin hanya bisa beri perintah tak pernah turun tangan sendiri. Segala keperluan hidup diurus oleh orang lain. Dia hanya tahu cara bernegosiasi dalam bisnis dan mengumpulkan pundi emas sebanyak-banyaknya. Lebih dari itu dia tak tahu apa-apa soal kehidupan nyata sehari-hari.


Kevin hanya bisa mematung lihat cara keluarga Gani tangani putri rumah ini sedang demam. Kalau Kevin mau putar otak dikit akan tahu semua ini karena dia. Gina menderita karena dia. Gina sudah kerahkan segenap kemampuan melindungi Kevin tanpa peduli kesehatan sendiri. Terluka masih saja bersikeras menjaga laki itu. Kalau Kevin tak tahu balas budi masih anggap uang bisa segalanya itu sudah kebangetan.


Dokter Indy datang karena tinggal tak jauh dari rumah Gani. Dokter umum ini sudah sangat kenal dengan keluarga Gina maka tak keberatan datang memeriksa Gina walau jam praktek telah usai. Bertetangga memang harus begitu. Tak bisa hanya terpaku pada ikatan kerja.


Dokter Indy memeriksa Gina lantas membuka perban di tangan Gina untuk lihat apa yang terjadi pada lengan gadis itu. Keluarga Gina tak ketinggalan lihat seberapa dalam luka Gina. Luka itu agak memerah mungkin terlalu banyak aktifitas gunakan tenaga tangan. Dokter Indy membersihkan luka di tangan Gina barulah beri salep untuk redakan kemerahan di tangan itu.


Gani meringis bayangan betapa perih luka di tangan Gina. Gina tak mengatakan apapun sewaktu masuk rumah. Tak mengeluh selain nyelonong masuk kamar. Gani jadi ngeri bayangkan betapa kuat mental adiknya itu. Kalau dia berada di posisi Gina pasti akan meraung-raung minta perhatian satu kampung. Kalau cuma minta perhatian orang serumah terlalu kecil hasilnya, rugi berteriak jual rasa iba. Yang kasihan cuma orang-orang itu juga.


"Biarkan dia istirahat! Dia akan cepat sehat. Penyakit saja takut padanya!" gurau dokter Indy sambil melirik si ganteng Kevin. Laki penuh pesona selalu sukses menarik perhatian para cewek kendatipun hanya sekilas untuk cuci mata.


"Kurasa bawa balik ke rumah sakit saja! Aku kuatir nanti tengah malam naik panas." Kevin keluarkan isi hati yang terpendam dari tadi. Mau langsung omong takut dibilang sok campur urusan keluarga orang. Kevin serba salah berada di sini. Kalau terjadi di rumah dia sudah dia gotong ke rumah sakit. Itu lebih jaminan.


Gani suka dengan kalimat Kevin. Artinya Kevin punya hati tidak peras Gina doang. Perhatian sekecil apapun sangat berarti buat mereka yang sederhana. Gani anggap Kevin bos bisa diandalkan. Tidak sia-sia Gina berkorban untuknya.


"Tak usah pak! Gin cuma kelelahan. Ditambah adanya luka membuatnya demam. Aku buatkan resep kalian tebus saja!" sahut dokter Indy lembut mengurai hati sampai meleleh.


"Apa Bu dokter yakin Gina aman? Dia tak pernah begitu." Kevin masih perlihatkan sikap kuatir pada nasib anak buah paling keren itu.


"Gina juga manusia pak! Ada saat titik lemahnya muncul. Bapak tak usah kuatir. Besok dia akan sehat seperti semula cuma jangan banyak gerak karena tangannya terluka cukup serius. Kurangi beban kerja yang harus gunakan tangan. Itu saja!"


Kevin agak lega setelah mendapat penjelasan dokter. Kevin tak mau terjadi sesuatu pada Gina karena dia masih butuhkan anak itu. Memang terdengar egois memperhatikan Gina karena untuk urusan pribadinya. Tapi Kevin apa punya pilihan lain?


"Nak Kevin tak usah kuatir! Indy sudah bilang Gina tak ada bahaya kita percaya saja! Biarkan dia istirahat!" kata Om Sabri perkuat argumen dokter Indy.


"Iya pak!"

__ADS_1


"Ok aku permisi! Ayok Gan! Ikut ke rumahku ambil resep dan langsung tebus ya!" ajak dokter Indy .


__ADS_2