
"Siapa kurang kerjaan?" tanya Gina senyam-senyum buat Kevin makin keki.
"Siapa kalau bukan kakak kamu? Aku izinkan dia bekerja di sini untuk lihat apa dia memang bisa design. Tak kusangka dia itu orang gila." rutuk Kevin kehabisan kata mau marahi Lucia.
Gina manggut-manggut tak habis pikir mengapa Kevin izinkan Lucia satu ruangan dengan dia. Seharusnya Kevin tahu kalau beri ruang pada Lucia sama saja beri harapan.
"Itu urusan kalian...aku pergi ke kantor opa dulu!" Gina malas bertanya lebih lanjut. Ada rasa kesal bersemayam dalam hati Gina. Gina sendiri tak tahu itu tanda cemburu atau iri pada Lucia. Di kerja di luar ruangan Kevin sedangkan Lucia dapat fasilitas istimewa.
Jay melongo Gina tiba-tiba mau pergi padahal mereka baru mulai akan mengerjakan tugas. Raut wajah Gina membeku mulai hilang sifat manusiawi.
Kevin tersadar telah melangkah tanpa jelaskan duduk perkara pada Gina. Wajar kalau Gina tak senang ada orang lain lebih istimewa dari dirinya.
"Kau keluar dulu Jay..ada yang ingin kukatakan kepada Gina.!" Kevin perintah Jay keluar lalu meraih tangan Gina sebelum gadis itu pergi dari pantauan mata.
Jay tahu diri segera keluar. Baru sehari menikah Kevin sudah buat sensasi pancing emosi monster. Ntah gimana nasib Kevin kena hajaran Gina.
Kevin menutup pintu secara permanen. Tak ada orang bisa masuk bila tak dibuka dari dalam. Kevin tak mau pembicaraan mereka di dengar orang lain terutama Lucia yang bisa datang kapan saja. Kevin berjaga-jaga agar misinya bongkar kedok Lucia berjalan sukses.
"Gin...bukan seperti yang kau pikir. Lucia tak mau akui kalau dia itu plagiat maka aku sengaja tempatkan dia di sini agar aku bisa paksa dia menggambar. Dia tak bisa ngeles bila dalam pantauan aku." Kevin menerangkan dengan sabar karena memang salah dia mengajak Lucia bekerja dalam ruangan dia tanpa seizin Gina.
"Pak...ini rawan bencana! Apa bapak tak pernah pikir betapa licik Lucia? Dia bisa jebak bapak sampai jatuh ke tangan dia. Aku cuma ingatkan kalau Lucia itu orang berbahaya."
"Kau pikir aku tak tahu? Aku akan dekor ulang ruangan ini dan pasang CCTV biar semua gerakan Lucia terpantau. Kamu yang monitor semua gerakan dia. Jangan ngambek dong sayang!" Kevin meraih bahu Gina membujuk agar gadis ini tidak ambil hati dia dengan rencana dia.
Gina menatap tangan Kevin yang berada di bahunya. Kevin punya hak menyentuhnya dalam batas wajar. Gina tak boleh larang Kevin menyentuh dirinya selama tak ada hal mesum.
"Terserah bapak saja!" Gina melengos tak biarkan tangan Kevin lama di bahunya. Sikap Gina menunjukkan Gina tak suka intim dengan Kevin.
"Ssstt...kok bapak lagi? Bang Kevin..." Kevin meralat panggilan Gina yang tak maju-maju walau mereka sudah sah suami isteri.
"Bang Kevin...bang Toyib kali..." Gina membesarkan mata melototi Kevin. Gina bisa terima alasan Kevin namun Gina tetap kuatir trik jahat Lucia. Anak ibu sama saja licik selalu gunakan jalan serong capai tujuan.
"Duh istri aku ngambek! Aku tak sabar ingin usir Lucia dari kantor sebelum dia buat masalah lebih parah. Tapi aku harus punya alasan untuk mengeluarkan dia dari perusahaan ini. Maka itu kita harus mencari kelemahan Lucia agar dia keluar secara sukarela. Kamu harus dukung aku ya! Sekarang kau tangani dulu masalah Gani dan aku akan minta orang dekor ulang ruangan kerja aku. Aku akan kerja di ruang Peter dulu. Ok?"
Lagi-lagi Gina tak punya alasan marah pada Kevin. Laki itu sudah jujur katakan apa adanya. Kalau Kevin mau Lucia tak perlu gunakan trik murahan. Lucia akan dengan senang hati meyerahkan cintanya kepada Kevin.
"Iya... setelah ini aku harus ke kantor opa. Hari ini aku ada janji dengan Subrata."
"Iya...janji tak main kasar ya! Kalau kau kasar maka langkah pertama kau sudah kalah. Subrata bisa tuntut kamu lakukan kekerasan. Kita harus mengalah untuk menang." Kevin beri nasehat pada Gina agar tahan emosi tak gatal tangan hajar Subrata.
__ADS_1
"Iya...aku keluar dulu." Gina keluar tanpa menoleh ke arah Kevin lagi. Langkah Gina kokoh menapak lantai marmer. Aura seorang pemimpin jelas terpahat dalam diri Gina.
Kevin menghela nafas lihat ruang kerjanya yang tak sesuai karakter dia. Lucia terlalu maju hendak monopoli hidup Kevin. Belum apa-apa sudah unjuk kuku mau tancapkan ke daging Kevin. Ternyata hari libur kemarin digunakan oleh Lucia untuk dekor ruang kerja ini. Gadis gunakan kesempatan libur berbuat seenak dengkul.
Apa kata rekanan bisnis bila lihat ruang kerja dia seperti rumah boneka. Di mana mau dia letakkan wajah gantengnya. Kevin menepis amarah segera ambil beberapa files serta laptop untuk pindah ke ruang kerja Peter yang kosong untuk sementara waktu. Peter telah betah di Bali karena tidak ada berita.
Gina hanya melirik sekilas tidak menyapa Kevin yang lewati dia dan Jay. Sehebatnya Gina menahan diri tetap saja ada rasa tak nyaman di hati melihat suami barunya akan berdekatan dengan orang paling tak dia sukai. Gina bisa membaca pikiran Lucia pasti akan lakukan hal tak terpuji demi mengejar cinta Kevin.
Gina tak boleh lengah biarkan Kevin masuk perangkap Lucia. Kevin berniat jebak Lucia bisa jadi malah sebaliknya Kevin kena tipu muslihat Lucia. Demi mendapatkan perhatian Kevin dia rela rogoh kocek dalam hanya untuk sehelai gambar. Gina lebih kenal Lucia dari siapapun karena rahasia Lucia ada di tangan Gina.
Sedang seriusnya Jay dan Gina mengerjakan tugas datanglah Gani dan dua wanita. Satu masih muda berwajah manis mirip wajah orang Jepang. Imut dan lugu. Gina tebak itulah gadis cs yang kena bully dan satunya lagi pembawa masalah. Dari tampangnya saja Gina menduga kalau orang ini telah berbuat semena-mena kepada karyawan lain.
Gani membawa dua wanita ini langsung berhadapan dengan Gina. Tak ada yang tahu kalau Gina lah pimpinan sejati kantor ini. Namun Gina tak mau gunakan power menekan orang lain. Gina mau tahu penyebab timbul konflik antara karyawan dan cs.
Gina hentikan kegiatan menyusun files. Gadis ini cuci mata antara dua wanita ini. Yang muda tampak malu-malu kucing sedang yang lebih tua santai saja seakan dunia miliknya. Tak ada rasa takut sedikitpun di raut wajah wanita itu telah bully karyawan lain. Wanita itu tenang sebab bukan hadapi Kevin melainkan asisten bos. Tak ada yang perlu ditakuti karena dia juga memiliki tulang punggung kuat di kantor ini.
Gina memeluk tangan berjalan maju mengitari ketiga orang yang baru hadir. Gina seperti sedang taksir ketiga orang ini berapa harga bila ditawarkan di pasar gelap. Gani yang sudah tahu akal bulus Gina tak heran disiksa berdiam diri sampai dia puas.
"Woi...kita masih banyak kerja!" seru wanita itu kesal diperlakukan seperti maling kena tangkap.
"Apa aku sudah suruh kamu bicara? Kau diam tak ada yang anggap kamu bisu." bentak Gina juga tak suka wanita itu arogan.
"Aku dipanggil kemari hanya untuk lihat kamu sidak kami? Aku masih banyak pekerjaan belum selesai. Ada apa ini?"
"Aku suka kau tegas...kau sudah datang maka aku tak segan bertanya. Apa kamu yang pecat nona cs ini? Alasan dan salah nona ini! Jelaskan!" kata Gina dengan intonasi dingin.
Jay angkat kepala rasakan hawa beku mulai merambah lantai ini. Apes bagi wanita itu bila salah omong. Bisa jadi dia yang kena pecat bila salah omong dengan Gina.
Wanita itu menatap tajam ke arah cs barulah mengatur gerak tubuh meninggikan kepala ke atas untuk katakan kalau dia orang berkelas tinggi. Gina mengepal tangan menahan rasa kesal. Gina berusaha menahan emosi agar jangan terpancing beri roti bogem ke wajah berbedak mahal itu.
"Dia sengaja menumpahkan air di lantai sehingga aku terpeleset. Apa dia tak pantas dihukum?"
"Kalau sengaja pantas diberi peringatan bukan langsung dihukum. Masuk pengadilan saja masih ada jadwal sudang untuk tentukan siapa yang salah. Lalu apa yang kau lakukan pada nona kecil ini?"
"Aku hanya beri sedikit pelajaran dan bebaskan di dari tugas karena takut kelak dia buat onar lagi."
"Pelajaran gimana? Beri nasehat atau gunakan kekerasan?"
Wanita itu ragu untuk jawab. Kalau dia katakan telah menampar gadis muda ini maka dia yang salah telah berbuat kasar tanpa beri peringatan awal. Bisa-bisa dia yang kena hukum namun wanita ini masih tenang karena yang bertanya bukan Kevin owner perusahaan.
__ADS_1
"Dia tampar Andara!" Gani yang nyahut karena dia melihat langsung kejadian ini. Gani harus membela yang benar karena dia seorang pemimpin kecil di divisi dia.
"Wow..." Gina tepuk tangan beri applaus kepada wanita itu, "Siapa namamu wahai wanita arogan?"
"Aku Safira adik kandung direktur keuangan."
"Bagus...aku suka sikap tegas kamu cuma sayang kamu konyol. Sekarang nona cs silahkan buka suara apa yang telah terjadi?"
Gina menatap gadis muda itu dengan lembut. Mereka yang kecil kadang kena mop mental langsung menciut takut cerita kebenaran. Gina harus bisa awali debat sebagai pimpinan baru juga isteri Kevin yang bijak.
"Aku tak sengaja Bu... Nona Safira yang menendang ember berisi air hingga tumpah lalu marah-marah tuduh aku sengaja bikin dia jatuh karena iri hati. Demi Allah aku tidak begitu. Aku butuh kerja mana mungkin berbuat hal tak pantas." ujar Andara muram. Orang kecil berkata jujur tetap saja disalahkan.
"Ok...aku sudah dengar cerita kedua belah pihak. Sekarang kita buktikan sendiri fakta sesungguhnya. Buka CCTV hati kejadian. Kita akan segera tahu siapa salah. Yang salah harus keluar dari perusahaan tanpa kecuali."
Andara dan Safira terhenyak kaget kalau Gina ambil keputusan Gina yang tak beri toleransi pada orang yang bersalah. Gani dan Jay diam seribu bahasa tahu kalau Gina bukan hanya sekedar mengancam. Gina telah keluarkan kalimat maka dia akan laksanakan.
"Dasar apa kau pecat aku?" seru Safira lantang tak terima hendak dikeluarkan oleh Gina. Wanita ini tak sadar kalau dia telah mengakui perbuatannya secara tak langsung. Mungkin karena terlalu panik sampai tak sadar ungkap fakta sebenarnya. Safira akui dia yang bersalah di depan semua orang.
"Nona Safira dengar baik-baik! Apa aku sudah mengatakan akan mengeluarkan kamu dari perusahaan? Aku hanya bilang yang bersalah yang akan dikeluarkan. Bukankah kamu ngotot mengatakan yang bersalah adalah Andara? Kita bisa buktikan bersama siapa yang bersalah di dalam hal ini." Gina mengeluarkan nada keras mau jatuhkan mental kerupuk wanita arogan itu.
Safira mendekap mulut sadar telah kelepasan mengatakan kalau dia yang bersalah. Kalau dia betul-betul tidak merasa bersalah untuk apa takut akan dikeluarkan dari perusahaan. Justru karena dia merasa bersalah maka dia langsung ketakutan sendiri.
"Maksudku kau siapa berani pecat aku? Aku ini adik pejabat di kantor ini?"
Gina angguk-angguk tak terpengaruh oleh gertakan Safira. Jangankan Safira! Direktur keuangan yang dimaksud bisa saja get out dari perusahaan bila coba-coba melindungi orang bersalah. Gina akan meminta Kevin mengeluarkan orang yang bermasalah agar tidak menjadi benalu di dalam kantor. Kalau tidak dimulai dari sekarang melakukan pembersihan maka selamanya kantor ini menjadi tempat berkumpulnya orang berhati picik.
"Oh gunakan backing ya? Panggil direktur keuangan biar sama-sama kita lihat rekaman CCTV! Siapapun yang duluan lakukan kekerasan dia yang akan pulang kampung."
Safira menjadi gusar melihat betapa arogannya asisten pak Kevin ini. Gina telah melangkah terlalu jauh berbuat seolah-olah dialah bos dari perusahaan ini. Safira memang merasa takut tapi dia punya perisai melindungi diri daripada segala tuntutan. Abangnya pasti akan melindungi dia walaupun dia bersalah nanti.
"Ok...aku tak takut! Bukankah Andara sudah dipecat oleh abangku karena melawan atasan? Dasar apa kamu lindungi dia lagi?"
Gina membalik badan langsung berhadapan dengan Safira dengan tatapan membunuh. Bola mata Gina bergetar menahan emosi melihat masih ada orang sok hebat di kantor orang.
"Dasar aku ini manusia punya hati. Jay...panggil direktur keuangan datang ke sini. Siapkan surat pemecatan bila keduanya bermasalah. Aku tak suka manusia berhati septic tank ada di kantor ini." ujar Gina tanpa memandang Jay. Mata Gina tetap tertuju pada Safira yang mulai ketar-ketir dapat ancaman dari Gina.
"Kau berani? Abangku punya jabatan penting di sini."
"Wow hebat.... Abangmu orang penting ya? Kau tahu aku tak pandang jabatan melainkan akhlak dan kinerja kerja. Kau mau perpanjang masalah artinya makin banyak orang kena PHK."
__ADS_1
Safira menjadi ragu melihat betapa arogannya Gina tekan dia. Namun Gina tetaplah seorang asisten yang tak punya hak urus masalah pegawai.
Andara tak berani bersuara karena yang dia hadapi asisten kejam tak punya timbang rasa terhadap orang bersalah. Andara tidak takut sebab dia hanya korban dari atasan sok berkuasa.