
Yang paling menonjol tentu saja Gina. Gadis dengan tangan diperban masih datang ke kantor untuk bekerja. Kevin sudah larang Gina bekerja namun gadis itu ngotot mau ikut ke kantor. Di rumah dia juga tidak ngapain mending ke kantor. Kerja di bengkel lebih tidak mungkin dengan kondisi tangan terluka.
Kevin menjadi bos penuh gaya karena masuk kantor dikawal oleh tiga orang. Semua karyawan memandangi pemandangan langka ini dengan heran karena ini merupakan pemandangan aneh. Biasa Peter yang temani Kevin datang ke kantor. Absen satu hari segalanya berubah total.
Kevin pede saja masuk ke ruang kerjanya tanpa peduli tatapan aneh dari para pegawai. Gina dan kedua rekannya temani Kevin sampai ke lantai atas. Jay dan Hadi terkagum-kagum dengan lingkungan kantor yang sangat bersih tidak kumuh seperti di bengkel Om Sabri.
Kevin masuk ke ruang kerjanya untuk urus pekerjaan yang tertinggal. Kevin harus menata diri sendiri agar tidak lemah untuk melawan kejahatan di sekelilingnya. Orang yang dia anggap baik ternyata adalah ular berkepala dua.
Gina mulai kerja seperti biasa walau harus hati-hati agar tangannya tidak terluka untuk kedua kali. Jay dan Hadi disuruh duduk di dekat Gina sambil tunggu perintah Kevin selanjutnya. Keduanya dibuat seperti badut menanti orderan. Kalau di bengkel keduanya sudah bergelut dengan segala peralatan bengkel.
Suasana jadi hening karena Gina tenggelam dalam pekerjaan begitu juga Kevin di dalam ruangan. Jay dan Hadi bengong tak tahu harus lakukan apa.
Derap sepatu yang cukup familiar di kuping Gina berdetak sepanjang lantai di mana ruang kerja Kevin berada. Gina mengangkat kepala melihat Peter telah datang. Dari raut wajah laki itu tampak jelas sedang tidak bahagia. Namun Peter masih bisa tahan emosi agar tak tampak gusar proyek impiannya ditunda.
Gina pura-pura bodoh seolah tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Pak Julio pasti telah menghubungi Peter untuk mengabarkan bahwa proyeknya ditunda untuk sementara waktu. Gina tidak perlu tahu alasan apa yang dikemukakan oleh Pak Julio kepada Peter. Yang penting Pak Julio telah berhasil memenuhi keinginan Gina.
"Selamat pagi pak!" sapa Gina sopan seperti biasa tanpa perlihatkan rasa curiga.
"Pagi...kau sudah sehat?" Peter melirik tangan Gina yang masih terbalut kain perban.
"Alhamdulillah sehat pak! Tinggal menunggu buka jahitan saja!"
"Lain kali jangan gegabah lawan penjahat! Nyawa lebih penting dari harta. Harta bisa dicari sedangkan nyawa kita cuma satu. Oya siapa kedua orang ini? Ada perlu apa di sini?" Peter melirik Jay dan Hadi yang duduk termenung menunggu perintah.
"Oh itu..pak Kevin telah membayar jasa bodyguard untuk kawal dia! Pak Kevin takut terjadi lagi kejadian hari itu."
Peter manggut-manggut seakan memahami keinginan Kevin untuk melindungi diri sendiri dari serangan orang jahat. Gina coba menduga apa yang tersirat di dalam hati Peter setelah tahu Kevin menggunakan jasa pengawal pribadi. Laki itu sedang pasti merutuk di dalam hati jengkel pada Kevin yang menggunakan jasa pengawal. Kesempatan dia untuk melukai Kevin akan semakin minim.
"Baguslah! Aku akan jumpai Kevin! Kau jaga diri jangan sampai terluka lagi"
"Iya pak!"
Peter meninggalkan Gina dan kedua pengawal baru Kevin. Gina hanya melirik sekilas Peter masuk ke ruang kerja Kevin. Ntah apa yang akan dibincangkan kedua laki itu. Semoga saja Kevin pintar tidak kejebak sama rayuan Peter lagi. Menurut Gina Peter itu laki paling munafik di dunia ini. Sok perhatian namun. menusuk dari belakang.
Peter langsung masuk ke kamar kerja Kevin tanpa mengetok pintu. Dari sini jelas perlihatkan suasana hati Peter sedang buruk. Biasa dia kalem sok baik biar dianggap manusia berhati malaikat.
Kevin mendongak angkat kepala melihat saudara sepupunya telah datang. Kevin bersikap biasa pura-pura belum tahu niat jelek Peter kepada dirinya. Peter pintar bersandiwara maka Kevin harus imbangi laki itu supaya mereka berdua masuk nominasi aktor pendatang baru kawakan.
"Tumben telat banget!" tegur Kevin datar.
__ADS_1
Peter menarik kursi sampai ke depan meja Kevin lalu duduk secara kasar. Peter tampak sangat kesal tapi belum mengungkap apa yang membuatnya kesal.
"Kau tahu proyek kita telah ditunda pak Julio alasan ada perubahan rancangan. Betapa gila laki itu! Kita sudah ready mau berangkat dia seenak perut tunda." Peter merepet kepada Kevin.
Dalam hati Kevin puji Gina sukses pengaruhi pak Julio tunda proyek. Kevin tak tahu apa hubungan Gina dengan Pak Julio. Yang penting Gina telah berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Sejauh ini Kevin harus pertajam akting supaya Peter tak curiga ada campur tangan mereka dalam proyek ini.
"Tak mungkin pak Julio batalkan proyek. Dia sudah tanda tangan dengan kita. Uang juga sudah masuk dua puluh lima persen ke kantor. Rugi kalau dia mau batalkan proyek ini!" Kevin menenangkan Peter soal Mega proyek mereka.
"Jadi kapan dia akan garap proyek itu? Kita sudah batalkan beberapa pekerjaan untuk menangkan tender ini." Peter masih merepet tak puas kerjanya ditunda.
"Kita hanya bisa tunggu! Aku mau kamu fokus pada peluncuran produk perhiasan kita dulu. Rancangan Gina cukup bagus penjualan. Aku mau kita produk ulang."
Peter kurang bergairah bahas soal perhiasan yang jadi produk utama perusahaan Kevin. Peter yang dasarnya adalah sarjana teknik lebih fokus pada proyek pak Julio. Pak Julia menghentikan sementara proyek mereka membuat separuh nyawa Peter melayang ke langit. Peter sangat sedih setelah mengetahui Pak Julio menunda proyeknya. Tetapi mereka tidak bisa berkata apa-apa karena Pak Julio adalah pemilik proyek.
"Aku akan tangani masalah ini. Oya... mengapa tiba-tiba kamu membayar pengawal pribadi? Seharusnya kamu diskusi dulu dengan aku masalah ini biar aku bisa mencari orang yang lebih kompeten."
Kevin menyandarkan punggung ke sandaran kursi menghentikan kegiatan memantau hasil penjualan perhiasan rancangan Gina. Peter terlalu intervensi hidup Kevin sampai masalah bodyguard ingin dia tangani sendiri. Kevin tak tahu tujuan Peter itu baik atau buruk. Bisa jadi dia akan memasukkan orangnya di sekitar Kevin agar lebih leluasa memantau gerak-gerik Kevin. Kevin bukan orang bodoh tidak mengetahui apa tujuan Pieter yang sesungguhnya. Namun untuk saat ini Kevin tidak mau berseteru dengan Peter karena dia masih memerlukan bukti yang kuat untuk mendepak Peter dari perusahaan.
"Mereka adalah orang bisa dipercaya! Aku merekrut mereka karena kejadian yang menimpa aku dan Gina. Dan lagi keluarga gila ingin mencari kesempatan masuk ke dalam hidup aku lagi. Aku tak mau mereka berada di sekeliling aku karena mereka adalah manusia yang paling menjijikkan di dunia ini."
"Maksudmu bapakmu datang ke rumahmu? Kudengar perusahaannya sudah hancur karena terlalu foya-foya di dalam hidup ini. Apalagi anak tirinya hidup mewah di luar negeri bersama bule barat. Ibu tirimu menguras harta bapakmu sampai kandas. Terakhir dia rugi besar dalam saham tambang. Untuk apa dia cari kamu?"
"Aku tak ada urusan dengan orang itu! Maka itu aku cari pengawal untuk menjaga agar mereka tak mendekat."
Peter maklum mengapa tiba-tiba Kevin menambah armada satpam dirumahnya. Ternyata ada orang ingin menghambat kehadiran bapaknya.
Peter tak bisa beri komentar karena itu adalah hak Kevin melarang siapa yang dekat dengannya.
Dari luar terdengar ketokan pintu. Kevin dan Peter saling berpandangan menduga siapa yang ganggu waktu mereka.
"Masuk!"
Gina perlihatkan wajahnya tanpa masuk ke dalam, "Ada tamu pak! Nona Lucia dan orang asing!"
Kevin mengernyit alis siapa orang asing yang disebut Gina. Dari pancaran mata anak itu perlihatkan sikap sinis mau katakan bahwa semuanya tamu tak diundang. Namun Gina tak punya hak melarang tamu jumpai Kevin selama laki itu mau terima tamu.
"Suruh Lucia masuk! Cek dulu siapa tamu asing yang aku maksud!"
Belum sempat Gina hendak balik badan beberapa orang menerobos masuk dengan tak sopan. Gina sampai terhuyung ke belakang di dorong oleh tamu tak tahu adat itu. Tiga orang masuk tanpa izin Kevin. Lucia dan Gina hanya bisa melongo karena ada orang lebih brutal dari mereka berdua. Mereka berdua masih berdiri di luar saking kaget diserobot orang kasar.
__ADS_1
Peter dan Kevin berdiri karena kehadiran orang tak diinginkan. Gina meringsek masuk hendak lindungi Kevin dari orang yang jelas berniat jahat pada Kevin. Gina langsung berdiri di samping Kevin dengan posisi siaga. Gina tak peduli tangan masih terluka karena dahulukan keselamatan Kevin.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Peter dingin. Gaya Peter sangat menyakinkan ingin lindungi Kevin. Kalau bukan Gina dengar sendiri rencana jahat Peter mungkin dia takkan percaya Peter sejahat itu. Dari tingkah seakan Peter peduli pada Kevin.
"Kami orang tua Kevin...apa salah kami kalau mau jumpa anak sendiri!" bentak ibu tiri Kevin yang bernama Mince.
"Apa saya tak salah dengar? Ngaku orang tua Kevin? Dari mana Kevin punya orang tua? Ibunya sudah lama meninggal dunia. Jangan bikin onar di kantor orang. Kalian tak diharapkan datang ke kantor kami! Silahkan sebelum Satpam datang!" kata Peter tegas.
"Hei Peter! Jangan kurang ajar ya! Kami ini orang tua Kevin! Kami punya hak di kantor ini. Sekarang Kevin sudah sembuh jadi saatnya dia berkeluarga. Ini Luna sudah datang. Mereka harus segera menikah!"
Semua terdiam dengar ocehan isteri Papa Kevin. Ocehan yang tak masuk akal. Hanya orang gila tiba-tiba muncul minta musuh bebuyutan nikahi anaknya. Kevin terpana sampai tak bisa berkata-kata. Datang ke kantor orang bikin onar lalu paksa kehendak diikuti orang.
Gina gemes ingin rujak mulut abu terasi itu. Setiap ******* nafas perempuan itu mengandung racun sianida bikin mabuk orang. Gina mau maju namun ditahan Kevin. Ini bukan saatnya Gina adu mulut dengan keluarga yang terbuang. Kevin harus tegas selesaikan masalahnya agar kelak mereka tak datang lagi usik dia.
"Kalian ini baru keluar rumah sakit jiwa ya! Datang-datang bawa sampah ke rumahku. Siapa mau jadi keluarga kalian? Berapa jijiknya aku lihat kalian! Ingat! Jangan ngaku orang tuaku karena ibu yang kucintai sudah meninggal! Aku anak yatim-piatu." ujar Kevin menohok buat papanya menekan ludah pahit.
Wanita yang bernama Luna kaget Kevin bisa keluarkan kata demikian kasar. Luna pikir Kevin agak idiot bisa dia setir untuk penuhi kebutuhan hidupnya yang sangat besar. Dia tinggal di luar negeri temani anaknya yang sekolah di Australia. Kini perusahaan ayah tirinya sedang jatuh, dia tak punya sandaran untuk lanjut hidup mewah. Apa lagi kalau bukan bodohi Kevin menikah lalu rampas seluruh harta kekayaan Kevin.
"Kevin..kau pikir kau siapa tolak aku? Aku sudah rendahkan diri mau jadi isteri kamu. Kau pikir kamu ini apa? Siapa mau jadi isterimu? Hanya perempuan bodoh mau jadi isteri kamu" tukas Luna tak kalah garang dari ibunya.
Gina tak dapat tahan tawa dengar ocehan wanita yang ngaku calon isteri Kevin. Dia mau jadi isteri Kevin lalu bilang hanya orang jodoh mau jadi isteri Kevin artinya dialah wanita bodoh itu.
"Tante...kamu orang hebat mampu hujat diri sendiri! Aku salut ada orang bodoh ngaku bodoh di tempat orang ramai." kata Gina kalem bikin Lucia yang ikut dengar jadi tersenyum.
"Kau siapa? Enak aja panggil aku Tante. Aku masih muda tau" bentak Luna garang.
"Tau..keriput sana sini! Pakai anti aging dong! Tante mau tahu orang muda? Tuh nona Lucia calon kuat isteri pak Kevin! Aku ini calon isteri muda! Kami mau kok jadi isteri pak Kevin! Muda dan pasti lebih cantik dari Tante!" Gina masih pertahankan gaya kalem bikin Lucia makin geli. Lucia tak sangka adik tirinya yang tampak gamas punya sisi konyol.
"Kau...diam kau! Ayok Kevin! Sekarang kau tak punya pilihan lain selain menikah dengan aku! Kita akan warisi semua harta papa bersama."
Giliran Lucia gregetan sama tingkah Luna yang tak tahu malu. Ada pula orang paksa saudara tiri nikahi dia demi harta. Kulit muka setebal kulit buaya atau badak. Lucia jadi terpancing mau ikut Gina buat lawan Kevin kalang kabut.
"Kamu ini tahu malu tidak? Umur setua gini mau menikah dengan anak muda. Berapa sih umurmu? Limapuluh tahun?" ejek Lucia bikin Luna gusar.
Mince tak biarkan anaknya dibully oleh dua gadis muda yang jauh lebih energik dari Luna. Luna bukan apa-apa bila dibanding Gina dan Lucia. Terutama Lucia yang tampil lebih mentereng dari Gina. Seluruh badan Lucia terbalut pakaian mahal kekurangan bahan kain. Beda dengan Gina yang lebih tertutup walau tak kalah cantik.
" Jaga mulut anak kecil! Lebih baik kamu diam tak usah ikut campur urusan keluarga kami. Ayok pa! Kamu harus tegas pada anakmu untuk patuh pada perintah mu!" Mince putar badan hadap suaminya yang pasif terhadap keributan ini.
"Tunggu...siapa jadi anakmu? Aku tak merasa punya orang tua macam kalian! Silahkan pergi dan jangan balik lagi! Aku tak ada hubungan dengan kalian!" ucap Kevin tegas patahkan hasrat Mince ngaku keluarga nya.
__ADS_1