JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Incar Angela


__ADS_3

Lucia menggeleng kepala menepis rasa sedih yang menyelimuti hati. Dia memang kurang akrab dengan Gina namun gimanapun Gina itu adiknya. Tak ada niat di hati Lucia celakai Gina dan Gani. Lucia tahu kalau kedua anak itu sudah cukup menderita karena dibesarkan tanpa fasilitas seperti dirinya. Kalaupun mereka sekarang hidup dalam kemewahan itu adalah berkat kesabaran mereka. Apa hak Angela merampas yang bukan hak mereka.


"Ma....sadarlah! kita sudah cukup lama hidup dalam kemewahan. Kita sudah memiliki segalanya jadi tak perlu merancang rencana buruk untuk merampok hak orang. Kalau mama merasa sangat mampu mengembalikan semua kemewahan yang pernah kita rasakan silakan saja. Cia juga sudah capek harus memikirkan sikap mama."


Angela menelan air ludah dengan marah karena kesal anaknya sama sekali tidak mendukung dirinya. Harusnya dulu Lucia mendukungnya untuk merampas semua yang ada pada Gina agar mereka tidak perlu memikirkan hidup susah. sayangnya Lucia tidak memperdulikan semua keinginan Angela yang dianggap tidak waras.


"Baik...kamu lihat saja! Kalau kalian tidak mampu menangani kedua anak itu biarlah Mama yang turun tangan sendiri. Kalian lihatlah apa yang akan mama lakukan untuk merebut kembali perusahaan papa kamu sekaligus dapat bonus perusahaan Gina." ujar Angela dengan nada sombong.


Lucia tidak tahu apa yang ada di pikiran mamanya yang pasti bukanlah rencana baik. Lucia tidak bisa berkata-kata apa lagi melihat keangkuhan mamanya. Angela bisa apa melawan Gina yang memiliki segalanya dan otak sebagus ujung berlian. Lucia yakin mamanya akan gagal bila merancang rencana busuk kepada Gina.


Lucia angkat tangan membiarkan mamanya melakukan kehendak hati. Lucia mau lihat sampai di mana keangkuhan mamanya itu.


"Ok... silakan lakukan apa yang Mama inginkan! Aku dan papa tidak bertanggung jawab bila terjadi sesuatu kepada Mama. Cia sudah mengingatkan Mama agar menyerah tapi bila Mama tetap ingin maju ya Cia nggak bisa mengatakan apa-apa lagi."


Angela mengibas rambutnya yang hitam legam berkat bantuan penghitam rambut. Tidak dipungkiri kalau Angela memiliki pesona yang luar biasa karena perawatan luar dalam sehingga dia tetap awet muda.


"Ok...mama pergi! Kalau mama berhasil mengambil kembali perusahaan papa kalian jangan memohon kepada Mama untuk bersatu lagi. Mama akan kelola perusahaan itu bersama teman Mama yang ahli dalam perekonomian."


Lucia sama sekali tidak menahan langkah mamanya karena tahu sampai di mana mamanya akan melangkah. Paling juga nginep di hotel lalu kembali ke rumah.


Angela menyeret koper meninggalkan rumah dengan sombongnya. Tujuan Angela adalah mencari kawan untuk diajak menyusun rencana busuk jagal Gina. Angela tidak tahu kalau orang dia incar memiliki jaringan lebih luas daripada dirinya. Angela tidak tahu kalau Gina lebih duluan melangkah memantau semua gerak-gerik Subrata dan dirinya. Gina ingin turun tangan kejam kepada keluarga ini maka dia memantau setiap gerak-gerik keluarga ini sampai sedetailnya. Gina ingin keluarga ini merasa betapa sulitnya hidup tanpa perekonomian yang kuat. Sudah saatnya keluarga Subrata merasakan hidup di dalam kekurangan.


Angela melarikan mobilnya menuju ke hotel mewah untuk menyusun rencana menjejal langkah Gina. Tak ada yang tahu apa yang tersimpan di dalam pikiran Angela yang tak tahu di untung itu. Angela tidak tahu kalau kerajaan mereka sedang diambang kehancuran tetapi masih saja merasa dirinya seorang ratu.


Sementara itu di rumah Kevin telah kembali kembali damai setelah papanya Kevin meninggalkan keluarga Kevin. Kevin merasa lebih tenang bersama Gina yang melindunginya.Laki ini tidak merasa harus mencari obat untuk menenangkan diri. Cukup berada di dalam pelukan Gina semuanya terasa lebih indah.


Gina meminta Kevin istirahat di dalam kamar setelah mengalami syok ringan. Papanya Kevin tidaklah menakutkan seperti Subrata. Lelaki itu telah jatuh ke dalam titik terendah sehingga tidak memiliki kekuatan untuk melawan Kevin lagi.


Gani kembali ke rumah Kevin bersama Jay. Gani sengaja mengajak Jay untuk menambah armada perlindungan terhadap Kevin. Gani takut sewaktu-waktu keluarga gila itu kembali mengganggu Kevin dan membuat onar di rumah ini maka itu membawa salah satu preman kampung untuk melindungi bosnya itu. Bos Gani juga bosnya Jay maka Jay juga bertanggungjawab kawal bosnya itu.


Gina sendirian di ruang tamu sambil main ponsel mahal pemberian Kevin. Sejak punya ponsel pinter Gina makin intens mencari tahu tentang dunia perhiasan dunia. Niat Gina mengikuti kejuaraan dunia mendesain perhiasan Pupuh sudah karena kesibukan yang berlipat-lipat ganda. Jangankan untuk mengikuti kejuaraan, mendesain untuk memenuhi rasa penasaran terhadap kemajuan perhiasan sama sekali tidak ada waktu.


"Hai Gina...lagi ngapain?" sapa Jay tidak ingat kalau Gina sudah menjadi bosnya sekarang. Masih menyapa Gina dengan sebutan akrab mereka.


Gina mengangkat kepala melihat siapa yang datang bersama saudaranya. Sebenarnya tanpa melihat Gina pun tahu siapa yang ikut Gani datang ke tempat Kevin. Gina sangat hafal suara Jay yang suka main hilang kontrol.


"Katanya mau membantu Kupret di bengkel. Kenapa pula nongol di sini?"


Jay duduk di salah satu sudut sofa tanpa permisi. Gayanya tetap santai seakan sangat akrab dengan suasana rumah ini padahal ini adalah rumah bosnya. Jay suka lupa kalau sekarang posisi sudah berubah. Gina bukanlah kepala preman kampung mereka lagi melainkan seorang bos dari beberapa perusahaan besar.


"Tuh... dipaksa ke sini oleh Gani! Katanya baru saja hampir terjadi perang dunia ke-10 di rumah ini."

__ADS_1


"Jauh amat perangnya. Perang dunia ke-3 saja belum terjadi bagaimana pula sudah meloncat ke-10. Kurang pintar kamu mencari kalimat kiasan." omel Gani sambil duduk ke sofa sambil mengedarkan mata ke sekeliling ruangan mencari sesuatu. Entah apa yang sedang dicari oleh lelaki gemulai ini.


"Sekarang bukan zamannya main urutan. Apa kamu tidak lihat seorang preman saja bisa menjadi seorang pemimpin yang paling ditakuti di seluruh dunia?" olok Jay sampai melirik Gina yang tekun menatap layar ponsel.


Gina tidak bereaksi membiarkan omongan Jay sebagai ocehan angin lalu. Kalau orang lain yang mengucapkan kalimat itu pastilah akan kena hadiah tinju berantai dari kepalan tangan mungil itu. Berhubung yang oceh adalah gengnya maka Gina tak ambil pusing.


Sebelum sempat Gani membalas omongan Jay tiba-tiba ponsel di dalam kantong Jay berdering. Jay memundurkan badan ke belakang untuk meraih hp yang terjepit dalam saku celana. Dengan sedikit susah Jay berhasil mengeluarkan benda pipih itu.


Benda itu menempel di kuping Jay tanpa melihat siapa yang telepon. Orang yang meneleponnya pastilah sangat penting barulah mencarinya.


"Halo...ada apa?" Jay menyahut panggilan dari sana.


Gani menyimak percakapan antara Jay dengan penelepon tanpa bertanya. Kelihatannya cukup penting karena kening Jay berkerut-kerut setelah menerima telepon dari orang seberang. Entah berita apa yang dilaporkan kepada Jay sehingga lelaki itu tampak sangat tertarik.


"Baik...kamu tunggu kabar dariku. Aku akan lapor pada monster."


Gina mengangkat kepala karena merasa dirinya terlibat dalam percakapan antara Jay dengan orang di seberang sana. Gina menunggu kalimat keluar dari mulut Jay karena dia mengatakan akan melapor kepada Gina. Laporan apa yang akan disampaikan oleh lelaki itu sehubungan laporan dari orang yang menelepon.


Jay menyimpan ponsel di atas meja lalu menatap Gina dengan raut wajah serius.


"Sam melapor kalau Angela keluar dari rumah bawa koper menuju ke hotel. Sendirian."


Gina sedang berpikir apa yang sedang dilakukan oleh Angela keluar dari rumah membawa koper. Apa mungkin wanita itu ingin tour keluar negeri atau cari ketenangan di luar rumah.


"Baik..Sam minta dana operasional ditambah. Masak cukup untuk beli nasi bungkus nasi bungkus rokok."


"Baiklah...kutambah jadi 32 hari dalam sebulan. Apa itu cukup?"


"Itu mah bukan menambah biaya malah menyiksa namanya. Sejak kapan sebulan ada 32 hari? Sudah menjadi bos bukannya murah hati malahan makin pelit." rengut Jay membuat Gani ngakak.


"Itulah istimewanya bos Preman! Bilang ke Sam kalau misinya kelar ada bonus sepeda motor baru. Boleh pilih merek apa saja tapi model matic ya."


Jay kontan cerah Gina mau baik hati beliin temannya motor baru. Jiwa sosial Gina mulai tersentuh melihat kaum preman mengandalkan motor tinggal kerangka.


"Untuk kami semua kan? Jangan khusus untuk Sam dong! Nanti dia kuasai dua puluh empat jam."


"Ngak...karena Sam yang turun lapangan maka dia yang berhak dapat motornya."


Jay memukul dudukan sofa dengan kesal karena anggap Gina pilih kasih. Sam memang yang jalankan misi namun kan semua ikut koordinasi semua kegiatan pantau keluarga Mahabarata. Ini bukan jasa Sam semata-mata tapi Gina hanya pikirkan nasib Sam. Sungguh tidak adil.


"Aku keberatan...Sam kan kerja atas perintah aku. Kok dia yang dapat pujian lalu di mana posisi kami?" protes Jay pasang wajah masam.

__ADS_1


"Aku beli juga kok untuk kalian di pos." sahut Gina tersenyum manis. Jay dan Gani bukannya senang lihat senyum manis Gina. Sejak kapan gadis ini punya senyum manis? Kedua lelaki itu malah merinding merasa hawa horor.


"Yang bener...untuk kami semua kan?" tanya Jay waspada takut dapat jawaban tak menyenangkan.


"Tentu saja untuk kalian semua. Untuk kamu kubelikan ban sepasang, untuk Kupret tempat duduk, untuk Teo stang motor. Pokoknya semua kubeli dan kalian rakit sendiri." sahut Gina kalem menyesal dada Jay.


Gani tertawa terpingkal-pingkal mendengar rencana Gina beli motor onderdilnya masing-masing belum terangkai jadi satu kenderaan. Itu tak ada niat beli untuk kaum mantan preman. Hanya iming kosong.


"Sudah kuduga monster itu ngak ada benernya." Jay merepet sendiri menahan rasa jengkel capai ubun kepala.


"Bro...kalau tidak dipisahkan maka semua akan rebutan. Kalau masing-masing punya satu hak maka bisa giliran pakai. Coba kalau tak ada stang cuma ada ban. Apa bisa jalan? Jadi kupisahkan biar kalian semua punya hak."


Jay menggaruk kepala yang tak gatal. Perkataan Gina sangat masuk akal. Kalau motornya cuma satu sementara yang ingin memakai rame maka mereka akan rebutan menggunakan kendaraan itu. Kalau hak milik masing-masing telah terpisah maka mereka bisa menggunakan secara giliran.


"Kau benar juga ya! Terserah kamu deh! Yang penting ada satu kenderaan di pos buat transportasi kita. Aku mau yang bisa yang CC besar ya!"


"Tidak...nanti harus sumbang peti mati pula. Pokoknya motor matic."


"Merayap dong!"


"Bagus merayap ketimbang lihat kalian dijemput malaikat maut. Oya Jay...tolong kawal pak Kevin lebih hati-hati ya! Aku takut terjadi hal tak diinginkan bila aku tak ada di sampingnya. Mulai besok aku akan berkantor di perusahaan opa. Aku harus selesaikan kekacauan di sana. Kau jaga pak Kevin baik-baik. Jangan biarkan sembarangan orang masuk ke ruang kerja dia. Dan satu lagi...awasi Lucia!"


"Pak Kevin sudah pasang CCTV tersembunyi di ruang kerja dia. Ini untuk berjaga-jaga kalau Lucia lakukan hal negatif."


Suasana canda gurau telah berganti jadi serius begitu membincangkan masalah kantor. Jay punya tanggung jawab besar terhadap Kevin atas amanah dari Gina. Jay tak mungkin membantah Gina yang telah mengubah jalan hidupnya. Kini Jay lebih dipandang orang setelah jadi orang kantoran. Predikat preman nakal mulai luntur dari tubuhnya.


"Bagus...Lucia dasarnya tidak jahat seperti ibunya tapi dia itu halal kan segala cara untuk jebak pak Kevin ke pelukan dia."


"Tuhlah apa Lucia tak tahu kalau pak Kevin itu telah menjadi milik monster." ujar Jay serius menyindir Gina. Jay bukannya tidak tahu kalau Gina masih tidak dekat dengan Kevin walaupun telah menjadi suami istri.


Gina mendelik membungkam mulut comberan Jay. Jay bukannya takut malah ketawa kecil. Sungguh apes nasib Kevin punya isteri super judes macam Gina. Tak ada manisnya sebagai wanita.


"Kalau kau diam mungkin cicak di dinding akan lega. Apa kau akan nginap di sini bersama bebek?"


"Iya...Gani yang ajak aku tidur sini jaga kalian. Apa nanti malam kami boleh jalan-jalan cari angin seputar komplek rumah sini? Kali aja jumpa bidadari kesasar."


"Terserah..." Gina hanya berucap singkat lalu kembali fokus pada layar ponsel ntah apa yang jadi pusat perhatian gadis ini. Pasti ada sesuatu menarik hati baru dia terpaku pada ponsel yang tidak dia gunakan selama bertahun-tahun.


Jay dan Gani saling berpandangan puas bisa cuci mata di daerah elite ini. Pemandangan cewek di komplek tentu beda dengan cewek daerah mereka. Di sana cewek hanya pakai kaos oblong serta celana buntung, kadang ada yang hanya pakai daster kumuh. Dari tahun ke tahun pemandangan itu-itu saja. Semoga malam ini dapat hiburan baru.


Siap sholat Isya kedua pejantan beda karakter kontan kabur cari pemandangan malam cuci mata. Mereka pamitan pada Gina selaku tuan rumah baru di rumah Kevin. Kevin orangnya sangat pasif tidak terlalu memasalahkan hal-hal kecil. Beda dengan Gina yang sedikit protektif terhadap keluarga dan rekan-rekannya.

__ADS_1


Setelah Jay dan Gani keluar pergi bermain tinggallah Gina dan Kevin di rumah. Gina agak gelisah karena malam telah tiba membuat dia harus memilih tidur di kamar yang mana. kalau Gina memilih tidur di luar kamar Kevin maka harga diri Kevin akan tercampak di mata seisi rumah. Gina tak boleh meruntuhkan harga diri Kevin di mata para pembantu.


__ADS_2