JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Sarapan Istimewa


__ADS_3

Gani tertawa ngakak lihat Kevin kalah lawan Gina. Kevin ini ganteng-ganteng tunduk pada kepalan centong sayur Gina. Gani beri julukan baru untuk Kevin STI suami takut isteri. Apa kata orang sekantor bila tahu Kevin yang keren budak cinta Gina. Gani biarkan saja Kevin nikmati peranan sebagai bapak rumahan takut pada ketokan centong sayur Gina.


Secara diam-diam Gani ambil foto Kevin sedang menyapu teras depan. Ini akan menjadi kenangan indah buat Gani saksikan bosnya tak luput dari keusilan Gina. Gani sudah kenyang dibully oleh Gina. Sekarang sudah ada teman sependerita. Rasanya cukup puas.


Teras tidak terlalu kotor selain ada abunya lumayan tebal. Kevin tak pandai bersihkan semua abu gunakan serokan. Semua bekas kotoran di tumpukan samping teras. Laki ini anggap tugasnya telah selesai mengikuti perintah Gina. Yang penting sudah menyapu.


Gani terpaksa keluar untuk sempurnakan pekerjaan Kevin yang belum tuntas. Gani turun tangan agar rencana sarapan mewah tidak batal. Di sini setiap hari nasi goreng dan telor ceplok ataupun mie rebus. Sekali-kali ganti suasana makan di tempat mahal. Kevin perhatikan kerja Gani untuk jadi pelajaran di hari esok. Kevin tahu kalau Gina tidak akan berhenti sampai hari ini saja. Masih ada esok berulang paksa dia kerja.


Gani tersenyum puas lihat teras sudah bersih. Juragan rumah pasti takkan protes lagi bila lihat apa yang dia ,inta sudah terpenuhi.


"Kakak pergi mandi. Sebentar lagi kita pergi. Kurasa kita asyik tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa kapan hari libur. Hari ini kita gunakan waktu bersenang-senang." ujar Kevin menepuk bahu Abang iparnya. Seharusnya Kevin yang panggil Gani Abang menurut urutan keluarga. Kevin adik ipar Gani maka posisinya di bawah Gani. Tapi Gani sudah terlanjur suka panggilan kakak maka tak ada yang berubah.


Kevin segera masuk kamar ambil handuk untuk mandi. Laki ini tak tahu di mana Gina karena wanita muda itu tidak tampak batang hidung. Untuk sejenak Kevin lupakan Gina. Dia ingin bersihkan badan dari keringat kotor. Baru kerja sehari rasanya sudah jadi pembantu bertahun-tahun. Gina pasti akan bilang Kevin lebay. Baru nyapu sudah seperti pergi perang lawan debu.


Di belakang rumah Gina sedang jemur pakaian yang baru keluar dari mesin cuci. Gina bukan tak sanggup bayar PRT tapi rumah mereka terlalu mungil untuk gaji seorang PRT. Apa pula yang akan dilakukan PRT kalau mereka pergi kerja. Mereka keluar pagi dan pulang sore. Tak ada guna gaji pembantu kalau hanya untuk ongkang-ongkang kaki. Lebih baik capek dikit kerjakan semua sendirian. Toh Gani masih hidup bisa bantu dia.


Tepat jam delapan Gina sudah rapi dengan setelan pakaian santai. Kaos bergambar penyanyi Korea kesayangan Gani yang diantar tahu namanya. Gina pakai baju itu untuk menyenangkan Gani karena pakaian itu hadiah dari laki gemulai. Oleh-oleh dari Korea. Pakaian warna cream muda dipadu celana ketat warna coklat membuat Gina seperti es krim coklat nan lezat. Tubuh tanpa lemak lebih menggoda mata Kevin kendatipun Gina itu istrinya.


Kevin kan belum pernah lihat isi di balik baju Gina. Semua serba rahasia belum terekspos. Gani biasa saja tidak beri komentar karena sudah sering lihat adiknya tampil menarik di busana sederhana. Tak jarang yang suka pada Gina namun gadis ini cuek pada yang namanya cowok.


Siapa sangka kini Gina telah menyandang gelar nyonya Kevin. Satu kehormatan buat Kevin telah taklukkan Gina walaupun belum total.


"Jumpa makhluk alien ya bang?" Gina goyang tangan di depan mata Kevin untuk menyadarkan laki itu ke alam nyata bahwa istrinya ada di depan mata. Bukan makhluk aneh mesti dipelototi.


"Alien cantik..." sahut Kevin tanpa sadar membuat Gani tertawa ngakak. Kevin terpesona oleh istri sendiri.


"Emang ada alien cantik? Yang ada alien Hijau kepala gede. Mata hijau lihat dolar."


"Itu bukan alien tapi maling pakai helm hendak merampok. Ayok kita berangkat. Suruh Jay antar mobil ke sini. Dia boleh ikut kalau mau."


Gani sigap keluarkan gawai pipih dari saku celana. Gani sudah tak sabar mau jalan-jalan cuci mata. Matanya sudah kegatelan minta dimanjakan.


"Halo Bray...sini dong! Kita mau pergi sarapan di resto keren. Ikut kan?"


"Pinginnya sih iya tapi aku harus bantu Kupret di bengkel. Ada mobil mau segera diambil. Kasihan Kupret dan mamang tak bisa kejar target. Aku antar mobil ke sana saja ya!"


Gani termenung mendapatkan betapa setia mantan preman ini. Mereka disebut preman namun akhlak mereka jauh lebih baik dari mereka yang sebut diri sendiri sebagai orang baik. Tak jarang terdengar berita para ustad pesantren melakukan hal tak pantas pada santriwati. Mereka paham agama namun melakukan tindakan tak terpuji.


"Iya deh...kami tunggu!" Gani tak bisa memaksa. Om Sabri sudah amanah bengkel harus tetap jalan walau tanpa dia. Kupret terpanggil meneruskan amanat om Sabri melupakan rencana masuk kantor. Kupret tak rela bengkel yang mereka bangun susah payah mati gitu saja.


Gani menyimpan ponselnya dengan wajah agak suram. Gani maunya pergi beramai untuk menyemarakkan suasana. Sayang Jayilih bantu teman di kala susah. Mereka harus pergi bertiga saja.

__ADS_1


"Ada apa Gani?" tanya Gina dengan penasaran karena melihat wajah Gani sangat muram.


"Jay tak bisa pergi karena ada mobil mau dijemput oleh pemilik. Dia harus bantu Kupret." lapor Gani tetap salut pada rasa setia kawan para preman.


Gina mengangguk senang. Tidak rugi om Sabri angkat para preman itu untuk menjadi manusia multiguna. Kerja keras om Sabri telah membuahkan hasil. Teman-teman tak abaikan yang sudah ada walau godaan besar seliweran di depan mata.


"Biarlah mereka kerja! Nanti aku akan gabung." Gina berkata sambil melangkah keluar diikuti oleh Kevin dan Gani. Kedua laki saling berpandangan takut rencana jalan-jalan terganggu oleh keinginan Gina ikut bantu di bengkel. Dalam nadi darah Gina terisi oli sehingga gadis ini tak bisa luput dari hasrat perbaiki mobil.


"Ayok kita berangkat!" seru Gani begitu mobil yang dibawa Jay berhenti di depan rumah. Gani takut Gina akan batal pergi sarapan ikut Jay ke bengkel.


Jay turun dari mobil dengan pakaian bengkel. Agak kotor kena oli bekas justru itu trademark seorang montir. Montir tetap bangga walau mereka tak bisa hindari bau sangit oli kotor.


"Selamat pagi dunia..." sapa Jay sambil tersenyum manis walau badan kumuh.


"Dunia akhirat ya. Perbanyak amal ibadah biar masuk surga." ejek Gani menyindir Jay.


"Buat aku atau buat kamu? Pinter ngasih nasehat tapi lupa berkaca. Nih kunci mobil! Kamu yang bawa mobil biar tampak macho!" Jay menyodorkan kunci mobil ke wajah Gani. Jay bukannya tak tahu Gani tak bisa bawa mobil. Anak itu selalu ketakutan bila disuruh jakankan mobil. Mobil belum jalan suaranya menggelegar satu kampung. Siapa berani ajar dia kalau beresiko kehilangan indera pendengaran.


Gani menerima kunci seolah tidak masalah. Dengan sedikit melenggak-lenggok Gani menuju ke pintu mobil pura-pura mau jadi supir. Gina biarkan saja tahu kalau Gani hanya action bisa jalankan mobil. Gani mana berani jalankan mobil.


"Eh Gani...jangan macam-macam kamu! Aku belum mau jumpa malaikat maut. Belum ada bocah penerus aku jadi belum mau jumpa malaikat maut." Kevin bergerak merampas kunci mobil dengan cepat. Kevin takut Gani nekat menerima tantangan Jay.


Kevin masuk ke dalam mobil cari aman ketimbang mati konyol. Kevin tak mau rugi belum rasakan nikmatnya malam pengantin bersama Gina.


Gina dan Jay tertawa geli lihat Kevin. Ketakutan Gani akan jadi supir. Gani mana punya nyali ke situ. Hanya gaya saja selangit.


"Pergilah bantu Kupret! Aku akan datang kalau cepat pulang." ujar Gina sebelum menyusul Kevin masuk ke dalam mobil.


Jay acung jempol tanda ok. Jay tahu Gina takkan abaikan bengkel peninggalan om Sabri. Di situ telah terukir banyak sejarah jatuh bangun mereka memulai hidup baru sebagai manusia punya akhlak.


Semua yang ingin cari suasana baru masuk ke dalam mobil. Mesin mobil berderu tanda mobil sudah siap di bawa ke jalanan. Jay melambai hanya goyang tangan satu kali. Jay bukan orang lebay melambai seperti dalam cerita sayonara haru biru melepaskan saudara pergi jauh.


Gani tersenyum penuh kemenangan akhirnya tercapai tujuan cari udara segar di pagi ini. Asyik berkutat dengan pekerjaan bikin otak makin mandek. Kerja tak pernah usai. Siap ini sudah ada tugas baru lain. Ini hanya tingkatan manager. Gimanalah mereka yang pangkatnya lebih tinggi? Tanggung jawab mereka pasti lebih banyak lagi.


Kevin mengarahkan mobil ke tempat makan outdoor. Orang pergi sarapan sambil nikmati hari libur bersama keluarga. Tempatnya asri ada taman bunga dan tempat mainan untuk mereka yang bawa anak kecil. Kolam ikan mas ikut memaniskan tempat ini. Cocok buat mereka yang ingin lepaskan penat setelah seminggu habiskan waktu dengan pekerjaan.


Gani makin senang lihat suasana demikian asri. Dia punya kesempatan selfie pamer sarapan mahal bersama orang-orang tersayang. Tentu saja akan diposting di group rumpies milik komunitas para cowok gemulai.


Kevin mengajak Gani dan Gina cari tempat teduh karena udara cukup cerah. Sebentar lagi matahari akan bersinar panas mencubit kulit tubuh mereka. Sebelum menjadi korban keganasan sang tari maka Kevin antisipasi mencari tempat yang nyaman. Kevin pilih di bawah pohon yang rindang jauh dari pancaran sinar matahari.


"Ini tempat favoritku! Dulu aku sering sarapan bersama Peter di sini." Kevin menarik bangku untuk ditempati oleh Gina. Gaya Kevin sudah menunjukkan bahwa dia adalah lelaki sejati penyayang wanita. Kalau ada yang melihat ada adegan ini pasti langsung menduga kalau wanita yang diberi tempat oleh Kevin adalah wanita istimewa.

__ADS_1


Gina mengangguk-angguk memandangi sekeliling dengan hati puas. Pilihan Kevin kali ini tidak salah. Tempatnya memang asri menyenangkan pikiran.


Ketiganya duduk berusaha mencari posisi paling nyaman untuk merasakan indahnya pagi ini. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa daftar menu. Pelayan wanita itu memberi senyum paling manis menyambut pelanggan yang ingin mengisi perut.


Mata pelayan itu berminat setelah melihat kehadiran Kevin. Rasanya sudah cukup lama Kevin tidak pernah datang ke tempat ini. Kali ini datang dengan orang yang berbeda. Biasanya Kevin datang bersama Peter tanpa didampingi cewek-cewek lain.


"Selamat pagi pak Kevin..." sapa pelayan itu ramah sampai melirik ke arah Gina dan Gani yang masih asing baginya.


"Pagi...bawakan kami dim sum dan tiga cangkir kopi. Tambah kudapan ringan lain ya!"


"Cuma ini? Nasi atau mie?" tawar pelayan itu tetap konsisten ramah.


Perut Gani terasa mual dengar di jenis makanan kebangsaan di rumah mereka. Dia setiap pagi makan makanan itu walau cara masak berbeda. Bukan bosan tapi muak. Masak ke sini harus makan makanan itu lagi.


"Tidak perlu nona manis...yang lain saja." Gani cepat menolak sebelum Gina mengiyakan makanan nasional di rumah mereka.


"Ok...tunggu ya! Oya pak Kevin...pak Peter kok tidak ikut?" pelayan itu menunda langkah mencari laki yang bernama Peter.


"Pak Peter sudah berangkat ke Ethiopia untuk menjadi sukarelawan melawan ebola." Gani yang menyahut sesuka hati.


Pelayan itu percaya saja karena yang ngomong adalah temannya Pak Kevin. Namun dalam hati masih bertanya apa iya Peter yang Galant bersedia pergi jauh menjadi sukarelawan melawan penyakit yang mengganas di sana. Taruhannya adalah nyawa karena penyakit Ebola termasuk penyakit yang cukup telah cukup banyak memakan korban.


Gina mencubit paha Gani yang nakal dengan gemas. Bisanya Gani terpikir mengarang cerita jauh dari pemikiran dia.


"Ada saja kamu.."


"Ini lebih baik ketimbang kamu bilang pergi ikut perang Rusia dan Ukraina? Kau pikir aku tak tahu akalan kamu? Kamu lebih parah dari aku." Gani melengos mulai bersikap kenes.


Gina mendelik marah Gani bersikap banci kalengan di depan umum. Bersama dia pula. Gani tahu Gina paling anti lihat Gani nyiur melambai.


"Jaga sikap atau mau ku multilasi jadi isi daging kudapan!"


Gani memajukan bibir mencibiri omelan Gina. Kalau Gina sudah omong maka cukup sekian. Kalau dilanjutkan bisa dapat jatah hukuman mengerikan.


Kevin diam saja biarkan dia saudara kembar itu berdebat. Kevin sudah tahu mereka hanya sekedar berdebat tanpa dimasukkan ke dalam hati. Perlahan Kevin mulai bisa memasuki dunia kedua saudara kembar itu. Mereka saling menyayangi walaupun sering bertentangan.


Dari jauh ada beberapa cowok hampiri tempat Kevin dan Gina akan sarapan. Kevin tetap santai beda dengan Gina yang manyun karena merasa kenal dengan beberapa orang itu. Yang paling menonjol adalah laki bertubuh subur tempat penyimpanan lemak.


"Hai Vin... ke mana saja kamu selama ini?" seru Imam dari jauh. Orangnya belum sampai namun suaranya telah terngiang di kuping.


"Sibuk...kalian pasti dari klub ya? Berantakan amat." Kevin memperhatikan ketiga cowok yang datang menghampiri mereka. Wajah mereka kuyu tidak seperti baru dari rumah. Kelihatannya mereka semalaman begadang sampai pagi.

__ADS_1


__ADS_2