JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Waktu Lucia


__ADS_3

Pak Julio memimpin kelima anak muda ke tempat yang akan jadi tempat perawatan Gina sampai betul-betul fit. Pak Julio tak tahu apa yang akan terjadi kemudian hari namun lelaki ini tetap optimis Gina akan sembuh total. Gina anak luar biasa punya semangat juang tinggi. Tak mungkin gadis ini menyerah sebelum selesaikan semua tugas yang diemban ke bahunya.


Apapun harapan Pak Julio tetap yang menentukan adalah yang di atas. Manusia boleh merencana namun yang menentukan tetap pemilik bumi ini. Kita hanyalah umat yang diuji ketakwaan terhadap Yang Maha Kuasa.


Sesampai di rumah yang bakal di tempati oleh Gina semua masih enggan buka mulut. Tempatnya agak sepi jauh dari pengunjung. Tempat itu seolah jadi persinggahan terakhir bagi mereka yang sedang diincar maut.


Perasaan Gani kurang enak berada di tempat ini. Ingin sekali Gani minta Gina ditempatkan di tempat yang ramai agar ada kehidupan. Gani mengintip kamar yang itu tampak banyak sekali peralatan medis telah siap menyambut pasien yang kurang beruntung.


"Pak...apa monster tidak kita pindah ke tempat lebih layak?" Gani keluarkan protes sesuai isi hati. Perkataan Gani tertuju pada pak Julio yang jadi penentu ambil keputusan.


Pak Julio menggeleng tak bisa penuhi permintaan Gani. Pak Julio bukannya suka pada tempat ini namun kondisi Gina memang butuh penanganan intensif.


"Adikmu harus dipantau secara teliti. Kita bersabar saja. Doa saja nak!"


Gani menatap Pak Julio dengan mata sayu menahan air mata jatuh ke bumi. Gani tak boleh perlihatkan kalau dia cengeng di depan banyak orang. Coba kalau berada di rumah mungkin Gani takkan segan teriak meraung-raung tumpahkan air mata. Gani lelaki tak boleh terlihat cengeng. Ini akan memperburuk reputasi Gani di mata orang.


"Kita semua tak ada yang ingin Gina berada di sini. Cuma kita harus percaya pada para dokter. Oya Lucia...kau boleh pulang. Kau tampak sangat pucat. Jangan beri tahu papa kamu kondisi Gina. Nanti memperburuk kesehatan dia." Pak Julio melihat ke arah Lucia yang jelas kurang fit. Wajah Lucia tampak sangat kuyu datangkan rasa iba.


Lucia tak ada hubungan dengan penusukan Gina. Siapa yang berbuat dia yang harus menanggung resiko. Lucia juga cukup terpukul jadi tak ada alasan musuhi Lucia gara-gara Angela.


"Betul...kak Cia pulang dulu! Aku akan kasih kabar kalau Gina sadar nanti. Kau harus percaya monster itu tak gampang mati. Kulit badak nyawa kecoak." Gani menimpali sambil bercanda.


"Huuusss emangnya Gina binatang? Aku mau tunggu dia sadar."


"Bukan kami tak mau kamu tungguin Gina tapi kamu sendiri harus istirahat. Ingat papa kamu masih di rumah sakit. Kamu harus ke sana jaga beliau. Pulanglah! Kami hargai niat baikmu!" Kevin melunak pada Lucia. Gimanapun Lucia sudah berusaha menjadi kakak yang baik walaupun ada jurang terbentang antara mereka. Kevin tak boleh egois pikir perasaan sendiri abaikan kebaikan orang.


"Ayok kuantar! Kau istirahat dulu. Besok baru kita ke kantor untuk beri keterangan." Ardi menawarkan diri antar Lucia. Ardi makin mengerti konflik keluarga ini. Semua bermula dari masa lalu. Cerita persis Ardi tak tahu namun tak jauh dari perselingkuhan.


Lucia mengitari mata lihat semua lelaki yang ada di sekitar. Lucia tahu mereka niat baik padanya bukan menolak. Lucia juga lelah badan juga lelah batin. Mumpung ada pak polisi siap kawal sampai rumah tak ada alasan Lucia menolak.


"Baiklah! Tapi janji harus beri kabar kondisi Gina."


Gani acung jempol berjanji akan tepati janji. Lucia tersenyum kecil senang mendapat tanggapan positif. Tak dianggap sebagai musuh sudah merupakan karunia Tuhan. Masih ada rasa persaudaraan tercokol dalam hati Gani.


Lucia mengangguk minta pamitan karena mulut Lucia belum terbiasa mengucapkan salam. Lucia betulan anak dibesarkan dengan harta bukan dengan didikan moral sebagai manusia beragama. Kalau Lucia menjadi nakal itu bukan salah anak itu sepenuhnya. Peran orang tua sangat penting bentuk watak seorang anak. Beda dengan Gani dan Gina yang kenyang dengan semua ajaran berbau agama.


Setelah mengangguk Lucia angkat kaki dari rumah sakit diikuti oleh polisi gagah siap menjadi pengawal dadakan buat Lucia. Ardi makin ingin mengenal Lucia lebih dekat untuk pahami seluk beluk keluarga aneh ini. Membenci namun saling beri perhatian.

__ADS_1


Ardi membantu Lucia naik ke atas motor gedenya. Mobil Lucia masih tertinggal di kantor polisi gara mereka harus cepat sampai di rumah sakit untuk donor darah buat Gina. Dalam perjalanan mereka tak banyak ngobrol karena tertutup helm. Sebenarnya banyak yang ingin Ardi tanyakan namun untuk sementara dia simpan dulu. Kondisi Lucia belum bisa terpancing emosi karena anak itu juga dalam belitan trauma.


Tak sampai sepuluh menit keduanya telah tiba kembali ke kantor polisi. Lucia duluan turun barulah betulkan pakaian yang agak berantakan. Rambut tak kalah berantakan kena tekanan helm. Kalau biasa Lucia akan keberatan dalam kondisi begini. Dia harus selalu tampil perfect biar dipuji oleh cowok terutama Kevin. Kini semua itu terasa tak berarti lagi. Lucia seratus persen akan kehilangan Kevin. Belum lagi masalah lain.


Ardi memarkir motor ke tempat aman barulah hampiri Lucia yang termangu di halaman kantor polisi. Sikap Lucia agak apatis mungkin masih syok setelah lalui hari berat.


Ardi berhenti di depan Lucia memberi seulas senyum adem untuk bikin gadis di depannya sedikit aman. Kalau boleh Ardi ingin bantu tanggung beban hati gadis ini. Sayang mereka baru jumpa dua kali itupun dalam suasana tak manis.


"Kita masuk dulu?" tawar Ardi ramah.


"Aku mau pulang saja pak Ardi. Terima kasih sudah temani aku."


Ardi ragu keselamatan Lucia mengendarai mobil. Jiwa anak gadis ini masih sakit perlu terapi ketenangan. Ardi mana bisa biarkan seorang wanita yang sedang galau melakukan kenderaan di jalan raya yang sarat dengan ratusan mobil lain. Kalaupun Lucia tidak terlibat dalam masalah Angela, Ardi tetap akan tunjukkan rasa simpati.


"Aku antar kamu sampai ke rumah." tegas Ardi disambut rasa heran Lucia. Apa ini juga sebagian tugas dari seorang polisi kawal keluarga terdakwa. Takut Lucia kabur tak mau jadi saksi tersangka atau memang ada rasa iba muncul di hati Ardi.


"Apa tak merepotkan pak Ardi?" tanya Lucia masih kurang yakin ada polisi demikian perhatian.


"Kau sudah merepotkan dari tadi. Tambah sedikit lagi mungkin takkan masalah. Ayok aku yang bawa mobil! Mana kunci mobil?" Ardi mengulurkan tangan meminta kunci mobil Lucia.


Lucia membuka tas mencari benda kecil warna hitam. Tangan mungil Lucia merogoh isi dalam tas tersebut sambil mengerut kening. Ke mana pula benda yang vital bagi sebuah mobil. Tanpa kunci mobil tak ubah seonggok besi tak berguna. Lucia menghela nafas bingung tak tahu harus omong apa. Sewaktu datang ke kantor ini jelas-jelas benda itu ada. Kini kok tak ada. Ke mana kaburnya benda itu? Kunci mobil saja ikut menyiksa batin Lucia.


"Kenapa?"


Lucia mendesah gusar. Dalam hati Lucia tak henti memarahi nasib sialnya. Semua kompak menyiksa Lucia seolah gadis ini telah lakukan dosa besar sehingga harus dapat hukuman bertubi-tubi.


"Kuncinya kabur.." ujar Lucia putus asa.


Ardi tertawa geli dengar jawaban Lucia bernada putus asa. Sejak kapan kunci punya kaki kabur jauh. Ardi ngerti itu ocehan orang patah semangat.


"Cari pelan-pelan! Kunci kamu mana berani kabur. Apa tak takut ditangkap polisi?" gurau Ardi biar Lucia tidak tegang.


Lucia tersenyum tipis kena candaan Ardi. Hati Lucia terhibur sedikit di bawa happy oleh Ardi. Ternyata tak selamanya seorang aparat itu harus sok jaim. Ada juga sisi lucunya.


"Aku pulang sama taksi saja. Besok aku datang bawa kunci serep. Titip mobilnya ya pak Ardi. Kalau kabur tolong penjarakan."


Ardi tergelak senang Lucia sudah bisa balas candaan dia. Ini akan membantu cewek ini mengembalikan mood yang terlanjur rusak.

__ADS_1


"Tenaga nona Lucia...aku akan borgol kakinya. Sekarang biar aku jadi supir ngojek. Tak usah online...on time saja. Yok...!"


Lucia menjadi jengah merepotkan Ardi berkali-kali. Ardi seorang petugas terikat kedinasan, mana boleh pergi sesuka hati. Lucia takut nanti Ardi kena teguran dari atasan. Ardi bisa kena sanksi tugas. Lucia tahu diri tak mau merepotkan Ardi lagi.


"Tak usah pak Ardi...anda kan masih berdinas. Antar aku ke sana kemari nanti mengganggu kerja pak Ardi."


Ardi tertawa kecil tak terpengaruh omongan Lucia. Alasan Lucia menolak dia cukup masuk akal. Tapi Ardi bukan orang cepat menyerah. Lucia cukup menarik hati membuat orang ingin ulur tangan melingkar tangan di bahu untuk lindungi gadis rapuh ini. Ardi mau mengenal Lucia lebih dekat cari satu jawaban siapa gadis ini.


"Kalau bilang ganggu kamu sudah ganggu dari pertama kita jumpa. Menambah sedikit gangguan kukira takkan membuat aku dipecat. Ayok kita berangkat sebelum aku benaran dipecat. Besok aku akan jemput kamu untuk ambil mobil kamu. Kalau kau sudah fit maka kita akan minta sedikit keterangan mengenai ibumu."


Lucia menghela nafas begitu mamanya disebut lagi. Ini mengingatkan Lucia bahwa derita batinnya belum usai walau Gina sudah siap dioperasikan. Masih ada Subrata di rumah sakit serta Angela di kantor polisi.


"Terimakasih pak Ardi! Aku ikuti saran anda saja. Mungkin nasibku lagi mujur dikawal polisi ke mana-mana."


"Anggap saja kamu wanita istimewa...tunggu sini saja biar kuambil motor aku!" Ardi kembali ke tempat di mana dia parkir motor tadi. Motor yang baru saja istirahat terpaksa harus banting setir di jalan raya lagi. Tetap bawa beban sama.


Jadilah Lucia penumpang motor Ardi. Keduanya melaju membelah ruwetnya jalan raya. Lucia memberi petunjuk kepada Ardi menuntunnya ke rumah. Lucia ingin istirahat sebentar sebelum ke rumah sakit melihat keadaan papanya. Baru kali ini Lucia rasakan yang namanya penderitaan hidup. Selama ini Lucia mana kenal yang namanya susah. Semua di jalankan atas bantuan materi. Serba mulus. Kini telah jumpa jalan berkerikil.


Sementara di rumah sakit kelompok Pak Julio masih setia menunggu Gina sadar dari pengaruh obat bius. Sewaktu Gina di bawa ke dalam ruang perawatan ICU semua melihat betapa pucat wajah yang biasa berbinar itu. Aura kehidupan jauh dari raut wajah cantik itu. Wajah itu pucat pasi tanpa cerminkan kehidupan masih telah menjauhi dia.


Kevin sangat sakit hati lihat kondisi Gina. Semua rencana yang telah tersusun pupus sudah. Acara makan siang bersama hilang bersamaan kekejaman Angela. Rasanya Kevin tak ingin maafkan Angela. Jika perlu Kevin ingin memohon pihak yang berwajib menambah hukuman hingga maksimal.


Pak Julio tampak syok melihat kondisi Gina jauh dari harapan. Di mata Pak Julio keponakannya itu tak ubah sesosok mayat cuma masih ada nafas. Salah sedikit nafas itu bisa saja berhenti. Oleh karena itu dokter melarang merupakan mereka merangsang emosi Gina. Lebih baik Gina istirahat sampai kondisi luka dalam tercover sempurna.


Gani terenyuh melihat Pak Julio sangat terpukul. Mungkin Pak Julio termakan janji pada Sarah untuk menjaga anak-anaknya. Ternyata janji itu tak terpenuhi.


"Pak...apa tidak lebih baik bapak pulang istirahat dulu. Kami akan jaga Gina." Gani dekati pak Julio bermaksud menenangkan laki itu.


Pak Julio menantang tatapan Gani tanpa bersuara. Gani hanya menerima gelengan kepala dari laki itu. Gelengan pak Julio sangat tegas tak mau dibantah. Gani mundur ke belakang ngerti pak Julio tak bisa diminta untuk tinggalkan rumah sakit.


Kevin beri kode pada Gani untuk hentikan niat minta pak Julio istirahat. Kevin tahu pak Julio sangat sayang pada keponakan yang satu ini. Bakat Gina telah menyentuh hati pak Julio. Jangankan pak Julio, Kevin sendiri harus akui kalau istrinya itu punya banyak nilai plus.


Artinya tak ada yang mau tinggalkan Gina di saat ini. Semua ingin berada di sisi Gina sesaat siuman nanti. Masalahnya ntah kapan Gina bakal sadar dari obat bius. Dokter hanya bisa prediksi kalau Gina akan sadar beberapa jam ke depan. Persis nya belum tahu.


Kata orang tua menunggu adalah pekerjaan paling membosankan dan tak ada manfaat. Keempat laki beda generasi itu sudah kebenaran ucapan orang zaman. Mereka bosan namun tak bisa ngelak dari situasi. Hanya bisa menunggu sampai Gina tersadar.


Kevin mondar-mandir sekali-kali mengintip dari balik pintu untuk lihat apa Gina sudah sadar. Kevin sudah seperti setrika bolak balik gosok pakaian. Mata Gani panas kena asap langkah Kevin. Mau marah tak tega. Hati Gani makin tak nyaman lihat Kevin bertingkah aneh menunggu Gina sadar. Gerakan Kevin bikin hati Gani makin susah. Tapi apa mau dikata.

__ADS_1


Di sela itu seorang perawat masuk ke dalam untuk cek kondisi Gina. Menurut prediksi dokter sudah waktunya pasien sadar maka perawat harus lihat apa pasien sadar sesuai prediksi dokter. Keempat laki itu ikutan berkerumun di depan pintu berharap ada kabar baik. Mereka cuma diijinkan intip dari balik pintu. Kondisi Gina tak bisa terima rangsangan memicu pendarahan.


__ADS_2