
Gina tak menyangka kalau baru ditinggal sebentar Subrata telah tepar. Gina tak punya kesempatan untuk berpikir siapa yang salah karena dia mementingkan keselamatan Subrata. Sekejamnya Gina tetap saja ada rasa kemanusiaan terhadap sesama manusia.
"Bawa ke rumah sakit. Biar aku yang bawa mobil. Cepat!" teriak Gina berlari duluan mencari mengambil kunci mobil yang tertinggal di ruang kerjanya.
Pak Julio dan Kevin serta pengacara segera memapah Subrata untuk dibawa turun ke bawah. Mereka tak punya waktu lagi untuk memanggil ambulans karena masih membutuhkan waktu cukup panjang. Saran Gina membawa Pak Subrata seketika adalah jalan yang terbaik.
Kebahagiaan yang baru dirasakan Gina berubah menjadi rasa galau kelas tinggi. Ada rasa bersalah menyelinap di hati gadis ini telah menyebabkan Subrata kehilangan kesadaran diri. Gina tidak bisa memaafkan diri sendiri bila terjadi sesuatu kepada Subrata karena tangan kejamnya. Tujuan Gina bukan membuat Subrata sakit melainkan merebut pamor laki itu.
Gina melarikan mobil sekencang mungkin sambil hidupkan dua lampu sen kiri kanan untuk meminta jalan pada pengguna jalan lain. Kevin dan Pak Julio menemani Subrata di jok belakang jaga laki itu agar tidak terjatuh. Suasana mencekam melingkupi dalam mobil Kevin. Tak ada yang ingin bersuara selain berdoa semoga Subrata tidak kenapa-napa.
Gina fokus mengendarai mobil sambil sekali-kali melirik ke belakang untuk melihat kondisi Subrata. Baru sekarang muncul rasa iba di hati kita melihat keadaan Subrata. Perasaan marah pada diri sendiri dan penyesalan membungkus seluruh hati Gina. Kini Gina makin mengerti mengapa orang di sekitarnya menyebut dirinya monster. Dia memang monster yang sangat mengerikan siap melahap orang yang merintangi jalannya.
"Gina...fokus saja! Jangan pikir apapun selain keselamatan." Kevin menangkap kegelisahan Gina yang bisa membawa akibat lebih fatal. Kevin takut kalau Gina kehilangan kendali membawa bencana lebih mengerikan.
"Iya bang! Kita sudah dekat dengan rumah sakit kok!" Gina membelokkan setir untuk mencapai rumah sakit terdekat.
Kevin tidak meragukan keahlian Gina dalam menyetir. Istrinya itu memang seorang sopir yang sangat ahli. Kevin sudah pernah rasakan gimana disupiri oleh Gina seperti seorang pembalap handal.
Gina menghentikan mobil persis di depan pintu masuk rumah sakit serta turun meminta bantuan para medis. Suara Gina keras tak bersahabat meminta perhatian para medis yang kadang suka telat.
"Tolong papa aku!" teriak Gina seperti kesurupan. Tanpa sadar Gina telah akui kalau Subrata itu papanya. Andaikata Subrata sadar dan mendengar kalimat Gina tentu saja hatinya akan bahagia. Sayang laki itu tak punya kesempatan dengar pengakuan Gina. Di saat Gina sudah akui dia namun dia telah tak sadar diri.
Beberapa perawat cepat tanggap segera bawa troli untuk jemput Subrata untuk ditangani oleh dokter. Gina memandangi wajah putih Subrata dengan hati sedih. Tak disangka sifat keras kepala dia telah bawa petaka untuk orang lain. Sumpah mati Gina tak menyangka kalau akibat semua ini jadi fatal.
Kevin bisa melihat rasa penyesalan terukir jelas di raut wajah cantik itu. Kevin tahu persis kalau Subrata kolaps bukan karena perusahaan diambil alih oleh Gina melainkan foto yang dikirimkan oleh Angela. Kevin tak tahu apa maksud Angela mengirim foto tak senonoh kepada suaminya. Perempuan itu mau membuktikan bahwa tanpa Subrata dia juga bisa mendapatkan lelaki yang dia inginkan.
Kevin membimbing Gina mencari tempat untuk menenangkan gadis muda ini. Gadis pasti syok mengira gara dia Subrata menjadi begini. Padahal jauh banget hubungan Gina terhadap pingsannya Subrata.
Kevin menempatkan Gina di salah satu bangku untuk pengunjung rumah sakit. Deretan bangku ini menjadi saksi betapa menyesalnya Gina telah mengantar Subrata berbaring di rumah sakit. Tujuan Gina hanyalah mengambil kembali nama baik Bu Sarah. Bukan ingin menyakiti secara fisik. Siapa sangka fisik Subrata demikian lemah tak bisa menerima kenyataan.
Kevin duduk di samping Gina sambil mengelus punggung tangan istrinya. Maksud hati Kevin hanya ingin menghibur.
"Sayang...ini hanya cobaan! Tak ada hubungan dengan kamu."
Mata bening Gina agak berkaca-kaca menahan air mata. Gina belum bersedia meneteskan air mata untuk orang yang sangat dia benci. Gina cuma bisa menahan perasaan menelan rasa penyesalan dalam lubuk hati.
"Pak Subrata terlalu lemah tak bisa terima kenyataan kalau dia sudah kalah. Cuma sedemikian nyalinya lawan anak kecil." gumam Gina sekedar menghibur diri menertawai kelemahan Subrata. Gina ingin menghindari kenyataan kalau Subrata pingsan karena dirinya.
"Kita berdoa saja untuk beliau. Kamu yang tenang ya!" Kevin masih mencoba menghibur Gina agar terima bahwa Subrata memang lemah.
"Coba Abang hubungi Angela dan Lucia. Mereka juga berhak tahu kondisi Subrata."
"Baiklah! Kamu duduk saja di sini. Abang akan cari air minum dulu. Bibirmu agak kering." Kevin mengelus pipi Gina lembut supaya Gina tidak makin dirundung penyesalan tebal.
__ADS_1
"Iya bang!"
Kevin meninggalkan Gina sendirian untuk jumpai pak Julio. Pak Julio harus tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi agar tak salahkan Gina sepenuhnya. Kevin yakin Subrata syok bukan karena peralihan perusahaan melainkan gambar yang dikirim dari nomor ponsel Angela.
Pak Julio berdiri tak jauh dari ruang tindakan untuk mendengar hasil dari diagnosa dokter. Pak Julio berdoa semoga Subrata bisa lolos dari incaran malaikat maut. Pak Julio menduga Subrata tak bisa menerima kekalahan dia lawan anaknya yang keras kepala. Pak Julio juga tak bisa salahkan Gina yang besar di bawah tekanan rasa dendam. Berkat kesabaran anak itu dia berhasil melumpuhkan orang yang dia benci.
"Pak Julio... sudah ada kabar?" Kevin tiba-tiba telah berada di belakang pak Julio.
Pak Julio melirik Kevin sekilas lalu menggeleng dengan lemas. Gelengan pak Julio menandakan belum ada kabar sama sekali tentang kesehatan pak Subrata.
"Masih di dalam."
"Gina sangat tertekan pikir semua ini karena dia padahal bukan itu penyebab pak Subrata jatuh pingsan." cerita Kevin membela Gina di depan pak Julio.
Pak Julio membesarkan mata tak percaya dengan keterangan Kevin. Jelas-jelas Subrata pingsan di kantor Gina setelah menandatangani peralihan perusahaan. Kalau bukan ini penyebabnya hal lain apa yang membuat lelaki itu jatuh pingsan.
"Kau tak perlu membela Gina walau dia itu istrimu. Harus kuakui kalau gerakan Gina ini terlalu mendadak dan sedikit memaksa. Tapi dia juga sedang melaksanakan amanah daripada opanya. Bapak jadi serba susah berada di antara konflik ini."
Tanpa berkata apa-apa Kevin mengeluarkan ponsel mirip Subrata yang masih berada di tangannya. Lelaki muda ini mengaktifkan ponsel dan memberi ponsel itu kepada pak Julio untuk melihat isi yang membuat Subrata pingsan.
Pak Julio tertegun melihat adegan tak senonoh di atas ranjang antara Angela dengan seorang lelaki. Perbuatan Angela sudah melampaui batas kesabaran Subrata. Pantas saja lelaki itu langsung jatuh pingsan setelah melihat ponselnya. Ternyata gara-gara istrinya berselingkuh membuat jantung lelaki itu tak tahan dan akhirnya tak sadarkan diri.
Pak Julio mengembalikan ponsel Subrata kepada Kevin tak tahu harus berkata apa. Pak Julio sangat menyesali kejadian ini dan agak lega karena secara tak langsung telah mengembalikan nama baik Gina.
"Kasihan Subrata mendapat musibah beruntun. Masih untung kali ini Gina tidak brutal mencabut seluruh hak Subrata. Nyatanya Tuhan memberi cobaan dari tempat lain. Bapak nasehati kamu jangan sekali-kali tergoda pada hawa nafsu duniawi! Awalnya memang manis dan pada akhirnya tetap saja pahit."
"Gina sudah betul meminta kamu kabari mereka. Telepon saja!"
"Aku cuma punya nomor kontak Lucia. Aku tak tahu nomor Angela. Mungkin lebih tepat hubungi Lucia."
"Yang mana saja boleh. Asal kita hubungi keluarganya. Kita harus bertanggungjawab walaupun ceritanya belum jelas. Kamu jangan katakan masalah Angela pada Gina. Anak itu pasti Kana makin menekan Angela bila tahu perbuatan perempuan itu."
Kevin cuma bisa patuh pada permintaan Pak Julio. Pak Julio takut Gina turun tangan kejam kepada Angela yang telah membuat Subrata semaput. Sifat Gina susah diprediksi. Mulut omong benci pada Subrata namun pancaran sinar mata tersirat rasa iba kepada lelaki itu. Mulut dan hati tidak sinkron.
Tak menunda waktu Kevin segera keluarkan ponsel menghubungi Lucia. Anak itu ntah di mana sekarang. Mungkin sudah di kantor sedang nikmati ruang kerja baru bersama Kevin. Sejuta angan indah tayang di benak Lucia tak sadar kalau lelaki ini sudah terikat benang merah dengan gadis lain.
"Halo Cia...sudah ke kantor?"
"Sudah...kamu jahat mas Kevin! Mengapa dekorasi Lucia kamu ganti lagi? Padahal itu sudah sesuai selera aku!"
"Cia..itu kantor bukan ruang mainan. Betapa malu kita bila ada tamu datang lihat dekorasi seperti taman bermain. Itu tak penting! Sekarang kamu ke rumah sakit! Papa kamu pingsan di kantor Gina."
"What? Apa yang dilakukan Gina pada papa?" seru Lucia berang pada Gina. Di pikiran Lucia terselip bagaimana Gina bully papanya. Anak itu memang tak ada benarnya.
__ADS_1
"Tak ada...kami jadi saksi kalau Gina tidak berbuat hal negatif. Malahan Gina ijinkan papa kamu tetap duduk di kursi CEO." Kevin tentu saja membela Ki nama yang memang tidak bersalah.
"Lalu mengapa papa bisa pingsan? Aku ke sana sekarang. Akan kuhajar anak itu. Dasar anak haram."
Kevin terkesima Lucia menyebut Gina anak haram. Apa bukan terbalik? Lucia terlahir tanpa ikatan sedangkan Gani dan Gina anak dari hasil perkawinan sah. Lucia lupa daratan saling emosi pada Gina. Kevin tak mau koreksi seketika untuk hindari suasana makin panas.
"Aku menunggumu. Datanglah ke rumah sakit....!" Kevin menyebut nama rumah sakit yang cukup terkenal. Lantas Kevin mematikan ponsel tak mau dengar hujatan Lucia terhadap Gina. Gina adalah istrinya wajar Kevin berdiri di pihak Gina. Bukan hanya sekedar berpihak pada istri namun berpihak pada kebenaran.
Pak Julio menghela nafas bisa membaca kalau Lucia menyalahkan Gina. Lucia tak salah bila punya pendapat Gina lah penyebab Subrata syok sehingga pingsan. Semua orang akan berpikiran sama kendatipun fakta bukan begitu.
"Lucia marah?" tanya Pak Julio tepat tebakan.
"Iya pak! Lucia anggap Gina penyebab semuanya."
"Tunggu dia datang kamu jelaskan dan perlihatkan semuanya. Sebelum kamu berikan ponsel pada Lucia lebih baik kamu arsip foto Angela agar kita juga punya bukti kalau suatu saat Angela cari masalah dengan Gina. Bapak takkan biarkan orang menyakiti Gani maupun Gina. Mereka berdua adalah tanggung jawab bapak."
Kevin merasa saran pak Julio bukan saran buruk. Mereka memang harus antisipasi segala kemungkinan karena Angela adalah wanita yang sangat licik. Pak Julio adalah orang yang sangat berpengalaman di dunia bisnis sehingga memahami karakter berbagai manusia di bumi ini. Tanpa ragu Kevin memindahkan semua file yang menyangkut foto Angela ke ponselnya untuk menjaga dari segala kemungkinan.
Beberapa waktu berselang dokter yang menangani Subrata keluar dari ruang tindakan menemui keluarga pasien. Sang dokter mencari orang yang bertanggung jawab terhadap keselamatan Subrata.
Kevin dan Pak Julio segera menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang tindakan untuk mencari tahu bagaimana kondisi Subrata.
"Gimana dok? Apa saudara kami itu selamat?" buru pak Julio mengharap kabar baik.
Sang dokter tersenyum ramah menandakan tak ada masalah yang merisaukan mereka. Senyum yang bertengger di bibir sang dokter melegakan kedua lelaki ini.
"Alhamdulillah bapak itu selamat tapi kami harap tidak terjadi lagi! Kondisi jantung bapak ini ada sedikit masalah. Sekarang beliau dalam kondisi stabil namun besok kita akan melakukan tes lebih lanjut untuk mengetahui di mana masalah yang menyebabkan dia pingsan." dokter itu menjelaskan dengan sabar kondisi Subrata.
"Apa beliau mengidap penyakit jantung koroner?"
"Belum pasti karena kita belum cek lebih lanjut. Sekarang bapak silahkan daftar nama bapak ini di bagian bagian pendaftaran agar mendapat tindakan lebih lanjut. Kami butuh data bapak ini untuk dievaluasi esok hari."
"Kami juga sedang menunggu kehadiran anaknya. Anaknya sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Anak? Bukankah tadi ada seorang anak gadis berteriak-teriak agar kami menyelamatkan papanya? Apa gadis tadi bukan anaknya?" tanya sang dokter keheranan mengapa masih harus menunggu anak. Padahal tadi jelas-jelas Gina berteriak agar sang dokter menyelamatkan papanya.
Pak Julio dan Kevin saling bertukar pandangan tak menyangka Gina mau mengakui Subrata sebagai papanya di saat panik. Ini merupakan satu kemajuan untuk hubungan anak dan bapak itu. Semoga ke depan segala dendam kesumat terhapus di benak Gina.
"Oh itu anaknya yang kecil... masih ada kakaknya sedang menuju kemari. Kakaknya itu yang bisa mengambil keputusan untuk kondisikan bapaknya." Kevin mencoba jawab seadanya untuk hapus keheranan sang dokter.
"Oh gitu...ok..kita tunggu! Kami akan memindahkan bapak itu ke ruang perawatan untuk dipantau lebih lanjut. Kami harus tempatkan beliau di kamar kelas berapa?"
"VIP saja pak! Anaknya mampu kok bayar biaya perawatan papanya." Kevin yang mengajukan keputusan walaupun belum disetujui oleh Gina ataupun Lucia. Kalaupun Gina tidak mau membayar biaya pengobatan papanya biarlah Kevin menanggung semuanya.
__ADS_1
Dokter itu tertawa kecil mendengar perkataan Kevin yang dianggap sebagai gurauan saja. Dari penampilan sang dokter bisa mengetahui kalau orang yang sedang berhadapan dengan dia bukanlah orang dari kalangan menengah.
"Baiklah. Kami akan urus bapak ini! Permisi..."