
Gina menatap kotak itu tak segera menyambutnya. Gina bukannya tak tahu kotak itu isinya ponsel pintar. Gina ragu untuk menerima hadiah Kevin takut dibilang tukang porot padahal tak terbersit di pikiran Kevin untuk ngatain Gina gadis matre. Kevin hanya tak suka lihat Gina ketinggalan zaman.
"Aku beri padamu untuk pekerjaan. Kadang kita di luar butuh kiriman file kerja. Apa harus tunggu kamu pulang lihat laptop?" Tangan Kevin masih tergantung di udara memegangi benda mahal itu.
Alasan Kevin sangat masuk akal. Namun apa Gina segampang itu terima hadiah dari seorang lelaki?
"Potong gaji aku pak! Tak baik sembarangan ngasih hadiah pada cewek. Nanti salah diartikan."
Kevin menjadi tak sabar pada sikap kuper Gina. Kevin segera duduk di samping Gina selalu menarik tangan gadis itu untuk menerima kotak ponsel darinya. Kini kotak itu telah berada dalam genggaman tangan. Mau tak mau Gina harus menerima benda ini untuk selanjutnya menjadi teman dekat.
"Ok...aku akan potong gajimu. Sekarang kau perhatikan rancangan Lucia dan beri usul apa yang harus diperbaiki." Kevin kembali mengangsurkan selembar kertas kepada Gina.
Sebenarnya tidak perlu melihat Gina sudah mengetahui isi dari gambar kertas itu. Itu murni rancangannya maka Gina sangat memahami setiap sudut rancangan tersebut. Namun Gina harus menerimanya untuk bersandiwara tidak tahu menahu masalah rancangan Lucia. Gina harus menjadi aktris yang baik bersandiwara tak mengetahui kalau rancangan Lucia adalah gambarnya.
Gina membuka lembaran kertas itu dan memperhatikan dengan teliti seolah-olah baru pertama kali melihat gambar ini. Padahal dalam hati Gina ingin tertawa terbahak-bahak Lucia dan Kevin kena perangkap dia.
Gina perhatikan dalam-dalam lalu mengerutkan kening tanpa sebab. Kevin melihat reaksi Gina dan menunggu jawaban gadis pintar ini.
"Maaf pak!! Kayaknya aku pernah lihat gambar ini di medsos seorang perancang. Tunggu ya aku cari dulu. Pinjam dulu hp bapak." Ashura mulai sandiwara lanjutan bongkar kedok penipu macam Lucia. Riwayat Lucia akan segera tamat sebagai perancang di kantor Kevin.
Gina utak atik ponsel Kevin lalu perlihatkan postingan seseorang beberapa hari lalu sebelum Lucia berikan gambar pada Kevin. Gina sodorkan layar ponsel berisi postingan seseorang berikut hak paten gambarnya.
Wajah Kevin berubah warna karena gambar Lucia persis dengan postingan di layar ponselnya. Tak ada yang beda baik dari segi lekuk dan warna batu. Tepat seperti dugaan Gina orang itu juga gunakan batu warna hijau.
"Gila..Lucia jiplak gambar orang!" desis Kevin belum percaya Lucia serendah itu contekan gambar orang. Gimana kalau mereka sempat produksi lalu lempar ke pasaran. Mereka bisa dituntut karena langgar hak cipta.
"Aku sudah lihat gambar ini maka tahu sekarang lagi trend warna hijau. Aku sendiri lupa kalau aku sudah lihat postingan orang ini. Tampaknya orang ini bukan dari negara kita." Gina meletakkan gambar Lucia di atas meja hilang minat bahas rancangan hasil jiplakan.
"Untung kamu awas. Kalau sempat kita produksi tamatlah riwayat kita. Lucia...Lucia...berani sekali ambil gambar orang bahayakan perusahaan kita!" Kevin masih syok Lucia mampu lakukan hal menjijikkan ini mengantar perusahaan ke jurang kehancuran.
Dalam hati Gina bersorak gembira telah jatuhkan pamor Lucia di mata Kevin. Satu point lagi untuk Gina. Perlahan dan pasti Mahabarata akan punah. Namun di depan masih banyak batu sandung untuk Subrata. Gina sudah pasti akan peras Subrata bayar hutang lalu dari pak Julio lagi. Subrata pasti akan mati kutu.
Mengingat semua itu Gina tertawa dalam hati. Tapi gadis ini tetap bersikap biasa tak tampakkan ini semua ulah dia. Gina harus bermain cantik biar Kevin tak anggap dia wanita keji. Gina bisa lebih keji lagi dari ini untuk tuntaskan dendam dalam dada.
"Gin...tanpa kamu hidupku pasti berantakan. Maukah kamu menemaniku sampai ajal menjemput ku?" Kevin berkata serius sambil menatap dalam-dalam bola mata Gina. Gina melihat ketulusan tersirat di mata itu namun Gina tak bisa beri jawaban sekarang.
Gina sudah berjanji akan menuntaskan dendamnya kepada Subrata barulah akan memikirkan masa depan. Gina harus akui kalau Kevin itu sangat baik kepadanya dan Gani. Di saat semua orang memandang rendah kepada Gani hanya Kevin beri dia peluang untuk berkarya. Gina tidak akan melupakan jasa baik Kevin kepada keluarganya.
"Aku akan tetap berada di samping bapak selama bapak masih butuh aku. Aku tidak akan kemana-mana sampai bapak mengusir aku dari perusahaan." Gina beri jawaban ambigu namun itu sangat berarti bagi Kevin. Kalau Gina sudah berjanji tidak akan kemana-mana berarti dia akan berada di sampingnya selamanya. Bagi Kevin itu merupakan satu jawaban melegakan.
__ADS_1
"Terimakasih Gin! Oya mana ayah dan ibu?" Kevin sudah menganggap om Sabri dan Bu Sarah sebagai orang tua maka tak segan sebut mereka sebagai ayah dan ibu. Gina juga tak keberatan Kevin memanggil orang tuanya dengan sebutan ayah dan ibu. Berbagi itu indah.
"Ayah dan ibu nginap di hotel bersama opa dan Oma. Tiga hari lagi mereka akan bertolak ke Jerman. Visa mereka hampir kelar. Kita pasti akan rindu pada mereka." kata Gina mengenang betapa sulit bertemu ibu bila kangen.
"Kita bisa ke sana. Aku akan temani kamu."
"Di saat gini makan saja tak ada waktu. Aku kerja hampir dua puluh empat jam. Aku begadang untuk pelajari struktur perusahaan opa. Menjadi seorang komisaris tapi tak tahu apa-apa bukankah mubazir? Manalagi harus ke kantor bapak, ditambah kasus perusahaan pak Julio. Mana ada waktu untukku pribadi."
Kevin menatap kasihan ke arah Gina. Gina memang sudah bekerja keras untuk menyelesaikan semua kekacauan di perusahaan pompanya serta di perusahaan Pak Julio belum lagi melindungi Kevin dari serangan orang tak bertanggung jawab. Di mata Kevin gadis ini merupakan wonder woman di alam nyata. Gina borong semuanya demi orang lain.
"Untuk sementara kau boleh fokus bekerja di perusahaan kamu. Aku akan teleponi kamu bila butuh. Maka itu kamu perlu ponsel pintar agar aku bisa video call dengan kamu setiap saat. Kadang aku kangen lihat wajah serem kamu."
Gina mendecak pura-pura tak senang tapi dalam hati senang bukan main digombalin oleh Kevin. Ini tanda Gina itu masih gadis normal punya perasaan namun dia telan karena terbalut dendam.
"Gombalan kacangan. Kalau ayah dan ibu berangkat bapak tak boleh tinggal di sini lagi. Ini untuk hindari gunjingan tetangga. Kita di sini anak muda semua pasti akan dikelilingi setan."
Kevin kaget Gina mengusirnya dari rumah bila kedua orang tuanya telah terangkat. Ini permintaan sangat logis bila tak mau dicap gadis murahan menyimpan cowok dalam rumah kendatipun ada Gani. Orang tak pandang itu sebab di rumah hanya tinggal mereka yang muda-muda.
"Aku protes...aku tak mau pindah walau diusir pakai sapu." seru Kevin keras terdengar sampai ke dalam kamar Gani.
Di dalam kamar Gani terkejut mendengar suara Kevin sangat deras. Kedua orang itu sedang berbuat apa sampai keluarkan suara gledek. Ini pasti ulah Gina pancing emosi Kevin. Gani mengenal Kevin bukan bangsa pemarah. Kalau sudah teriak berarti wilayahnya kena gangguan dahsyat.
Gani melihat Kevin berdiri buang badan menyamping dari Gina yang duduk di sofa. Jelas sekali mereka sedang bermusuhan persis anak kecil rebutan mainan. Umur sudah setinggi leher namun akal masih serendah tumit kaki. Gani merasa sangat tua melihat kedua orang ini saling melontarkan tatapan tajam.
"Hei ada apa? Malam kok berantem. Biasa suami isteri damai di malam hari. Siang baru berantem." ujar Gani sok bijak.
Kevin mau ketawa dengar Gani menganggap mereka pasangan suami-isteri sedang adu mulut. Untuk jaga wibawa Kevin menelan kembali tawa biar Gina tak semena-mena usir dia.
"Itu lho Gan! Adikmu usir aku bila ayah dan ibu pergi. Ini kan sudah keterlaluan." Kevin menunjuk Gina dengan nafas sesak.
"Ngak boleh gitu Gin! Kak Kevin kan sudah jadi keluarga kita. Mana boleh gitu?" Gani bela Kevin tanpa ngerti titik permasalahan.
"Woi bebek...kalau ayah dan ibu pergi tinggal kita bertiga. Apa kata orang bila pak Kevin tetap di sini. Mau dengar orang bilang kami kumpul kebo? Sembarangan..."
Giliran Gani tersentak mengakui kebenaran omongan Gina. Di luar sana orang tidak akan berpikir jauh selain memikirkan hal yang negatif. Mereka pasti akan menjadi bahan guntingan orang bila tetap mempertahankan Kevin di rumah tanpa ikatan apapun. Imbasnya Gina akan mendapat julukan sangat jelek.
"Gina benar lho!" Gani berbalik arah bela Gina. Gina itu seratus persen benar.
"Aku tak mau tahu.. pokoknya aku tak mau pindah. Digusur pakai buldozer juga ngak akan pindah." Kevin tetap kekeh tak mau disuruh pergi. Selama ini Kevin tak tergantung pada obatan dan merasa hidup lebih plong tanpa beban. Memintanya pergi sama saja ambil nyawa dia.
__ADS_1
Gani melongo dengan sikap tak tahu malu Kevin. Apa ini pemilik perusahaan besar tempat dia bekerja? Kok kayak anak kecil tak mau tahu susah orang.
"Pak Kevin...bapak harus jaga nama baik aku. Aku ini belum nikah. Kelak siapa berani nikahi aku bila tahu pernah ada laki nginap lama di sini?" ujar Gina menurunkan nada suara takut terdengar sampai keluar. Malam makin tua membuat suasana di luar juga sepi. Sedikit saja suara bising terdengar sampai keluar.
Gina belum gila cari perhatian tetangga. Selama ini keluarga mereka terkenal sopan dan baik tanpa ada konflik. Adapun hanya ada candaan yang sudah dihafal tetangga yakni Gina dan Gani berseteru untuk hal sepele.
Gani putar otak mau bantu Kevin namun Gina juga tak salah bila punya pandangan sendiri. Wajar dia lindungi nama baik sendiri.
"Aku punya ide. Kenapa kalian tak menikah saja? Cepat atau lambat kalian akan menikah. Aku wali kamu dek!" Gani menepuk dada sombong sok tua.
Kevin kontan tepuk tangan setuju dengan ide Gani jodohkan dia dengan Gina. Memang itu yang dia harapkan. Datang Gani pemulus rencananya. Gani itu dewa penolong diturunkan dari langit untuk bantu Kevin merebut hati Gina.
"Aku sangat setuju. Kita menikah sebelum orang tuamu berangkat ke Jerman. Besok aku akan persiapkan segalanya. Ok segitu saja. Selamat malam." Kevin cepat-cepat kabur ke dalam kamar sebelum Gina buka mulut menolak. Kevin tak mau dengar penolakan dari mulut Gina lagi. Tiba saatnya Gina tak mungkin berkutik.
Gina buka mulut seperti orang hilang akal sehat. Tampang Gina persis orang idiot kena hantam bom atom. Tak ada ekspresi selain bertingkah seperti orang tolol. Gani tertawa cekikikan tak sangka ada waktunya juga Gina kena syok mental. Biasa dia yang bikin mental orang habis kabur. Kali ini Kevin mop dia dengan cara elegan.
"Ayok tidur! Sudah jam sepuluh nona monster!" Gani mencolek pipi Gina. Gadis ini masih belum percaya Kevin bisa juga bergaya seperti orang bar-bar tak terima penolakan.
"Gan...tadi pak Kevin omong apa?" tanya Gina takut kupingnya salah terima informasi.
"Besok kamu jadi nyonya Kevin. Ok?"
"Gila..."
Gani mengedik bahu tak mau tahu rasa kesal Gina. Gani juga berharap Gina mendapat laki baik. Menurut Gani kalau Kevin itu penuhi syarat menjadi adik ipar. Ganteng, kaya, dan tentu saja baik. Jauh dari skandal negatif.
"Nikah dulu baru ke rumah sakit jiwa jika terbukti gila. Biasa sudah nikah jadi waras. Aku mau bobok cantik untuk menjaga kelembaban kulitku. Menurut dokter kecantikan manusia sehat harus harus tidur penuh delapan jam. Kulitnya akan kenyal tak gampang muncul keriput." ceramah Gani pamer kulit wajahnya yang bersih terawat. Dalam hal ini Gina kalah total. Kulit wajah Gina termasuk kusam tanpa perawatan intensif.
Ceramah Gani bukannya membuat Gina tambah baik malah makin kesal. Di rumah ini Gani dan Kevin saling dukung buat dia terpencil sendiri.
"Awas kamu bebek!" Gina menggeram marah.
Gani segera ambil langkah seribu sebelum adik kejam itu hadiahkan tinju ke wajahnya yang ganteng kinclong. Gani belum rela wajahnya yang ganteng jadi memar gara-gara kekejaman Gina.
Tinggal lah Gina sendirian merenungi lamaran koboi Kevin. Laki itu sungguh konyol bila mau nikahi Gina hanya karena butuh lindungan wanita muda ini. Gina juga tak bisa menampik kalau kesehatan Kevin jauh lebih baik dari dulu. Wajahnya tidak pucat lagi dan tak perlu konsumsi obat tidur. Perlahan Kevin akan temukan kesembuhan total.
Andai Gina tinggalkan dia saat ini takut traumanya kumat lagi. Kevin akan kembali seperti dulu penuh rasa curiga dan menutup diri lebih dalam di sangkar. Gina jadi serba salah hadapi kemelut ini. Kalau Gina larang ayah ibunya berangkat tentu saja kecewakan opa dan Oma yang sudah tak sabar ingin punya cucu. Mereka mau rawat Bu Sarah bersama di tempat lebih nyaman. Ini demi anak dalam kandungan Bu Sarah.
"Sialan.." desis Gina sambil mengacak rambut sendiri tak tahu harus bagaimana.
__ADS_1