JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Intai Penjahat


__ADS_3

Wajar ibu muda itu curiga pada pendatang baru yang samasekali asing di lingkungan komplek perumahan ini. Ibu itu tak segera buka pintu pagar malah sengaja jaga jarak tak dekat dengan ketiga polisi itu. Berjaga kan lebih baik ketimbang tertimpa musibah.


"Selamat siang Bu...maaf kami ganggu sebentar!" Ardi berkata ramah supaya rasa waspada ibu muda itu agak kendor.


"Siang..ada apa ini?" sahutnya ketus.


Ardi tidak terpengaruh oleh sikap judes ibu muda itu. Dia tak boleh bersikap kasar agar ibu itu bersedia bantu mereka. Kalaupun dia menolak itu hak dia.


"Kami dari pihak kepolisian sedang usut sedikit kasus. Apa CCTV rumah ibu bisa jangkau pagar depan tetangga ibu?" Ardi menunjuk ke arah rumah papa Kevin diikuti tatapan mata ibu muda itu.


"Oh...mau usut hilangnya pak Ibrahim? Itu ulah istrinya dan anak tirinya. Kami tahu persis akal bulus si Mince nenek lampir itu. Sok kaya selalu usilin keluarga orang. Kami memang tak lihat langsung mereka usir pak Ibrahim tapi ada tetangga lihat mereka seret pak Ibrahim keluar rumah. Untung ada tukang jual roti antar pak Ibrahim ke satu tempat. Ke mana perginya kami tak tahu. Sampai sekarang pak Ibrahim tak tampak." ibu muda itu nyerocos bak petasan kena api. Meledak berapi-api buka keburukan tetangganya. Sudah pasti ibu muda ini anggota ibu-ibu menebar gosip. Dia tak lihat kejadian namun bisa bercerita dengan lancar seakan dia berada di tempat sewaktu kejadian berlangsung.


"Bisakah kami lihat rekaman CCTV ibu selama sebulan terakhir ini? Oya..ini kartu anggota kami biar ibu percaya kami dari pihak berwajib." Ardi merogoh kantong mengeluarkan kartu anggota kepolisian untuk yakinkan ibu muda itu.


Ibu muda itu menerima kartu Ardi tanpa buka pintu. Ibu itu menerima lewat jeruji pagar. Matanya yang tajam memperhatikan wajah dalam kartu lantas melihat ke wajah Ardi untuk cocokkan gambar dengan manusia di depan matanya. Bolak-balik ibu itu perhatikan barulah angguk setelah yakin orangnya sama.


"Apa kedua bapak ini juga polisi? Mana kartunya?" Ibu muda itu belum puas hanya melihat kartu pengenal Ardi. Rasa curiga masih terselip di hati ibu muda itu. Sekarang banyak peniupan atas namakan berbagai event maka berhati-hati adalah cara paling efektif hindari kena penipuan.


Ardi dkk tak punya pilihan lain selain keluarkan apa yang diminta oleh wanita bertubuh subur itu. Sebagai seorang petugas yang laksanakan jalan hukum mereka tak boleh gunakan kekerasan intimidasi rakyat untuk kepentingan sendiri kendati itu untuk keadilan.


Ibu muda yang berbadan subur itu mengangguk-angguk mengakui kalau yang datang itu adalah aparat kepolisian. Ibu itu tak segan bukan pintu pagar setelah yakin pada Ardi dkk. Kelihatan ibu ini tak sabar mau melaporkan apa yang dia ketahui tentang keluarga Mince. Gestur tubuhnya sudah tak sabar ingin menumpahkan unek-unek yang terkumpul di dalam hati selama ini.


Ardi merasa mereka telah datang pada tempat yang tepat untuk mencari informasi. Ardi dkk tidak segan masuk ke dalam teras rumah ibu muda itu sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." sahut ibu muda itu makin semangat. "Ayo silahkan masuk ke dalam!"


Undangan yang dinantikan oleh Ardi untuk mencari informasi lebih lanjut. Maka tanpa ragu mereka bertiga masuk ke dalam rumah harap ibu ini beri lebih banyak informasi mengenai keluarga Mince. Makin banyak dengar makin bagus. Mereka akan evaluasi semua laporan untuk dicocokkan dengan keterangan papa Kevin. Kalau klop makin mudah jerat Mince bergabung dengan Angela di tahanan.


Ibu muda itu persilahkan Ardi dkk duduk di ruang tamu yang cukup wah. Ntah apa kerja ibu ini sampai mempunyai perabotan cukup silau di mata. Kelihatan ibu bukan orang kaya abal-abal karena rumah cukup mewah.


"Apa yang bisa kubantu?" ibu muda itu tak malu duduk bersama para aparat walaupun tidak satu kursi. Pakaiannya kurang menunjang terima tamu namun dia tak terganggu. Sikapnya rilex seolah apa yang dia kenakan itu tak ganggu orang.


"Begini Bu..." Ardi hendak mulai utarakan maksud kedatangan mereka tapi ditahan ibu muda itu pakai tangan terangkat di udara.


"Nona...nona Jamilah!!!" rapat ibu muda itu keberatan dipanggil ibu.


"Oh maaf nona Jamilah...kami datang atas laporan seseorang kalau telah terjadi penganiayaan terhadap orang tua dan perampasan harta. Kami perlu bukti kalau orang dalam rumah itu lakukan tindakan melawan hukum. Kami mohon kerjasama sama nona Jamilah buka akses CCTV agar kami punya bukti jerat mereka."

__ADS_1


Nona Jamilah kontan turun naik kepala setuju lakukan apa yang diminta oleh Ardi. Jamilah sudah tak sabar mau lihat Mince yang sombongnya setinggi menara tower ponsel seluler masuk penjara.


"Bapak-bapak tunggu di sini. Aku akan kopi semua rekam lan selama sebulan ke USB biar bapak pelajari." Nona Jamilah dengan pede tinggalkan tamu tak takut mereka ada garong yang beraksi begitu tuan rumah lengah.


Teman Ardi bersiul puji montoknya tubuh nona Jamilah. Jamilah tetap pede walau setumpuk lemak istirahat di badannya. Tidak krisis rasa percaya diri walau tubuhnya tidak seindah peragawati.


Ardi bikin tanda diam gunakan jari tempel di bibir. Ardi takut Jamilah tersinggung sehingga merusak rencana mereka meraup keterangan dari ibu muda itu.


Tak lama muncul seorang wanita tak kalah montok membawa nampan berisi cairan warna orange. Kerongkongan kontan meronta minta segera disiram oleh minuman segar suguhan tuan rumah.


Wanita itu dengan telaten meletakkan minuman di atas meja sesuai dengan tempat para tamu. Sekilas tercium bau harum minyak wangi murahan berasal dari tubuh wanita itu. Baunya pasaran tapi cukup mengusik hidung aparat polisi itu. Tak ada yang berani komentar takut ada yang tersinggung.


"Silahkan diminum pak!" ujar wanita itu ganjen. Dia masih berdiri di antara ruang kursi tamu tak ada tanda akan tinggalkan tamu. Mungkin dia mau lihat tamunya minum suguhan dia atau tidak. Todak berarti tak hargai jerih payah tuan rumah.


"Jangan dilihat saja pak! Minum...tak ada racun kok!"


Ardi meringis kena sindiran halus. Bukannya mereka tak ingin minum melainkan ingin menunggu kehadiran nona Jamilah. Yang menjadi tuan rumah adalah nona Jamilah jadi mereka harus menunggu kehadiran nona itu barulah berani menegak minuman pas izin tuan rumah.


"Iya nona manis! Terimakasih sudah beri perhatian. Kami akan tunggu nona Jamilah."


Wanita itu mencebik bibir lantas balik badan melangkah pergi dengan ketus. Kelihatannya wanita itu marah permintaan tidak digubris oleh aparat polisi. Maunya mereka minum biar komentar hasil adukan jus jeruk segar. Kan dapat pujian mengusir kegersangan di rumah ini.


Senyum manis bertengger di bibir wanita itu melegakan Ardi. Signal semua berjalan lancar sudah terpancar dari wajah wanita itu. Bundar makin bulat.


Ardi berdiri menyambut nona Jamilah mau beri kesan mereka lelaki gentle tahu hargai niat baik orang.


"Ini pak... semuanya sudah lengkap." nona Jamilah menyodorkan USB yang kecil kepada Ardi. Gerakan nona Jamilah gemulai memancing perhatian Ardi.


"Kami terima ya! Apa perlu jami ganti USB milik nona Jamilah?"


"Tidak perlu...aku senang kok bisa bantu perangi orang jahat. Kalau masih butuh keterangan aku siap jadi saksi semua kejadian di rumah seberang."


"Nona sangat baik telah meringankan tugas kami. Kami pasti balik setelah pelajari rekaman cctv ini. Oya...apa tetangga nona ada di rumah? Kami ketok pintu tapi tak ada yang buka?"


Nona Jamilah berpikir sebentar mencoba ingat apa ada melihat tetangga depan keluar dari tadi pagi.


"Kayaknya tidak keluar. Sejak kemarin mobilnya memang sudah tak ada. Aku juga tak tahu ke mana larinya mobil itu."


"Oh gitu ya. Kami akan tunggu sebentar lagi. Kalau masih tak keluar kami akan pergi."

__ADS_1


"Bapak tinggalkan nomor kontak. Kalau nampak mereka aku akan hubungi bapak. Gimana?" Nona Jamilah menawarkan solusi tak kalah jitu. Dia bisa bantu Ardi sekaligus dapat nomor kontak pak polisi ganteng. Sekali tepuk dua nyawa. Duanya menguntungkan nona Jamilah.


"Boleh nona...terima kasih bantuan nona." Ardi terpaksa keluarkan ponsel untuk melihat nomor kontak sendiri. Ardi sendiri tak hafal nomor seluler dia. Sekarang mana main ingat nomor kontak. Semua tersimpan dalam benda kecil yang sakti. Kecil tapi sangat berguna buat semua orang.


Nona Jamilah tersenyum senang bisa dapat nomor laki keren bersuara seksi. Suara yang keluar dari mulut Ardi senantiasa bius setiap wanita. Jangan salahkan cewek bila tergila pada Ardi. Tembakan panah asmara Ardi melesat ke mana-mana hujan hati para cewek.


Nona Jamilah melirik minuman suguhkan orang kerjanya belum tersentuh samasekali. Mengapa para cowok ganteng tak minum.


"Kok tak diminum?"


"Kami tak enak minum tanpa ijin nona selaku tuan rumah." jawab teman Ardi mulai sadar kalau nona ini mesti diangkat. Diangkat sampai ke langit tingkat tujuh biar wanita subur melayang di angkasa nikmati rayuan gombal cowok.


"Oh gitu...silahkan!" Nona Jamilah langsung persilahkan dengan keramahan luar biasa. Wanita bertubuh subur ini tentu saja mengharap ketiga polisi ini mempunyai kesan baik terhadap dirinya. Siapa tahu bernasib baik bisa memikat salah satu diantara ketiga polisi yang ganteng-ganteng itu.


Kali ini Ardi dan kawan-kawannya tidak ragu lagi menenggak minuman yang berada di atas meja ruang tamu nona Jamilah. Kalau saja mereka masih menolak berarti tidak menghargai niat baik mana Jamilah yang telah bersedia membantu membongkar kasus penganiayaan papanya Kevin.


Ketiga cangkir yang tadinya berisi cairan warna orange kini telah kosong. Isinya sukses pindah ke perut ketiga lelaki macho ini. Pemilik rumah yakni nona Jamilah tersenyum puas melihat ketiga polisi itu tidak ragu minum suguhan dari rumahnya. Kalau saja nona Jamilah mempunyai ilmu pelet maka dia akan jampi-jampi minuman itu agar ketiganya terkenang kepadanya. Sayang nona Jamilah tak ngerti soal perdukunan.


Ardi dkk tak segera angkat kaki dari rumah Jamilah. Mereka masih harus menunggu kehadiran Mince dan Luna. Berada di rumah nona Jamilah merupakan tempat paling tepat pantau semua kegiatan yang ada di rumah depan. Rumah papa Kevin dan rumah nona Jamilah saling berhadapan merupakan tempat strategis memantau.


"Maaf nona...apa kami boleh menunggu penghuni rumah depan di sini?" tanya Ardi mengharap jawaban nona Jamilah memuaskan. Pucuk di cinta ulam pun tiba.


Jamilah memang mengharap ketiganya tak segera berlalu dari rumahnya. Rumah semewah ini selalu sepi tanpa adanya kehadiran orang lain. Kini muncul tamu keren tentu saja bisa jadi pelipur kesepian walau sekedar ngobrol.


"Tentu saja pak...mungkin aku berguna beri informasi yang bapak inginkan. Silahkan tanya apa saja! Aku akan jawab bila tahu."


Ardi dan ketiganya temannya tak sangka dapat kemudahan mendalami kasus papa Kevin. Sudah dapat tempat mengintai bonus informasi lagi. Rezeki nomplok berkat kesabaran lakukan tugas sepenuh hati.


Satu jam menunggu tak bawa hasil membuat Ardi ambil inisiatif angkat kaki dari rumah nona Jamilah. Mereka masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan. Tak mungkin juga membuang waktu hanya menunggu orang yang tidak tahu kemana rimbanya. Akhirnya Ardi dkk pamitan kepada nona Jamilah dengan harapan nona Jamilah bersedia memberi kabar bila penghuni rumah depan telah kembali. Mereka harus kembali ke kantor untuk mempelajari isi CCTV nona Jamilah. Siapa tahu mereka mendapat petunjuk mengenai kejadian pada malam itu. Kalau duduk perkara sudah lengkap maka mereka tidak akan ragu-ragu untuk langsung menangkap Mince dan Luna.


Sebenarnya nona Jamilah keberatan ketiga lelaki itu meninggalkan rumahnya. Cuma sayang dia tidak memiliki alasan untuk menahan ketiga aparat itu melanjutkan tugas mereka di kantor. Nona Jamilah hanya berharap segera bertemu kembali dengan ketiga polisi yang keren dan macho itu.


Ardi dkk bergerak meninggalkan komplek perumahan Papa Kevin kembali ke markas. mereka masih mempunyai kesempatan untuk membuka hasil rekaman CCTV yang akan menjadi penentu apa yang harus mereka lakukan kepada Mince dan Luna.


Malam hari rumah Kevin kembali semarak karena penghuni rumah telah lengkap. Ada pasangan suami-isteri muda dan kedua pengawal merangkap pegawai kantor. Jay secara resmi jadi penghuni tetap rumah Kevin karena sudah punya kamar sendiri di rumah Kevin. Sekarang Jay sudah cerai dari Gani alias pisah ranjang. Jay tidak tidur dengan Gani lagi karena Kevin telah bersih kan satu kamar untuk Jay. Punya kamar sendiri terasa lebih nyaman karena punya privasi sendiri. Mau teleponan sama gebetan takkan malu kucing lagi.


Jay tak henti bersyukur jumpa majikan sebaik Kevin dan Gina. Kalau Gina mungkin Jay tak ragu lagi kebaikannya. Keras di luar lumer di dalam.


Malam ini konco-konconya Gina datang berkumpul untuk memastikan bos mereka telah pulih seratus persen. Kalau Gina sudah mendelik dan keluarkan suara jangan banyak alasan itu tanda dia sudah sehat seratus persen. Konco-konco Gina sudah hafal bagaimana kita teriak mereka bila sedang kesal. punya emosi setinggi leher itulah Gina bos preman mereka.

__ADS_1


__ADS_2