
Kini tinggal Gani sendirian menjaga Gina di luar ruang ICU. Gani ingin sekali masuk ke dalam untuk melihat keadaan adiknya. namun di dalam masih ada perawan dan dokter sedang menangani Gina maka Gani harus mengurungkan niatnya untuk melihat keadaan Gina. Paling dia bisa mengintip dari luar melalui kaca kecil yang di pintu.
Dari luar tidak bisa melihat dengan jelas karena tidak menjangkau tempat tidur Gina namun Gani bisa melihat kalau dokter dan perawat masih berdiri di dekat adiknya itu. Mereka pasti sedang mencari apa yang menyebabkan mulut kita mengeluarkan darah. Semoga saja bukan hal buruk. Gani akan merasa kesepian bila terjadi sesuatu pada Gina. Walaupun mereka saling bertengkar namun kasih sayang di antara mereka bersatu dengan eratnya.
Gani berjalan menjauhi pintu kamar ruang ICU mencari tempat duduk untuk istirahatkan badannya yang cukup lelah. Gani lelah badan dan juga lelah pikiran memikirkan nasib Gina. Kini tugas Gani adalah berdoa semoga Gina diberi kesempatan untuk menjabat monster yang lebih mengerikan.
Gina pasti tak akan membiarkan Angela hidup senang bila sembuh total nanti. Entah apa yang akan dilakukan oleh wanita itu kepada Angela yang culas itu. Gani tidak bisa memikirkan akibat dari perbuatan Angela itu. Gina pasti akan makin mendendam kepada wanita yang telah porak-porandakan keluarganya sekarang ingin membinasakan Gina.
Benda pipih yang berada di dalam saku celana Gani menjerit-jerit perhatian sang pemilik. Gani bersyukur ponselnya berdering masih ada yang menghubunginya di saat dia sedang galau. Dengan tak sabar Gani mengeluarkan benda itu dan menatap layarnya untuk melihat siapa yang sedang menelepon.
Gani mendesah setelah melihat layar telepon tertera nomor yang untuk sementara tidak ingin dia hubungi. Anak lajang ini menyugar rambut berkali-kali sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan dengan nomor ini. Pura-pura tidak mendengar dan abaikan panggilan ini atau mengangkat dan bercerita bohong. Gani sangat dilema menerima panggilan dari seberang lautan itu.
Andaikata Gani tidak menjawab akibatnya lebuh fatal. Mami tercinta akan mengira telah terjadi sesuatu pada dirinya.
Gani bulatkan hari klik tanda hijau untuk sambungkan hubungan seluler.
"Assalamualaikum mami..." Gani berusaha ceriakan suara agar bu Sarah tidak curiga di tanah air baru saja terjadi pembunuhan.
"Waalaikumsalam... kok lama angkat telepon ibu?"
"Yaela nih mami... Gani ada di kamar mandi. Hp di atas meja kerja. Ngapain lagi bawa HP sampai ke kamar mandi. Jatuh ke dalam lubang WC sudah harus rogoh kocek beli yang baru lagi. Mana lagi belum gajian. Gimana adikku? Ganteng kayak abangnya ngak?"
"Huuusss... belum juga lahiran. Yang penting mereka sehat saja. Ibu rindu pada kalian. Rasanya ingin pulang kampung."
"Kami juga rindu... tapi mami tak usah kuatir. Kami semua sehat kok! Tak ada yang perlu mami kuatirkan." Gani berkata dengan agak gugup karena telah berkata bohong pada bu Sarah.
"Syukurlah! Gina sibuk apa?"
Gani menelan ludah segarkan kerongkongan biar tidak seret untuk berbohong untuk sekian kali. Dalam hati Gani hanya bisa memohon ampun kepada yang maha kuasa karena berani berbohong kepada ibunya. Berbohong demi kebaikan mungkin dosanya tidak seberat berbohong untuk berbuat jahat.
"Monster? Dia sibuk sekalu sejak jadi komisaris. Waktunya tersita untuk pekerjaan sampai kadang kasihan lihat kak Kevin agak terabaikan."
"Hmm..gitu ya! Suruh telepon ibu. Biar ibu bilang tak boleh abaikan suami."
"Kurasa untuk sementara jangan mami! Dia itu fokus membangun perusahaan opa yang agak seret gara-gara korupsi besar-besaran di perusahaan itu. Nanti setelah semua beres dia pasti akan menelepon ni mami. Kita jangan ganggu konsentrasi kerja dia dulu. Ok?"
"Gitu ya? Iya deh! Kamu tolong bilangi Gina untuk beri perhatian kepada Kevin."
"Mami tak usah kuatir karena kami sudah pindah ke rumah kak Kevin. Hubungan keduanya juga sudah maju selangkah karena mereka sudah satu kamar. Mami kan tahu sifat monster. Nanti dia malu kalau kita tegur. Biarkan saja mereka perlahan membina hubungan mereka untuk lebih maju!"
"Kamu harus jaga adikmu. Kamu adalah abang jadi kamu yang harus memberi contoh yang baik buat kita."
"Aduh mamiku.. kayak tidak kenal anaknya sendiri? Dia yang menjaga aku bukan aku yang menjaga dia."
Bu Sarah tertawa mendengar nada kesal Gani. Selama ini Gina yang lebih kuat dari Gani maka wajar Gina yang melindungi Gani walaupun sekarang Gina terkapar tak berdaya.
"Maaf ibu lupa kalau Gina itu monster gagah. Salam ibu untuk Gina. Suruh jaga kesehatan jangan asyik kerja lupa rawat kesehatan."
"Beres mi.. sudah ada tambah orang jaga dia. Tuh Kevin! Dia sayang banget pada Gina. Mami tidak usah khawatir hubungan Gani dan Gina. Salam Gani untuk opa dan oma dan papi. Juga untuk adik dalam perut mami."
"Iya...ibu wakili mereka ucapkan terima kasih. Kamu jaga diri ya nak! Ibu jauh dari kalian. Kau dan Gina harus saling melengkapi."
"Mami kok jadi melo. Kami baik-baik saja. Adu mulut kan sudah jadi tradisi kami. Tidak berantem tak enak makan." Gani terkekeh sendiri ingat dia dan Gina tiap hari harus bertengkar. Bu Sarah sudah bosan ingatkan kedua anaknya untuk akur. Namun Bu Sarah tahu mereka berdua saling menyayangi.
"Ibu tahu...kau setiap hari harus menelepon ibu agar ibu tahu perkembangan kalian. Ibu sangat gelisah bilang kalian tidak memberi kabar dari tanah air."
__ADS_1
"Mami...mami...Gani dan Gina sudah gede! Noh...Gina bakalan punya anak! Mami kan mau jadi oma juga. Kami bisa tanggung jawab diri sendiri. Mami cuma perlu jaga adik kami saja."
"Apa omongan kamu bisa dipercaya?"
"Harus dong... pokoknya mami wajib percaya pada kami." Gani keluarkan kalimat ini di mulut namun dalam hati ragu sendiri. Gimana kalau Gina mendadak koma lagi? Apa yang harus Gani katakan pada maminya itu. Semoga saja Gina cepat sembuh sehingga Gani tak berdosa bohongi orang tua.
"Ok...ibu percaya. Ayah kalian sudah pergi ke kantor. Dia sudah mulai kelola perusahaan sini. Ibu di rumah bersama opa dan oma. Oma seperti satpam kawal ibu setiap jam bikin ibu tak nyaman. Tapi mau gimana lagi?"
"Ssttt mami omong gitu apa tak didengar oma?"
"Ibu dalam kamar..oma dan opa ada di luar. Nanti kamu harus datang sini. Rumahnya segede istana raja. Kadang kita mau nyasar."
"Wow...kami ini anak orang tajir dong! Punya istana mewah." canda Gani alihkan pembicaraan dari Gina ke topik lain. Bu Sarah sama sekali tak boleh tahu tentang Gina.
"Ishhh...sombong amat! Kalau perusahaan mulai aman kalian harus datang ke sini. Liburan gitu."
"Siap mami...udahan ya! Gani masih ada kerja."
"Oh maaf ibu ganggu ya! Silahkan teruskan kerjamu! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..." Gani menutup ponsel dengan sejuta rasa sesal bergelantungan dalam dada. Hari ini sudah berapa kali Gani berbohong pada Bu Sarah? Semua demi kebaikan ibunya juga. Tapi tetap saja berbohong itu dosa.
Gani termenung dengan ponsel masih dalam genggaman tangan. Ketenangan mereka mulai terusik sejak Gina gantiin dia bekerja di perusahaan Kevin. Satu persatu masalah mulai hampiri mereka juga membawa keberuntungan buat Om Sabri. Akhirnya penantian Om Sabri berakhir bisa meminang Bu Sarah.
Hidup ini memang aneh. Gani yang berpangkat montir akhirnya meraih puncak kesuksesan menjadi orang penting di dunia bisnis. Para pengusaha mulai akui keberadaan Gina sebagai pebisnis muda. Sayang haru berakhir tragis.
Malamnya Kevin dan Jay datang gantiin Gani. Laki kemayu itu harus pulang mandi dan makan. Gani pulang dengan taksi karena belum yakin nyetir sendiri. Anak ini belum juga dapat SIM jadi dilarang bawa kendaraan.
Kevin dan Jay yang gantian duduk di depan pintu ruang ICU tempat Gina dirawat. Sekitar ruang ICU sangat sepi karena tak banyak pasien di daerah itu. Hanya pasien parah dapat jatah dirawat di situ.
Keheningan terpecahkan oleh bunyi ponsel di saku jaket Jay. Suaranya cukup mengusik ketenangan di sekitar tempat rawat Gina. Jay cepat-cepat mengeluarkan benda berwarna hitam itu agar tak ganggu mood Kevin. Mood laki itu seratus persen hancur.
Jay membawa ponselnya jauhi Kevin tak mau ganggu gendang telinga laki itu. Tanya jawab di ponsel pasti akan mengusik Kevin.
Setelah agak jauh Jay angkat panggilan masuk.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..kau di mana Jay? Monster kok sudah diam tak tepati janji? Kami kan sudah laksanakan semua perintah dia." terdengar suara tak senang dari seberang.
Jay menghela nafas lupa beri kabar pada saudara lain mengenai Gina. Maklumlah otak pada mumet tak bisa berpikir jauh. Pikiran mentok pada Gina.
"Gina dirawat Sam....dia ditusuk oleh Angela. Kondisinya buruk."
"Astaghfirullah...Yang bener bro? Kok tak ada kabar?"
"Kejadian siang tadi. Gina sempat dioperasi. Kau kabari semua saudara ya!"
"Sialan si Angela itu...sudah bejat busuk lagi! Apa kira harus berbuat sesuatu?"
"Jangan... mereka sudah ditangkap! Kalian berdoa semoga dia selamat. Dia di ICU..."
"Wah parah...kami ke sana sekarang. Share alamat rumah sakit bro! Aku minta maaf sudah emosi tadi."
"Ok...tapi jangan buat ribut ya! Nanti sudah di sini teleponi aku. Jangan bawa gaya preman ke sini! Ini rumah sakit."
__ADS_1
"Tahu bro...kami akan menyusup seperti ninja."
"Kura-kura ninja kan? Dasar kura-kura..."
"Emang kamu bukan masuk kelompok kura-kura? Sudahan ya! Aku kumpulkan anggota dulu. Tunggu kami. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Beginilah kalau mantan preman sudah insaf. Mulai ke depan kan agama. Semua ini berkat bimbingan om Sabri angkat mereka dari kehancuran. Mereka jadi ngerti arti hidup teratur di jalan bersih.
Jay kembali ke tempat Kevin untuk temani bosnya jadi umpan nyamuk. Memang tak banyak nyamuk karena rumah sakit sangat bersih dan higienis. Rumah sakit punya nama lumayan tak mungkin beri kesan jorok.
Kevin angkat kepala sadar Jay sudah balik walau Jay berjalan pelan. Tetap saja terdengar oleh Kevin.
"Dari Gani?"
"Bukan...dari teman di kampung. Mereka mau datang. Boleh kan?"
"Tentu saja asal jangan buat bising!"
"Sudah kupesan tak boleh bikin ribut. Pak Kevin mau teh atau kopi?"
"Tak usah...masih kenyang." Kevin menolak tawaran Jay untuk cari minuman hangat. Kevin tak ada selera makan apapun. Pikiran nya hanya tertuju pada Gina.
"Jay...besok kamu ke kantor ya! Kamu urus dulu semua pekerjaan. Kalau ada yang tak ngerti teleponi aku."
"Ya pak..."
Obrolan mereka terhenti karena bunyi derap sepatu beri kesan akan menuju ke arah mereka. Mata Kevin dan Jay langsung tertuju ke arah suara dalam sepatu. Siapa pula yang datang di hari sudah cukup malam. Mungkin Gani sudah balik bergabung kembali.
Keduanya menunggu siapa yang datang. Kalau kelompok Sam tak mungkin cepat sudah tiba. Bisa jadi orang lainnya ingin menjenguk keluarga di kamar lain.
Rasa penasaran kedua lelaki ini terjawab karena pemilik sepatu akhirnya menampakkan wujudnya. Pak Julio dan istrinya berjalan lurus ke arah Kevin dan Jay. Ternyata pak Julio orang yang tepat janji walaupun sudah malam tetap juga hadir untuk melihat kondisi keponakannya. Di tangan pak Julio tertenteng beberapa kantong plastik juga paper bag. Pak Julio dan istrinya seperti ingin pindah ke rumah sakit dengan bawaan lumayan banyak.
"Assalamualaikum..." sapa istri pak Julio.
"Waalaikumsalam...sudah malam datang juga." sahut Kevin sopan. Kevin bangkit dari bangku menyambut pasangan suami istri itu.
"Harus dong! Gina kan anak kami...apa sudah ada kemajuan?" Netty membalas sahutan Kevin.
"Masih sama tante...Ayok silahkan duduk!"
Pak Julio meletakkan bawaan di atas bangku secara perlahan. Setelah itu Pak Julio mengintip dari balik pintu lewat kaca kecil terpasang di pintu. Tak ada kegiatan apapun dari ruang itu selain terdengar samar-samar bunyi alat pendeteksi jantung dan tekanan darah.
Pak Julio tampak agak kecewa tak mendapatkan kabar baik. Namun dia tak berkuasa memulihkan Gina seketika. Mau dikejar juga tak terkejar. Semua berjalan perlahan sampai waktunya tiba.
Pak Julio balik badan ikutan ambil tempat di samping istrinya. Selain menunggu mereka bisa apa lagi.
"Ini kami bawakan makanan dan minuman. Mungkin nanti kalian lapar." pak Julio menunjuk kantong plastik di atas bangku.
Jay bersyukur Kevin menolak tawaran dia beli minuman. Ternyata datang rezeki dari tempat lain. Pak Julio pengertian membawakan mereka cemilan malam. Kalau Sam kawan-kawan datang sudah akan dapat jatah makanan.
"Terima kasih pak..." Kevin menerima niat baik pak Julio dan istrinya.
"Kita sekeluarga untuk apa segan. Maaf kami datang telat karena tunggu anak di rumah tidur dulu! Mereka mau ikut datang lihat kakak mereka. Mereka tak bisa ikut besok harus sekolah."
__ADS_1
"Kami ngerti kok pak. Mereka juga masih anak-anak tidak baik datang ke sini yang menjadi sarang penyakit."