JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Ketegasan Gina


__ADS_3

Kevin ingin bantu Safira namun wajah beku Gina membuat Kevin merasa Safira tak punya harapan lagi. Kevin sudah sangat hafal dengan sifat Gina yang sangat keras. Sekali dia bilang hitam maka yang keluar tetap hitam.


"Gin...coba kau beri kesempatan sekali lagi kepada Safira. Dia sudah tahu kesalahan dia maka kita wajib memberinya satu lagi kesempatan." bujuk Kevin dengan nada lembut. Kevin memang tidak bisa keras kepala Gina karena sifat Gina jauh lebih keras dari baja.


Gina menatap Safira sekilas lantas menggeleng tegas. "Aku sudah beri dia kesempatan akui kesalahan dan berdamai namun dia justru banggakan abangnya sebagai kepala bagian. Apa itu harus kita toleransi? Aku mau jadikan hari ini sebagai pintu pembuka lembaran baru bagi mereka yang suka gunakan kekuasaan untuk main hakim sendiri."


Dana dan Safira makin lemas mendengar perkataan Gina yang tidak ada rasa iba kepada Safira. Gina terlalu teguh pada pendirian tak izinkan siapapun bertindak sesuka hati di dalam kantor. Jangan orang lain. Subrata yang jelas adalah ayah kandung Gina tak luput dari ancaman gadis ini. Kevin tak tahu berapa dalam luka di hati Gina sampai dia tidak punya belas kasihan pada orang berwatak culas.


"Pak Kevin...tolonglah! Ke mana lagi aku akan kerja bila dipecat dari sini. Aku bersumpah akan mengubah tabiat aku bila diberi satu lagi kesempatan." Safira merasa tak ada guna mengiba belas kasihan dari Gina. Gadis itu persis algojo bagi pendosa.


Kevin hanya bisa menatap Gina meminta pertimbangan lewat tatapan mata. Kini keputusan berada di tangan Gina karena Kevin telah menyerahkan kekuasaan kepada gadis itu. Gina tak ubah reaksi tetap dingin tak berperasaan.


"Maaf ya! Kalau aku memaafkan kamu berarti aku telah melanggar apa yang kukatakan. Ini akan menjadi contoh yang buruk buat yang lain. Berbuat salah lalu minta maaf dan persoalan selesai. Yang lain akan ikut jejak itu maka kedzaliman tidak akan berakhir bila hari ini aku tidak tegas. Aku harus berangkat ke kantor opa. Gani...kau urus pengunduran diri nona Safira. Aku tak akan katakan pecat kamu tapi kamu mengundurkan diri agar kamu bisa cari lowongan di tempat lain. Orang bertalenta macam kamu pasti gampang dapat kerja. Permisi.." Gina mengangguk sopan kepada Kevin sebagai tanda dia masih hargai Kevin sebagai suami.


Harusnya Gina menciumi tangan Kevin sebelum meninggalkan laki itu namun sekarang mereka di kantor maka tak bisa melaksanakan ketaatan seorang istri kepada suami. Gina melangkah dengan gagah meninggalkan kantor Kevin karena dia ada janji dengan Subrata untuk menyelesaikan masalah hutang perusahaan.


Semua mata memandangi kepergian Gina dengan pikiran berbeda-beda. Gani dan Jay sudah tak asing dengan kelakuan Gina ini. Dari dulu hingga sekarang Gina tak berubah maka dia dijuluki monster sadis.


"Pak Kevin... bagaimana ini? Mengapa seorang asisten memiliki wewenang kuat di kantor kita? Harusnya pak Kevin yang mengambil keputusan bukan Gina." kata Dana mau ingatkan Kevin kalau dia yang bos.


"Ginalah pemimpin kita sekarang!" ujar Kevin singkat membuat Dana terpana. Sejak kapan perusahaan diambil alih oleh Gina yang sangat mengerikan itu. Mengapa tiada badai tiada angin perusahaan telah diambil alih oleh orang lain. Mana lagi orang itu adalah asisten Kevin sendiri. Dana tak habis pikir mengapa terjadi perubahan mendadak.


"Maksud bapak Gina yang menjadi pemilik perusahaan ini?"


"Iya..dia komisaris perusahaan kita ini. Sekarang kalian sudah melihat seberapa tegasnya Gina jadi kalian semua bekerja dengan hati-hati dan jujur. Kita terpaksa ikuti kebijakan dia. Aku juga tak berdaya membantu." Kevin angkat tangan lantas meninggalkan tempat kerja Jay dan Gina.


Dana dan Safira bagai termakan racun. Untunglah racun nya masih belum separah racun sianida yang langsung mati bila termakan. Racun Gina memang mematikan namun masih bisa ditolong asal ditangani tepat.


Safira menatap marah pada Andara. Baru saja minta maaf sekarang sudah perlihatkan sifat asli suka mencari kambing hitam. Gina sudah ambil langkah tepat memecat Safira. Kalau sifat jelek sudah mendarah daging sampai kapanpun sudah diubah. Belum 1 jam memohon maaf dan sekarang telah mulai mengintimidasi lagi.


"Ini semua gara kamu aku kehilangan pekerjaan. Sudah dipecat untuk apa kamu balik ke sini lagi. Kau telah menyusahkan aku. Dasar anak tolol!" bentak Safira membuka mata Dana kalau adiknya memang tak bisa ditolong lagi. Safira memang sangat arogan tak punya tenggang rasa terhadap bawahan. Dana menjadi patah semangat bela Safira.


Kalau Dana bersikeras bisa-bisa dia juga akan ikut terseret kena pecat. Dana sudah berada di posisi yang sangat bagus kalau dipecat tentu saja akan membuatnya terjatuh. Kalau dia keluar dari perusahaan ini maka dia harus mengulang lagi di perusahaan lain dengan posisi dari bawah. Dana harus berpikir seribu kali untuk mencari masalah dengan Gina.


"Safira... kau sudah bersalah tetapi masih ngotot mempertahankan rasa ego kamu. Harusnya kamu menyadari kesalahan kamu untuk meminta nona Gina memperkerjakan kamu lagi. Tapi kamu malah bikin onar. Abang tak bisa bantu kamu lagi." Dana ikut pergi sebelum terlibat lebih jauh.

__ADS_1


Safira melongo ditinggal pergi oleh abangnya. Kalau sudah begini pupuslah harapan Safira untuk menetap di perusahaan ini. Apapun cerita dia tetap harus keluar dari kantornya Kevin. Ada rasa sesal di hati Safira telah melawan Gina cuma sayang semua telah terlanjur terjadi Safira memandang rendah kepada Gina. Tak pernah terpikir oleh Safira kalau Gina lah pemilik perusahaan.


Jay dan Gani tertawa ngakak setelah Dana pergi. Ini kesempatan Gani membalas rasa sakit hati Andara. Semula Safira arogan kuasai divisi mereka karena punya Abang berkuku. Sayang kukunya dibabat monster sampai botak.


"Makanya jangan sombong! Aku saja tak berani macam-macam walau Gina itu adik aku." ejek Gani puas lihat Safira bagai orang hilang roh. Terlalu banyak kejutan mengusir roh Safira dari tubuhnya.


"Gina adikmu?" ulang Safira tak percaya.


Gani mengangguk kalem. Gayanya slow sengaja bikin keki Safira. "Asal kau tahu dia itu juga Komisaris perusahaan besar di belahan lain. Dia sudah beli perusahaan ini berikut pak Kevin nya. Pak Kevin itu milik Gina." Gani ngoceh terus bikin Safira makin syok.


Safira menepuk dada agar bisa bernafas lancar. Safira takut dia kena serangan jantung setiap mendengar kenyataan yang ada. Andara juga tak kalah kaget setelah tahu posisi Gina menjulang ke langit namun orangnya membumi. Pantesan seenaknya Gina memecat Safira dan memintanya kembali bekerja seperti biasa. Andara berjanji akan bekerja sebaik mungkin mengingat jasa baik Gina membelanya. Andara lega kalau pemimpinnya itu Gina yang junjung keadilan.


"Kau mungkin belum tahu kalau pemimpin kita ini adalah monster paling mengerikan di bumi ini. Tapi asal kita jujur dan tulus monster akan lindungi kita. Itu saja!" Jay ikut nimbrung beri pandangan sosok Gina sesungguhnya.


"Aku akan bekerja dengan baik pak!" Andara berjanji takkan kecewakan kebaikan Gina.


Di lain pihak Safira menelan pil pahit harus keluar dari perusahaan tempat dia bernaung selama ini. Kehidupan sebagai sosialita akan segera berakhir karena dia tak bisa banggakan bekerja di kantor lumayan top dengan pemimpin ganteng. Tak ada yang bisa Safira andalkan untuk sekarang ini. Dana mana mau pertaruhkan jabatan hanya untuk bela adiknya yang jelas bersalah. Dana bisa ikut kena tendang bila ngotot mau lawan Gina.


"Aku akan kembali. Kalian lihat saja aku pasti akan duduk di posisiku sekarang ini. Dan kau Andara jangan bangga dibela atasan. Gimana hebatnya kamu tetap seorang cs?" Safira masih sempat memarahi Andara sebelum tinggalkan kantor ini. Gani cibir keangkuhan Safira pikir sanggup taklukkan Gina. Gani mau lihat dengan cara apa dia taklukkan Gina.


Ternyata begini kalau laki kemayu beri perhatian pada lawan jenis. Mau bersikap lelaki namun yang keluar tetap nyiur melambai.


"Terimakasih pak! Aku akan datang besok tepat waktu."


"Pulanglah! Hati-hati ya. Jangan lupa sholat biar rezekimu makin terbuka!"


"Iya pak!" sahut Andara ruang gembira. Senyum manis hiasi wajah mirip anak gadis Jepang itu.


Perlahan Andara ayunkan langkah tinggalkan lantai tempat Jay bekerja. Mata Gani mengiringi setiap ayunan langkah Andara sambil menghitung sudah berapa langkah Andara melenggang. Jay tersenyum melihat Gani mulai terketuk pintu hati beri perhatian pada lawan jenis. Sama dengan Gina Jay juga takut Gani selamanya tak suka cewek. Tak disangka ada seorang gadis sederhana menarik perhatian di banci karbitan itu.


"Duh yang jatuh cintrong...sejuta rasanya ya? Asem..asin..manis kecut...pahit..tawar..pedas..bau sangit..dll.." olok Jay bikin Gani mendelik. Mendelik namun senyum hiasi bibir. Itu tanda orang sedang kasmaran. Ntah Andara tertarik tidak pada banci karbitan itu. Kalau Andara menolak Gani bisa patah hati beruas-ruas sampai tak berbentuk.


"Herannya kok dimulai dari asem...maunya manis dong! Yang rasa lain simpan dulu dah! Ok pergi bertugas dulu ya Jay sayang. Mau urus nek lampir K O."


Jay mengusir Gani biar tak ganggu waktu kerja dia. Dia saja belum selesai mendapatkan data dari Gina keburu muncul insiden tak menyenangkan berbuntut pemecatan Safira. Safira yang bodoh sok angkuh padahal Gina sudah beri kesempatan akui kesalahan. Begitulah orang songong sok hebat. Terpuruk sendiri jadinya.

__ADS_1


Gina pergi ke kantornya gunakan mobil om Sabri yang bukan mobil mewah namun masih layak pakai. Pejabat lain kendarai mobil seharga miliaran sedangkan komisaris hanya kendarai kenderaan sejuta umat. SUV harga ratusan juta. Itupun milik om Sabri yang ditinggalkan untuk Gina. Setiap pemberian om Sabri selalu berharga bagi Gina. Om Sabri adalah dewa penolong buat Gina.


Gina parkir mobilnya di antara mobil berkelas aneka merek. Mungkin di antaranya mobil Gina paling level rendah. Mobil Gina hanya merusak pemandangan di antara deretan mobil mewah. Tapi apa Gina peduli dengan pandangan mata orang?


Gina sedang mengajar waktu karena telah berjanji dengan Subrata untuk bertemu hari ini. Gina mau lihat apa Subrata tepat janji atau mau cari masalah dengannya. Kalau Subrata tidak datang berarti laki itu sedang gali lubang kuburan untuk diri sendiri. Gina akan umumkan pengambilan saham Mahabarata secara resmi karena Subrata gagal bayar hutang.


Tindakan Gina berkesan kejam namun itu harus dia lakukan untuk perusahaan dan puaskan dendam pribadi. Kalau Subrata terjungkal Gina siap tinggalkan perusahaan untuk Gani dan kembali ke bengkel lanjutkan usaha om Sabri. Gina tak butuh semua nama besar. Tujuannya cuma satu siksa Subrata dan Angela hingga minta ampun.


Dinda menyambut kehadiran Gina dengan senyum manis. Dinda sudah tahu kalau Gina itu tak bisa dikasari karena dia akan lebih kasar. Cukup patuh ikuti arus keinginan Gina semua akan aman.


"Selamat siang nona Gina..." sapa Dinda ramah.


"Apa orang Mahabarata sudah datang?"


"Sudah satu jam lalu. Dan ini titipan dari Mandala dan Putri." Dinda menyerahkan dua map tebal yang isinya hanya boleh diketahui oleh Gina.


Gina menerimanya tanpa omong sepatah katapun. Perhatian Gina lebih fokus pada Subrata yang sudah menunggu di ruang kerjanya. Gina tidak merasa bersalah walaupun ayah biologisnya telah menunggu satu jam.


Gina menerima titipan dari tangan Dinda lalu melangkah masuk ke ruang kerja dia. Gina keraskan hati harus keras hadapi Subrata. Dia tak boleh lemah walau lihat rona kepedihan tergurat di wajah mulai keriput itu. Subrata harus bayar semua yang telah dia lakukan. Begitu juga Angela.


Subrata dan Angela menoleh begitu pintu ruangan di buka. Kedua orang tua itu kontan tegang melihat tak ada aura persahabatan dari raut wajah Gina. Wajah gadis itu tetap kaku bak topeng dari besi baja.


"Maaf aku terlambat.." kata Gina tetap bersikap sebagai seorang pebisnis terhadap rekanan.


"Tak apa...kami juga baru datang!" sahut Subrata pelan. Laki ini sudah tahu kalau anaknya ini tak bisa dibujuk atau dirayu. Sifatnya keras persis Subrata. Itu harus Subrata akui kalau Gina warisi sifat keras dia.


Gina menarik kursi mahalnya lalu duduk sambil meletakkan titipan Dinda di atas meja. Setelah barangnya tertarik rapi barulah dia mulai interogasi kedua manusia musuh bebuyutan Gina.


"Gimana? Sudah bisa beri jawaban?" kalimat tak bersahabat keluar dari mulut Gina membuat jantung Subrata berdetak lebih kencang. Nada bicara Gina dingin tak hargai Subrata sebagai ayah sedikitpun.


"Gina..beri papa sedikit waktu lagi. Papa sedang jual properti untuk tutupi sisa pembayaran. Papa akan turuti semua kemauan kamu asal beri tenggang waktu." kata Subrata melemah.


"Tak perlu jual properti..cukup beri saham perusahaan kalian. Aku akan membangun Mahabarata lebih besar. Aku bisa beri dukungan penuh pada Mahabarata bila aku berada di dalam sana." sahut Gina tanpa perasaan.


Angela menggertak gigi jengkel pada keangkuhan Gina. Seorang ayah sudah rendahkan diri mohon keringanan namun ditanggapi dingin. Angela tak tahu hati Gina terbentuk dari apa.

__ADS_1


__ADS_2