
Malam itu berlalu dipenuhi keceriaan. Gina mulai menemukan dirinya yang hakiki. Pada dasarnya Gina adalah seorang gadis yang baik hati dan ceria. Keceriaan Gina pupus hanya gara-gara kesalahan seorang lelaki tamak yang tidak tahan melihat keindahan tubuh wanita. Ini akan menjadi pelajaran berharga buat para lelaki untuk bertindak bodoh menggalang penderitaan di akhir cerita. Konco-konco Gina paham keserakahan akan bawa akibat buruk. Mereka harus petik pelajaran berharga dari kisah hidup Kevin dan Gina. Mereka berdua adalah contoh paling nyata di antara kisah sedih orang tua salah langkah. Imbasnya ke anak.
Pagi itu Kevin meminta Jay menemani papanya buat laporan atas penganiayaan serta perampasan harta. Tentu mengandalkan Ardi yang sudah tahu ceritanya. Kevin tak malu-malu ungkap sisi hitam papanya. Kalau tak begini sampai matipun tak bisa perjuangkan hak papanya. Ini bukan sekedar soal harta melainkan soal harga diri yang diinjak oleh seorang wanita licik.
Gina juga dimintai keterangan mengenai pembunuhan dirinya. Gina didampingi oleh Kupret dan Sam sebagai pengawal. Kevin belum bisa melepaskan Gina pergi sendirian mengingat kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. Ardi demikian simpatik walau tahu Angela itu mamanya Lucia yang sekarang sedang dekat dengannya.
Ardi harus pandai memisahkan antara tugas dan masalah pribadi. Dia tak boleh campur aduk kan masalah pribadi dengan tugas yang memang harus dia jalani. Supremasi hukum harus ditegakkan untuk menunjukkan kalau masih ada keadilan di tanah air ini.
Gina bercerita apa adanya termasuk hubungan dia dengan Subrata dan Angela. Intinya Angela tak puas harta keluarga dikuasai oleh Gina. Angela cemburu pada Gina yang sukses jadi orang bermartabat. Sedangkan dia kembali miskin karena dicerai oleh Subrata lantas akan terlantar. Lucia juga tak begitu open padanya maka Angela nekat balas sakit hati bertaruh dengan takdir. Lolos dari kejaran hukum atau terjerat hukum. Hanya itu dua pilihan Angela.
Seusai beri keterangan Gina berniat ke kantor cek kondisi kantor terkini. Gina bukan tak kuatir karena di kantornya masih ada tiga ekor ular berbisa yang tak bisa dijinakkan. Gina tetap harus hati-hati kepada ketiga pegawainya yang suka korupsi.
Sebelum meninggalkan kantor polisi Gina mengeluarkan satu kalimat yang mungkin sangat membantu Angela lolos dari jeratan hukuman mati. Kalau Gina bersikeras Angela harus dihukum mati hal itu pasti terlaksana. Gina bukan pembunuh model Angela. Angela cukup rasakan dinginnya lantai penjara untuk habiskan sisa hidup.
"Pak Ardi...biarkan Bu Angela tetap hidup untuk merenungi semua kesalahan dia!" pesan Gina dipahami Ardi. Dari kalimat Gina jelas wanita ini tak ingin adanya hukuman mati.
Ardi bersyukur Gina masih mempunyai rasa iba rasa belas kasihan kepada Angela. Ini kabar baik buat Lucia. Lucia kuatir kalau Gina akan turun tangan kejam kepada mamanya. Lucia bukan tak tahu sifat keras Gina tak suka basa-basi untuk hal tak berguna. Ardi tak sabar hendak kabari Lucia bahwa Gina sudah melunak. Kalau Gina masih melunak maka hukuman Angela bisa diperingan. Kini tergantung acara sidang setelah pihak berwajib limpahkan kasus ini ke kejaksaan. Ardi akan berbuat yang terbaik untuk semua orang. Yang bersalah harus diberi hukuman sedang korban mesti mendapat keadilan.
Sam dan Kupret dengan setia mengawal Gina ke kantornya yang super mewah. Kedua mantan preman ini tak menyangka kalau bos mereka memiliki perusahaan yang sebesar ini. Selama ini mereka berpikir kalau Jay berbual kalau Gina sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan.
Sekarang fakta sudah berada di depan mata maka mereka tidak bisa menampik kenyataan bahwa Gina adalah seorang pemimpin. Bangga juga berdiri di samping bos besar yang sederhana. Sikap Gina biasa saja namun justru kedua mantan begundal yang busung dada berlagak sebagai bagian dari Gina.
Mereka bertiga melewati Denada si gadis penjaga meja resepsionis. Kupret dan Sam kontan pasang gaya lebih cool ingin mendapat perhatian dari gadis cantik yang berdiri di belakang meja besar. Kali aja bisa mencuri hati gadis manis yang senyumnya bisa dijadikan iklan pasta gigi. Gigi rapi jali undang para pemuda ingin adu gigi.
"Selamat pagi bu Gina." sapa Denada ramah dan sopan seperti sebelumnya. Denada tak pernah bosan menyapa Gina setiap hari walaupun kalimat itu itu saja.
"Pagi nona cantik! Kedua orang ini adalah saudara aku. Kapan saja mereka datang harus disambut ramah."
Hidung kedua cowok ini mencuat lima senti hendak saingi hidung Pinokio boneka kayu pak Gepeto tua. Kupret tak malu perbaiki letak kerah baju biar makin keren. Sam main cantik beri anggukan kecil biar tampak kalem. Apapun itu yang penting caper. Siapa tahu kejedot cinta di kantor Gina.
"Iya bu...saudara ibu ganteng ya!" Denada asalan jawab ntah tulus atau hanya basa-basi cari muka di depan saudara Gina.
Gina merasa mata Denada ada sedikit gangguan. Wajah pasaran macam Kupret dan Sam dibilang ganteng. Kayaknya Denada harus dibawa ke dokter mata untuk cek up.
Gina balik badan perhatikan sekali lagi omongan Denada. Apa mungkin selama ini matanya kurang awas tak tampak calon cover boy di depan mata.
__ADS_1
Bolak-balik Gina perhatikan tetap tak temukan pesona kedua lajang ini.
"Kau yakin Nada?" tanya Gina buat Kupret dan Sam pingin cubit mulut Gina. Cewek sudah ngaku mereka ganteng masih mau dibantah. Sungguh tak punya perikemanusiaan.
"Mataku tak salah... mereka macho!" Denada masih kekeh pada analisa sendiri.
Gina angkat tangan biarkan Denada anggap keduanya pangeran terganteng seantero dunia.
"Terserah kamulah! Aku ke atas." Gina menyerah pergi ke lift khusus untuk bos besar.
Kupret dan Sam ikut dari belakang sebelumnya sempatkan diri hadiahkan senyum paling manis untuk Denada yang telah angkat nilai mereka. Sam lebih konyol meniup telapak tangan kirim bau jigong ke Denada. Maksudnya tanda suka.
Denada tertawa kecil tak berani bercanda lebih jauh. Keduanya saudara bos pasti bukan cowok abal-abal mudah dirayu. Denada belum tahu reputasi keduanya maka anggap mereka sederajat dengan Gina.
Gina membawa kedua anak buahnya ke ruang kerja supaya keduanya mengenal dunia lebih luas. Jangan hanya main di seputar bengkel kumuh. Gina bukan hina bengkel, dia sendiri besar di bengkel mana mungkin kucilkan tempat itu. Gina cuma mau tunjukkan kalau dunia ini bukan selebar daun kelor. Selain bengkel masih banyak tempat cari nafkah.
Kupret dan Sam tak habis-habisnya kagumi tempat kerja Gina. Semua serba lux dan canggih. Serba otomatis. Pantesan Jay betah kerja di kantor nyatanya sangat adem.
"Selamat pagi bu Gina." sapa Dinda begitu lihat Gina sudah datang. Gadis itu langsung berdiri menyambut Gina. Sikap tak kalah sopan dari Denada.
"Gimana suasana kantor selama aku pergi?"
Dinda agak bimbang buat laporan. Keraguan nyangkut di wajah full makeup tersebut. Gina menangkap ada yang tak beres maka Dinda ragu melapor kegiatan perusahaan.
"Katakan!" nada Gina tak lagi ramah. Tekanan suara mengarah ke sikap dingin.
Sam dan Kupret terbiasa dengan sifat Gina yang keras langsung tahu Gina mulai terjangkit penyakit darah tinggi. Kalau Dinda salah jawab semburan lahar panas pasti muncrat dari ubun kepala Gina.
"Pak Mandala buat promo boleh bayar dp dan kreditkan alat berat kita." kata Dinda takut-takut.
"Sejak kapan alat kita bisa dikreditkan? Apa sudah lalui rapat seluruh dewan direksi?"
"Pak Hartono memang minta tunda dulu sampai bu Gina balik kantor namun promo sudah terlanjur disebar dan diiklankan. Kita tak bisa mundur lagi." lirih Dinda ketakutan.
Gina memejamkan mata agar jangan sempat meledak di hari pertama masuk kantor setelah absen dua minggu. Dia tak boleh melukai diri dengan umbar emosi.
__ADS_1
"Gin... tenang! Kita dengar pendapat pegawai mu dulu. Mungkin mereka ada solusi untuk memajukan perusahaan. Kurasa mereka cari jalan untuk hadapi masa sepi ini." Kupret yang punya latar belakang pendidikan lumayan berusaha meredam emosi Gina. Kupret bukan tak tahu kalau Gina tak boleh memendam amarah.
"Kupret benar Gin..lebih baik kamu adakan rapat biar mereka jelaskan tujuan mereka adakan promo ini."
Gina mengatur nafas menurunkan emosi. Perkataan kedua konconya mengandung kebenaran. Dia harus dengar dulu alasan Mandala adakan promo ini. Sudah berapa banyak orang bayar dp untuk dapatkan alat berat mereka.
"Kita adakan rapat. Semua dewan direksi harus hadir." kata Gin penuh wibawa diiyakan oleh Dinda.
Dinda lagi berpikir apa yang bakal terjadi pada mereka yang setuju promo ini tanpa ijin Gina. Pada Pak Julio mereka juga tak minta ijin. Mereka buat kebijakan secara internal sesama dewan direksi.
Andaikata Gina tak suka pasti ada yang pulang kampung jaga padi di sawah. Dinda bersyukur tak ikut rapat yang diadakan oleh direksi sahkan promo tanpa diskusi dengan komisaris.
Semua kaget tak sangka Gina akan muncul secara mendadak. Mereka pikir Gina masih terbaring tak berdaya di rumah. Orang yang terkena tusukan di bagian organ tubuh yang vital masa penyembuhan pasti panjang. Siapa sangka dalam tempo dua minggu bos mereka sudah kembali berkiprah di meja bisnis.
Apa mau dikata kalau punya bos monster memang begitu adanya. Otot kawat kulit badak. Punya nyawa rangkap lagi.
Sam dan Kupret tak diijinkan masuk ke dalam ruang rapat. Yang boleh masuk hanya lah anggota inti perusahaan. Seluruh yang hadir tampak gelisah tak sangka Gina akan muncul secepat ini. Manalagi wajah Gina tak sedap dipandang siratkan hawa membasmi para kutu loncat. Di tangan Gina sudah tergenggam berbotol obat serangga siap disemprot ke serangga nakal.
Gina diam di kursi paling ujung khusus untuk pemimpin. Hanya mata Gina yang bicara mengancam semua yang hadir. Yang merasa tak bersalah tentu saja santai saja senang lihat atasan yang suka main turunkan kebijakan merugikan perusahaan.
"Well...siapa yang duluan bicara! Apa saja yang sudah terjadi selama aku tak ada." akhirnya Gina buka mulut usir keheningan.
Hartono selaku CEO merasa tak ada guna menghindari kesalahan yang telah terjadi di perusahaan. Cepat atau lambat Gina pasti akan tahu telah lepaskan promo yang menguntungkan pegawai nakal. Mereka ambil sebagian uang dp masuk kantong pribadi lalu beratkan pelanggan bayar lebih banyak. Lebih tepat mereka mark up harga lalu telan uang dp.
"Begini bu Gina... ada beberapa direksi ambil kebijakan jual alat kita dengan cara kredit! Ini untuk memasarkan alat kita lebih cepat. Bu Gina tahu kalau sekarang lagi masa resesi. Perekonomian kurang lancar maka ada yang usulkan gunakan cara ini tarik pelanggan." kata Hartono terbata-bata takut salah omong.
"Kenapa pak Julio tak kalian libatkan dalam program ini. Selama aku tak ada dia yang wakili aku. Pak Julio tak pernah ungkit masalah ini." Gina tekan terus biar mereka jangan sesuka hati. Gina harus jadi tuan atas anak buah. Jangan pikir dia anak muda bisa disetir seenak udel.
"Pak Julio kan orang luar mana ngerti gimana kondisi perusahaan kita. Kita ini sudah cukup lama tak pasarkan secara besar-besaran sehingga pemasukan kurang lancar. Kupikir kita buat gebrakan biar orang tertarik gunakan alat kita. Kita kreditkan tak masalah asal mereka bayar." tukas Mandala masih pikir Gina hijau di pasaran.
"Kau bilang tak masalah? Kau tahu resiko kreditkan alat berat? Pelanggan gampang saja tak mau lanjut bayar dengan berbagai alasan. Rusak, terjadi kecelakaan di tempat kerja. Alatnya hilang dicuri orang. Apa pernah pikir resiko ini? Kalau mereka mau kredit silahkan tapi melalui pihak ketiga. Bisa ke bank yang pasti akan minta jaminan anggunan. Kita tak punya pegangan apa-apa maka kita kalah. Bisa saja mereka dp lalu selesai proyek mereka kembalikan dengan sejuta alasan. Siapa mau tanggung kerugian? Aku potong gaji kalian??" Gina melontar tatapan tajam pada semua yang hadir. Satu persatu menunduk tak berani bersuara.
Gina sudah memaparkan resiko kasih kredit secara babi buta. Yang rugi tetap mereka. Gina sudah belajar dari kasus Mahabarata maka mesti hati-hati tak salah langkah lagi. Masih syukur Subrata akui hutang mau bayar. Gimana kalau suruh mereka tarik kembali alat-alat yang sudah karatan. Siapa mau tanggung semua kerugian.
"Aku akan diskusi hal ini dengan orang yang sudah kasih uang. Mereka akan kubawa jumpai pihak bank. Berikan data orang yang sudah kasih dp. Kalian tak perlu ikut campur urusan ini lagi. Aku akan urus sendiri. Jangan ada yang coba-coba ambil keuntungan dari promo ini! Ingat yang mau lanjut hidup bukan cuma kalian. Ratusan karyawan bergantung pada kita. Mereka punya keluarga yang harus dikasih makan. Jangan hancurkan piring nasi pegawai lain gara di antara kalian ada yang mau gemukkan perut. Bukan gemuk malah cacingan."
__ADS_1
Yang sudah cari keuntungan dari promo ini hanya bisa meratapi nasib. Uang ratusan juta yang baru masuk kocek harus dihamburkan lagi ke perusahaan. Gina pasti akan tuntut uang dp utuh sebelum dilemparkan ke pihak bank.