
Gani dan kedua konconya meringis bayangkan betapa sakit disiksa oleh Gina. Hanya Gina yang tega lakukan hal ekstrim pada saudara sendiri. Tak ada kata iba dari Gina.
Gina sudah wanti-wanti pada Gani jangan coba-coba bikin malu keluarga dengan gaya banci tanggung. Ini malah menantang Gina dengan ngamen pakai pakaian wanita. Tidak dipancung susah syukur.
"Sekarang kalian tiga masuk dalam gudang. Kalau coba teriak minta tolong kupastikan mulut kalian akan pindah ke dengkul. Ayo masuk!" Gina menendang pantat Gani tak indahkan status Gani sebagai Abang. Salah tetap salah.
Gani melirik Gina mohon ampun namun Gina pura-pura tak lihat lirikan Gani. Gina harus kuatkan hati beri pelajaran pada Gani.
Bayu membantu Gina buka pintu gudang yang minim pencahayaan. Ada bola lampu cuma bola lima Watt sebagai penerang usir tikus. Bau oli dan segala jenis bau besi karatan langsung menyambut kehadiran makhluk alien lokal itu.
"Masuk...!" bentak Gina disambut rengekan manja ketiga banci dadakan itu.
Mereka coba bertahan tak mau masuk ke tempat sangat kotor itu. Dandanan secantik bidadari masak harus dikurung di kandang tikus. Ini ulah Gina pantang lihat orang senang.
"Aduh Gin..aku ini hanya ingin praktek dandan ala Korea. Tak ada maksud lain. Kau lihat di sana banyak cowok dandan mirip cewek." Gani masih pertahankan tak mau masuk kandang tikus.
"Mau mirip orang Korea ya? Ok...malam ini tidur sini! Besok ku packing kalian kirim ke Korea pakai cargo. Mau pilih diisi dalam kotak semen atau kotak kayu. Terserah pilih mana." Gina goyang tangan di depan mata Gani.
"Mati dong!"
"Nah itu tau...ayok masuk kalau tak mau diekspor ke Korea!" Gina tetap ngotot paksa ketiga banci kalengan itu masuk ke gudang om Sabri.
Abang Teo ikut bantu Gina paksa ketiga anak lajang itu masuk ke dalam gudang. Abang Teo juga sejalan dengan Gina mau kasih pelajaran berharga buat adiknya.
"Masuk! Atau kuhajar kamu." ancam Abang Teo pada adiknya.
Ketiga banci itu tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam dengan perasaan jijik. Hukuman yang sangat jitu karena para banci itu sok bersih.
Gina langsung tutup pintu begitu ketiga sudah di dalam. Gina banting pintu dengan keras biar yang di dalam tahu dia sedang marah.
"Wow..." seru Gani terkejut dapat perlakuan sangat kasar.
"Gina itu sadis banget! Mana pantas jadi cewek. Kayak prajurit TNI saja." kata Afif setelah tak tampak Gina. Di depan Gina bungkam tak berani bersuara tapi tak lihat Gina mulailah ngoceh sesuka hati.
"Emang iya.." sahut Teo kenes manjalita.
"Diam...dia itu masih di luar! Kita sabar saja. Nanti mami aku pasti akan tolong kita." kata Gani yakin Bu Sarah akan cari dia kalau belum pulang. Harapannya hanya bertumpu pada ibunya.
"Tapi aku lapar." kata Teo memegang perutnya yang belum terisi makanan. Saking gembira bisa tampil sebagai cewek sampai lupa makan.
"Aku juga." timpal Afif ikut merasakan ada dendang dangdut di perut.
"Mau makan apa? Tikus panggang?"
Kedua masih berdiri karena tak ada tempat layak untuk duduk. Semuanya kotor penuh minyak hitam. Bisa hancur dandan putri salju mereka. Bukan putri salju lagi melainkan putri comberan.
"Aku punya bakpau.." kata Afif spontan.
"Syukurlah! Kapan kau beli? Kok tidak lihat kamu beli? Di mana kau simpan?" tanya Gani semangat. Mereka tertolong sedikit bila ada roti kukus itu.
Afif tertawa malu menunjuk ke dadanya. Gani dan Teo terbelalak tak sangka Afif konyol sumpal bakpau ke dada untuk jadi bukit kebanggaan wanita.
"Kau gunakan bakpau jadi buah dada? Bakpau rasa ketek." omel Gani jijik pada bakpau milik Afif.
"Emang kau gunakan apa?" tanya Afif menunjuk gundukan di dada Gani..
Gani tertawa geli merogoh dada dari balik baju. Dari situ keluar dua buah jeruk lumayan gede. Teo dan Afif tak bisa tahan tawa karena jeruknya tak sama besar. Pantesan buah dada palsu Gani agak tak simetris.
__ADS_1
"Diam...emang kamu gunakan apa Teo?"
Teo melakukan hal sama dengan Gina mengeluarkan dua buah balon berisi air. Sungguh konyol tingkah anak-anak ini bikin sensasi. Segala macam barang dimanfaatkan untuk melengkapi diri agar tampil feminim.
"Ya balon..." keluh Gani. Coba kalau Teo sumpal buah apel mereka kan takkan kelaparan. Mau makan bakpau Afif terasa jijik karena bakpaonya telah terkontaminasi bau badan Afif. Rasa lapar kontan hilang begitu cium bau bakpao yang asem.
"Besok yang kreatif dikit. Bistik kek...ayam goreng kek! Ini balon." omel Gani jengkel Afif tak isi dadanya dengan makanan. Sekarang jatah mereka cuma jeruk. Apa dia buah jeruk kenyang di bagi tiga?
"Aku makan bakpau aku saja! Bau asem sedikit tak apa asal bisa ganjal perut." Afif menepuk permukaan bakpau yang agak kisut kena tekan bra milik Afif.
Gani dan Teo tidak tertarik pada rencana Afif makan bakpau rasa keringat kecut. Keduanya pilih kupas jeruk bawaan Gani. Jeruk masih lumayan terlindung oleh kulit jeruk.
Cukup lama berdiri kaki ketiganya jadi pegel. Mau cari tempat untuk memanjakan kaki dan bokong tak ada tempat sesuai. Ditambah cahaya lampu remang-remang dari bohlam kecil mungil.
Gina pinter sekali siksa orang. Caranya sederhana tapi efektif bikin jera para lelaki kelainan jiwa itu. Gina tak mau main hajar tapi beri sanksi moral buat orang melawan kodrat itu.
Bayu dkk gemas juga pada abang-abang bikin malu kampung. Anak tanggung punya cara lain pula hukum ketiga banci ini. Tanpa sepengetahuan Gina, bocah tanggung itu ambil kain putih lalu dipasangkan pada galah panjang. Bocah nakal ini ingin beri efek jera lebih ekstrim dari Gina.
Bayu dkk lari ke belakan gudang ayunkan kain putih lewat ventilasi udara. Mereka ingin takuti ketiga banci itu seolah ada hantu di sekitar gudang. Jamin ketiga banci itu bakal syok mental.
"Heh...kok tiba-tiba bulu kuduk aku merinding ya?" kata Afif meraba tekuk.
"Perasaan...di luar itu banyak orang. Bukankah Abangku juga nongkrong di sini? Kita ini Noni cantik pembasmi setan." ujar Teo sok jagoan.
Gani diam saja agak segan bicara soal hantu di malam hari apalagi di tempat seram kayak gini. Perkataan Teo agak takabur bisa saja pancing emosi para demit.
"Huhu..huhu..." terdengar suara dari belakang gudang.
Ketiga banci itu auto merapat tajamkan penglihatan cari asal suara. Tak ada orang di sekitar mereka selain dengung vampir kecil.
"Kukira hanya kudengar saja. Kau juga dengar ya? Tuhlah kamu Teo! Setan ditantang. Sekarang datang bertamu." Afif mencubit bibir Teo yang lancang. Teo bukannya marah malah memeluk Gani kencang. Jujur Teo sangat takut.
"Huhu... hihihi..." selesai suara itu berbunyi dari atas ventilasi berkelebat bayangan putih.
Afif dan Teo tak dapat tahan rasa takut lagi. Gani sendiri beku tak bisa berteriak. Mulutnya kaku untuk mengeluarkan kata-kata. Bayangan putih itu seperti nona Kunti sedang mencari mangsa.
Bayangan itu kembali melayang sepanjang ventilasi udara. Kali ini waktunya lebih lama membuat Gani hampir pingsan. Dasar jiwanya lemah, kena hal beginian pasti akan cabut nyawanya.
"Tolong...hantu .... hantu!" teriak Afif memecahkan suasana sepi di bengkel om Sabri.
Afif masih sempat teriak minta tolong sedangkan Gani dan Teo sudah duluan jatuh pingsan saking takutnya. Keduanya sudah lupa mereka jatuh di tempat sangat kotor. Gaun mereka yang indah berubah model ada bercak minyak hitam.
"Haaanttuuu.. tolong kami!" teriak pakai sisa tenaga.
Kawanan anak muda yang nongkrong agak kaget dengar teriakannya Afif yang menyayat hati. Mereka segera bangun untuk lihat apa ini hanya ulah ketiga banci minta keluar atau memang jumpa setan.
Gina paling duluan buka pintu gudang lihat apa yang terjadi. Di antara keremangan Gina melihat Teo dan Gani sudah semamput di lantai. Tak urung Gina kaget tak sangka memang sudah terjadi sesuatu.
"Ada apa Fif?" tanya Gina segera periksa Gani dan Teo.
Afif menunjuk ventilasi yang tak ada apapun saat ini. Hanya ada kegelapan di antara keremangan cahaya bohlam lampu.
"Hantu..." bisik Afif ketakutan.
Pemuda lain bermunculan segera beri pertolongan bawa ketiga banci itu keluar dari gudang. Gani dan Teo harus digotong beramai karena sudah tak sadar diri. Afif masih bisa jalan sendiri walau linglung.
Dari dalam rumah muncul om Sabri lihat keributan di bengkelnya. Om Sabri cukup kaget lihat ada orang pingsan di bengkelnya. Cewek pula. Laki ini tak bisa sembunyikan rasa kuatir.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
"Gani dan Teo pingsan di gudang Om!" lapor Gina.
"Gani? Itu kan cewek!" Om Sabri berusaha meneliti dua orang tergeletak di atas dipan tempat istirahat pekerja. "Ya Allah...ini bener Gani dan Teo! Apaan ini?"
Om Sabri agak marah lihat Gani berpakaian cewek. Sungguh tak masuk akal Gani berdandan cewek.
"Mereka kedapatan sedang ngamen dalam keadaan begini. Aku kurung mereka di gudang nyatanya pingsan teriak hantu." cerita Gina biar Om Sabri tahu kronologi kejadian.
"Dari mana hantu. Ambil minyak kayu putih di rumah om. Sekalian air minum."
"Benar om...ada hantu melayang tadi. Kami lihat barengan kok!" ujar Afif dengan bibir bergetar hebat. Suasana sedikit chaos akibat mental kerupuk ketiga banci itu. Afif tampak pucat pasi tanda tidak sedang sandiwara.
Di belakang gudang kelompok Bayu segera kabur takut disalahkan ada orang pingsan akibat keisengan mereka. Anak kecil mana berani tanggung jawab setelah bikin kacau. Anak-anak itu segera menghilang pulang ke rumah masing-masing sebelum kena jewer telinga oleh om Sabri.
Om Sabri berusaha menyadarkan Gani dan Teo. Di lain pihak Afif masih menggigil ketakutan.
Syukurlah tak lama Gani dan Teo sadar dari pingsan. Mata Gani bermain liar mencari bayangan putih menakutkan itu. Wajahnya juga pucat pasi menahan rasa takut. Sudah begini Gina jadi iba, amarah setinggi leher perlahan reda ganti rasa sesal terlalu keras pada saudaranya.
"Sudah...kalian pulang semua. Ganggu tidur om saja!" Om Sabri usir anak-anak agar semua pulang istirahat. Om Sabri cukup kaget mendapat kejadian ini. Om Sabri agak kecewa pada Gani yang perlihatkan wujud aslinya. Anak itu selalu ingin seperti wanita walaupun terlahir sebagai lelaki. Gani takut pada Gina maka berusaha tekan hasrat gila. Namun akhirnya kecolongan juga.
"Kalian mau pulang seperti ini?" tanya abang Teo gusar adiknya masih memakai gaun. Apa kata ibunya bila lihat anak kesayangan jadi AC DC.
Teo menatap abangnya agak takut. Orang salah memang penuh rasa takut. Pokoknya malam ini ketiga banci kalengan sukses bikin onar.
"Buka bajunya dan pulang pakai kolor saja!" perintah Om Sabri juga ingin beri pelajaran pada ketiga pemuda penyimpangan jiwa itu.
"Om...dingin dong!" protes Gani tak rela disebut orang gila.
"Pulang atau masuk gudang lagi?" ancam Om Sabri tegas.
Ketiga trio banci langsung buka gaun tanpa disuruh dua kali. Lebih baik telanjang ketimbang disamperin setan putih. Telanjang masih ada nyawa sedangkan masuk gudang nyawa bisa melayang ke neraka.
Gina tersenyum geli lihat ketiga banci itu telanjang sisa bh dan ****** *****. Bh nyolong dari mana pula? Warna cukup menarik warna pink berenda.
Gelak tawa bergema tatkala ketiga banci itu berhasil lepaskan gaun andalan mereka. Yang menarik perhatian adalah bh pink milik ketiga banci itu. Warna sama juga model sama. Sangat kompak kenakan pakaian dalam senada.
"Nyolong punya siapa Fif?" tanya salah satu pemuda.
"Nyolong? Enak aja..ini kami beli di pasar. Ini kuberikan padamu! Hadiahkan buat pacarmu!" Afif buka bh nya lantas lempar ke wajah pemuda tadi. Pemuda tak sempat berkelit sehingga dalaman wanita mendarat mulus ke mukanya. Pemuda itu gelagapan kontan melempar benda penutup dada wanita ke pemuda lain.
Pemuda itu menangkis tak terima di beri hadiah bau ketek Afif. Tawa riuh dibarengi sorak terdengar meriah. Kekacauan malam ini datangkan hiburan pula.
Om Sabri ngeloyor pergi merasa tak bisa ikutan gila bareng anak muda itu. Masanya telah berlalu untuk gila-gilaan.
"Ayo bubar! Kuharap kejadian malam ini cukup sekali. Kalau kedapatan kalian berbuat gini lagi aku janji akan tanam kalian di pot bunga." ujar Gina pada trio banci itu.
"Kami hanya iseng mau praktek gaya Korea. Buktinya semua puji kami cantik." Gani bela diri.
"Cantik dilihat pakai sedotan. Hancur begini dibilang cantik. Ayo cepat pulang! Besok kita harus kerja."
Gani meraih gaunnya sayang ditinggalkan di situ. Bawa pulang untuk disimpan lebih baik dari pada dijadikan kain lap oli kotor oleh Gina. Gina itu raja tega mana mau lewatkan kesempatan siksa Gani.
Satu persatu tinggalkan bengkel om Sabri dan menutupnya dengan baik. Di dalam banyak mobil titipan orang maka harus dijaga baik. Gani dan beberapa pemuda kerja situ maka kewajiban itu juga milik mereka.
Gina mengiringi Afif dan Gani pulang karena rumah mereka berdekatan sedang Teo pulang bersama abangnya. Untunglah jalan menuju ke rumah mulai sepi sehingga tak banyak orang lihat pemandangan aneh ada orang telanjang makam hari.
__ADS_1