
Mungkin Kevin belum tahu arti dari kata tanggung jawab sebagai lelaki gentle. Berani berbuat berani tanggung jawab. Buat Kevin ini bukan masalah besar tapi buat Bibik yang ngerti sedikit hukum agama hal ini sangat vital.
"Apa yang harus kulakukan Bik?" tanya Kevin seperti orang idiot.
Bibik menarik kursi di samping Kevin duduk di sana agar bisa lebih jelas omong dengan lelaki ini. Kevin harus diberi sedikit pencerahan agar tahu apa yang dinamakan tanggung jawab sebagai seorang pria.
"Nak...Gina itu tulus padamu! Dia sudah korbankan semuanya untukmu. Nama baik serta tak peduli luka di tubuh. Tapi kamu tidak lakukan apapun untuknya. Coba pikir siapa berani dekati dia lagi bila tahu tidur bersama kamu."
Kevin menggeleng kurang paham. Mereka hanya satu kamar tapi tak lakukan hal tak senonoh. Kevin masih punya batasan tahu mana dosa. Dan lagi mereka bukan sengaja ingin bersama, hanya keadaan paksa mereka harus berduaan.
"Aku harus nikahi dia?"
"Lebih kurang begitu. Paling tidak akui kalau kau akan serius jalin hubungan dengan Gina."
Kevin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kalaupun dia mau belum tentu Gina bersedia menjalin hubungan lebih akrab dengan dirinya. Ditilik dari sifat kasar Gina mana segitu gampang terima seorang lelaki di sampingnya. Dia lebih piawai lindungi diri sendiri ketimbang ada lelaki lain di sisinya.
"Bibik tak usah kuatir. Aku akan beri dia satu jawaban. Aku akan nikahi dia kalau tak ada yang mau dia lagi."
Bibik memukul bahu Kevin yang menjawab sesuka hati. Memangnya Gina adalah barang yang ditawar sana-sini sampai tak ada pembeli barulah Kevin akan membelinya.
"Kamu ini... Gina pasti akan sedih bila kamu berkata demikian di depannya. Dia akan merasa tidak berharga seakan kamu terpaksa menerimanya."
"Aduh Bik! Gina itu beda dengan gadis lain. Semangat hidupnya melebihi orang lain. Kalaupun aku menawarkan perlindungan belum tentu dia terima. Kita jalani apa adanya. Bibik lihat apa dia sudah bangun?"
Bibik menghela nafas tak paham dengan pola pikir anak zaman sekarang. Tidak anggap norma sebagai landasan hidup. Berbuat sesuka hati tak indahkan segala sopan santun. Lebih parah lagi sekarang muncul banyak konten menceritakan betapa bangga seorang wanita mengumbar aib sendiri menjadi seorang pemuda nafsu para lelaki. Urat malu lupa disertakan sewaktu dilahirkan. Tak sempat antri minta dilengkapi urat malu sewaktu akan dilahirkan ke dunia ini.
Bibik pergi ke kamar Kevin sesuai permintaan anak itu untuk lihat apa Gina sudah bangun. Bibik terenyuh lihat Gina bergulung dibawah selimut Kevin. Kalau di cerita pada orang keduanya tidak lakukan hal senonoh apa orang akan percaya? Satu kamar satu ranjang tidak terjadi pergulatan sangat mustahil.
Bibik keraskan hati membangunkan Gina. Bibik percaya pada Gina namun orang lain belum tentu percaya.
Bibik menyentuh pundak Gina perlahan sambil menepuk pelan.
"Nona Gina..."
Mata Gina yang indah perlahan terbuka. Mata itu masih berat untuk melihat orang di hadapannya. Sepasang mata itu agak sembab mungkin kurang tidur akibat jaga Kevin.
"Ach Bibik.." Gina meringsut ingin bangun namun kepala terasa berat. Seluruh badan sakit seolah baru di hantam palu gede. Serasa mau rontok.
"Kau kenapa?" Bibik menemukan Gina tidak dalam kondisi baik. Tangan Bibik diulurkan menyentuh kepala anak gadis itu. Bibik terhenyak karena kepala itu sangat panas. Tak usah diperiksa dokter Bibik tahu kalau Gina sedang demam tinggi.
"Kau sakit nona?"
"Tak apa Bik! Istirahat sebentar juga sehat." Gina berniat turun dari ranjang tak sadar dia berada di atas ranjang Kevin. Kepala Gina masih belum terpasang pada posisi tepat maka belum ngeh apa yang sedang berlaku.
"Tetap di situ! Bibik akan panggil Kevin! Kau harus segera ke dokter."
"Tak usah repot Bik! Aku ini berotot kawat." Gina membandel anggap dia super girl sanggup lawan penyakit.
"Diam di situ!" bentak Bibik tak terima sifat bandel Gina.
Gina terdiam membeku mirip tumbuhan putri malu. Disentuh sedikit langsung kuncup daunnya. Gina kaget juga ternyata Bibik bisa juga galak. Gina tak berani berkutik kena bentakan wibawa Bibik sebagai orang tua.
__ADS_1
Bibik pergi dengan garang kesal pada keangkuhan Gina. Apa yang dikatakan Kevin tentang Gina itu seratus persen benar. Anak gadis itu sangat keras anggap semua masalah sepele. Dia memang kuat atau sok kuat.
Tak lama Bibik kembali dengan Kevin. Kevin tampak kuatir dengan kondisi Gina. Mungkin anak ini terlalu capek sampai jatuh sakit. Ini pasti gara-gara menjaga Kevin.
"Kau sakit Gin?" tanya Kevin tak peduli rasa canggung di antara mereka.
"Kurasa efek luka di tanganku! Tak usah kuatir, minum obat parasetamol juga sehat lagi." sahut Gina masih tegar.
"Kita harus ke dokter. Kita ke dokter Clara ya! Dia juga dokter bisa urus kamu kalau hanya demam biasa."
Perut Gina kram Kevin menyebut nama dokter yang sedang racuni Kevin. Mengapa Kevin sangat percaya pada dua manusia yang ingin hancurkan hidupnya. Duanya ular beracun menyuntikkan bisa ke tubuh Kevin secara perlahan. Kevin akan mati secara mengenaskan.
"Tak usah pak! Aku ingin pulang saja! Siang nanti aku akan balik sini." Gina beranjak dari ranjang Kevin. Gadis ini tersentak baru sadar dia berada di kamar yang mana.
Dilihat dari suasana kamar berarti semalam dia tidur di kamar Kevin. Gina kecolongan lagi tertidur di tempat tak pantas untuknya.
"Kau tak usah ke kantor. Istirahat di rumah saja! Aku harus ke kantor karena Peter dan aku kan harus berangkat ke kota M."
Gina mengerjit alis memikirkan cara halangi Kevin pergi bersama Peter. Takutnya tak dapat kerjain Kevin di sini. Di sana pula dia lanjutkan aksinya.
"Aku di sini saja. Bapak temani aku ya! Mungkin lukaku infeksi maka aku naik demam." Gina mulai berdrama untuk selamatkan Kevin. Kalau mau pergi Kevin harus bersama Gina.
Kevin kaget Gina tiba-tiba jadi manja minta ditemani. Apa gadis ini sedang beri signal membutuhkan Kevin sebagai pendamping? Kevin tak punya waktu berpikir penyebab Gina berubah jinak. Dia syukuri saja dapat berkah jadi pelindung Gina kali.
"Baiklah! Kita di rumah hari ini!" Kevin ingin sekali menepuk dada sudah jadi tarzan pelindung Jane si ratu rimba. Raja dan ratu rimba akan cuti sehari untuk memulihkan tenaga.
"Sekarang pergilah bersihkan diri dan sarapan. Aku akan telepon dokter Clara tanya obat untukmu!"
Kata mobil mengingatkan Kevin belanjaan mereka masih tertinggal di bagasi belakang mobil. Kejadian tragis ini membuat mereka melupakan banyak hal. Makanan dalam mobil harus segera dikeluarkan agar tidak busuk. Kalau sempat dibiarkan lebih lama maka tidak layak dimakan lagi.
"Biar kuambilkan! Kau bisa ke kamar mandi sendirian? Perlu ku gendong ke sana?"
"Boleh...pesan rumah sakit dulu! Satu tangan masih bisa hajar laki cabul."
Bibik tersenyum lihat Gina masih punya moral tidak jajakkan diri dengan murah. Masih ada nilai pantas dihargai. Kevin sendiri tertawa masam mendapat ancaman halus dari Gina.
"Aku tunggu kamu di luar!" Kevin beranjak pergi beri kesempatan pada Gina untuk cuci muka. Kalau mandi mungkin belum diizinkan berhubung anak itu sedang demam.
Kevin beri kode pada Bibik untuk menanti Gina. Laki ini takut terjadi sesuatu pada Gina. Anak itu sok kuat walau di saat paling rapuh. Kevin masih jelas membedakan mana waktu bertugas dan waktu istirahat bagi pegawai setianya.
Bibik memahami kode Kevin menanti Gina selesai gunakan kamar mandi. Kondisi Gina kali ini butuh perhatian orang. Biarlah hari ini Gina jadi majikan, Kevin yang layani dia. Ini bentuk balas budi baik Gina padanya.
Di luar kamar Kevin senang Gina mulai bergantung padanya. Dia merasa seperti seorang lelaki umumnya punya wanita harus dilindungi. Harganya sebagai lelaki naik satu derajat.
Gina dan Bibik muncul juga dari kamar Kevin. Gina masih gunakan pakaian Kevin untuk tutupi tubuhnya. Baju itu buat Gina seperti maling curi jemuran orang untuk dikenakan. Kebesaran untuk tubuh mungil Gina.
Kevin tak bisa tutupi mulut dengan tawa karena Gina memang tampak seperti badut dalam pakaian Kevin. Gina bukannya tak sadar jadi bahan tertawaan Kevin. Namun apa daya? Dia tak punya baju ganti lain ya terpaksa pakai baju Kevin.
"Lucu ya?" tanya Gina sewot.
"Ngak kok malah imut! Ayok cepat sarapan biar minum obat! Aku tak mau asisten aku sakit parah di rumahku." Kevin meninggalkan kursi malas di dekat sofa ikut Bibik ke dapur.
__ADS_1
Kali ini Gina tidak akan tersesat lagi karena sudah tahu ruang makan. Jadi orang kaya sungguh ribet. Rumah kelewat banyak ruang membingungkan orang. Di rumah Gina putar-putar ke situ juga karena memang kecil.
Bibik menuangkan segelas susu ke gelas untuk temani Gina sarapan. Di meja ada sandwich isi telor juga daging sapi. Sarapan full gizi walau dalam porsi kecil. Semua vitamin kebutuhan tubuh sudah lengkap dalam sarapan pagi ini.
"Ayok silahkan!" Bibik menyuruh Gina untuk segera sarapan.
Gina sedikit segan dilihat oleh Kevin. Ada rasa sungkan menjalar di dalam hati gadis ini. Dari semalam dia sudah merepotkan sang bibik di rumah Kevin. Bibik tinggalkan kedua anak muda ini setelah hidangkan sarapan Gina. Bibik pengertian memberi ruang pada keduanya untuk ngobrol lebih akrab. Kevin sudah waktunya intim dengan seorang wanita. Bibik setuju Kevin bersama Gina.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah...kamu lanjut saja!" Kevin hanya duduk temani Gina santap sarapan pagi. Waktu juga sudah tidak terlalu pagi karena jam sudah berdentang sembilan kali. Orang kantoran sudah pada sibuk beraktifitas sesuai kerja masing-masing. Rencana Kevin ke kantor tertunda berhubung Gina kurang sehat.
Gina menyantap makanan kurang selera karena bekas jahitan mulai berdenyut sakit belum kena obat anti nyeri. Gina bukan gadis manja mengeluhkan kenyerian di tangan. Dia pura-pura tak terjadi apa-apa biar Kevin tidak cemas. Gina yang harus cemas pada nasib Kevin. Bahaya sedang mengintai laki itu.
"Makan yang banyak biar cepat gede!" gurau Kevin suka lihat cara makan Gina tidak sok jaim.
"Iya biar kuat gebuk laki cabul."
"Apa aku cabul?"
"Apa aku ada bilang gitu?"
Kevin kembali tertawa terjebak oleh omongan sendiri. Niat mau jahili Gina malah kena skak oleh gadis itu.
"Aku tak merasa cabul. Kau tahu hanya kamu bisa kusentuh. Kayaknya seumur hidup aku harus bersamamu."
"Bapak bisa sembuh asal ada kemauan. Oya...selama ini siapa yang siapkan obat-obat bapak? Bu dokter sendiri atau kalian hanya terima resep?"
"Kenapa kamu tanya itu? Kau merasa ada yang aneh pada dokter Clara?" Kevin menyimak pertanyaan Gina dengan serius. Apa yang ditemukan oleh anak ini. Kevin yakin Gina menemukan hal tak beres.
"Jawab saja. Nanti aku akan jelaskan apa yang kucurigai."
"Peter yang urus semua obatku! Ya kadang ada juga obat racikan Bu Clara."
Gina hentikan kegiatan makan memakan. Pikiran Gina terfokus pada obat-obatan Kevin. Bisa jadi ini semua kerja Peter, bisa juga dia bekerja sama dengan Bu Clara buat Kevin linglung selamanya.
"Obatmu ada yang salah. Aku akan bawa obatmu ke lab untuk cek isi kandungan obatmu. Mana mungkin belasan tahun berobat tak ada hasil. Asal bapak tahu kalau bapak menikah saat itu anak bapak sudah masuk SMA." Gina hilangkan kata bapak biar tidak berada dalam suasana resmi di kantor. Gina beranikan diri menyebut kamu pada Kevin. Laki itu juga tidak terlalu open pada panggilan Gina. Kevin bukan orang gila nama besar.
"Kamu merasa begitu ya! Gimana kalau kita cek kembali pada Bu Clara. Kita minta resep darinya lalu kita bawa ke apotik untuk tanya apa kegunaan obat aku!"
"Boleh juga. Begini pak! Bapak bilang saja mau keluar kota untuk dinas butuh persiapan obat lebih. Kita tebus sendiri obat tersebut."
Kevin setuju pada rencana Gina. Seharusnya dari dulu Kevin punya pendapat demikian. Sekian tahun berobat tak ada kemajuan. Malah Kevin sangat tergantung pada obat penenang untuk tidur. Kalau tidak malam hari dia akan gelisah tak bisa tidur. Selalu mimpi buruk di dalam tidur.
Gina cepat-cepat habiskan sarapan lupa kalau dia sedang demam. Urusan Kevin menantang Gina untuk bongkar kejahatan terselubung di lingkungan Kevin. Kalau urusan Gina sudah jelas yakni balas dendam pada kelicikan Angela serta kebusukan Subrata. Untuk saat ini Gina ingin fokus pada Kevin dulu supaya laki ini bisa hidup damai.
"Eeiitt...makan pelan nak! Ntar kesedak lho!" Kevin buru-buru melarang Gina makan dikejar hantu pocong. Balapan dengan waktu.
Gina tak peduli larangan Kevin. Dia tuntaskan sarapan dengan menegak susu hingga tandas. Perutnya terasa hangat siap berperang lawan ketidakadilan dunia ini. Kevin menghel nafas kalah keras dari Gina. Gagal lagi tekan Gina untuk patuh padanya.
"Nak Kevin...ada tamu!" Bibik muncul bawa kabar buat kedua anak muda yang baru saja siap susunan rencana ke tempat Bu Clara.
__ADS_1