
Kevin tak boleh terpancing masuk perangkap Peter. Manusia itu terlalu jahat lupa dari mana dia berasal. Tak ubah seperti kacang lupa akan kulitnya. Kevin akan mengingat semua kejahatan Peter dengan memberinya pelajaran berharga dan membuangnya dari kehidupan.
"Kau dan Jay pulang untuk ke kantor. Di sini biar aku yang tangani. Oya...kau minta bibik datang ke sini urus papa aku. Tak mungkin aku meminta perempuan sialan itu datang ke sini untuk merawat papa."
Gani mengangguk sekencang mungkin biar Kevin yakin dia akan melakukan yang terbaik untuk keluarga Kevin seperti Kevin telah banyak membantu dia dan Gina. Gani tak bisa biarkan Kevin menanggung semua ini sendirian. Laki itu sudah cukup kasihan ditinggal orang tua kini harus telan pil pahit dikhianati saudara sendiri.
Gani bergegas memanggil Jay untuk segera pulang ke rumah. Dari rumah mereka akan segera berangkat ke kantor untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai pegawai. Gani membusung dada dengan gagah berani menantang semua tantangan yang telah hadir di depan mata. Gani akan tunjukkan kalau dia juga memiliki keberanian menghadang semua masalah.
Setelah yakin melihat Gani telah pergi dengan Jay, Kevin segera berbalik badan menuju ke tempat Gina dirawat. Kevin masih mempunyai tanggung jawab terhadap istrinya walaupun telah muncul masalah baru. Semoga saja Gina cepat pulih sehingga dapat memberinya sandaran untuk menentang tantangan yang lebih besar. Gina mempunyai wawasan lebih luas menghadapi semua cobaan ini.
Sayang sekali Kevin belum bisa mengandalkan Gina. Wanita muda itu dalam perawatan intensif menuju kesembuhan. Kevin hanya bisa melihat Gina dari balik kaca terpasang di pintu. Ingin sekali Kevin berteriak marah luapkan emosi yang basahi seluruh hati. Namun Kevin harus kontrol diri agar tidak terserang trauma sehingga drop tak bisa berbuat apa-apa. Dia harus tegar andalkan tangan sendiri selesaikan semuanya. Kevin harus kuat.
Kevin teringat pada pak Julio yang mempunyai jam terbang lebih tingginya. Paman Gina itu pasti akan beri solusi bantu Kevin cari jalan keluar hadapi kelicikan Mince dan Peter. Peter harus keluar dari perusahaan tanpa dapat apa-apa. Padahal Kevin berencana berikan hotel itu pada Peter untuk dikelola atas nama dia. Sayang Peter pilih jalan kiri membuatnya tersesat.
Kevin keluarkan ponsel bermaksud hubungi Pak Julio. Hati Kevin tercekat tatkala melihat batere di ponsel nyaris kosong. Mau ngobrol panjang lebar dengan paman Gina tentu saja akan terhalang. Kevin terpaksa tebalkan muka hubungi paman Gina mohon pak Julio mau datang ke rumah sakit. Mereka pasti akan ngobrol lebih leluasa bila telah bertemu muka. Itupun kalau Pak Julio bersedia menemui Kevin di rumah sakit. Kevin tidak bisa memaksa kecuali memohon.
Tangan Kevin gemetar sewaktu klik kontak nomor pak Julio. Kevin berdoa semoga dia mampu bertahan tidak kehilangan akal sehat saat begini. Kevin terusan menguatkan diri agar tabah.
"Halo assalamualaikum pak...ini Kevin!"
"Waalaikumsalam....Gina kenapa?" pak Julio terdengar panik Kevin telepon pagi sekali.
"Gina sudah jauh lebih baik. Tadi kami sempat ngobrol." Kevin segera jawab untuk redakan kekuatiran pak Julio. Tak enak juga membuat laki itu kuatir terhadap keponakan dia.
"Alhamdulillah....aku akan ke sana sebelum ke kantor. Bapak ada bawa sarapan untuk kalian."
"Yang lain sudah pada pulang pak. Tinggal aku sendirian."
"Oh gitu ya. Ok...bapak bawa untukmu saja. Tunggu di sana. Kita jumpa nanti."
"Terimakasih pak..bolehkah saya minta tolong?"
"Boleh asal positif..."
"Gini pak...ponsel aku sudah lowbat. Bisakah minta pinjam cas ponsel?"
Kevin menangkap tawa derai bergema dari seberang sana. Pak Julio pasti tak sangka kalau Kevin akan minta dibawakan cas ponsel. Hal ini tentu bukan hal besar namun penting buat Kevin. Tanpa gadget semua hubungan dengan kerabat dan anggota kantor pasti putus total.
"Baik nak...tunggu situ! Bapak segera datang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..." Kevin menutup ponselnya dengan lega. Untung dia jumpa orang baik bisa jadi dinding sandaran buat dia. Pak Julio mau bantu Kevin pasti karena Gina dan Gani. Selama ini hubungan Kevin dan Pak Julio sebatas rekan bisnis. Kini mereka telah terikat hubungan keluarga. Wajar kalau pak Julio ulurkan tangan angkat Kevin.
Kevin tak peduli sampai di mana niat baik pak Julio. Dia mau bantu Kevin karena Gina atau bukan yang penting Kevin telah jumpa orang bersedia sumbang tenaga dan pikiran.
Perut Kevin tidak terasa lapar walaupun belum diisi apapun dari tadi pagi. Kevin sudah merasa kenyang menelan semua masalah yang muncul serentak. Kenyang karena masalah bukan dari makanan.
Kini Kevin hanya bisa menunggu kehadiran bibik dan Pak Julio. Bibik bertugas menemani papanya sedangkan pak Julio mesti beri solusi mengenai kejahatan Peter dan Mince. Semoga pak Julio punya cara antar penjahat itu ke penjara susul Angela. Tempat itu sangat cocok buat mereka kumpul bersama untuk rancang siapa jadi korban berikutnya.
__ADS_1
Hampir satu jam menunggu bibik duluan muncul. Seperti biasa bibik tampak selalu kuatir bila menyangkut diri Kevin. Bagi bibik Kevin ini tak ubah seperti anak kandung. Bibik yang rawat Kevin dari kecil hingga dewasa dan lalui banyak cobaan. Bibik datang sendirian tanpa ditemani oleh Gani maupun Jay. Wanita ini melangkah secepat pesawat jet tempur hampiri Kevin yang termenung.
"Nak Kevin..." seru bibik keras lupa kalau mereka berada di rumah sakit. Bibik terlalu kaget dengar Gani suruh dia datang ke rumah sakit. Dalam pikiran bibik pasti Kevin yang sedang kurang sehat. Kevin ini kan langganan dokter jiwa.
Kevin berdiri begitu suara bibik bergema penuhi lorong ruang ICU. Kevin tak sangka kalau bibik akan beri reaksi berlebihan.
"Ssttt bik...di sini tak boleh ribut. Bibik kok sendirian? Mana Gani?"
Bibik mendekap mulut menyesal telah kelepasan bersuara besar. Hati bibik agak lega lihat anak lindungannya tak kurang apapun.
"Gani antar bibik sampai depan langsung ke kantor bersama nak Jay. Siapa yang sakit? Kamu sehat kan?" bibik meraih badan Kevin memutar periksa kalau anak asuhnya dalam kondisi seratus persen fit.
"Aku tak apa...Gina masih dalam pengawasan dokter. Dia hampir meninggal."
Bibik kembali dekap mulut kaget dengar majikan ceweknya baru saja alami siksaan berat. Bibik tak rela majikannya disakiti oleh siapapun terutama Kevin. Bibik merasa ikut sakit hati bila Kevin sakit.
"Dia tak apa kan?" tanya bibik berbisik takut ganggu orang lain.
"Alhamdulillah dia selamat...oya bik...aku mau bibik rawat mantan majikan bibik dulu. Dia ada di sini sedang sakit juga."
Kening bibik berkerut berusaha membaca maksud Kevin. Bibik belum ngeh ke mana arah omongan Kevin. Mantan majikannya sudah lama meninggal. Majikan mana lagi yang dimaksud oleh Kevin.
"Jangan berbelit bikin bibik pusing!" bibik merepet kurang suka
Kevin main teka teki. Bukan zaman bibik main teka teki dengan anak muda.
"Itu yang tadi pagi diantar ke rumah sakit. Bibik kan tahu siapa yang sakit di depan pintu pagar rumah. Belum pikun kan?"
"Demam tinggi dan naik asam lambung. Aku harus urus Gina jadi dia kuserahkan pada bibik."
Bibik berpikir sejenak sebelum terima tugas dari Kevin. Entah mengapa bibik merasa tak rela bila harus rawat musuh anak asuhnya. Tapi bibik tak boleh egois pentingkan amarah abaikan nilai kemanusiaan.
"Kenapa dia bisa sakit di luar? Jangan-jangan ditendang oleh perempuan laknat itu!" kata bibik lebih menyerupai umpatan.
"Bibik hebat..tebakan bibik betul! Kita tak punya pilihan selain sembuhkan dia agar bisa lawan perempuan laknat seperti kata bibik. Ayok kuantar ke sana! Bibik jangan ajak dia tengkar ya! Kondisinya belum fit."
Bibik melengos sok angkuh, "Maunya biarin saja!"
"Sudah bik...jalan ke surga makin terbuka untuk bibik." bujuk Kevin agar bibik tidak tenggelam dalam dendam masa lalu. Pembantu model bibik sudah langka. Matian bela majikan demi keadilan. Bibik rela tak menikah demi menjaga Kevin sampai sekarang. Kevin sendiri sudah anggap bibik sebagai ibu sendiri. Hubungan mereka bukan antara majikan dan pembantu melainkan ibu dan anak.
"Sewaktu senang lupa pada kita. Giliran susah cari kita." omel bibik sepanjang jalan menuju ke ruang IGD. Jelas bibik belum ikhlas terima kehadiran papa Kevin. Kevin hanya bisa tarik nafas sesak tak bisa salahkan bibik bila benci pada papanya.
Apa yang diungkap oleh bibik semuanya benar. Waktu senang lupa pada anak yang terlantar. Kini susah baru datang pada anak.
Kevin tinggalkan bibik dekat papanya. Kevin tak mau lihat bagaimana bibik perlakukan papanya. Namun Kevin yakin bibik takkan ekstrim celakai papanya. Kevin kenal baik watak bibik tang welas asih.
Kevin harus segera menjumpai Pak Julio untuk membahas masalah Peter dan Mince. Itu lebih penting karena menyangkut perusahaan juga harta papanya. Mana boleh mereka kuasai harta papanya seenak dengkul.
__ADS_1
Sesuai janji pak Julio datang sendirian membawa makanan buat Kevin. Laki itu tampak lebih segar setelah tahu keponakannya dalam keadaan stabil. Pak Julio berjanji akan lebih hati-hati jaga kedua keponakannya demi Bu Sarah.
Mereka berdua jumpa sekitar ruang ICU agar tak jauh dari Gina. Setiap saat Gina bisa sadar minta jumpa mereka maka mereka harus stand by di situ. Pak Julio menyerahkan paper bag berisi makanan pada Kevin walaupun Kevin tidak terlalu semangat untuk mengisi perut. Pak Julio tahu Kevin tak peduli makanan mengingat istrinya masih berada di tempat emergency.
"Makan dulu nak! Kamu harus kuat untuk jaga Gina. Kalau kamu sakit siapa yang akan jaga dia?" Pak Julio ingatkan Kevin untuk segera makan. Tas itu masih dipegang tanpa ada niat pindah ke perut.
"Pak...papa aku sakit! Dia juga dirawat di sini." Kevin langsung buka pokok masalah abaikan peringatan pak Julio.
"Sakit apa?" tanya pak Julio lembut.
Kevin goyangkan paper bag di tangan berat untuk ungkap kegalauan bercokol dalam dada. Betapa memalukan seorang suami diusir seperti gelandangan oleh istri. Tapi kalau tak cerita pak Julio gimana mau turun tangan bantu dia.
"Papa diusir oleh istrinya dalam kondisi sakit. Mereka sudah merebut semua hak papa. Surat semua mereka kuasai."
Pak Julio menghela nafas. Untung dia tak punya penyakit seperti laki lain umumnya. Berselingkuh tak ada yang berakhir manis. Selalu muncul kisah tragis setelah lewati satu masa. Persoalan Subrata belum tuntas kini menyusul kemelut keluarga Kevin. Kevin dan Gina memang pasangan ditakdirkan bersama setelah lalui masa kelam.
"Apa papa kamu ada tanda tangan peralihan sertifikat tanah?"
"Kurasa tidak...cuma mereka itu penuh akal licik. Mereka pasti akan tempuh segala cara untuk minta persetujuan papa ambil alih semua aset. Yang saya sesali saudara dekat ikut terlibat."
Pak Julio angkat kepala menatap Kevin penasaran siapa yang dimaksud Kevin. Siapa punya nyali begitu besar berani manipulasi surat tanah.
"Siapa?"
"Peter...dia itu saudara sepupu saya dari sebelah mamaku. Kupikir selama ini dia membantu aku dengan tulus. Ternyata dia bekerjasama dengan Mince kelabui aku. Sekarang aku tugaskan dia kelola hotel di Bali. Tapi papaku bilang dia ada di sini mau tipu aku tanda tangan peralihan perusahaan. Betapa jahat dia. Peter tak tahu kalau perusahaan sudah dialihkan ke Gina. Apa saran bapak?"
Kepala Pak Julio juga pusing memikirkan persoalan ini yang cukup ribet. Masalah keluarga Kevin lebih ribet daripada masalah keluarga Mahabarata. Semua saling berkaitan jadi harus dimulai dari mana.
"Kau ambil alih hotel di Bali dulu. Apa itu juga termasuk aset Gina?"
"Tidak...saya berencana memberikan hotel itu kepada Peter agar kelak dia mempunyai pegangan hidup. Tapi siapa sangka dia begitu tamak ingin menguasai seluruh harta aku."
"Kamu belum sempat ucapkan hibah hotel Peter bukan?"
"Belum.."
"Bagus...kau kirim auditor ke sana untuk audit pembukuan hotel. Dari situ kamu bisa cari kesalahan Peter dan tendang dia. Soal papa kamu hukum yang bisa bantu. Kamu lapor polisi bahwa pelantaran orang tua serta perampasan hak milik. Nanti pihak polisi akan periksa semua surat berharga papa kamu. Serahkan pada bapak soal papa kamu. Kamu cuma perlu perintah auditor ke Bali periksa semua pembukuan. Kamu fokus jaga Gina saja. Tak perlu pikir yang lain."
Kevin menatap pak Julio dengan mata berkaca-kaca terharu dengan tanggapan pak Julio. Pak Julio sangat bijak sebagai orang tua. Dia tak biarkan Kevin berjalan sendirian meraba dalam kegelapan.
"Terimakasih pak..."
Pak Julio tersenyum ramah perlihatkan sikap orang tua bertanggung jawab pada anak. Andai semua orang tua seperti pak Julio tak ada lagi anak terlantar.
"Sekarang makanlah! Bapak akan segera ke kantor sekaligus kumpulkan bahan untuk buat laporan. Bapak harap kerjasama kamu dan papa kamu."
"Iya pak... sekali lagi terimakasih! Saya bingung tak tak tahu harus bagaimana di saat ini. Otakku terasa buntu."
__ADS_1
"Maka itu isi perut biar otak cas. Hampir lupa...ini cas yang kamu minta. Asyik ngobrol jadi lupa...habiskan masakan ibumu biar dia tidak kecewa. Ibu sengaja masak untuk kamu."
Kevin merasa makin tak enak hati merepotkan keluarga pak Julio yang baik hati. Sungguh mulia hati pak Julio bersedia ambil alih kegundahan Kevin.