
Gina membuka map tebal lalu bentangkan di meja kasih kode pada laki itu untuk lihat perjanjian kontrak telah kadaluarsa serta sisa hutang yang nominal cukup besar. Mungkin hampir separuh uang perusahaan Subrata milik Perusahaan opanya. Kalau Gina tarik dananya Mahabarata akan segera kolaps. Memang itu harapan Gina lihat Mahabarata tersungkur.
Subrata melihat ke arah map yang disodorkan Gina sambil mengerut kening. Apa hak anak ini menuntut dia menjelaskan semua data dalam catatan map.
"Apa maksudmu?" tanya Subrata dingin.
Gina rilexkan badan bersandar pada dinding kursi lalu lontarkan tawa sinis. Subrata memang bodoh atau pura-pura bodoh tak mau tahu tujuan Gina.
"Tuan Subrata ini pikun atau kena penyakit alzheimer? Di sini jelas kontrak kerja sudah berakhir setengah tahun lalu dan belum diperpanjang. Lalu hutang yang capai tiga ratus milyar lebih. Ada penjelasan?" Gina serang balik dengan suara tak kalah dingin. Gina merasa tak ada guna berbaik hati dengan manusia model ini. Sudah bersalah masih berada merasa berada di atas langit bisa menekan orang.
"Dasar apa aku harus beri jawaban kepada kamu? Aku akan jumpa pak Hartono."
"Oh gitu...baik. Kita panggil Hartono biar anda puas." Gina beri perintah pada Dinda untuk panggil Hartono agar hadir di ruang kerjanya supaya Subrata mendapat rasa malu berkali lipat. Gina tak mau langsung mengaku kalau sekarang perusahaan di bawah kendali dia.
Gina menunggu dengan santai sambil putar-putar kursi mahal kiri kanan seperti anak kecil sedang cari kegembiraan. Angela agak gusar lihat betapa angkuhnya Gina terhadap mereka. Gadis itu tak pandang mereka sebagai rekanan bisnis malah melecehkan kehadiran orang-orang itu.
Jika perlu Angela ingin sekali menampar pipi Gina agar sadar bahwa yang dihadapi adalah orang-orang tajir. Angela masih pikir Gina mudah dibully seperti di kantor Kevin. Gina hanyalah bawahan teman anaknya yang bisa diatur semau dia.
Tak lama Hartono hadir didampingi oleh Dinda. Kedua bawahan Gina tampak grogi berada di posisi serba sulit ini. Subrata terlalu bodoh sesumbar tak mau urusan dengan Gina. Subrata tak tahu kalau angin di perusahaan telah berubah arah. Hartono saja bisa dicopot oleh Gina setiap saat.
"Untung kau datang pak Hartono! Anak ini meminta tanggung jawab sisa hutang bon aku serta masalahkan kontrak kerja kita. Bukankah kau bilang semuanya berjalan aman?" Subrata langsung ramah pada Hartono.
Gina aktifkan alat perekam di laptop supaya ada bukti semua omong kosong Subrata dengan Hartono. Sampai detik ini Gina belum punya ponsel pintar maka harus sabar gunakan alat seadanya. Gina mana mungkin lewatkan kesempatan bagus ini cemplungkan Subrata dalam kubangan.
"Ini...ini..." Hartono gagap tak bisa jawab takut kesalahan dia terbongkar lebih dalam. Ekor mata Hartono mengarah pada Gina yang tampak santai anggap Hartono mampu tangani Subrata.
"Kau tahu aku tak mau berurusan dengan yang lain karena kamu yang bisa ambil keputusan. Besok kita perpanjang kontrak kerja cuma mengenai hutang kurasa kita bisa tarik sedikit waktu lagi. Beri aku waktu setahun untuk lunasi sisa bon lama. Aku janji akan perhatikan biaya sekolah anak pak Hartono di Australia. Ok?" Subrata tak pandang Gina secuil pun. Laki itu sibuk membujuk Hartono agar beri kelonggaran selesaikan hutang yang lumayan menumpuk.
Hartono menunduk tak bisa beri jawaban apapun berhubung owner perusahaan sedang memantau mereka. Dinda kebat kebit mendengar semua percakapan yang hanya beratkan Hartono selaku CEO yang diangkat pak Mul. Dosa Hartono bertambah satu ember telah jual perusahaan demi keuntungan pribadi.
Gina biarkan mereka saling beri janji. Jika perlu janji sehidup semati biar sama-sama diantar ke penjara nikmati hidup nyaman di sana. Gina memutar mata beningnya senang dapat bahan untuk jerat para maling perusahaan.
Wajah Hartono makin pucat dibongkar semua bobroknya di depan Gina. Masalah dana perusahaan belum kelar kini muncul lagi dosa baru bantu orang tutupi hutang mendapat imbalan berupa biaya sekolah anak. Hampir separuh badan Hartono telah ditenggelamkan dalam comberan kotor. Tinggal tunggu Gina injak kepala Hartono biar terbenam ke dalam sampai total.
__ADS_1
"Mengapa harus dia? Anak kecil sok kuat!" bentak Subrata tak sabaran harus berurusan dengan Gina. Subrata tahu kalau dia urusan sama Gina pasti akan dipersulit. Gadis itu tak sabar mau lihat Subrata cepat tewas.
"Begini pak! Nona Gina adalah presiden komisaris perusahaan ini. Semuanya berada dalam pantauan nona Gina. Aku minta maaf. Kita harus ikuti semua arahan nona Gina." Hartono buka status Gina biar jantung Subrata berhenti.
Subrata melongo tak percaya pada pendengaran sendiri. Anak kandungnya ini adalah owner perusahaan raksasa ini? Karangan bohong dari mana? Subrata tak percaya omongan Hartono malah berbalik melihat ke Dinda minta kepastian.
Dinda mengangguk benarkan perkataan Hartono. Anggukan Dinda seperti ujung panah menusuk hati Subrata tepat di ulu hati. Laki itu kontan lemas lunglai hilang seluruh tenaga. Aliran darah Subrata terhenti seketika tak mengalir seluruh badan sehingga laki itu pucat pasi.
"Komisaris?" gumam Subrata belum percaya.
"Benar pak. Nona Gina sudah ambil alih seluruh kegiatan di perusahaan. Silahkan lanjut diskusi dengan nona soal pembayaran hutang dan kontrak kerja. Aku tak bisa bantu apa-apa lagi."
Subrata lemas tak punya daya untuk bertengkar dengan Gina lagi. Kuku runcing Gina pasti akan cakar dia sampai ke dalam hati. Angela yang cerdik cepat tangkap situasi memasang wajah lembut hendak rayu Gina agar lunak pada suaminya. Angela tak tahu kalau moments ini sudah ditunggu Gina puluhan tahun untuk tuntaskan dendam dalam dada. Gina mana mungkin lepaskan Subrata bernafas lega rasakan udara polusi disekitarnya.
"Nyatanya anakku toh komisaris sekarang. Pak Hartono tak usah kuatir. Gina ini anak kandung kami. Ini akan menjadi urusan keluarga." ujar Angela sok lembut bikin Hartono dan Dinda keheranan. Dari mana pula talian persaudaraan antara Subrata dengan Gina. Mengapa baru sekarang terungkap jalinan persaudaraan antara mereka. Namun mereka berdua pilih bungkam melihat wajah Gina makin seram.
"Siapa anak kalian? Aku ini anak ayah dan ibuku. Aku tak ada hubungan apapun dengan kalian. Tak usah sok akrab ngaku-ngaku keluarga. Aku ini tak ada hubungan darah sedikitpun dengan keluarga kalian." bentak Gina menyurutkan nyali Angela. Muka Angela kontan pucat tak dapat respon baik dari Gina.
Subrata sudah menduga Gina akan keras kepadanya berkaitan dengan kisah masa lalu. Subrata tertawa pahit sekian puluh tahun akhirnya ada yang muncul tegakkan keadilan buat Sarah. Tidak tanggung-tanggung anak kandungnya sendiri jadi musuh utama dia. Gina telah berhasil menjejal langkahnya untuk maju ke depan. Kini langkahnya sudah mati.
"Tiga hari..." kata Gina tak gunakan perasaan. Kekejaman menjadi topeng wajah Gina detik ini.
"Kau gila ya? Ini bukan jumlah kecil. Dari mana aku bisa sediakan uang segitu banyak dala tempo tiga hari."
"Apa peduli aku? Apa kau masih punya tenggang rasa sebagai manusia? Kau tak punya maka aku lebih tak punya. Sebut saja aku ini setan! Setan yang tercipta dari dua puluhan tahun lalu. Silahkan pergi dari kantor ini dan kembali tiga hari kemudian atau kita jumpa di pengadilan. Aku akan eksekusi perusahaan kamu bila tak tepat waktu."
Angela dan Subrata terhenyak mendengar kekejaman Gina. Tak beri peluang sedikitpun pada Subrata untuk bernafas lancar mencari uang lumayan besar.
Hartono dan Dinda ikutan pucat tak sangka gadis muda yang tampak imut punya kekuatan tersembunyi beri pelajaran pada orang yang dia anggap bersalah. Hartono harus berpikir lebih cepat tutupi kecurangan dia biak tak mau berakhir di penjara. Pengusaha sekelas Subrata saja tak mampu lawan kekerasan hati Gina apalagi mereka yang hanya pelaksana kerja.
"Gina...kau jangan kelewatan! Ini papa kamu...apa yang kau inginkan dari kami? Aku bersedia mengembalikan papa kepada kamu biar bersatu lagi dengan ibu kamu. Kita hidup damai saja buka lembaran baru. Aku yakin ibumu pasti akan terima papamu lagi." Angela mulai panik hilang akal tawarkan Subrata kepada Gina agar kembali pada ibunya.
Di luar dugaan Gina tertawa terbahak-bahak mengejek betapa licik otak Angela. Halalkan segala cara untuk bertahan di puncak tangga. Sungguh tak tahu malu sampai tawarkan suami sendiri jadi tumbal materi.
__ADS_1
"Ibuku tak perlu sampah. Kami tak pungut sampah yang sudah dibuang. Ibuku wanita mulia bukan sampah masyarakat yang obral segalanya demi materi. Aku tak ajak kalian negosiasi melainkan menagih hutang. Aku tak keberatan kelola Mahabarata tapi nama itu akan kusingkirkan karena sudah tak berguna. Ingat...waktu kalian cuma tiga hari. Hidup ini penuh kejutan bukan?"
Subrata ingin sekali menampar wajah Gina yang dia anggap kurang ajar berani lawan orang tua. Namun Subrata sadar bahwa mencari masalah dengan Gina saat ini hanya memperpanjang konflik antara mereka. Subrata sudah pasti tak bisa bayar dalam tempo tiga hari. Dari mana dia korek uang cash dalam waktu sangat singkat.
Angela tak tahan lihat keangkuhan Gina terhadap mereka. Seorang gadis muda menginjak harga diri Mahabarata yang sudah lama ke sohor di dunia bisnis. Mahabarata tak ada artinya di mata Gina.
"Kau pikir bisa tekan aku? Kau anak kemarin sore apa ngerti cara berbisnis? Setiap rekanan bisnis punya tenggang rasa terhadap bon pembayaran. Kau ngerti apa?" bentak Subrata mau dahului Gina berbuat keras.
"Aku tak perlu ngerti apa-apa. Bon anda sudah jatuh tempo tapi tak mau bayar. Mahabarata masih berdiri kokoh artinya perusahaan kalian tak ada masalah cuma mau ngeles tak mau bayar hutang. Itu sangat gampang diurus. Tinggal kita jumpa di pengadilan sampai pihak kejaksaan eksekusi perusahaan kalian menjadi anak perusahaan aku. Cukup itu saja. Kurasa kita tak perlu buang waktu lagi bahas satu masalah ini. Aku sudah persiapkan segalanya termasuk mencekal orang yang bersangkutan ke luar negeri." ujar Gina tersenyum tipis.
Di mata Subrata anak kandung sekaligus musuhnya itu seperti monster kecil namun berbahaya. Gadis itu tidak ragu sedikitpun mempermalukan dia di depan orang lain. Gina samasekali tak pernah anggap Subrata itu bagian dari hidupnya.
"Kamu jangan terlalu pongah anak kecil! Aku masih bisa hubungi pak Mul untuk pindahkan kamu ke tempat lain."
"Silahkan! Mungkin anda harus buka mata lebih lebar perusahaan ini tercantum nama siapa. Pergilah dari sini dan kembali setelah tiga hari kemudian!"
Subrata merasa dadanya sesak oleh tekanan dari Gina. Subrata tak sangka akan mempunyai seorang anak kandung yang sekeras baja. Lebih celaka lagi kalau anak kandungnya itu ingin menghancurkan dia sampai berkeping-keping. Mengapa Gina tak bisa menerima kenyataan kalau masa lalu telah berlalu dan lembaran baru sedang menunggu mereka.
Subrata belum ngerti dari mana Gina mendapat hak sepenuhnya di perusahaan ini. Apa hubungan pak Mul dengan Gina sampai rela berikan seluruh kekuasaan kepada anak bawang itu. Masih banyak misteri yang belum diketahui oleh Subrata termasuk Sarah menikah dengan Sabri. Subrata masih bermimpi kalau Sarah belum move on dari cintanya. Mimpi di siang bolong.
"Gina...ingatlah kakak kamu! Di itu sayang pada kalian. Jangan kecewakan dia. Lucia selalu berharap bisa berdamai dengan kamu." bujuk Angela mulai pasang jeratan lain cari rasa iba Gina. Sayang sekali Gina tak punya rasa iba kepada keluarga ini.
"Cukup...aku bosan mendengar ocehan kalian. Satu kali lagi kukatakan kalau aku ini bukan siapa-siapa kalian. Ibuku Sarah dan ayahmu Sabri. Itu saja!"
Subrata besarkan mata mendengar nama Sabri. Sahabatnya di masa lalu telah menjadi ayah Gina. Setahu Subrata kalau Sarah itu belum berkeluarga terakhir jumpa di rumah sakit. Sekarang Gina klaim Sabri ayahnya. Cerita apa tertinggal di belakang?
"Gina...ibumu sudah menikah dengan Sabri?"
"Iya..dia yang besarkan kami. Dia lelaki mulia tidak mudah termakan rayuan perempuan malam. Dialah malaikat kamu! Mau tanya apa lagi tuan Subrata? Takut jadi orang miskin?"
Kepala Subrata mendadak pusing memikirkan berbagai kemalangan nasibnya. Pamornya mulai runtuh dikuas oleh Gina dengan cat warna hitam. Lembaran kelam sedang terbentang di depan mata.
"Aku tak percaya ibumu telah lupa padaku." gumam Subrata linglung.
__ADS_1
Gina tertawa ngejek senang Subrata tetap hidup dalam dunia khayal bayangkan ada orang masih berharap cintanya. Cinta palsu berdasarkan nafsu. Gina tak menyesali ibunya tinggalkan Subrata merajut kisah cinta lebih indah bersama Sabri.
"Pede amat tuan Subrata! Nona Dinda silahkan antar tamu yang banyak omong kosong! Kuingatkan pada kalian semua kalau aku ini bukan orang ramah suka basa basi. Setiap peraturan yang telah dibuat harus dipatuhi. Tinggalkan aku!" Gina duduk memutar kursi belakangi semua yang berada di depan mata.