
Ardi tidak berani mengambil kesimpulan apa yang disampaikan oleh Lucia karena dia tidak mengetahui permasalahan Kevin di masa lalu. Ardi pun tidak punya hak untuk mengetahui hal itu jika Kevin tidak bercerita. Tugasnya hanya menegakkan keadilan buat Kevin dan papanya.
"Aku tak tahu itu Cia.. sekarang kau mandi yang wangi jumpai Gina. Drama dikit biar Gina luluh mau ringankan hukuman mama kamu. Tapi untuk bebas toral itu tak mungkin. Nanti kami yang dianggap menerima suap membebaskan Mama kamu."
"Iya pak... cuma aku masih kepikiran Peter mengapa bisa terjatuh di dalam kubangan dosa. Ada jalan lurus tak mau dilalui mengapa pilih jalan berkelok-kelok menuju ke jurang."
"Itulah manusia! Selalu mau coba jalan penuh tanjakan tanpa pikir akibat. Aku masih banyak pekerjaan. Kamu cepat berberes temui Gina. Jangan lupa sikat gigi ya!" gurau Ardi coba halau kegundahan di hati Lucia. Sebagai seorang polisi tidak selalu harus terlihat kaku dalam keseharian. Ardi juga manusia punya rasa humor.
"Isshhh...pikir aku jorok? Aku akan gunakan satu ember pasta gigi lalu satu galon obat kumur supaya gigiku kinclong."
"Kalau gitu temui aku dulu. Aku mau lihat seberapa segar nafasmu."
"Emang berani cium bau nafasku?" tantang Lucia menunggu reaksi Ardi. Kalau Ardi bercanda melebihi batas teman mengapa Lucia tak berani ladeni.
"Berani asal diijinkan!"
"Ok...nanti kita lihat seberapa besar nyali pak polisi. Aku bersiap dulu cari sikat kamar mandi."
Ardi tertawa terbahak-bahak dapat balasan tak kalah konyol dari Lucia. Teman-teman Ardi sesama polisi melototi komandan mereka dengan tatapan heran. Dengan siapa komandannya itu ngobrol sampai tertawa memenuhi seluruh ruangan kerja. Ardi jarang bertingkah aneh di kantor apalagi tertawa segede gitu. Itu kejadian langka.
Dalam hati mereka hanya bertanya-tanya siapa gerangan yang memiliki kemampuan demikian besar mampu menggerakkan hati yang selalu dingin itu. Orang itu pasti memiliki sesuatu keistimewaan baru bisa pancing tawa derai sang komandan. Tawa Ardi merupakan pertanda baik karena kantor polisi selalu indentik seram. Orang pada lupa kalau polisi juga manusia terbuat memiliki perasaan. Bisa senang maupun sedih.
Lucia tak buang waktu segera mandi berdandan cantik memenuhi undangan sang polisi bersuara seksi. Ada rasa tak sabar ingin bertemu laki itu. Lucia tak tahu itu pertanda apa. Apa secepat itu dia lupakan cinta pada Kevin. Cinta pada Kevin dipupuk dari tahun ke tahun. Tak pernah berkembang walau telah diberi pupuk termahal. Artinya Kevin bukan jodoh Lucia. Lebih baik Lucia incar taman lain tanam bunga jenis lain yang cocok untuk dipandang mata.
Lucia bertemu Subrata yang tampak makin sehat sejak dapat pengakuan dari Gina. Lucia tak boleh iri pada Gani dan Gina mampu membangkitkan semangat hidup Subrata. Sudah waktunya Subrata membayar kesalahan di masa lalu.
Subrata meletakkan koran mengalihkan mata ke badan anak sulungnya. Subrata bersyukur Lucia tidak muram durja pagi ini. Lucia bersedih memikirkan nasib mamanya bakal diganjar hukuman penjara cukup lama. Sejahatnya Angela tetap mama Lucia.
"Segar sekali..."
"Mau keluar bentar pa...papa tidak ke kantor?"
"Lagi tunggu jemputan. Kemarin papa suruh mang Imin bawa pulang mobil. Kau mau ke mana?"
Lucia tertegun mendengar pertanyaan papanya. Lucia memang ini menjumpai Gina untuk memohon kepada gadis itu memaafkan mamanya. Apa dia harus jujur kepada siapa mengatakan hal sebenarnya. Takut Subrata tak akan keberatan dia menemui Gina dan menciptakan masalah baru antara saudara itu. Gina bukanlah orang yang mudah ditaklukkan.
"Cia pergi jumpa kawan pa..."
Subrata angguk kecil. "Hati-hati di jalan. Kau ada pergi lihat mama kamu?"
"Ada...mama sudah sangat kurus! Dia rindu pada papa."
Subrata sedih juga dengar Angela telah kurus. Baik buruk Angela telah menemani dia lalui waktu cukup panjang. Subrata tak tidak bisa melupakan hari-hari indah yang dia lalui bersama Angela walaupun terakhir ternodai oleh kelakuan wanita itu. Beraninya Angela melakukan pembunuhan terhadap anak kandungnya. Dosa Angela tidak terampuni.
"Seringlah pergi lihat dia! Dia itu mama kamu."
Lucia ngerti Subrata juga sedih. Salah Lucia sendiri buat skandal melukai hati papanya. Subrata telah korbankan anak istri demi menyayangi Angela tapi balasan Angela menyakitkan. Tak mudah beri kata maaf pada wanita itu. Masih terbayang di mata Subrata foto pengkhianatan Angela.
__ADS_1
"Cia tahu pa...mama memang bersalah apakah tak ada kata maaf dari papa?"
"Papa sudah memaafkan mamamu tapi untuk bersama lagi itu tak mungkin. Bukan karena dia masuk penjara melainkan pengkhianatan yang dia lakukan."
"Cia ngerti...Cia pamitan dulu." Lucia melangkah pergi tidak peduli Subrata setuju atau tidak. Lucia bukan Gani dan Gina yang tak pernah tinggalkan kesopanan bila hendak pergi dari rumah. Sepatah kata salam tetap meluncur dari bibir keduanya. Didikan Sarah beda dengan Angela. Sarah hujani anak dengan ilmu pengetahuan juga ilmu agama agar tidak tersesat. Beda dengan Angela hujani Lucia dengan harta supaya anaknya tampak high class. Pantas Lucia miskin tata Krama.
Lucia meluncurkan mobilnya ke kantor polisi untuk mengabulkan permintaan Ardi merasakan betapa segala nafasnya. Lucia ke sana bukan ingin menciptakan sensasi melainkan mencari perhatian polisi itu. Menaruh sedikit harapan membuka lembaran baru bersama lelaki lain bukanlah perbuatan melanggar hukum. Saatnya Lucia menyingkirkan bayangan Kevin yang kini jadi adik iparnya.
Ardi terpana atas kehadiran Lucia di kantor. Tak urung Ardi malu didatangi gadis itu. Semula Ardi mengira Lucia hanya bercanda menantang dia. Mana ada gadis begitu berani usik aparat sedang bertugas. Kedatangan Lucia bawa misi tak lazim mau pamer kesegaran mulut. Ardi mana berani dekati Lucia apalagi harus hirup nafas segar gadis itu. Sama saja ingin mencium bibir Lucia baru tahu seberapa segar nafasnya.
Aparat lain bersiul menggoda sang komandan didatangi cewek cantik. Kini mereka paham kalau orang yang berhasil memancing tawa komandan adalah makhluk Tuhan paling indah ini.
Ardi malu bukan main digoda temannya berbagai cara. Ada yang bersiul, ada yang bikin tanda love di atas kepala bahkan ada kirim tanda cinta pakai tiupan bibir. Kalau tak ada Lucia Ardi pasti sudah jitak kepala para anggota itu. Bikin malu saja.
Ardi beri kode pada Lucia keluar dari kantor biar atk jadi sasaran empuk godaan temannya. Lucia pasti akan malu sendiri bila teman-temannya terus sambil mengganggu gadis itu. Lucia memahami kode dari Adi segera angkat kaki setelah memberi anggukkan kepada teman-teman Ardi.
"Mas lagi mau usut maling nih!" seru salah teman Ardi.
"Maling apa bro?" timpal yang lain dengan suara tak kalah deras.
"Maling hati... dipenjara dalam kalbu..."
Tawa derai penuhi ruangan itu. Gurauan teman Ardi kena menancap ke tubuh kedua insan yang masih malu-malu kucing.
"Maafkan temanku ya!" kata Ardi setelah keduanya berada diluar. Lucia manggut-manggut tak ambil hati. Lucia tahu ini hanya gurauan menggoda mereka berdua. Lucia bukannya marah malah senang dihubungkan dengan Ardi. Siapa tahu gurauan ini berubah menjadi kenyataan.
"Bukan antar nafas segar wangi fresh mint?"
Lucia membesarkan mata jengah Ardi masih ingat gurauan mereka tadi. Malu juga diingatkan olokan dalam telepon.
"Itu harus ada label halal dulu. Bapak ibunya label itu?"
"Kau mau? Kalau kau mau aku siap pergi ke kantor agama untuk membeli hak paten label halal itu." Ardi maju selangkah memberanikan diri mengungkap rasa suka kepada Lucia.
"Bapak berani usulkan?"
"Berani dong! Masak seorang polisi ada yang ditakuti. Kau berani terima aku berani masukkan proposal."
"Berani...deal?" Lucia mengulurkan tangan mau menyalami Ardi sebagai tanda setuju menerima label halal dari laki itu.
Ardi tertegun sejenak lantas menyambut tangan mungil Lucia penuh suka cita. Cara tembak anak orang model baru. Dari canda menjadi serius. Kalau orang lihat mereka berdua tak tampak sedang saling janji melainkan bersalaman layak kawan lama.
"Kau tunggu aku bawa labelnya pada papa kamu. Sekarang pergilah jumpai adikmu. Percepat gerakan sebelum ada sidang pertama. Kalau ada pernyataan dari Gina maka hakim tak bisa beri vonis berat. Kasus mama kamu bisa hukuman mati atau seumur hidup. Paling ringan lima belas tahun penjara. Semoga Gina berbaik hati membantu mama kamu cuma dapat hukuma beberapa tahun." kata Ardi tanpa melepaskan tangan Lucia. Ardi paham saat ini Lucia butuh orang beri semangat.
"Iya pak.." Lucia kembali lesu bila teringat mamanya. Kegembiraan sesaat sirna lagi.
"Di dalam kau panggil aku bapak. Di luar panggil Aa' ya! Supaya label halal cepat terwujud."
__ADS_1
Lucia tersipu malu kena tembakan Ardi. Tembakan jitu tak melukai. "Iya Aa'...Aku pergi ya! Nanti aku kabari hasil pembicaraan dengan Gina."
"Pergilah... hati-hati bawa mobil. Label halal menunggu."
Lucia mengangguk angkat kaki dari teras kantor polisi. Ardi menatap prihatin pada Lucia. Anak ini minus pelajaran agama. Datang dan pergi nyelonong gitu saja tanpa indahkan siapa lebih tua.
"Cia...ada yang lupa?" tegur Ardi menahan langkah Lucia.
Otak Lucia belum kena cas tak paham apa maksud Ardi. Apa yang lupa dia bawa. Dia datang tak bawa apa-apa bagaimana bisa lupakan sesuatu. Lucia balik lagi hampiri Ardi mau jelas apa yang tercecer.
"Apa Aa'?"
"Assalamualaikum..."
"Oh...maaf.. Assalamualaikum Aa'.." Lucia malu sendiri tak peka sebagai orang beragama. Yang paling lumrah diucapkan oleh umat Islam dia tak tahu. Gimana mau berperan sebagai calon yang membanggakan.
Ardi melambai biarkan Lucia pergi. Ardi punya harapan Lucia sanggup meluluhkan hati Gina. Dia takkan terjebak dalam posisi serba sulit. Ardi sedang bangun hubungan dengan Lucia di sisi lain dia akan penjarakan calon mertua masa depan. Bukankah Ardi sedang dihadapkan dua gelas minuman beracun. Minum yang mana saja akan bawa petaka.
Harapan Ardi terletak di tangan Gina. Semoga hati Gina ada sedikit belas kasihan pada perempuan yang sudah K O itu. Angela tak punya daya lawan Gina yang sekarang punya kuku runcing. Mau cakar siapa sudah sanggup.
Mobil Lucia berhenti di pelataran parkir gedung perusahaan Gina. Mata Lucia nanar melihat betapa hebatnya gedung perusahaan adik tirinya. Kalau Gina mau sombong tak ada yang bisa melarang. Dia punya segalanya bisa menyombongkan diri. Tapi itu bukan sifat Gina. Anak itu selalu low profil tak gembar gembor orang tajir.
Melihat semua yang dimiliki oleh Gina hati Lucia dipenuhi oleh keraguan. Apa mungkin Gina masih mau memandang dia sebagai kakaknya. Sebelum menjadi orang tajir aja Gina tidak mengakui keberadaan Lucia. Apalagi sekarang sudah menjadi orang nomor satu di perusahaan ini. Mungkinkah Gina mengerling mata ke arah dia.
Lucia harus bertaruh walaupun nanti ditolak oleh Gina. Belum dicoba bagaimana bisa tahu akhir hasilnya. Lucia cari tempat parkiran teduh barulah masuk ke dalam kantor full AC itu. Suasana kantor sangat tenang menandakan pemimpin perusahaan menginginkan kantor damai. Ada kegiatan namun semua dilakukan dengan tertib.
Lucia mendekati meja resepsionis sebagai prosedur hendak jumpa orang penting di perusahaan. Tak mungkin juga Lucia nyelonong tanpa ijin masuk mencari Gina. Sanggupkah Lucia periksa Gina di setiap lantai? Yang mana ruang kerja Gina dia masih buta.
"Hai...ada yang bisa kubantu?" sapa Denada ramah dan manis. Senyum ramah tak pernah lepas dari bibir gadis itu kendati suasana hati sedang buruk. Salah satu tugasnya adalah jual senyum.
"Oh.. terimakasih. Aku mau jumpa Gina. Di lantai berapa ruang kantornya?"
"Maaf Bu...sudah ada janji?"
"Belum...katakan saja Kakaknya datang. Kak Lucia."
"Gitu ya. Silahkan tunggu! Aku akan coba tanya dulu apa Bu Gina ada waktu." sahut Denada sopan tak berani berkata kurang sopan apalagi Lucia menyebut dirinya adalah kakak Gina. Makin tak boleh asalan.
Denada meneleponi sekretaris Gina tanya apa bos mereka mau jumpa orang yang di maksud. Dinda harus tanya pada dulu pada Gina jika tak ingin kena semprot. Dinda segan sekali pada Gina berkesan bos killer.
Lebih kurang sepuluh menit Lucia menunggu akhirnya dia dapat jawaban dari Denada. Denada memutar keluar dari belakang meja berdiri langsung di hadapan Lucia. Sadar wanita di depannya adalah kakak dari bos Denada bersikap lebih sopan lagi. Senyum manis belum pudar dari bibir bergincu warna pink itu.
"Yok kuantar ke lift. Ibu bisa langsung sampai ke ruang kerja Bu Gina dengan lift khusus." Denada bungkuk badan sedikit mempersilahkan Lucia ikut dengannya menuju ke lift khusus.
Lucia makin kagum pada nasib Gina. Dari montir kini menjadi hartawan. Sekarang Gina tak kurang apapun dalam hidup. Wanita muda itu sudah miliki segalanya termasuk pasangan serasi.
Hidup ini bagai roda. Sebentar di atas sebentar di bawah. Nasib orang tak ada yang tahu. Siapa pernah sangka Gina si monster jelek kini menjadi burung cenderawasih dikagumi semua orang. Semua mata tertuju padanya apalagi di saat ekornya berkembang indah. Hanya ada satu kata untuk Gina yakni sempurna
__ADS_1