
Kevin bicara seakan tak ada masalah sedangkan Gina hampir mati tahan gejolak malu. Siapa tak malu bersama lelaki dewasa. Parahnya doyan pamer aurat pula. Apa Kevin tak punya ********. Harusnya Gina cari dukun sunat lihat apa Kevin ada ********.
Laki kok cabulnya nggak ketulungan. Suka-suka telanjang di depan orang lain. Gina mulai berpikir apa Gani juga sering disuguhi pemandangan demikian? Pantas saudaranya itu betah jadi asisten Kevin. Gani itu ada sedikit kelainan lebih suka dianggap cewek. Gina tak malu akui kekurangan Gani.
"Semalam makan semen ya sampai mengeras jadi batu?" sindir Kevin lihat Gina pasif pagi ini.
"Bos bicaranya kayak orang preman. Emang bapak sudah coba makan adonan semen? Beri contoh dulu baru kasih mengarahkan pada anak buah." Gina tak jaga mulut langsung lawan Kevin. Gina dilawan. Kapan Gina bersedia mengalah bila dia berada di posisi yang benar. Kevin bukanlah lawan Gina kalau berdebat mulut.
"Kau berani melawan majikan kamu?" tantang Kevin agak gusar Gina tidak ada hormat pada dirinya.
"Bukan majikan aku melainkan majikannya Gani. Aku ini hanya pengganti Gani selama 10 hari. Toh aku tidak takut dipecat." sahut Gina dengan sombong.
Kevin menunjuk Gina dengan gemas. Apa yang dikatakan oleh Gina adalah kebenaran. gadis ini mana takut dipecat dia memang bukan karyawan Kevin.
"Nanti aku akan bikin perhitungan dengan Gani ajak teman tak tahu adat." ancam Kevin gunakan nama Gani.
"Ooo..." Gina hanya bulatkan mulut menjawab ancaman Kevin. Gina yakin Kevin tidak akan berani pecat Gani karena dia membutuhkan asisten yang setia itu. Kalau dia tidak sayang pada Gani tak mungkin dia mengizinkan Gani pergi tour ke Korea. Sedikitpun Gina tidak terusik oleh ancaman Kevin.
"Ayo bersiap sarapan langsung ke kantor pak Julio! Jangan lelet!"
Gina malas jawab. Yang marah siapa yang lelet siapa? Gina sudah siap dari tadi untuk bertempur di ajang presentasi tender. Kali ini Gina takkan banyak bantu karena memang buta soal ini. Gina akan pilih diam agar jangan merusak rencana Kevin.
Gina persiapkan semua bahan untuk dibawa ke kantor Pak Julio. Kevin sudah persiapkan dengan matang jauh hari begitu pak Julio umumkan pelelangan tender.
Gina cek berulang kali agar tak ada yang terlewati. Ini pertarungan sesama pengembang. Gina berharap Kevin bisa tampil sebagai pemenang.
Kevin duluan keluar tinggalkan Gina dalam ruangan kamar. Laki itu mengetok pintu kamar Lucia berhubung sudah janji pada wanita itu untuk ikut ke lokasi tender. Kevin butuh keahlian Lucia merancang perhiasan yang diproduksi perusahaan Kevin. Selama ini hasil rancangan Lucia cukup sukses mendaur keuntungan karena semuanya sangar indah.
Gina keluar dari kamar lihat Lucia sudah bersama Kevin. Tak ada adegan cipika cipiki ucapan selamat pagi. Kevin bersikap datar pada Lucia tidak seperti layak pasangan sedang bercinta.
Kevin berjalan jauhi kedua gadis itu. Gina sama sekali tidak iba hati tak digubris oleh Kevin. Memang apa penting dia pada Kevin. Kalau bukan karena Gani Jangan harap Gina mau bekerja untuk orang sombong Kevin.
Beda dengan Lucia agak sedih diabaikan oleh Kevin. Dalam pemikiran Lucia kalau Kevin sudah punya pacar mungkin ada benarnya. Lucia akan kibarkan bendera berkabung menangisi nasib sialnya. Laki incarannya telah labuhkan hati pada dermaga lain. Padahal Lucia sudah sediakan dermaga termewah seantero dunia untuk Kevin sandarkan biduk hati.
Kevin mengajak kedua wanita itu sarapan di restoran untuk sarapan pagi. Kevin berlagak seperti maharaja didampingi permaisuri cantik dan pengawal tampan. Pagi ini Gina tidak tutupi wajah dengan masker bikin suasana hati para cewek bermekaran.
Pagi-pagi dapat pemandangan indah untuk cuci mata. Beberapa bule mengerling penuh arti pada Gina yang dianggap berondong berkelas. Bisa nginap di hotel mewah ini pasti orang punya kuku. Mereka tak tahu kalau Gina hanyalah seorang asisten dari pebisnis kaya.
Gina tau diri duduk agak jauh dari Kevin dan Lucia. Gina hanyalah seorang asisten yang tak punya hak duduk semeja dengan pemimpin perusahaan.
"Mas...kita keliling kota M ya? Kita bisa liburan ke Danau Toba. Aku sudah lama tidak jalan-jalan ke sana. Kita pergi ya?" rengek Lucia minta perhatian Kevin.
"Bukankah kita masih banyak pr untuk persiapan peluncuran produk baru kita. Kita harus segera pulang untuk mengatur pesta hari jadi perusahaan. Kuharap kau tepat waktu selesaikan gambar baru kita." Kevin berkata serius tidak tertarik pada ajakan Lucia luangkan waktu jalan ke Danau Toba.
Gina yang ikut nguping bersyukur Kevin tidak mau ikuti permintaan Lucia. Kalau tidak yang menderita tetap dia. Jadi kambing congek lihat orang pacaran.
Kevin pesan sarapan sesuai keinginannya tanpa tanya pendapat Gina maupun Lucia. Mungkin Kevin sudah hafal selera Lucia maka tak tanya gadis itu mau sarapan apa. Kalau Gina kan lain. Hanya pelengkap. Pendapat Gina tentu saja tak penting.
__ADS_1
Gina diberi secangkir kopi hitam dan sepotong roti sandwich. Gina ragu apa seupil roti ini bisa penuhi perutnya yang terbiasa diisi banyak. Mau protes malu. Lebih baik diam nikmati sekerat roti diisi telor dadar.
Dua kali suap rotinya sudah hilang dalam perut Gina sedangkan Kevin dan Lucia masih potong sandwich dengan pisau masukkan sepotong demi sepotong ke dalam mulut. Gina merasa cara makan mereka sok elite. Hanya kasih tahu orang mereka orang kaya tak bisa disumpal roti dalam potongan gede. Cara makan munafik.
Kevin selesaikan makan dengan seruput kopi hangat. Kelihatannya laki itu nikmati sarapan pagi seupil menurut Gina.
"Kita segera berangkat sebelum kena macet." Kevin paling duluan bangun diikuti Lucia. Mereka memang pasangan serasi di mata Gina. Satu sombong dan satunya culas. Digabung jadi somcu alias sombong culas.
"Mas...aku perlu ikut presentasi?" tanya Lucia berusaha jalan sejajar dengan Kevin.
Kevin menyipitkan mata heran mengapa Lucia menanyakan ikut presentasi bukan bidangnya. Gadis itu tahu apa tentang konstruksi?
"Kau ngerti konstruksi?"
"Nggak sih tapi aku ini kan anak Subrata. Paling tidak punya koneksi dengan pak Julio untuk muluskan jalan mas raih proyek."
"Jangan gila! Pak Julio bukan orang pandang koneksi melainkan prestasi. Kau cukup duduk diam saja. Tak ada yang bisa kau bantu di sini."
"Ok.." keduanya berjalan keluar hotel menunggu jemputan. Gina tetap setia jadi bayangan Kevin sampai sepuluh hari ke depan.
Ucok sudah menunggu dengan dedikasi tinggi. Supir jempolan on time.
Ucok segera buka pintu untuk Kevin dan pasangannya. Kali ini Gina tahu diri duduk di samping Ucok biarkan Lucia duduk bersama Kevin di jok belakang.
Lucia masuk dari pintu kiri jok belakang sedangkan Kevin masih berdiri di luar sedang menatap Gina yang duluan masuk ke jok depan.
"Tapi pak..." ujar Gina melirik Lucia tak enak hati. Gina akan jadi tembok penghalang Lucia dan Kevin.
Lucia sudah pasti tak senang Gina memisahkan dia dan Kevin. Lagi-lagi rencana berdekatan dengan Kevin ambyar total. Tadi Kevin masih baik sekarang berubah lagi. Perubahan secepat balik telapak tangan.
Gina tak mau bikin mood Kevin buruk karena laki itu akan bertarung lawan dua pebisnis licik maka anak ini keluar dari pintu kiri pindah ke belakang lalui pintu kanan.
Setelah itu Kevin baru masuk duduk di samping Gina. Badan Gina terasa membesar jadi tembok tebal pisahkan sepasang anak manusia.
Perintah Kevin ini buat suasana jadi canggung. Gina tak berani bergerak takut menyentuh Lucia maupun Kevin. Ke kiri ataupun kanan tetap salah. Mendingan jadikan diri sendiri sebagai arca hidup. Tak bergerak tapi bernafas.
Sepanjang jalan cukup lancar karena kemacetan belum merajalela. Belum banyak kendaraan menembus jalan raya untuk membawa penumpang ke tujuan berbeda-beda.
Mereka tiba di gedung berlantai lima. Mungkin ini kantor cabang pak Julio. Suasana parkiran kantor juga masih sepi. Hanya ada beberapa kenderaan roda dua terparkir di situ. Mobil mewah belum tampak satupun. Kalau petinggi kan boleh telat. Bawahan yang tak boleh telat.
Kevin mengajak Lucia dan Gina cari info tentang presentasi tender proyek. Kevin mau perlihatkan kesungguhan mereka untuk menjadi partner kerja pak Julio. Sikap santun ini akan menambah nilai Kevin di mata Pak Julio. Biasa orang tepat waktu pasti akan mendapat simpati dari relasi.
Kevin dan kedua gadisnya diarahkan menunggu di tempat khusus untuk tamu. Kantornya tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Kantor cabang memang tak sebesar kantor pusat.
Kevin dan Lucia duduk berdekatan walaupun tidak sampai saling bersentuhan. Lucia sudah girang banget bisa berada dekat Kevin walaupun laki itu masih cuek. Lucia yakin suatu saat Kevin akan takluk pada kesabarannya mengejar laki itu.
Gina duduk agak jauhan sesuai porsinya sebagai seorang ajudan. Mana ada ajudan duduk dekatan dengan bos. Ini Gina pahami dengan baik.
__ADS_1
Pas jam delapan satu persatu karyawan mulai berdatangan. Satu persatu absen gunakan sandi dalam kartu badge. Gina perhatikan setiap karyawan masuk kerja dengan muka segar. Gina tak tahu berapa lama wajah itu akan bertahan kesegarannya. Makin siang pasti akan makin layu. Semangat hanya waktu matahari masih bersinar bersahabat. Makin ke depan makin mematikan semangat kerja karyawan. Di mana saja sama.
Gina melihat Pak Julio datang bersama seorang lelaki tak jauh beda usia dengan Pak Julio. mereka berdua berjalan sampai di depan Kevin serta menahan langkah di situ.
Pak Julio tertawa lebar lihat salah peserta tender sudah hadir dahului peserta lain. Pak Julio puji semangat Kevin sebagai anak muda punya dedikasi tinggi. Tahu diri tak langkahi pemilik tender.
"Selamat pagi anak muda...sudah lama tiba sini?" Pak Julio menyalami Kevin dan Lucia.
"Pagi pak! Kami minta maaf telah lancang datang duluan. Kami takut terjebak macet maka duluan datang." ujar Kevin sopan.
Pak Julio manggut-manggut suka pada kerendahan Kevin. Dari segi etika Kevin menang selangkah dari peserta lain.
"Maaf pak! Saya Lucia Mahabarata." Lucia cepat-cepat perkenalkan diri biar tak dianggap sebagai nyamuk tak berguna.
Mata Julio pindah ke Lucia yang tersenyum manis. Pak Julio tentu saja senang kenalan dengan anak muda penuh energi. Beginilah seharusnya penerus bangsa! Berani tampil tanpa takut gagal.
"Dari namamu aku merasa sangat familiar. Jangan katakan kau anak Subrata!"
"Itu papa aku!" sahut Lucia manis caper.
"Sudah kuduga di belakang lelaki sukses pasti ada wanita hebat. Ok tinggal.dulu! Satu jam lagi kita jumpa di lantai lima. Selamat berjuang anak muda! Eh mana asisten keren kamu?" tanya pak Julio mencari Gina.
"Ada tuh!" Kevin menunjuk Gina yang lebih fokus pantau karyawan perusahaan. Anak itu tak peduli sekeliling karena suka lihat kesibukan orang lain. Biarlah orang lain sibuk sedangkan dirinya santai habis.
Pak Julio hanya tertawa kecil lihat asisten cantik Kevin. Gina selalu menarik untuk dijadikan view cuci mata. Mau dibilang ganteng atau cantik.
"Aku mau bicara dengan asistenmu! Aku mau ajak dia ke ruang kerja aku!" ujar Pak Julio sangat tertarik pada aura dari tubuh Gina. Pak Julio bisa rasakan betapa anak itu punya wibawa tersembunyi. Dari dalam diri Gina muncul kekuatan tak bisa Pak Julio ungkap gunakan kalimat.
Kevin agak gugup Pak Julio tertarik pada Gina. Kevin takut Pak Julio akan minta rekrut Gina secara mendadak. Kevin takkan mampu menolak bila ada tekanan dari pak Julio sebagai barter proyek.
"Oh silahkan! Gino itu orangnya lugu tak pandai gunakan bahasa yang baik. Kalau dia katakan kalimat tak pantas harap bapak maafkan!"
"Oh tidak...kurasa dia anak sopan sangat pengertian! Pinjam sebentar saja! Gino. Ayok sini!" Pak Julio melambai pada Gina untuk mendekat.
Gino alias Gina segera datang dengan langkah ringan. Gina juga senang jumpa lelaki sebaik pak Julio. Kaya tapi tidak sombong.
"Selamat pagi pak!" sapa Gina membungkuk badan sembilan puluh derajat.
"Pagi...ayo kita ngobrol di ruang kerja aku!" ajak Pak Julio seakan lupa ada Kevin dan Lucia.
Pak Julio ayunkan langkah ke arah lift. Gina ikut dari belakang sambil bawa tas berisi berkas untuk presentasi nanti. Tak mungkin toh dia titip tas itu pada Kevin. Bawa tas adalah tugasnya.
Kevin dan Lucia hanya bisa bengong Gina dibawa Pak Julio. Apa Gina jauh lebih berharga dari Kevin dan anak Subrata yang kesohor cantik dan pintar. Mengapa pak Julio lebih tertarik pada Gina dari pada Kevin dan Lucia. Lucia notebene anak konglomerat kaya raya maunya dijunjung tinggi dari pada seorang anak tak punya latar belakang seperti Gina.
"Apa sih hebatnya bencong Kalengan itu?" sungut Lucia kembali duduk dengan muka masam. Lebih masam dari buah belimbing wuluh. Diaduk sama cuka mungkin langsung berbaur.
"Jaga mulut di tempat orang!" tegur Kevin Lucia berkata kasar di kantor orang.
__ADS_1
"Pulang dari sini kau harus pecat dia! Dia itu lebih parah dari Gani. Gani masih sopan hargai aku! Tapi ini selalu jatuhkan aku! Mas harus beri keadilan buat aku."