JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Pengakuan Pak Julio


__ADS_3

Bu Sarah tak percaya bisa jumpa dengan saudara kembarnya setelah sekian lama lose kontak. Tapi yang namanya perjumpaan dengan saudara kandung tentu bawa rasa bahagia. Apalagi mereka terpisah tanpa kabar berita.


"Kalian hidup baik-baik saja?" tanya Pak Julio belum bisa bendung rasa gembira.


"Baik saja! Ya namanya hidup pasti ada gelombang pasang surut. Ayok duduk Io...Oya ini Gina keponakan kamu!" Bu Sarah menunjuk Gina yang masih serasa berada di alam mimpi. Kisah hidup ibunya persis kisah dalam sinetron di televisi. Haru biru mencapai titik tertinggi puncak kebahagiaan. Baru saja menempuh hidup baru bersama Sabri kini jumpa pula dengan saudara kandung. Tidak tanggung saudara dengan nilai plus. Tajir melintir.


Pak Julio hampiri Gina lantas memeluk gadis ini. Gina tak biasa interaksi dengan orang asing jujur jadi grogi. Gina belum bisa terbitkan perasaan hangat dari relung hati. Gina masih asing dengan kekeluargaan yang disodorkan oleh Pak Julio.


Pak Julio menepuk punggung Gina dengan bangga karena memiliki seorang keponakan yang multi talenta. Pak Julio tidak bisa menyampingkan kepintaran Gina dalam berbagai bidang.


"Aku bangga punya keponakan macam kamu. Sekarang kamu masih mau memanggil aku ini bapak atau panggil Om?" tanya Pak Julio mau kukuhkan statusnya di keluarga Bu Sarah.


"Apa saja Pak! Yang penting panggilan aku keluar dari hati kecil."


Pak Julio senang pada jawaban Gina yang menunjukkan kalau dia itu seorang anak punya pikiran rasional. Panggilan yang hanya menempel di bibir tak ada artinya bila tidak dibarengi dengan ketulusan.


"Sudah kuduga kamu ini anak luar biasa. Kamu siap masuk ke perusahaan Bapak? Kamu mau posisi apa?"


"Tak usah dulu pak! Kita melangkah pelan-pelan saja. Yang penting adalah ibu dan bapak sudah bertemu. Mungkin masih banyak yang ingin kalian bincangkan tentang kedua orang tua ibu dan bapak." ujar Gina makin terlihat kan kebijakan gadis ini tidak kemaruk pada nama besar.


"Maksudmu kakek dan nenek kamu ya? Mereka masih ada tinggal di luar negeri. Bapak akan kabari mereka tentang pertemuan kita hari ini. Bapak rasa kakek dan nenekmu pasti akan senang mendengar berita ini. Mereka pasti akan segera kembali ke tanah air untuk menjumpai Rara." Pak Julio melontarkan tatapan lembut ke arah Kakak kembarnya itu. Dari dulu Pak Julio selalu berharap ingin berjumpa dengan saudara saudaranya itu. Sayang sekali mereka terpisah karena hilang kontak.


"Apa mereka sehat?" Bu Sarah bertanya tentang orang tua kandungnya. Bu Sarah memang kurang dekat dengan orang tua kandung karena baru lahir sudah diadopsi oleh keluarga dari sebelah ibu kandungnya. Sayang mereka pendek umur tinggalkan Bu Sarah sendirian melanglang buana di dunia ini.


Jumpa Subrata namun tidak dihargai karena tak punya backing kuat. Subrata berbuat semena-mena main gila dengan beberapa perempuan sampai tega ceraikan Bu Sarah.


"Alhamdulillah sehat. Ya namanya orang tua! Pastilah ada yang tak beres! Aku akan kabari mereka tentang kamu. Besok aku akan sediakan rumah untuk kalian. Rumah peninggalan orang tua kita juga masih ada. Kalian bisa pindah ke sana."


Bu Sarah bukannya menjawab melainkan melirik Sabri. Sekarang Bu Sarah adalah istri dari Sabri. Tanpa ijin dari suami Bu Sarah mana berani ambil keputusan.


Sabri pasti takkan senang bila diremehkan oleh sebelah Bu Sarah. Dia telah temani Bu Sarah dalam suka duka. Saatnya Sabri mereguk hasil dari kesabaran selama ini.


Sabri memahami pancaran sinar mata Bu Sarah. Wanita itu telah tepat tidak terima tawaran Pak Julio tanpa persetujuan dirinya. Harga diri Sabri mau tarok di mana bila pindah ke rumah milik keluarga isteri.


"Maaf pak Julio! Biarlah kami tetap di sini karena mata pencaharian Kami memang berada di daerah ini. Bengkel aku di seberang jalan dan warung Sarah juga dekat. Tak ada alasan buat kami untuk pindah." tukas Sabri wibawa.


Pak Julio angguk-angguk paham. Tak semua orang tertarik pada limpahan materi. Mereka orang kecil lebih memiliki hidup tenang tanpa bergantung pada orang lain.


"Maaf bila aku lancang! Aku hanya ingin membayar semua waktu yang terbuang buat kakak aku. Aku ada setiap saat." Pak Julio tahu kalau dia telah lewati batas hak Sabri. Tak seharusnya dia gegabah tawarkan kemewahan seakan Sabri tak bisa beri perlindungan pada isteri dan anak tirinya.


"Tak apa...kita bisa jumpa sudah merupakan karunia. Kamu tak perlu pikir yang lain tentang kami. Kami hidup layak kok!" ujar Bu Sarah menunjukkan pada Pak Julio dia dan anak-anak hidup layak walaupun tidak sekaya pak Julio. Sabri bangga diandalkan oleh Sarah untuk jadi kepala rumah tangga.

__ADS_1


Pak Julio tak bisa memaksa Sarah untuk segera terima uluran tangan dari dirinya. Namun dalam hati pak Julio berjanji takkan biarkan keluarga kakaknya hidup di bawah tekanan.


"Baiklah! Kita akan jumpa lagi. Aku akan bawa keluarga aku untuk jumpa kalian. Yang penting aku sudah tahu di mana kalian." Pak Julio tak memaksa karena semua butuh proses. Mereka dari kenalan biasa kini menjadi keluarga. Ini saja sudah luar biasa bagi pak Julio.


"Ayo duduk Io! Aku hampir lupa suguhkan minuman saking terharu jumpa kamu!" Bu Sarah tertawa teledor tak jamu adiknya dengan minuman. Tuan rumah yang baik tak pernah lupa beri penghargaan pada tamu walau pun itu hanya segelas air putih. Orang yang datang akan merasa dihargai.


"Tak perlu repot. Aku harus balik ke kantor. Ada rapat penting harus diselesaikan. Aku datang lagi. Oya..Gina! Gimana janji kamu mau ajar adik-adik kamu latihan karate? Sudah ditunggu tapi tak pernah datang."


Gina tertawa malu lupa pada janji sendiri. Dia terlalu sibuk sampai lupa pernah janji pada anak pak Julio akan beri les karate. Gina terlalu fokus pada pekerjaan serta cara hancurkan Subrata. Keluarga itu baru retak sedikit belum hancur. Masih bisa berdiri tegak. Gina akan usahakan Subrata patah kaki sampai tak mampu berdiri di atas tanah.


"Aku akan usahakan datang pak!"


"Jangan hanya janji di bibir! Sekarang antar bapak kembali ke bengkel. Bapak harus balik ke kantor."


"Siap pak!"


"Rara...aku balik dulu! Aku akan datang lagi bersama anak isteriku. Aku juga akan kasih kabar pada papa dan mama tentang kamu. Sekarang kamu mempunyai saudara di dunia ini. Aku siap menjawab semua perkataan mu!"


"Terima kasih Io.. aku baik-baik saja bersama keluarga aku di sini. Masih ada satu keponakan kamu masih bekerja di kantor. Sorean baru pulang."


Pak Julio mengangguk tahu. Gina susah ceritakan kalau dia masih memiliki saudara kembar bekerja pada Kevin. Pak Julio akan berterima kasih pada Kevin yang sudah menjaga kedua keponakannya.


Gina ikut keluar setelah menyalami ibunya dan Om Sabri. Pak Julio melirik semua tingkah Gina yang mencerminkan anak berbakti. Bu Sarah tidak sia-sia kucur keringat demi besarkan kedua anaknya.


Gina bonceng pak Julio kembali ke bengkel untuk menjemput mobilnya yang masih tertinggal di bengkel Sabri. Kini Pak Julio tidak kuatir tinggalkan mobil kesayangan pada Gina. Kalaupun terjadi sesuatu pada mobil itu pak Julio tidak akan menuntut. Gina adalah salah satu pewaris yang telah dipersiapkan oleh orang tua Julio. Gina dan Gani berhak setengah dari kekayaan pak Julio. tergantung Gina dan Gani mau menerima pembagian harta warisan itu atau tidak. Pak Julio dengan senang hati memberikan hak anak-anak itu.


Pak Julio menatap Dina letak-letak sebelum berpisah. Masih banyak yang ingin diungkapkan oleh Pak Julio namun waktu sangat terdesak harus menghadiri rapat. Pak Julio yakin bahwa waktu mereka masih panjang untuk menyambung tali yang sempat terputus.


"Gina...kau harus ingat bahwa kau masih mempunyai orang yang menyayangi kalian! Bapak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian. Kelak kita akan bercerita tentang kehidupan masa lalu ibumu. Siapapun yang menyakiti ibumu akan Bapak bayar secara tunai." Pak Julio menyakinkan Gina kalau dia peduli pada keluarga kakaknya.


"Terima kasih pak! Suatu saat aku akan minta bantuan bapak untuk tuntaskan rasa benci di hatiku." Gina telah punya tongkat pembantu untuk berdiri lebih tegak serta bisa hajar orang licik dengan tongkat itu.


"Bapak belum ngerti maksudmu tapi bapak janji akan bantu kamu. Datanglah ke rumah bila kau ingin cerita! Bapak pergi dulu! Hati-hati jaga diri!" Pak Julio masuk ke dalam mobil sambil melambai.


Gina membayar balas lambaian Pak Julio dengan hati sedikit lega. Kini dia telah memiliki backing untuk membalaskan semua denda membara di dalam dadanya. Gina tak sabar ingin melihat kehancuran Mahabarata.


Perlahan mobil yang ditumpangi oleh Pak Julio meninggalkan bengkel Om Sabri. Gina benar-benar tidak menyangka kalau hari ini dia akan bertemu dengan saudara ibunya. Selama ini Bu Sarah tidak pernah bercerita kalau dia memiliki seorang saudara kembar seperti Gani dan Gina. Bu Sarah hanya menceritakan kalau orang tuanya adalah deputi dari kedutaan besar yang berpindah-pindah. Sayang ayahnya meninggal saat pulang dari dinas. Tak lama kemudian menyusul ibunya yang tak dapat menahan kesedihan ditinggal oleh suaminya.


Gina habiskan satu sore di bengkel. Gadis ini bukannya bekerja namun melamun pikir cara terbaik telanjangi kebohongan Lucia sebagai designer. Gadis itu dipuja-puja sebagai designer terbaik di perusahaan Kevin. Semua orang mengagumi hasil karya Lucia. Siapa tahu di balik semua itu ada sosok lain yang membantu Lucia dengan imbalan uang.


Gina akan provokasi Kevin design perhiasan baru agar laki itu desak Lucia ciptakan karya baru. Gina mau lihat dari mana wanita itu dapatkan design bila dia menolak terima uang wanita itu lagi. Biar tahu rasa.

__ADS_1


Malamnya Gani pulang bawa segudang rasa pegel di badan. Badan anak ini hampir remuk karena bekerja over load. Ternyata jadi seorang manager tidak segampang yang dia bayangkan. Namanya saja keren sedangkan tanggung jawab melebihi anak buah.


Wajah saudara kembar Gina itu kusut belum kena setrika. Biasa Gani pulang selalu dengan wajah riang gembira tanpa beban. Sudah naik pangkat malah seperti kertas HVS kena air. Kusut Masai.


Gina yang lihat situasi begini tak jadi beritahu saudaranya kalau baru ada kejutan di rumah mereka. Pak Julio yang legendaris ternyata adik dari ibu mereka. Mimpi pun tak pernah terpikir punya keluarga tajir. Tapi yang tajir pak Julio bukan mereka. Mereka tetap begini cuma ada kerennya punya saudara super kaya.


Gani kurang selera makan saking capek. Lebih enak jadi asisten daripada manager. Terpikir oleh Gani untuk tukar posisi lagi dengan Gina. Biarlah Gina lebih maju karena fisik Gina lebih bagus.


"Hei bro! Kusut bener. Lupa bawa seterika ke kantor?" tanya Gina menggoda Gani.


"Aku capek Gin...lhu aja jadi manager ya! Aku jadi asisten dah!"


Kening Om Sabri berkerut-kerut dengar Gani menyerah jadi manager. Batu diangkat jadi patah semangat. Mental tempe.


"Ada kendala apa nak?" tanya om Sabri lembut.


Gani menatap ayah tirinya dengan raut wajah sedih. Wajah ganteng itu jadi jelek baru kena tornado dahsyat.


"Capek...papi! Semua laporan anak buah harus dipelajari lalu saring lagi sebelum lapor ke atasan. Aku jadi ngantuk lihat bergulung-gulung kertas."


"Gani...untuk menjadi pemimpin baik kita harus berkorban. Mengapa kamu diangkat jadi pemimpin divisi kamu? Bos kamu percaya kamu mampu jadi tunjukkan kemampuan kamu. Jangan siakan kepercayaan yang di berikan oleh bos! Lama-lama kamu akan terbiasa."


Gani manggut tak bisa membantah. Semua perkataan om Sabri adalah kebenaran. Untuk apa dia diangkat jadi pemimpin? Itu karena bos percaya Gani punya kemampuan.


"Sekarang kau tahu kenapa aku tak mau masuk kantor? Aku tak mampu handel seabrek pekerjaan. Begini lebih santai." Gina goyang sendok di depan mata Gani bangkitkan gairah yang nyaris padam.


"Kau hebat sudah hitung untung rugi kerja di kantor. Aku iri padamu Rambo! Kau seperti kupu-kupu terbang bebas di alam."


"Stop...aku tak mau jadi kupu-kupu. Pertama umurnya singkat dan reputasi kupu-kupu sangat jelek. Aku jadi Gina saja bro!"


"Hitungan amat! Itu hanya kata kiasan nona Rambo. Besok aku mau cuti." kata Gani ntah serius atau hanya candaan.


"Emang kamu ada alasan?"


"Bilang saja lagi halangan!" sahut Gani asalan percik tawa derai di ruang makan kecil keluarga Sabri. Kini keluarga itu jadi milik Sabri karena dialah kepala rumah tangga.


"Ngawur...Gin...kau bantulah adikmu! Kasihan dia capek!" punya Bu Sarah tak tega lihat putra kesayangan kusut.


"Bu...aku sudah ganti posisi jadi kakak pula ya? Heran jam lahiran bisa disetel seenak perut. Aku harus ke kantor pengacara bikin pernyataan aku ini kakak atau adik." omel Gina sewot dia telah dijadikan kakak kalau Gani dalam masalah.


Paling nanti Bu Sarah akan bilang seorang kakak harus jaga adik biar Gina mau bantu Gani selesaikan tugas. Bu Sarah selalu bela Gani tanpa peduli anak itu salah atau benar.

__ADS_1


__ADS_2