
Kevin dibuat seperti kambing congek tak bisa ikut nimbrung dalam obrolan keluarga itu. Kini mata Kevin baru terbuka lebar kalau tak semua yang dilihat sesuai fakta. Keluarga om Sabri yang tampak sederhana ternyata mempunyai layar belakang hebat namun mereka justru tiarap ke bumi tetap jalani kehidupan sederhana. Mereka bahagia dengan apa adanya. Tak bicara soal harta melulu. Kehangatan dalam keluarga itu yang paling penting.
Kevin menyaksikan betapa bahagianya Gina dan Gani bercanda dengan kedua adik mereka terutama Gina yang merasa punya seseorang harus dia lindungi. Makin banyak orang yang harus dia lindungi karena gadis ini punya bayangan buruk tentang masa lalu ibunya yang dikhianati oleh suami sendiri. Gina harus makin rajin lindungi mereka. Mereka di sana sampai sore karena pak Julio tak rela keponakannya pulang. Kedua anak pak Julio juga betah main dengan Gani yang mereka anggap lucu.
Pokoknya hari itu dihabiskan bersama keluarga omnya sebagai bayaran atas janji Gina yang belum dia bayar. Kevin ikut larut dalam suasana bahagia yang sedang berlangsung dalam keluarga ini. Kevin seolah menjadi bagian dari keluarga ini. Tak ada jarak dia dengan pak Julio padahal di dunia bisnis mereka adalah rekanan. Di sini dia adalah keluarga.
Singkat cerita Kevin beserta ketiga mantan montir bengkel Om Sabri berang Kat ke kota M untuk melihat pengerjaan proyeknya pak Julio. Gina sengaja tempatkan Jay di samping Kevin untuk melindungi lelaki itu walaupun sudah ada Hadi dan Naruto. Hadi dan Naruto harus terjun ke lapangan jadi satu-satunya orang yang bisa melindungi Kevin adalah Jay. Gina tak mau terjadi sesuatu pada laki itu karena Gina sudah berjanji akan lindungi Kevin sampai sembuh total.
Gina sendirian tangani kantor Kevin dibantu oleh Gani. Kevin sudah serahkan urusan kantor pada Gina agar ditangani secara bijak. Gina tahu diri tak berani masuk ruangan Kevin walaupun Kevin sudah beri kuasa pada Gina. Gina tetap duduk di tempat dia bekerja seperti biasa. Gina fokus terima file dari berbagai divisi untuk ditindak lanjuti sambil menunggu kehadiran Kevin.
Ketenangan melanda lantai tempat Gina bekerja. Di situ hampir tak ada suara bising, yang ada suara desiran AC yang halus sebagai musik lembut temani Gina dalam konsentrasinya. Hati Gina merasa damai bekerja dalam keheningan.
Suara detak sepatu membuat Gina angkat kepala melihat siapa yang menguak keheningan dalam kantor Kevin. Bibir Gina terkatup rapat melihat orang-orang tak diharapkan muncul lagi di kantor Kevin. Bagaimana mereka bisa lolos dari pantauan satpam padahal Kevin sudah wanti-wanti mereka tak boleh muncul di perusahaan Kevin.
Papa Kevin, Mince dan Luna datang langsung ke meja Gina dengan wajah angkuh. Pamor orang kaya belum luntur dari wajah yang akan segera kusam itu. Mereka masih pertahankan ego hendak rebut harta Kevin dengan berbagai trik kotor. Gina takkan biarkan hal itu terjadi pada Kevin.
"Hei kamu...mulai detik ini kami yang akan duduk di kursi CEO perusahaan ini! Ini adalah papa Kevin! Perusahaan ini milik Kevin artinya punya kami juga!" Mince langsung awali kalimat pertama tanpa saringan otak besar.
Gina menatap tajam ke arah wanita yang telah mengusik ketenangan waktu kerja dia. Tampaknya Mince baru keluar dari rumah sakit jiwa. Datang-datang akui perusahaan ini adalah miliknya. Kena urat syaraf bagian mana sampai korsleting akut. Semoga saja tidak meledak bikin dia stroke.
"Maaf ibu...bos kami sedang keluar kota dan sekarang perusahan ini di bawah tanggung jawab saya! Aku tak tahu siapapun selain Pak Kevin! Jadi jangan buat onar di sini! Silahkan keluar dari sini sebelum aku panggil sekuriti!" Gina berdiri tak gentar walaupun di tatap dengan mata kejam oleh tiga orang kurang waras.
"Justru Kevin tak ada maka kami datang ambil alih perusahaan ini! Asal kau tahu perusahaan ini warisan kakek Kevin yaitu papa dari suami aku! Jadi hak kami masih ada di sini!"
__ADS_1
"Baik kalau kalian merasa punya hak! Tuntut saja pak Kevin di pengadilan biar semua jelas! Aku ini hanya pekerja yang dipercaya oleh pak Kevin untuk menangani perusahaannya selama dia pergi. Jadi aku tidak mempunyai hak untuk memindahkan perusahaan ini atas nama kalian. Aku tak mau ikutan masuk penjara bersama kalian yang menerobos hak orang." Gina masih berusaha sabar menghadapi orang-orang yang telah hilang akal sehat. Gina merasa tak ada guna bersikeras dengan orang-orang yang tak memiliki pikiran waras.
Luna menarik ibunya ke belakang gantian dia yang bicara dengan Gina. Luna sudah tahu maksud Gina tak bergeming dari tanggung jawab sebagai orang kepercayaan Kevin. Kevin pergi dan tinggalkan semua pada Gina berarti Kevin telah percaya sepenuhnya kepada Gina. Gina bukanlah orang yang gampang dikertak maka Luna harus menggunakan cara halus melunakkan hati keras wanita ini.
"Gina... aku tahu posisimu sebagai orang yang dipercaya oleh Kevin! Kamu tentu saja tidak ingin menghianati Kevin bukan? Begini saja! Kami tidak akan menutup mata terhadap kamu bila membantu aku bisa berdiri di samping Kevin. Kamu harus usahakan agar Kevin mau menikahi aku. Kujamin hidup kamu akan makmur selamanya!" ujar Luna kalem berusaha mengambil hati Gina. Gina tidak tertarik sedikitpun pada rayuan Luna. Orang model gini sudah terlalu banyak di bumi yang makin tua ini. Gina tetap tidak bergeming walaupun mendapat janji manis dari Luna. Luna tidak tahu kalau Gina paling membenci orang munafik yang senang mencelakai orang lain.
"Maaf ya! Aku ini bukan orang yang mata duitan. Aku bekerja di sini dengan hati bukan dengan keserakahan. Apapun yang kalian tawarkan tidak akan menggoyah iman aku sebagai asisten dari pak Kevin! Jadi aku harap kalian pergi dari sini secara baik-baik sebelum adanya kekerasan."
Ketiga orang itu tampak sangat kecewa tak berhasil beli hati Gina dengan janji manis. Sebenarnya mereka sudah merasa punya harapan setelah Kevin pergi. Mereka mengira bisa tawarkan kemewahan meluluhkan hati Gina.
"Gina..kau tahu cepat atau lambat Kevin itu akan jadi suami aku! Jadi kau harus pikir ulang posisi kamu bila menentang aku!"
"Maaf! Pak Kevin sudah punya calon isteri yang jauh lebih muda dari anda! Anda lebih tua dari Kevin! Janda punya anak satu apa masih pantas dampingi anak muda macam Pak Kevin? Apa kalian tak lihat putri tunggal tuan Subrata? Dialah calon kuat isteri pak Kevin!" Gina sengaja promosi Lucia biar Luna teror Lucia. Saatnya Lucia mendapatkan sedikit syok mental dari Luna. Biarlah kedua wanita berseteru demi Kevin.
Papa Kevin dan Mince sedikit gentar mendengar nama Subrata yang cukup terkenal. Subrata bukanlah orang yang gampang diintimidasi karena jaringan orang itu cukup luas. Namun untuk mencapai maksud dan tujuan mereka mau tak mau mereka harus berjuang untuk mendapatkan kekayaan Kevin.
"Oh gitu...pantes dia ada di sini setiap hari! Aku akan membuat dia menyesal telah mengenal Kevin." ujar Luna dengan mata bersinar tajam. Ada setumpuk rasa dendam di mata wanita itu. Luna pasti merasa Lucia merupakan ancaman buat dia meraih cinta Kevin. Cuma Luna tak merasa kalau dia sudah kadaluarsa untuk menjadi calon istri Kevin.
"Gina... Aku tahu kamu sangat setia kepada Kevin. Namun aku memohon kepadamu agar meminta bagian keuangan untuk mengucurkan dana 20 miliar untuk membantu perusahaan kami sementara. Anggap saja ini sebagai pinjaman karena begitu proyek kami selesai maka uang ini akan kami kembalikan!" papa Kevin pula yang bicara. Nada bicara laki ini lebih bersahabat tidak berani kasar seperti kedua wanita di sampingnya.
Gina tak bisa berkata-kata karena keluarga ini anggap dia orang bodoh binti tolol berani kucurkan dana tanpa sepengetahuan Kevin. Itu bukan pekerjaan terpuji yang akan mendapatkan apresiasi dari Kevin. Kevin bisa antar dia nginap di hotel gratis nan dingin tanpa AC. Gina masih waras untuk ikuti perintah papa Kevin. Minta dua puluh milyar seperti minta uang receh untuk kasih sedekah fakir miskin.
"Pak..aku ini hanya asisten mana ada hak keluarkan dana tanpa sepengetahuan bos kami. Jangankan dua puluh milyar! Seribu perak saja tetap harus ada izin pak Kevin! Jangan mempersulit posisi aku pak!" jawab Gina dengan gusar.
__ADS_1
"Nona...asal kau berani tak ada masalah! Biasa orang yang dipercaya oleh bos bisa kok keluarkan dana! Kami akan beri kamu dua milyar setelah uangnya keluar. Kami yang akan bayar semuanya." Mince ikutan membujuk Gina agar mau ikuti permintaan papa Kevin berbuat curang.
Sebenarnya Gina sangat bersedih Kevin mempunyai orang tua model begini. Teganya mereka menipu Kevin untuk keuntungan diri sendiri. Andaikata uang itu sudah dicairkan mana mungkin mereka akan mengembalikan kepada Kevin. Janji akan mengembalikan uangnya kepada Kevin hanyalah pemanis di mulut saja.
"Aku lelah asyik minta maaf! Kurasa lebih baik kalian langsung teleponi pak Kevin. Aku ini hanya seorang asisten mana ada power untuk mencairkan dana perusahaan. Semua kunci ada pada pak Kevin ataupun pak Peter! Gimana kalau kalian jumpai pak Peter saja! Dia lebih punya wewenang karena dia adalah wakil pak Kevin!"
"Peter sudah tak bisa mengeluarkan dana lagi. Sekarang dia sedang urus masalah hotel di Bali!" Luna tak sadar keceplosan kalau dia sangat ngerti soal Peter. Gina tak bereaksi biar Luna tak sadar telah buka rahasia ada hubungan dengan Peter. Gina tak boleh membuat ngaduh yang akan menambah rasa was-was keluarga itu.
"Kurasa kali ini aku tak perlu ucapkan kata maaf lagi! Aku memang tak bisa. Kalau aku nekat aku akan berakhir di penjara. Aku takkan mau jadi narapidana untuk uang. Aku masih muda bisa cari uang sebanyak-banyaknya tanpa harus menyandang status penjahat. Sekali kita berbuat salah maka nama kita akan cacat seumur hidup. Pak Kevin bukan orang ramah dan baik hati mudah maafkan orang! Aku tak mau hidup di bawah bayangan dosa!" ucap Gina tegas membuat papa Kevin tergugu. Perkataan Gina seakan sedang ingatkan keluarga itu bahwa mereka sudah terlalu banyak berbuat salah pada Kevin.
Detik ini juga masih mau menyusahkan Kevin dengan niat jahat curi uang laki itu. Gina takkan biarkan orang jahat mendapatkan apa yang mereka inginkan!
"Kami yang akan jelaskan pada Kevin! Kau tak perlu tanggung jawab! Kalau uangnya sudah di tangan kita dia takkan bisa berbuat apa-apa. Dia mana tega penjarakan kamu! Kau gadis cantik jelita! Gunakan kecantikan kamu rayu Kevin!" Mince mengajar Gina supaya murahkan diri seperti seorang perempuan malam.
Dalam hati Gina memaki ibunya Luna tak sadar kalau itu akan bawa bencana besar. Dia pikir semua wanita murahan seperti dia dan Luna. Halalkan segala cara untuk mencari keuntungan pribadi tanpa ingat akibat belakangan. Gina belum pikun berbuat sejahat itu menyebabkan Kevin rugi besar.
"Uang tak bisa beli harga aku Bu...aku tidak halal kan cara murahan untuk cari uang! Tak usah buat syarat apapun dengan aku karena aku tak pernah tertarik jadi pengkhianat demi secuil uang." Gina merasa tak guna lanjut obrolan dengan keluarga sinting itu. Lebih baik dia lanjut kerja buat laporan buat Kevin. Pekerjaan dia masih sangat banyak tak punya waktu omong kosong dengan keluarga itu.
Papa Kevin menghela nafas sadar tak bisa membeli asisten Kevin dengan uang. Mereka bisa beli Peter namun tak bisa beli asisten yang satu ini. Gina orangnya keras tak suka basa basi buang tenaga dan pikiran untuk orang yang dia anggap sampah.
"Nona Gina...jujur kami katakan padamu perusahaan kami sedang dalam masalah butuh dana segar untuk selesaikan proyek kami! Kalau tidak kami akan berurusan sama hukum. Tinggal sedikit lagi proyek kami selesai jadi kami mohon bantu kami. Cukup sepuluh milyar! Begitu proyek kami selesai uang itu utuh kami kembalikan!" Papa Kevin kembali memelas belas kasihan Gina. Kalau tak ingat orang ini orang jahat mungkin Gina akan tersentuh. Namun semua kelakuan laki itu telah timbulkan luka mendalam di hati putra sendiri. Apa masih pantas dibantu?
"Papa...sepuluh mana cukup? Papa lupa kalau kita akan tour ke Eropa? Minta dua puluh saja! Masak perusahaan sebesar ini tak ada dana segar dua puluh milyar?" kata Mince sontak mengundang emosi Gina. Di masa sulit gini masih teringat pergi tour hamburkan uang bukan miliknya. Apa otak Mince terendam air parit sampai kurang waras?
__ADS_1
"Silahkan tinggalkan tempat ini bapak ibu! Aku harus kerja jadi kuharap kalian jangan ganggu waktu kerja aku! Mau tour, mau belanja, mau pakai di proyek tetap harus tunggu Pak Kevin pulang baru bisa keluarkan dana! Aku tak punya wewenang!" Gina menahan diri untuk tidak menghajar orang hari ini. Kalau ikuti sifat kasar Gina seperti dulu mungkin ketiga orang ini sudah bersatu jadi adonan manusia.