JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Lucia Emosi


__ADS_3

Gina menutup ponsel pintar lalu letakkan begitu saja di atas meja. Kini Gina sendirian duduk termenung merenungi apa tindakannya tidak kelewatan terhadap Subrata. Laki itu hidungnya belang aneka warna maka kepincut wanita sejuta umat yang licik.


Gina cepat-cepat menepis rasa iba yang menyelinap dalam dada. Gina tak boleh lupa perjuangan ibunya besarkan mereka tanpa bantuan Subrata. Laki dan selingkuhan hidup dalam tumpukan dolar sedang ibunya mengais satu sen demi satu sen untuk besarkan anak. Di mana Subrata waktu itu? Sudah lupa pernah punya isteri yang baik dan penyabar?


Gina tak boleh bergeming dari rencana semula hancurkan Subrata sampai ke titik terendah. Angela harus rasakan hidup sengsara tanpa pembantu. Biar dia kerjakan sendiri semua pekerjaan rumah seperti ibunya dulu. Nona Lucia yang hebat juga harus tahu arti hidup tanpa harta.


Gina tak punya waktu berpikir lebih lama karena pak Julio sudah menunggu. Gina harus segera angkat kaki dari kantor untuk jumpai pak Julio. Janji ada hutang, setiap hutang harus dibayar. Gina tidak mau bebani hidup dengan hutang maka segera berangkat ke lokasi yang telah ditentukan oleh Pak Julio. Gina juga ingin bertemu dengan pak Julio mau curhat soal saham Subrata. Gina masih kurang paham main saham. Lebih baik bertanya ketimbang sok pinter. Kata orang tua malu bertanya sesat di hutan.


Sementara di kantor Kevin terjadi kehebohan karena Lucia ngamuk-ngamuk dekorasinya dirombak oleh Kevin lagi. Lucia terlalu pede pikir Kevin sudah takluk izinkan dia bekerja satu ruang dengannya. Belum apa-apa Lucia sudah ingin menguasai hidup Kevin. Lucia merasa dia yang paling berhak berdekatan dengan Kevin karena selama ini dia yang mendampingi Kevin.


Ditambah Kevin sudah memberi izin kepadanya untuk bekerja di tempat yang sama dengan Kevin. Lucia mana menyia-nyiakan kesempatan bagus ini untuk masuk lebih dalam ke dalam kehidupan Kevin. Lucia berpikir kalau Kevin apa yang cuek bila dia mengulang dekor ruang kantor Kevin sesuai dengan karakternya. Ternyata Kevin tidak setuju dengan dekorasi Lucia yang berkesan kekanakkan dan menampilkan sisi feminim seorang wanita.


Lucia lupa kalau ini adalah kantor bukan rumah sendiri yang boleh didekor sesuka hati. Lucia anggap ini adalah sebagian dari daerah kekuasaannya termasuk seluruh isi dalamnya. Bisa jadi Lucia klaim Kevin adalah miliknya maka harus menuruti selera Lucia.


Lucia menendang semua peralatan yang dibawa oleh tukang interior yang akan dekor ulang ruang kerja Kevin. Wanita ini menumpahkan rasa kesal kepada beberapa pekerja yang sedang bongkar wallpaper yang telah ditempel ke dinding sesuai keinginan Lucia. Pekerja itu ketakutan melihat ada wanita ngamuk-ngamuk melarang mereka lanjut kerja. Mereka pekerja kasar yang hanya diperintah laksanakan permintaan klien. Kebetulan hari itu Kevin adalah klien mereka jadi mereka bekerja sesuai dengan orderan Kevin.


Siapa sangka Lucia muncul dan marah-marah kepada pekerja yang sedang bekerja itu. Lucia berkacak pinggang memuntahkan segumpal amarah yang mengendap di dalam hati.


"Siapa yang suruh kalian bongkar dekor aku?" teriak Lucia menggelegar.


Jay yang berada di luar segera masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruangan kerja Kevin. Mata Jay terbelalak melihat ruangan telah berantakan oleh materi yang berserakan. Dalam hati Jay sudah duga kalau Lucia bakalan ngamuk hasil kerja dia di bongkar oleh Kevin. Gadis itu sudah susah payah menyatukan isi hati dengan ruangan Kevin berharap laki itu mau terima niat hati. Lucia tak sangka Kevin akan bertindak cepat membongkar hasil pemikiran dia.


"Maaf Bu Lucia...ini semua atas perintah pak Kevin. Orang-orang ini hanya suruhan dari perusahaan interior." Kata Jay sopan tak mau buat Lucia makin marah. Jay tahu kalau wanita sudah marah masih kalah galak harimau.


Lucia memutar badan menghadap Jay. Rona wajah gadis ini memerah menahan rasa marah di ujung kepala. Kalau orang pintar ilmu gaib pasti akan lihat dari ubun kepala gadis ini menyembur api membara. Lidah api menyambar siap panggang orang yang telah mengusik wilayahnya.


"Mana mas Kevin? Apa dia tak tahu kalau aku telah lelah urus ini sampai pagi maka aku telat datang. Datang-datang hasil kerja keras aku tak dihargai." omel Lucia menatap nanar pada Jay seakan Jay yang harus bertanggung jawab atas perusakan ini. Istilah orang makan nangka Jay yang kena getah.


"Pak Kevin sudah pergi jumpa klien." sahut Jay tetap dengan nada rendah. Hanya ini yang bisa dilakukan Jay untuk meredakan emosi Lucia. Jay tidak meyalahkan Kevin kalau merusak hasil karya Lucia.


Rancangan Lucia memang sangat buruk untuk dijadikan ruang kerja seorang CEO. Bisa-bisa orang mengira Kevin sudah stress buat dekorasi kayak rumah permen. Tapi Jay tak punya hak buat protes. Dia hanya asisten kedua Kevin setelah Gina. Untuk sementara Jay belum berani berulah sebab dia orang baru mana ada hak untuk beri komentar.


Lucia tampak sangat gusar Kevin tak berada di tempat. Gadis ini mau protes tapi orang yang bersangkutan tak berada di tempat. Mau protes pada Jay tidak tepat sasaran.


Mata Lucia berputar-putar ntah mau gimana. Tukang tetap lanjut kerja tak peduli pada Lucia yang ngamuk. Tugas mereka hanya capai target sesuai keinginan pelanggan. Yang marah silahkan marah yang penting hari ini mereka harus selesaikan permak ruang ini. Mau bongkar lagi ikuti permintaan Lucia itu urusan nanti.

__ADS_1


Lucia menghela nafas tak punya alasan memarahi pekerja. Lucia sadar orang-orang itu hanyalah karyawan yang bakal kena marah bila tak capai target sesuai harapan pelanggan.


Lucia kembali menendang gulungan wallpaper paper baru yang bakal dipasang di dinding ruang kerja Kevin. Lucia tak bisa menahan kesedihan niat ingin berbagi dengan Kevin tak mendapatkan dukungan.


Belum puas lampiaskan rasa kesal Lucia kembali memukul meja kerja Kevin yang telah kembali warna hitam dengan tas mahal dia. Betapa kesal Lucia sampai lupa kalau tasnya seharga satu mobil tingkat menengah. Gitu-gitu ratusan juta juga. Tersulut emosi Lucia abaikan nilai tas itu.


Lucia dan Gina beda seperti langit dan bumi. Gina seorang komisaris namun penampilan bak karyawan biasa. Beda dengan Lucia seorang perancang bohongan namun penampilan bak ratu sejagat. Lelaki tak hanya melihat penampilan namun juga lihat kualitas seorang wanita. Lucia dan Gina sama cantik dengan karakter berbeda. Gina wanita komplit multi talenta sedangkan Lucia komplikasi pembawa penyakit. Kevin belum buta tak lihat batu sungai dan batu permata. Sama-sama batu namun beda harga.


Lucia pergi dengan membawa sejuta api amarah. Jay menepuk dada dua kali menyadarkan diri tidak ikutan dalam perkara Lucia dan Kevin. Jay masih waras tak mau sok-sokan protes tingkah Lucia. Dia bisa kena imbas dari buntut masalah ini. Mending pura-pura bodoh biar Kevin sendiri tangani Lucia.


Sampai sore Kevin tak balik kantor. Laki itu sengaja hindari Lucia setelah dapat laporan dari perusahaan interior ruang kerjanya. Pemilik perusahaan tentu saja lapor pada Kevin soal wanita yang ngamuk di ruang kerja Kevin. Mereka bertanggung jawab penuh terhadap pelanggan maka mereka harus melapor apapun yang terjadi.


Dari awal Kevin sudah menduga kalau Lucia akan tidak senang hasil karya dia diganti oleh Kevin. Namun Kevin tidak bisa menggunakan ruangan itu sebelum dikembalikan ke warna semula. Apa jadinya bila ada tamu datang ke ruangan itu. Kevin bisa jadi bahan tertawaan semua relasi.


Kevin langsung pulang ke rumah setelah selesai jumpa klien. Rumah mungil milik Gani dan Gina tetap menjadi tempat persinggahan nyaman buat Kevin. Rencana pindah ke rumah Kevin belum sempat Kevin bincangkan dengan Gina karena anak itu sangat sibuk urus beberapa perusahaan. Sekarang Gina sudah menjadi orang penting di dunia bisnis. Wajah baru yang bakal jadi macan bisnis. Di belakang Gina ada pak Julio dan Kevin yang sudah kenyang cicipi suka duka terjun ke bisnis.


Gina pulang paling telat hari itu. Gani sudah siapkan makan malam barulah Gina pulang dengan wajah super lelah. Wajah cantik itu kusut belum kena setrikaan. Berkerut-kerut mirip wajah nenek kehilangan tongkat.


Kevin perhatikan tingkah Gina tanpa komentar. Tak seharusnya Gina matian bergelut dengan kekurangan perusahaan opa. Kevin tahu Gina sedang menyelamatkan perusahaan itu dari oknum nakal. Tapi semua ada batasnya.


"Gin...tidak mandi dulu?" tegur Kevin lembut.


Gina membuka mata mendengar suara adem hilangkan sebagian rasa lelah. Mata indah itu menatap Kevin mencari keteduhan di mata suaminya itu. Kevin lelaki baik untuk saat ini. Kelak ntah bagaimana. Gina tidak terlalu menaruh harapan takut kecewa berat bila Kevin berubah.


"Ketiga pengerat di kantor telah serahkan aset mereka walau belum seluruhnya. Aku sedang audit seluruh aset mereka. Cukup lumayan juga untuk menutup kerugian perusahaan. Aku akan jadikan uang segar dan kirim ke opa biar opa bisa kirim permintaan klien."


"Kau hebat...penipu takluk padamu. Sekarang kau mandi dulu dan kita makan. Gani sudah masak dari tadi."


Gina bangkit dari sofa dengan sikap ogahan. Gina tak hanya lelah fisik namun juga lelah pikiran. Kelelahan dobel sita seluruh cahaya kehidupan Gina. Ibarat batere Soak hilang daya.


Kevin ingin sekali bantu Gina namun dia tak tahu seluk-beluk perusahaan opa. Kevin hanya bisa kasih saran jalan mana harus ditempuh Gina bila ketemu berat.


Tak sampai setengah jam Gina hadir kenakan setelan baju tidur dari bahan katun celana panjang dan baju lengan panjang. Gina telah beri isyarat akan segera tidur setelah makan malam. Gina bukan bangsa kalong bisa diajak begadang malam.


Kevin dan Gani sudah duduk lama di kursi meja makan menunggu sang putri bergabung. Andaikata mereka berdua makan duluan rasa setia kawan raib dari rumah tersebut. Kini mereka harus saling jaga sesuai keinginan Bu Sarah.

__ADS_1


Gina menyeret kursi di depan Kevin lalu duduk meneliti hasil masakan Gani. Cukup lumayan untuk isi perut. Rasanya tentu tidak selezat masakan Bu Sarah. Keahlian Bu Sarah tidak tertandingi. Siapa yang pernah makan masakan bu Sarah pasti ketagihan. Contoh om Sabri ketagihan sampai puluhan tahun tak rela pergi dari sisi Bu Sarah.


"Mau protes tak enak?" tanya Gani sebelum adiknya keluarkan kalimat nyakitin kuping.


"Apa aku ada bilang gitu? Masakan kamu harum kok cuma rasanya belum terbukti."


Beginilah Gina. Tak sekalipun mau angkat Gani walau dia sudah bela masak.


"Kalau gitu jangan makan cukup cium sampai hidungmu bocor." sungut Gani ngambek.


"Perutku tetap lapar dong! Kan kasihan dibiarkan kelaparan. Cacing di sana tak bisa makan karena tak ada dapur umum untuk korban kelaparan. Mau jadi pengungsi ke mana cacingnya?"


Kevin selalu dibuat tersenyum bila si kembar sudah adu mulut. Ada saja perkataan memancing senyum Kevin. Inilah hiburan natural tanpa rekayasa menyenangkan Kevin.


"Makan dulu biar tak perlu ada pengungsi kelaparan. Bukan cuma cacing di perut Gina perlu makanan. Cacing diperut aku juga mulai susun rencana demonstrasi." Kevin belajar bicara konyol imbangi kedua saudara kembar itu.


Gani dan Gina tertawa lebar mendapatkan kenyataan Kevin bisa imbangi mereka. Kevin cepat belajar keseharian mereka berdua. Selalu bertengkar namun saling menyayangi.


"Demi kedamaian rumah ini kita bismillah saja!" Gani persilahkan acara makan di mulai. Masakan sederhana Gani terasa enak di lidah bila makan dengan hati riang. Tak ada rasa iri benci datangkan ketenangan.


"Gin...ibu ada pesan kalau kita harus pindah ke rumahku sampai mereka balik sini. Kita semua pindah."


Gani menunjuk hidung belum yakin dia harus ikut pengantin baru itu. Takutnya dia hanya cicak di dinding nonton kemesraan pengantin baru. Bisa makan hati Gani disodori pemandangan orang bermesraan sementara dia jomblo akut.


"Aku di sini saja." sahut Gani terus menjejali mulut dengan sendok berisi nasi dan lauk-pauk. Gani santai tak begitu tertarik tinggalkan tempat kesayangan di mana ada temen satu geng.


"Tak bisa...aku di mana mau harus di situ. Kalau kau tak mau pindah aku juga tetap di sini." Gina tegaskan kalau Gani masih di bawah lindungan dia. Gina tak bisa tinggalkan Gani takut abangnya terjerumus pergaulan tak sehat. Gani kontan merdeka bila Gina menjauh. Anak itu merajalela berbuat sesuka hati dengan pakaian wanita. Ntar ikutan para waria ngamen di jalanan. Mental Gani pasti rusak bisa berkawan sama makhluk ampibi.


"Bilang saja mau ngawasin aku! Aku belum gila mau jadi banci seribu perak."


"Mau jadi banci semiliar? Jangan terpikir jadi banci seharga berapa pun! Aku tak suka banci...makhluk Tuhan yang tolak kodrat."


Gani mencibir tatkala Gina bilang makhluk Tuhan tolak kodrat. Gina tak sadar dia juga tolak kodrat sebagai makhluk yang seharusnya lemah lembut tranformasi jadi makhluk bertulang besi berotot kawat. Ini juga melawan kodrat.


"Aku bukan banci nona Gina. Aku hanya senang berdandan jadi cewek. Cewek itu indah maka aku meniru tingkah laku cewek." Gani bela diri.

__ADS_1


"Stress..." umpat Gina jengkel.


__ADS_2