JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Nginap


__ADS_3

Kali ini Gina tidak menolak lagi. Perhatian dari Kevin dan Gani menunjukkan kasih sayang mereka. Gina terlalu kejam bila abaikan perhatian dari kedua cowok itu.


Gina tersenyum sejenak lalu mengambil sumpit menjepit kudapan yang diberikan Kevin dan Gani. Kedua cowok itu ikutan senang lihat Gina mulai jinak. Coba kalau Gina begitu terus maka Gani akan merasa aman.


"Setelah ini kita pergi ke rumah aku ya! Kita lihat apa kondisi di sana aman buat kita." ujar Kevin teringat janji pada Bu Sarah. Bu Sarah meminta Kevin bawa Gina nginap di rumah Kevin agar gadis itu bisa ganti suasana. Tidak terpaku pada masa lalu yang takkan selesai bila tak mau dituntaskan. Bu Sarah sudah tak ingin melihat Gina masih terpuruk di dalam kenangan buruk. Bu Sarah mau Gina bangkit dan melupakan yang telah berlalu dengan membuka lembaran baru. Sayang Gina belum bisa move on dari dendam membara.


Gina berhenti makan lantas menatap Kevin mencari tahu apa yang diinginkan oleh lelaki itu.


"Abang mau kita pindah ke rumah Abang?" tanya Gina.


Kevin Kevin mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Gina. Kevin hanya ingin melaksanakan amanah yang diberikan oleh Bu Sarah kepadanya.


"Apa karena rumah kita kecil?"


Kevin agak kaget mendengar Gina mengeluarkan perkataan agak sinis seolah menghina rumah mereka. Padahal itu bukan tujuan Kevin. Malahan Kevin lebih senang berada di rumah Gina karena bisa satu kamar dengan istrinya itu. Pindah ke rumah dia belum tentu Gina bersedia satu kamar dengannya.


"Bukan gitu sayang! Ibumu yang minta aku ajak kalian berdua tinggal di rumah aku. Aku hanya tak ingin mengecewakan niat hati ibumu."


Gina terdiam mendengar jawaban dari Kevin. Ibunya memang selalu ingin Gina melupakan kenangan buruk di masa lalu tetapi gadis ini tak bisa melupakannya begitu saja. Sebelum dendamnya terbalaskan maka Gina akan pernah melupakan semua yang telah terjadi.


"Aku tahu kalau kamu berniat menyenangkan ibu tetapi kita tak bisa meninggalkan bengkel ayah begitu saja. Kita harus tetap memantau perkembangan bengkel agar tidak mati suri."


"Kita bisa pulang dua hari sekali. Dalam seminggu kita akan nginap di sini 2 hari. Jadi tidak ada yang akan tertinggal bila kita memantaunya dua hari sekali."


Gina belum bisa memberi jawaban karena masih galau harus meninggalkan bengkel peninggalan Om Sabri. Gina sangat mencintai Om Sabri maka tak ingin mengecewakan lelaki itu. Gina juga tidak bisa mengabaikan permintaan ibunya melalui Kevin.


"Kurasa saran kak Kevin sudah pas. Kita bisa pulang 2 hari sekali dan menginap di sini. Kita bisa mulai suasana baru di tempat Kak Kevin." Gani turut membantu Kevin ajak Gina pindah ke tempat lebih nyaman. Rumah Kevin yang mewah tentu saja mendatangkan segala kenyamanan karena lengkap fasilitas.


Mata Gina berputar kiri kanan sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk memenuhi keinginan ibunya di sisi lain dia berat meninggalkan bengkel yang sedang dikelola oleh Kupret. Gina tak mau bengkel yang dibangun oleh om Sabri dengan susah payah mati begitu saja. Tetapi Gina tak bisa mengabaikan kesetiaan Kupret dan Jay yang ingin melindungi peninggalan Om Sabri.


"Kita tinggal di sana tidak selamanya bukan?"


"Semau kamu saja. Kita bisa pulang ke rumah setiap kamu merasa rindu pada suasana di rumah. Kurasa kita tetap harus pulang untuk membersihkan rumah agar tidak menjadi sarang laba-laba." Kevin membantu Gina menguatkan tekad untuk pindah ke rumahnya sampai ibu Sarah pulang ke rumah.


Gina menarik nafas dalam-dalam belum rela meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama Bu Sarah dan Om Sabri. Namun Gina juga tidak bisa mengabaikan keinginan ibunya yang menginginkan dia hidup lebih baik.


"Baiklah. Kita tidak harus tinggal di rumahmu setiap hari. Kita bisa pulang ke rumah setiap kita kangen."


Gani dan Kevin tersenyum melihat Gina telah menyerah. Asal gunakan sepatah kata ibunya maka Gina akan jadi kucing jinak. Bukan macan galak lagi. Kevin makin paham kalau Bu Sarah adalah segala-galanya buat Gina. Gina sangat mencintai ibunya itu.

__ADS_1


Seusai sarapan ketiganya segera berangkat menuju ke rumah Kevin di tempat elite. Kali ini Kevin yang membawa mobil karena dia lebih mengenal rute ke rumahnya. Di dalam mobil semua tak banyak bicara. Apalagi Gina makin enggan buka mulut. Dia merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga padahal dia ke rumah Kevin bukan untuk selamanya.


Gina sudah mengetahui rumah Kevin karena sudah beberapa kali datang ke sini. Rumah itu tetap sepi tidak ada yang berubah. Pemilik rumah tidak ada di tempat secara otomatis rumah itu menjadi makin sepi. Tak lama lagi rumah ini akan dipenuhi oleh keceriaan karena kedatangan dua makhluk ajaib yang selalu bikin suasana menjadi semarak.


Kevin membunyikan klakson mobil 3 kali untuk memberi tahu pada satpam agar membuka pintu. Kepala satpam menyembul dari balik pintu kecil sebelum membuka pintu gerbang. Tampaknya Satpam pernah merasakan suasana tak kondusif maka makin hati-hati melihat siapa yang datang. Begitu melihat mobil bosnya telah datang maka tanpa ragu dia membuka pintu gerbang yang cukup kokoh.


Satpam itu mengangguk sopan tatkala mobil Kevin masuk ke dalam halaman rumah. Senyum cerah menghiasi wajah satpam karena cukup lama dia tak jumpa bosnya. Bosnya yang dia tunggu-tunggu akhirnya muncul juga.


Mobil berhenti di parkiran lalu ketika penumpang turun dari mobil langsung menuju ke rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah Gina melemparkan senyum penuh persahabatan kepada satpam yang pernah menjadi temannya. Satpam itu belum tahu kalau Gina telah menjadi majikan perempuannya.


Andaikata satpam itu tahu kalau teman ngobrolnya dulu telah menjadi majikan perempuannya entah bagaimana reaksinya. Satpam itu membalas senyuman Gina dengan melambaikan tangan sebagai tanda menghargai.


Kevin langsung masuk ke dalam rumah lantas memanggil sang pembantu setia yang telah kerja puluhan tahun. Si bibik pasti kangen pada Kevin setelah sekian lama tak jumpa. Gani dan Gina duduk di sofa tamu tanpa dipersilahkan. Keduanya tidak sungkan berada di tempat Kevin sebagaimana Kevin berada di rumah mereka.


Seorang perempuan paro baya muncul dengan senyum cerah seperti satpam tadi. Bibik tak sabar ingin segera menyapa majikan yang dia rawat dari kecil.


"Nak Kevin...sudah pulang ya! Ya ampun tambah gemuk dan putih. Eh nona Gina! Wah... Alhamdulillah kalian semua sehat!" bibik berkata dengan suara semangat.


"Kok gemuk bik? Apa iya gemuk?" Kevin memeriksa badannya termakan omongan bibik. Rasanya perutnya memang agak buncit tidak atletis katak dulu. Kevin tak pernah olahraga lagi sejak jumpa Gina. Waktunya tersita untuk berbagai urusan sampai abaikan kesehatan.


"Iya gemuk...paling dikit lima kilo." Gina membenarkan omongan bibik. Kevin sendiri tak sadar telah menimbun lemak sejak tinggal di rumah Gina. Masakan sederhana namun Kevin selalu menikmati semua masakan di tempat Gina. Baik masakan Bu Sarah maupun Gina.


"Ya sudah...aku bertanggung jawab nikahi kamu! Kamu jelek tak ada yang mau kan?" sahut Gina santai menimbulkan gelak tawa Gani dan Bibik. Rumah yang barusan sepi senyap kini telah diwarnai gelak tawa.


Kevin masam-masam malu kucing. Mau nikah gimana lagi. Bukankah merek suami isteri sah hukum negara dan agama. Hanya saja segelintir orang yang tahu.


"Bik...bersihkan satu kamar untuk Gani ya! Malam ini kami akan nginap sini. Dan satu lagi bik! Gina adalah nyonya rumah ini. Kami telah menikah secara resmi cuma belum dipestakan." Kevin memperkenalkan Gina kepada bibik bukan sebagai asisten melainkan nyonya rumah tang bakal dampingi Kevin selamanya.


Mata sang bibik kontan berembun menahan rasa haru. b


Berita yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga walau bibik terlambat tahu. Bibik tak soalkan dia tak berada di tempat anak kesayangan menikah. Kevin bukan orang yang suka menyimpan rahasia. Dia lakukan semua ini pasti ada sebab musabab.


"Maaf bik! Kami tak sempat beritahu bibik karena kami menikah secara mendadak. Ibuku mau berangkat ke Jerman, beliau memaksa aku menikah dengan bang Kevin. Bibik adalah ibunya bang Kevin jadi kami tetap mengharap restu dari bibik." Gina menyadari kalau perasaan bibik bisa terluka karena anak yang dia rawat dari kecil menikah tanpa kabar. Gina segera bangkit menyalami bibik dengan takzim walaupun dia seorang pembantu. Posisi bibik sangat mulia telah habiskan seluruh hidup demi Kevin.


Bibik tak kalah terharu mendapat kehormatan disalami Gina seakan dia adalah ibu kandung Kevin. Gina tak malu-malu akui kalau bibik adalah orang penting dalam hidup Kevin. Tanpa bibik Kevin tak mungkin tumbuh sebesar ini.


"Sudah...sudah..yang penting kalian sudah ada ikatan jelas. Bibik akan segera mengurus kamar untuk kalian. Kebetulan keponakan bibik ada di sini temani bibik selama nak Kevin pergi. Dia bantu-bantu di sini bersihkan rumah. Bibik harap kalian tak keberatan."


"Tentu saja tidak bik. Malahan kita senang tambah rame." Gina wakili Kevin beri jawaban. Dia sudah menjabat sebagai istri Kevin maka soal pembantu biarlah dia tangani sendiri. Bagian pembantu bukan ranah Kevin sebagai lelaki.

__ADS_1


"Terimakasih nak Gina! Bibik siapkan dulu kamar kalian." Bibik masuk ke dalam dengan langkah ringan. Kevin sudah menikah artinya dia terbebas dari tanggung jawab mengurus laki itu. Kini Kevin sudah yang mengatur sebagian hidupnya. Otomatis beban bibik berkurang.


Kevin menarik nafas lega telah tunaikan kewajiban sebagai suami perkenalkan Gina sebagai majikan baru di rumah ini. Gina berhak mendapat posisi terbaik di rumah ini karena dia telah memiliki semua yang ada pada Kevin.


Gani tersenyum senang membayangkan hidup sebagai raja. Dia tak perlu repot menyiapkan makan malam dan sarapan pagi lagi walau gantian dengan Gina. Di sini ada pembantu berarti dia pensiun mengurus rumah. Tinggal bawa mulut untuk makan di meja penuh dengan aneka makanan.


"Gin...kita ke rumah ambil baju ganti ya. Kita ke kantor dari sini esok hari. Dan kau Gani juga ambil baju ganti." kata Kevin memecahkan kebisuan di ruang tamu yang sangat luas.


"Iya...kita bawa yang perlu saja! Toh kita akan sering pulang ke sana." sahut Gina


"Terserah kamu saja. Pakaian aku tak usah dibawa karena di sini masih banyak pakaian aku. Atau kita pergi beli yang baru saja. Yang di sana biar di sana jadi kita tak perlu bawa sana sini." Usul Kevin memikirkan repotnya bawa baju ke sana kemari.


"Setuju..." sahut Gani cepat. Laki gemulai ini paling doyan bila diajak belanja. Jiwa feminimnya kontan nyelonong keluar begitu dengar kata belanja. Tak usah ditawar dua kali laki gemulai ini langsung setuju.


"Tak usah..nanti ada waktu baru kita belanja. Aku dan Gani yang pulang. Abang tunggu di sini saja. Mungkin ada yang mau abang kerjakan di rumah setelah sekian lama tinggalkan rumah."


Kevin mengangguk setuju. Kevin juga sudah kangen pada rumahnya. Kevin sudah tak sabar ingin tidur di ranjang kesayangan. Tentu ranjang lebih empuk dibanding dengan ranjang di rumah Gina yang standard. Kamar Gina terlalu kecil untuk ukuran seorang CEO.


"Ok deh! Kami pergi pulang dulu. Kami akan bersiap untuk bawa sebagian barang kami ke sini. Abang istirahat saja ya!" Gina bangkit sambil meraih kunci kontak mobil yang tergeletak di atas meja.


Gani mendecak kecewa tak jadi pergi belanja. Padahal tadi Gaji sudah bayangkan beli baju baru pasti dibayarin oleh Kevin. Gani punya duit tapi sayang digunakan untuk beli barang belum urgen. Lain cerita kalau ada cukongnya. Kevin pasti akan bayarin mereka belanja. Uang Kevin yang segunung takkan runtuh bila dicuwil dikit untuk beli pakaian untuk abang ipar.


"Kirain jadi beli baju baru!" gerutu Gani mendelik tak senang pada Gina yang terlalu hemat.


"Ntar kuantar ke pasar loakan. Di sana sepuluh dapat lima." ujar Gina balas delikan Gani tak kalah sengit.


"Baju atau kain pel? Sembarangan..." Gani mengejar Gina yang duluan tinggalkan dia.


Kevin sudah mulai terbiasa lihat kedua saudara kembar itu debat mulut. Ada saja bahan debatan mereka. Hal kecil sengaja diperbesar untuk cari bahan berantem. Kevin tahu itu hanya debatan saling menyayangi antara kedua anak itu. Kevin lebih tua dari mereka berdua maka paham apa yang terjadi.


Kevin merentangkan tangan sepanjang sandaran sofa untuk melemaskan otot-otot kaku. Memang nyaman bisa kembali ke rumah sendiri. Nyaman di rumah Gina berbeda dengan nyaman di rumah. Di rumah Gina pikiran Kevin tenang karena ada teman berbagi bisa dipercayai. Sedangkan di rumah Kevin akan kesepian tanpa kawan bicara.


Kevin mau rasakan berada di rumah bersama Gina. Apa rasa aman yang dia miliki di rumah Gina akan terbawa kemari? Semoga semua akan berjalan normal setelah dia ambil keputusan besar menyerahkan hidup pada Gina.


"Hei...mana nak Gina?" bibik muncul membawa air jeruk untuk disuguhkan kepada majikan baru dia.


"Pulang bik.."


"Pulang? Bukankah akan nginap di sini? Bibik sudah minta Mai bereskan kamar untuk nak Gani."

__ADS_1


__ADS_2