
Pak Julio tertawa sumbang dengar Gina ngaku punya perasaan. Pak Julio bukannya tidak tahu kalau Gina tidak terlalu memperdulikan nafkah lahir batin Kevin. Pak Julio tentu saja tak tahu kalau Gina sudah lakukan kewajiban sebagai seorang istri. Tak mungkin juga Gina gembar gembor kalau Kevin baru saja belah duren.
"Pembantumu itu pasti tak punya latar belakang pendidikan memadai bukan? Bapak punya solusi untuk dia. Bapak mempunyai peternakan ulat sutra di daerah pegunungan jadi mungkin kita bisa menempatkan dia di situ. Di situ semua pegawainya adalah wanita kecuali penjaga peternakan. Jadi jauh kemungkinan dia akan mengganggu rumah tangga orang. Gimana?"
"Wah ide bagus pak! Silahkan bapak jemput dia agar tak merusak pemandangan di rumah kami. Terima kasih ya pak!"
"Kamu baru tahu ya kalau bapak sangat sayang pada kamu dan Gani. Kapan kamu mau datang ke rumah? Ibu dan adik-adik kamu asyik tanya ke mana kamu?"
Gina menggaruk kepalanya yang tak gatal karena telah ingkar janji kepada adik-adiknya. sudah berkali-kali Gina berjanji akan mengunjungi anak-anak Pak Julio namun sampai saat ini Gina belum sempat ke sana. Setiap hari sibuk dengan berbagai urusan. Untuk diri sendiri saja tak punya waktu bagaimana bisa terpikir cari hiburan.
"Bapak tahu kalau Gina disibukkan oleh sejuta masalah. Belum kelar satu sudah muncul yang lain. Kadang Gina juga lelah ingin kembali hidup seperti dulu walau hanya sebagai montir. Gina akan usahakan segera datang."
"Bapak sudah hafal janji kosong kamu. Gimana kalau weekend ini kita sekeluarga pergi liburan? Ajak Kevin dan Gani."
"Gina sih setuju tapi akan kucoba tanya Gani dan Kevin dulu. Takutnya mereka sudah mempunyai acara sendiri."
"Baiklah... bapak tunggu kabar darimu! Oya...ibumu bertanya apa kau sudah lupa punya ibu? Gani setiap hari menelepon ibu kamu sedangkan kamu seperti hilang ditelan bumi."
Gina tercengang nyaris melupakan ibunya yang telah berada jauh di mata. Sejak ibunya berangkat ke luar negeri belum pernah sekalipun Gina menghubungi beliau. Apa Gina terlalu sibuk sehingga melupakan orang yang paling penting di dalam hidupnya. Berjuang mati-matian untuk mengembalikan nama baik ibunya sehingga melawan Subrata habis-habisan. Namun pada akhirnya Gina justru merupakan titik yang paling penting di dalam hidupnya.
"Astagfirullah...Kenapa Gin jadi pikun begini? Ayah dan ibu pasti kecewa pada Gina. Gina minta maaf pak!"
"Apa bunda minta maaf kepada bapak? Kamu harus minta maaf kepada ibumu karena telah lalai sebagai seorang anak. Bapak harap kamu segera menghubungi ibu kamu agar beliau tidak kuatir."
"Siap pak...nanti Gina akan segera teleponi ibu. Terima kasih sudah ingatkan Gin."
"Kamu selalu begitu...ya sudah! Bapak mau ke kantor. Suruh pembantumu itu bersiap saja karena nanti ada yang akan jemput dia langsung ke peternakan. Kebetulan ada dua pegawai baru akan dibawa ke sana."
"Iya pak. Maaf sudah merepotkan."
"Kapan kamu tak pernah merepotkan bapak? Hati-hati di jalan nanti. Tak usah ngebut."
"Bapak tenang saja karena Gin berangkat dengan taksi online."
"Baguslah. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Gina meletakkan ponsel di atas pahanya dengan putus asa. Gina benar-benar telah lupa kewajiban sebagai seorang anak. Dari ibunya berangkat sampai detik Gina menarik nafas tak ada sepatah kata dia ucapkan pada Sarah. Apa Sarah tak kecewa punya anak tak berbakti macam Gina.
Perasaan bersalah membalur seluruh tubuh Gina tanpa tersisa. Andai kata Sarah berada di depan mata ini sekali Gina bersujud di telapak kaki ibunya untuk memohon maaf. Mengapa Gina begitu tega melupakan orang yang paling penting di dalam hidupnya.
Tanpa buang waktu Gina segera mengangkat ponselnya untuk menghubungi Om Sabri. Gina harus segera minta maaf sebelum ibunya makin sedih.
Gina berusaha hubungi Om Sabri melalui aplikasi wa karena Gin tak punya nomor kontak Om Sabri yang baru. Semoga saja aplikasi Om Sabri masih aktif sehingga dia bisa segera berhubungan dengan ibunya. Gina tahu Bu Sarah tak punya ponsel pribadi seperti orang lain. Ibunya terlalu sederhana untuk berbaur dengan modernisasi.
Ternyata telepon ke luar tidak selancar teleponan di tanah air. Cukup lama dial nomor barulah tercantum berdering. Itupun tak segera mendapat jawaban. Berkali-kali Gina dial tanpa patah semangat. Dalam benak Gina terlintas jangan-jangan Om Sabri ngambek tak mau angkat telepon dia lagi.
"Halo... assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam ayah...maafkan Gina ya!"
__ADS_1
"Kamu memang anak tak berbakti. Ibumu tiap hari mengharap kamu telepon. Beliau kangen dan kuatir padamu. Masih untung Gani rajin beri kabar."
"Maaf ayah... ayah kan tahu kalau Gina sangat sibuk mengelola perusahaan yang carut-marut. Sekarang kondisi perusahaan sudah mulai membaik. Gina sudah berhasil mengembalikan uang yang mengalir tidak jelas. Bahkan Gina telah berhasil eksekusi perusahaan Mahabarata. Subrata sudah tumbang."
Gina mendengar helaan nafas panjang Om Sabri. Suara itu sangat jelas walau jauh di seberang lautan. Gina tak tahu apa yang menjadi beban ayahnya itu. Harusnya Om Sabri bangga kepada sepak terjang Gina yang luar biasa. Dalam waktu singkat dia telah berhasil menyelesaikan beberapa kendala yang menggerogoti perusahaan serta mewujudkan dendamnya. Tapi mengapa Om Sabri tampak tidak bahagia.
"Gina...ayah bangga padamu. Kamu begitu kokoh melewati semua rintangan untuk menjadi yang terbaik. Tapi ayah mohon agar kamu berhenti sampai di sini saja. Ibumu juga tidak akan setuju bila kamu berbuat semena-mena kepada Subrata. Dia itu hanya masa lalu ibumu. Sekarang ibumu dan ayah sudah bahagia menanti kelahiran adik-adikmu jadi ayah mengharap kamu segera menghentikan semua dendam yang tidak berguna itu."
Gina dibuat tertegun oleh nasehat dari Om Sabri. Gina berpikir selama ini Om Sabri mendukung dia mendapatkan hak Sarah. Ternyata dugaan Gina meleset, ayahnya itu juga tak setuju Gina terus pupuk dendam itu ntah sampai kapan selesai masa panen.
"Ayah tak suka aku balas semua kejahatan Mahabarata?" tanya Gina lirih agak sedih Om Sabri tak melihat semua usahanya membela sang ibu. Gina habiskan waktu seumur hidup hanya ingin lihat Mahabarata sengsara.
"Sayang....kalau Subrata tak berbuat ulah maka hari ini ayah tak dapat bersama ibumu. Anggap saja Subrata telah berbuat baik antar ibu pada ayah. Kamu sudah dapatkan Mahabarata. Semua sudah impas. Jadilah anak ayah yang patuh!"
"Baik ayah... Dina sedang mendidik Gani untuk duduk di perusahaannya Subrata. Gani juga harus belajar bertanggung jawab untuk masa depannya sendiri."
"Terserah kamu...cuma ayah ingatkan kamu agar kelak tidak kecewa pada Gani. Dia itu tidak seperti kamu. Kamu kuat dan tahan banting sedang dia itu mirip kerupuk yang mudah remuk. Berharap boleh namun harus siap kecewa juga. Apa kamu masih sering bully dia?"
"Jamin ngak...dia sudah banyak berubah sejak Kevin tempatkan dia langsung bertanggung jawab atas beberapa bawahan. Dia juga sedang incar seorang cewek."
"Wow...ada kemajuan anak lajang ayah. Semoga dia sukses kejar cewek itu. Kamu dan Kevin gimana? Jangan-jangan kamu suka bully suamimu!"
"Ishhh ayah...tuduh tanpa bukti! Kevin dalam kondisi super sehat." ujar Gina teringat kenangan indah bersama Kevin semalam. Tak urung Gina malu sendiri tanpa sepengetahuan Om Sabri.
"Syukurlah! Ayah tiap hari berdoa semoga anak-anak ayah senantiasa dilindungi oleh Allah. Setelah adik kalian lahir kami akan pulang tanah air. Ayah tak betah di sini."
"Gimana adik kami yah? Sehat?"
Hati Gina deg-degan tak sabar mau tahu kondisi adiknya. Semoga yang lahir bukan model Gani bikin urat kesalnya selalu bangkit. Tangan Gina sering gatal kalau lihat tingkah Gani suka bikin malu dia.
"Ayah mau bilang adik kami kembar lagi?"
"Kok kamu tahu?"
"Yaelah tebak doang! Kami kan anak kembar bisa jadi generasi selanjutnya kembar lagi. Cuma apa tidak bahaya mengandung Anka kembar di usia tak muda lagi."
"Ayah juga surprise sewaktu diperiksa dokter. Kamu tak usah kuatir. Ibumu dikawal oleh Oma sepanjang hari. Kamu akan paling lihat ibumu. Sudah bengkak kayak gajah hamil."
Gina tak dapat sembunyikan tawa dengar Bu Sarah sudah mepar akibat hamil anak kembar. Di samping Gina juga kuatir ibunya tak bisa tahan mengandung anak kembar di usia cukup tua untuk ukuran wanita hamil.
"Ibu mana ayah? Kok kita saja yang ngobrol."
"Sayang ayah...kami sini tengah malam. Ibumu sudah tidur. Ayah mana tega bangunkan ibumu. Ayah yang akan teleponi kamu bila ibumu sudah bangun. Kau lupa ayah di mana ya?"
Gina tersadar perbedaan waktu antar benua. Gina melupakan perbedaan waktu saking kangen pada ayah dan ibu.
"Maaf sudah ganggu tidur ayah."
"Untuk anak ayah apa yang tidak...kamu hati-hati di sana! Belajarlah lebih bijaksana nak! Tahan emosi walaupun jumpa masalah sepelik apapun. Hubungi ayah bila jumpa kendala. Jangan maju sendirian ya!"
__ADS_1
"Iya ayah...Gin rindu pada kalian."
"Ayah juga...salam untuk Kevin ya! Bilang sama dia kalau sakiti anak ayah maka ayah akan pulang patahkan tulangnya hingga beruas."
"Ach ayah...Kevin baik kok! Dia sangat patuh pada Gina."
"Huh...patuh kamu bilang baik. Belajar lembut dikit. Sekarang pergi kerja. Ayah mau lanjut tidur."
"Salam untuk ibu, opa dan Oma ya. Kalau semua sudah beres Gina akan kunjungi kalian."
"Baik..ayah pegang janji kamu. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warahmatullahi.." Gina masih terpaku memegang ponsel yang sudah terputus kontak. Gina makin termenung ingat semua nasehat Om Sabri. Mengapa Om Sabri juga tak ingin Gina melumatkan Subrata hingga tak berjejak. Gina juga tak sekejam itu. Sekarang saja sudah timbul rasa iba lihat kondisi Subrata.
Betul kata om Sabri. Bila Subrata tak bikin ulah maka Om Sabri dan ibu tak mungkin ada hari ini. Suka duka mereka lalui bersama sampai membuahkan hasil. Bu Sarah telah mengecap kebahagiaan sempurna sedangkan Subrata telah karam. Bukan kah sudah terjawab semua karma setiap orang bersalah.
Mulai sekarang Gina harus mengikis semua dendam di dalam dada. Gina harus mulai hidup baru bersama Kevin. Kini tinggal membimbing Gani untuk naik podium lebih tinggi. Gani lebih berhak mewarisi semua yang telah dipegang oleh Gina saat ini. Gani adalah putra pewaris semua aset keluarga sedangkan Gina hanya pelaksana.
"Nak..."
Suara bibik menyentak Gina dari lamunan. Perlahan mata Gina beralih ke perempuan paro baya itu. Bibik dan Sum sudah siap dengan tas di tangan. Sum telah siap untuk pindah ke tempat baru agar Kevin bisa hidup tenang.
Gina melihat wajah Sum agak murung harus keluar dari rumah orang yang dia incar. Kalau Gina lembut hati mau terima Sum sama saja memberi kunci rumah pada Sum untuk buka kesempatan emas goda Kevin.
"Sudah siap berangkat?"
"Sebenarnya tak siap nona..tapi aku tak punya pilihan lain bukan?" ketus Sum menyalahkan Gina mengusir dia pergi dari sini.
"Kamu tak jadi cs tapi ke peternakan ulat sutra. Kamu akan bergabung dengan teman lain. Sebentar lagi jemputan datang. Gaji sana lebih tinggi dari jadi cleaning service. Berkali lipat."
"Benarkah? Apa aku bisa?" Sum sedikit terhibur dengar gaji cukup lumayan.
"Bisa asal mau...bibik tak perlu kuatir. Itu peternakan keluarga kita. Sum aman di sana."
"Alhamdulillah nak! Bibik lega kalau Sum sudah dapat kerja lebih bagus. Bibik serahkan pada nak Gina saja."
Gina manggut-manggut ikut rasakan kelegaan bibik. Wanita model Sum sudah tak ada obat. Jiwa pelakor nya terlalu berat. Sampai di manapun pasti akan goda orang lain. Pak Julio sangat tepat ungsikan Sum ke tempat khusus cewek. Biarlah dia rasakan kegersangan tanpa hadirnya cowok untuk digoda.
"Tunggu saja. Nanti ada yang datang. Aku ada di kamar bila ada kepentingan." Gina bangkit tinggalkan bibik dan Sum.
Gina harus bersihkan kamar dari sisa percintaan semalam. Gina harus singkirkan seprei kena bercak darah pengantin. Gina malu bila ketahuan telah hubungan intim dengan Kevin. Sebenarnya tidak ada yang perlu malu karena mereka adalah suami istri. Melakukan percintaan memang dianjurkan bagi pasangan halal. Gina saja kelewat banyak pikir takut sendiri.
Gina membongkar sprei lalu simpan dalam tas untuk dibawa pulang ke rumah lama. Gina akan cuci sendiri bila pulang kerja nanti. Gina tak mau Bibik menduga yang bukan-bukan terhadap dirinya dan Kevin.
Gina biarkan kasurnya telanjang karena itu sudah menjadi tugas bibik untuk membereskannya. Biarlah bibik berpikir Gina ganti sprei karena bekas tidur Sum.
Gina membawa tasnya keluar kamar sekalian dengan tas kerja. Bibik dan Sum masih duduk di dekat pintu menanti jemputan. Ntah kenapa Gina tak bisa kasihan pada Sum. Justru Gina kasihan pada bibik yang harus menanggung punya keponakan gila.
"Bik...ini ada pegang dikit untuk Sum. Bekerja di sana kan tidak langsung mendapat gaji. Mungkin Sum ingin mengirim sedikit bekal untuk di kampung." Gina mengangsurkan beberapa lembar uang warna merah ke tangan bibik.
__ADS_1
Gina sengaja tidak memberikan kepada Sum supaya bibik yang pegang uang itu untuk diteruskan ke kampung. Kalau diberikan pada Sum belum tentu dia kirim ke kampung. Gina telah berpikir cara tepat bantu keluarga Sum di kampung.