
Siapapun lebih hebat tak sehebat Gina telah beri keturunan pada Kevin. Tak pernah terlintas di pikiran Kevin kalau dia akan secepat ini diamanahkan menjaga anak sendiri. Kevin sangat payah berhadapan dengan wanita kini punya anak yang belum tahu jenis kelamin. Kevin tak berharap anak kembar takut merepotkan Gina merawat anak. Cukup satu persatu mereka besarkan anak.
Ketiga laki muda ini segera berjalan ke raung IGD untuk melihat kondisi Gina. Langkah Kevin begitu ringan seolah mengambang di atas tanah. Tak ada beban berat selain tumpukan rasa bahagia.
Gina sudah sadar walaupun tampak masih lemas. Wanita ini menatap ketiga pemuda yang baru tiba. Gina sendiri agak malu jumpai Kevin padahal itu berita bagus. Gina tak sangka juga kalau dia akan secepat itu hamil. Masalahnya sendiri belum kelar semua tetapi dia harus menghentikan segudang kegiatan demi menjaga janin di dalam perut. Gina yakin kalau Kevin akan membatasi gerakannya dalam beraktivitas.
Kevin paling duluan menghampiri Gina dan memberi ciuman dahi dan kemudian mencium bibir istrinya tanpa malu-malu. Untuk sementara Kevin tidak bisa mengeluarkan kalimat saking bahagianya. Kevin belum merangkai kalimat yang tepat untuk memberi apresiasi pada ketulusan Gina mengandung anaknya.
Gani memberi ciuman melalui udara dengan meniup telapak tangan sambil memajukan bibir. Gani memberi tanda cinta bertubi-tubi sebagai ucapan bahagia mendapat keponakan. Di samping Gani berdiri Jay yang hanya tersenyum simpul ikut merasakan aura kebahagiaan.
"Terimakasih sayang..." hanya itu yang keluar dari bibir Kevin. Gina memberi senyuman tipis menanggapi pernyataan dari Kevin. Apa arti terima kasih bila tak ada tanggung jawab laki itu kelak. Bagi Gina adalah tanggung jawab terhadap anak istri bukan mengulang kisah lama melukai semua orang.
"Abang yakin bisa jadi imam yang baik?"
"Insyaallah...Abang akan menyayangi kalian sampai akhir hayat. Kita tak usah ingat kisah sedih di masa lalu. Cukup kita...keluarga kecil kita."
Gani mengerut kening tak terima perkataan Kevin hanya ingin keluarga kecil. Lalu apa arti om ganteng dari jabang bayi Gina. Om ganteng tidak dimasukkan ke dalam buku membuat hati Gani terluka.
"Woi...mana bisa keluarga kecil. Ada om ganteng...opa oma...dan calon om Tante yang belum lahir. Keluarga besar kali..." Gani nyerocos tak bisa tahan diri di masukan dalam hitungan. Gani memeluk tangan buang muka ke langit ruang IGD tanda ngambek.
Gina dan Kevin saling berpandangan lalu tersenyum. mereka berdua lupa kalau di antara mereka masih banyak keluarga yang siap memberi kasih sayang yang tulus. Ada Om Sabri, Bu Sarah, opa oma, Gani dan konco-konco Gina di kampung. Keduanya telah melupakan mereka saking bahagianya.
"Bagaimana bisa melupakan Om yang ganteng. Apa perlu Om yang ganteng dimasukkan dalam KK keluarga kami biar tidak terpisahkan." Kevin segera meralat perkataannya untuk menyenangkan Om ganteng yang sedang mewek.
"Oh itu tak perlu... aku berencana mempunyai KK sendiri dan melahirkan bebek-bebek mungil yang imut-imut. Andara sudah siap kulamar. Aku akan melamar Andara bila papi dan mami sudah kembali ke tanah air." Gani membuka rahasia hatinya. Kevin dan Gina surprise kalau Gani berani memiliki impian membangun rumah tangga dengan Andara. ini merupakan suatu kemajuan buat lelaki gemulai itu.
Gina berpikir kalau Gani takkan berubah selamanya tapi hari ini Gani telah membuktikan bahwa dia adalah seorang lelaki tulen walaupun memiliki sedikit kelainan memiliki tulang lunak. Siapapun pilihan Gani itu merupakan hak lelaki itu. Gina berjanji akan menerima Andara apa adanya walaupun gadis itu hanyalah seorang cleaning service. Gina tidak pernah memasalahkan status orang itu asalkan orang itu memiliki akhlak yang baik.
"Baik... kuterima niat baikmu! Tapi ingat jangan coba-coba bermain hati karena wanita itu memiliki kelembutan tetapi tak memiliki segudang kata maaf." ancam Gina tak mengharap kisah sedih terulang di badan Andara.
"I swear... Andara adalah satu-satunya makhluk terindah di bumi ini. Kamu Jay... kapan pula kamu mau menghalalkan si Jessica. Kamu jangan main-main dengan keluarga Jessica karena ku dengar abangnya adalah seorang militer. Kalau kamu macam-macam kepalamu akan jebol di singgah oleh rudal."
Jay menunduk malu ditodong oleh Gani. Jay juga mau serius tetapi status Jessica yang lebih tinggi dari dia membuat dia agak minder. Jessica adalah anak dari keluarga kaya raya apa mau menjadi istri dari seorang asisten Kevin. Jessica memang telah mengetahui pekerjaan Jay dan bersedia menemaninya setiap waktu namun di antara mereka belum ada komitmen lebih mesra karena Jay masih ragu-ragu untuk menembak Jessica.
"Jay???" Gina memanggil Jay menunduk tak memberi reaksi.
"Aku takut ditolak.." lirih Jay pelan kurang pede.
__ADS_1
"Anak laki mana boleh gitu? Kamu harus berani walaupun resikonya cukup besar. Apapun jawaban dari gadis itu kamu harus siap menerima setidaknya kamu telah menunjukkan bahwa kamu seorang lelaki sejati. Aku dukung kamu." Kevin hampiri Jay menepuk bahu laki muda itu beri semangat.
Ada pijaran menyala di mata Jay. Kevin sudah beri dukungan berarti dia tak boleh mundur. Di terima atau di tolak itu sudah menjadi resiko seorang cowok. Jay tak mau dianggap cowok lemah. Dia harus berani menanggung semua risiko walaupun kepahitan bisa menjadi akhir semua ini. Jay harus optimis.
"Aku siap..." Jay membusung dada siap tempur mengejar cintanya. Dia siap berlari mengejar cinta. Jalan menuju cinta tetap akan berliku namun sebagai lelaki pantang mundur.
"Assalamualaikum..." terdengar sapaan bersuara berat.
Keempat orang itu serentak menoleh ke arah suara. Di situ sudah berdiri Angela dan Subrata yang kelihatan sangat terpukul melihat kondisi Gina. Gegap kebahagiaan baru yang mereka cicipi harus terputus hanya gara-gara satu kesalahan kecil. Subrata tetap menganggap Angela yang telah mencelakai Gina. Subrata tidak mengetahui kalau dia akan menjadi seorang kakek dari Gina.
"Waalaikumsalam..." sahut Kevin agak malu telah menuduh Angela melakukan perbuatan jahat pada istrinya. Padahal Gina pingsan tidak ada sangkut pautnya dengan wanita yang pernah berbuat salah itu. Kepanikan Kevin yang telah memunculkan bayangan buruk di dalam pikiran laki itu sehingga menganggap Angela telah berbuat jahat pada Gina.
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Subrata tak bisa menyembunyikan rasa kuatir. Angela juga was-was takut terjadi sesuatu pada Gina. Kalau terjadi sesuatu pada Gina dia juga yang kena imbas.
"Alhamdulillah sudah sehat...maaf aku telah berkata tak sopan pada Bu Angela! Gina pingsan bukan karena Bu Angela melainkan karena Gina sedang hamil." Kevin tidak malu meminta maaf pada Angela atas kesalahan dia. Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Kevin tidak akan mengelak pura-pura bodoh telah berbuat kasar kepada Angela. Dia tetap harus meminta maaf walaupun hanyalah juga bukan orang baik-baik.
"Alhamdulillah... syukurlah kau tak apa-apa nak! Ibu ikut senang kamu hamil. Walaupun aku bukan ibu kandung kamu tetapi dengan setulus hati Aku mengucapkan puji syukur pada Allah telah memberimu keturunan." Angela tidak masalahkan perkataan Kevin yang kasar kepadanya melainkan bersyukur Gina tidak tertimpa musibah malah mendapat berkah.
Subrata tampak lebih rileks setelah mengetahui Gina dalam kondisi baik-baik bahkan telah memberi kabar baik dia akan menjadi seorang kakek. Subrata berjanji akan mempergunakan kesempatan baik ini untuk berbaikan dengan anak-anaknya ditambah dengan cucu. Kesempatan ini tidak akan terulang lagi bila Subrata melakukan hal buruk lagi.
Kevin sangat berterima kasih dengan niat baik Subrata tidak mau membebankan Gina dengan setumpuk pekerjaan di kantor. Berkurang satu beban berarti bertambah sedikit waktu istirahat Gina. Kevin juga berjanji akan membantu Gina mengawasi kantornya yang lebih besar dari perusahaan Kevin. pokoknya Gina akan menjadi ratu di atas Maharani. Kevin siap korbankan apapun demi kebahagiaan dan keselamatan anak istrinya.
Senyum cerah menyangkut di setiap bibir yang hadir di ruang IGD. Tak ada dendam tak ada dengki tak ada kesyirikan hidup ini terasa lebih damai. Subrata juga telah memaafkan Angela atas perbuatannya yang mencoreng nama baiknya. Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua. Subrata berjanji akan menerima kehadiran Angela di sisinya setelah wanita itu menjalani sisa hukuman. Berita bahagia bertubi-tubi menghampiri mereka semua. Kini tinggal memberi kabar ke luar negeri dan kepada Pak Julio yang akan menjadi seorang kakek.
Gani sudah tidak sabar ingin segera melapor kehamilan Gina kepada maminya di Jerman. Gani yang suka heboh bisa membayangkan bagaimana reaksi bu Sarah dan Om Sabri bila mengetahui akan menjadi seorang ayah ibu dan juga akan menjadi kakek nenek. Sungguh situasi yang luar biasa bagi keluarga Gani. Berita baik yang berlapis-lapis.
"Dokter bilang Gina sudah bisa pulang. Cukup istirahat di rumah."
"Ayok kita pulang! Terlalu lama di rumah sakit juga tidak terbaik buat kesehatan janin di dalam perut. Aku akan pergi mengurus biaya administrasi dan kalian langsung pulang." Subrata meminta Kevin membawa Gina pulang ke rumah agar bisa lebih istirahat lebih santai.
"Biar aku saja pa... aku dan Jay tinggal di sini saja untuk mengurus biaya administrasi. Anggap saja ini pengeluaranku untuk keponakanku yang ganteng." Gani tidak mau membiarkan Subrata mengeluarkan biaya untuk keponakannya. Kehidupan Subrata tidaklah semegah dulu jadi setiap pengeluaran harus diperhitungkan. Gani juga tidak terlalu miskin untuk membiayai perawatan keponakannya.
"Ok...kalau gitu kami duluan! Sekali lagi maaf telah salah sangka pada Bu Angela." Kevin mengucapkan permintaan maaf untuk kedua kali membuat Angela makin merasa terharu melihat orang yang baik berani mengaku salah. Mengapa dari dulu dia tidak menyadari kalau berbuat baik akan mendapat pahala. Sekarang pun belum terlambat untuk bertobat karena hari-hari Angela masih panjang dihabiskan di penjara.
Kevin membawa Gina pulang ke rumah untuk beristirahat sementara Angela harus kembali ke penjara dan Subrata kembali ke tempat pesta. Tinggallah Gani dan Jay mengurus biaya pengobatan Gina. Gani sangat bahagia melihat adiknya menemukan kebahagiaan secara utuh tanpa ada sompel. Sudah saatnya Gina mendapat apa yang dia inginkan.
Sepeninggalan Kevin barulah tampak Gani menangis terharu. Di depan semuanya kami berusaha menahan air mata bahagia. Satu persatu badai telah mereka lalui dan kini hanya tinggal meraup hasil berbuah manis. Jay mengetok kepala Gani untuk tidak cengeng. Baru saja berjanji akan menjadi lelaki sejati kini mengalir air mata. Ini bukan sikap seorang lelaki menangis.
__ADS_1
"Sori bro...aku terlalu bahagia. Kamu tidak tahu sih bagaimana beratnya perjuangan monster memberi kami perlindungan. Dia rela melupakan statusnya sebagai seorang anak gadis demi membahagiakan aku dan mami. Apa aku tak boleh menangisi kebahagiaan si Monster kita?" tanya Gani di sela-sela perjalanan mereka pulang ke rumah.
Jay memahami perjuangan Gina sampai pada titik hari ini. bukannya tidak punya mata melihat bagaimana perjuangan Gina mencari keadilan buat ibunya. Dan kini semua itu telah tercapai. Gina telah menemukan apa yang menjadi haknya.
"Lebih baik kamu kabari om kamu dan mami kamu. Mereka pasti akan turut berbahagia menerima kabar ini. Kabar baik harus disebar secepatnya untuk memuaskan kebahagiaan semua orang."
Gani tampak langsung semangat ditegur oleh Jay untuk memberi kabar kepada keluarga inti tentang kehamilan Gina. Gani sudah tak sabar ingin ngobrol dengan Bu Sarah mengenai kesehatan adiknya dan juga mengabari kehamilan Gina. Rasa rindu kepada kedua orang tuanya makin memuncak setelah sekian lama berpisah. Hari ini Gani akan menumpahkan semuanya untuk meluapkan rasa bahagia yang tak bisa diukur dengan apapun.
Kevin dan Gina sudah sampai di rumah disambut oleh bibik dan Mai. Bibik yang belum mengetahui kalau Gina sedang mengandung agak kaget menyaksikan Gina masuk di papah oleh Kevin. Bibik menduga apa yang telah menimpa majikan dia sampai pulang dengan kondisi tidak sehat. Bibik cepat-cepat menyediakan air hangat untuk Gina dan membantunya peristirahatan di dalam kamar. Kevin dan Bibik mengantar Gina masuk ke sampai ke dalam kamar.
"Nak Gina sakit lagi?" tanya bibik cemas sambil menyelimuti majikan perempuannya.
"Iya bik... nyonya muda kamu ini akan sakit sampai 9 bulan ke depan. Setelah itu dia akan sehat dan menyandang gelar sebagai seorang ibu." ujar Kevin bangga.
Bibik cepat ngerti langsung bersorak gembira, "Kamu hamil? Alhamdulillah... akhirnya di rumah kita akan diwarnai oleh suara anak kecil. Mulai besok bibik akan menyediakan makanan yang enak-enak agar si jabang bayi tumbuh sehat. Sekarang nak Gina tak perlu memikirkan apapun dan istirahat. Bibik ke dapur bikin teh hangat."
Kevin dan Gina tersenyum melihat kehebohan bibik menerima kabar baik ini. Siapa tidak bahagia bila di rumah akan diwarnai oleh tangis dan tawa anak kecil yang menggemaskan. Kevin sudah membayangkan hari-hari bahagia itu walaupun masih butuh waktu cukup panjang untuk menanti kelahiran si kecil.
Kevin mengecup kening Gina berkali-kali sebagai tanda syukur telah memiliki keluarga utuh. Rasa sedih atau masa lalu telah terbayar dengan kebahagiaan di depan mata.
"Kau senang?"
Gina mengangguk mendapat karunia tidak terhingga dari Allah SWT. Gina sudah memetik pelajaran berharga atas penderitaannya dan akan lebih tegar melangkah ke depan menyongsong fajar lebih ceria bersama keluarganya.
"Kisah kita berliku-liku diwarnai jatuh bangun, tawa tangis silih berganti namun akhirnya berakhir dengan kebaikan."
Kevin naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dengan sebelah tangan untuk menyatakan bahwa Gina adalah segala-galanya buat dia. Jalannya menuju ke cinta Gina penuh cobaan namun akhirnya telah dia lalui dengan baik. Puji syukur semua berakhir dengan tawa cerah tanpa linangan air mata lagi.
"Aku bersumpah akan melindungi kamu sampai kapanpun dan jangan lupa kamu menegur aku bila tersesat di jalan yang salah. Jalan kita menuju cinta itu tidak segampang orang lain jadi kita harus menghargainya. Tetaplah menjadi pelita di hidupku menerangi jalanku agar tidak tersesat. Aku mencintaimu nyonya Kevin!"
"Aku juga..."
Kevin merengkuh Gina erat-erat ingin terpisahkan. Jalan mereka telah terbuka lebar menuju pintu kebahagiaan. Mereka akan berjuang bersama yang lain mencari kehidupan lebih baik. Sama-sama berjuang membangun pondasi yang lebih kokoh lagi. Kevin dan Gina telah mendapat berkah dari kesabaran dan bertawakal mereka pada Ilahi.
E N D
Terima kasih telah menjadi pembaca setia aku. Aku akan tetap menulis untuk menemani pembaca setia yang telah menemaniku cukup lama. Silahkan simak cerita baruku yang berjudul KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN. Tetap dukung ya. Trim's. Love u all...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1