
"Akan kubunuh nyamuk yang berani istirahat di hidung. Aku yang sebagai suami belum mendapat menyentuh hidung mungil kamu masak nyamuk yang duluan nangkring di situ. Ini telah melawan hukum pidana."
Gina tertawa geli mendengar ocehan Kevin yang melawak. semoga saja dengan gurauan ini bisa membangkitkan rasa nyaman di hati Kevin yang tampak tadi sangat besar. Gina harus pandai menjaga mood Kevin karena lelaki itu memiliki penyakit trauma yang mendadak bisa muncul setiap saat.
"Berani bayar berapa untuk nangkring di atas hidung aku?"
"Emang kamu sanggup menampung badan aku? Atau aku harus disihir menjadi nyamuk baru bisa menetap di situ."
"Jadi pangeran nyamuk dong! Ogah ach...ganteng gini jadi vampir mini. Aku mau jadi pangeran di hati kamu saja. Aku akan membangun kerajaan besar di hati Kamu dan bertahta di sana sampai akhir zaman. Dan kaulah satu-satunya ratu di dalam hati di kerajaan hatiku itu."
Gadis sekeras apapun tetap saja akan kesenangan bila dirayu oleh lelaki. Di dalam hati Gina bersorak girang namun ekspresi wajah tetap datar seolah perkataan Kevin itu tak ada artinya. Gina terlalu pandai menyimpan perasaan sesungguhnya sehingga orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan.
"Kurasa Gani masak lauk kurang matang hingga Abang keracunan." kata Gina tetap cuek simpan rasa senang yang bercokol dalam dada. Kevin bisa besar kepala bila mengetahui Gina suka dirayu olehnya.
"Bukan keracunan masakan Gani melainkan tertelan cinta yang tebar di sudut matamu."
"Udah pinter gombal ya! Belajar dari siapa?" Gina menyipitkan mata menyelidiki sejak kapan laki ini pandai merayu cewek. Dekat cewek saja tak berani namun mulut meluncur kata rayuan sejuta rasa.
"Bakat alami belum terasah. Begitu muncul bidadari pujaan hati segala bakat itu timbul secara alami."
Gina manggut-manggut sok tahu akan memahami apa yang dikatakan oleh Kevin. Gina percaya kalau dasarnya Kevin itu seorang playboy yang belum mendapat sertifikat. Sertifikatnya tertahan karena belum lulus ujian menghadapi wanita.
"Baiklah! Aku ingatkan kalau gombalan itu hanya boleh berada di rumah ini. Kalau terbawa keluar aku tak jamin kapan mulut Abang akan di resleting." ujar Gina pelan tapi mengandung ancaman mengerikan.
Kevin meraba kuduknya yang merinding membayangkan gimana rasanya kalau mulutnya dipasang resleting. Dibuka bila diperlukan saja. Dapat dibayangkan betapa sadisnya orang yang memiliki usul demikian mengerikan.
"Nyonya Kevin tidak perlu kuatir karena gombalan itu hanya bisa muncul bila bersama dengan bidadari pujaan hati."
"Ok... aku pegang janji Abang. Tadi abang bicara dengan siapa tanpa sangat tidak senang. Gina bukannya mau ikut campur urusan pribadi Abang tapi harus jaga stabilan emosi Abang."
Kevin menggerakkan tubuh mencari posisi nyaman untuk membahas masalah Peter dan keluarganya yang mulai mencari peluang untuk masuk ke dalam hidup Kevin. Kelihatannya Peter sangat dekat dengan mereka sehingga membantu mereka membujuk Kevin untuk menerima Luna sebagai istri.
"Peter..."
Tubuh Gina agak menegang mendengar nama Peter. Apa lelaki itu sedang menyelidiki masalah proyek di kota m yang telah diganti pimpinan proyeknya. Peter secara otomatis telah ter sepak dari proyek ini sehingga tidak senang lahannya digarap orang lain.
"Apa dia sudah tahu kalau proyek di kota m telah diganti oleh orang lain?"
"Sudah kubilang kalau Pak Julio menangani proyeknya secara pribadi dan menyediakan para pekerja. Dari pihak kita hanya menyediakan material saja."
Gina membulatkan mulutnya membentuk huruf o melambangkan dia lega tidak terjadi konflik antara kedua saudara itu. Ternyata otak Peter tidaklah sebebal yang dia bayangkan. Peter masih bisa menerima kekalahan dengan legowo tanpa bikin onar.
"Dia terima bukan?"
"Ya...masalahnya bukan itu melainkan Peter masih berharap aku mau menikahi Luna janda tak jelas itu. Kurasa tujuan mereka ialah ingin menguasai harta warisan kakek. mereka pikir hidupku tak panjang lagi maka ingin menikahkan aku dengan Luna lantas setelah aku meninggal mereka akan menyapu bersih semua harta aku. Kau tahu mengapa aku mengalihkan seluruhnya kepada kamu? Salah satu sebabnya adalah karena masalah ini."
__ADS_1
Gina menatap Kevin lekat-lekat mulai memahami apa tujuan Kevin melimpahkan seluruh hartanya kepada Gina. Ternyata Kevin hanya ingin melindungi seluruh asetnya dan percayakan kepada Gina.
"Abang tahu aku tak butuh semua itu. Aku hanya ingin hidup tenang setelah selesai masalah Subrata. Rasanya aku ingin kembali ke bengkel dan meminta Gani yang mengurus perusahaan opa."
"Aku percaya padamu maka serahkan seluruh hidupku padamu. Mau kamu sembelih untuk hari raya kurban juga aku sedia."
"Emang aku manusia kanibal?" protes Gina mewek disamakan dengan orang sadis. Semua orang anggap dia kejam padahal hatinya paling lembut tak tegaan. Gina paling tak tahan melihat orang lain menderita. Namun terhadap keluarga Mahabarata Gina mengeraskan hati tidak ada kata toleransi.
Kevin terkekeh-kekeh lihat Gina sewot dianggap manusia sadis. Padahal niat Kevin hanya ingin ungkap kalau dia serahkan seluruh hidup pada Gina.
"Maaf...kamu adalah bidadari surga yang diturunkan untuk jadi malaikat pelindung aku! Kau tak usah khawatir karena aku telah menyusun rencana panjang masa depan bersama kamu. Aku tak mau sembuh asal bisa bersama kamu sampai pipi keriput dan mata rabun."
"Yee..kalau mata rabun semua cewek dianggap bini. Pura-pura pikun agar bisa gerilya di badan cewek lain."
"Rabun pasti sudah jompo. Jalan saja kayak kena hantaman gempa bumi gimana mau ngerayu cewek lain. Pokoknya aman dah! Aku ini orangnya setia sentosa. Kujamin tak ada cewek lain selain kamu. Kalaupun ada itu hanya bayangan semu yang tak ingin kusentuh."
Gina menggeleng tak percaya seorang CEO bisa gombal cewek persis seniman kasmaran. Baru malam ini Gina tahu kalau Kevin itu pintar ngerayu cewek. Syukur Kevin tak bisa dekat cewek. Kalau hidup normal mungkin cewek seantero dunia kena perangkap rayuan Kevin. Laki itu tak punya pilihan karena tak bisa dekat cewek lain mau tak mau harus terima Gina. Kesannya cinta tak ada pilihan lain.
"Kalau aku pengarang aku akan tulis buku Cinta Tak Punya Pilihan. Sayang aku hanya montir."
"Nah itu yang aku syukuri. Dapat bini serba bisa. Itu rezeki aku!" Kevin menepuk dada bangga. Gina mencibir tak termakan semua gombalan Kevin walau kepala membesar dipuji sang suami.
"Halo...pengantin baru! Aku bawa rezeki.." Gani datang bawa piring berisi buahan segar sudah dikupas bersih. Buahan segar untuk cuci mulut setelah makan malam. Cemilan sehat dibanding gorengan.
Gani meletakkan piring di meja sambil mengerling genit ke arah Gina. Gani mau menggoda adiknya yang tampak jinak malam ini. Gina tampak manis dengan setelan piama. Tak ada letupan ganas di wajah manis itu. Gani suka lihat Gina duduk manis seperti gadis remaja umum. Bukan monster mengerikan.
"Dari pasar buah dong! Emang kita ada kebun buah siap petik?" sahut Gani kenes.
"Kirain nyolong dari kebun tetangga."
"Nyolong paling satu. Ini kubeli pakai uang halal bestie..."
Gina mencomot sepotong buah pears segar. Gani ikutan mengambil pakai tusuk gigi yang memang sudah dia sediakan. Kevin masih pasif menunggu inisiatif Gina memanjakan suami. Kevin mau lihat istrinya itu ada romantisnya ngak. Suapin suami makan buah jelang waktu tidur.
Gina tidak pandang Kevin sedikitpun malah asyik jejali mulut sendiri dengan buahan. Mulutnya yang mungil kunyah dengan santainya tak tahu ada yang gemas diabaikan. Gani yang menyadari kalau Kevin belum menyentuh sepotong pun.
"Kak...dimakan!" pinta Gani.
"Eh iya..." sahut Kevin gelagapan.
"Makan tuh buah biar sehat! Jangan sering makan daging doang!" Gina sok tua nasehati Kevin. Gina tak tahu kalau Kevin sudah gregetan melihat istrinya itu tidak bereaksi mengambil buah untuk suami.
"Tanganku agak kesemutan. Mungkin banyak mengetik tadi siang." Kevin pura-pura jemari tangan kaku lalu gerakkan bergantung di udara.
Gani tersenyum cepat tangkap maksud Kevin minta di manja oleh Gina. Wajar toh Kevin minta perhatian dari Gina sehubung gadis itu cuek banget pada suami.
__ADS_1
"Aduh Gin...kamu ini gimana sih? Suami kurang sehat tidak diladeni. Ayo main suapan!"
Gina bingung sejenak berpikir apa suami istri harus begitu? Kayaknya om Sabri dan Bu Sarah tidak begitu. Mereka saling menyayangi namun tidak lebay pertontonkan kemesraan di depan umum.
"Ayah dan ibu kok tidak suapan?" gumam Gina didengar jelas oleh kedua pria di dekatnya. Gani ingin ketok kepala Gina supaya sadar pasangan om Sabri dan pasangan Kevin beda zaman. Om Sabri dan Bu Sarah produk zaman sepeda onthel sedangkan Gina dan Kevin produk motor listrik.
"Hei nyonya muda...mami dan papi itu tak zaman mesraan karena sudah kadaluarsa. Kalian masih gres...beda dong! Jadi orang jangan kaku kayak tiang listrik. Fleksibel dikit Napa?"
Gina selalu jadikan kedua orang tuanya sebagai panutan. Semua yang dilakukan oleh orang tuanya tak luput dari pantauan Gina. Mereka berdua selalu akur dan bermesra tanpa berlebihan. Gina ingin seperti kedua orangtuanya tidak bertengkar sampai kapanpun.
Kevin menjadi kasihan lihat Gina kebingungan. Kevin harus perlahan membeli hati Gina agar luluh padanya. Mereka berdua adalah korban ayah bejat maka mereka harus lebih saling ,e,beri dan menerima.
"Tak apa...aku makan perlahan saja." ujar Kevin hindari bad mood Gina.
"Kalian makan saja! Aku mau cepat tidur. Besok mau cepat masuk kantor."
Gani dan Kevin tertawa geli besok Gina mau masuk kantor. Dulu alergi kantor sekarang malah jadi setan kantor. Hari Minggu juga mau ke kantor.
Gina menyeret sandal masuk ke kamar dia. Gadis itu masuk tanpa ragu seolah sudah bersedia tidur sekamar dengan Kevin. Kevin dan Gani yang lihat Gina masuk kamar Kevin langsung tersenyum penuh arti. Akhirnya monster luluh bersedia jadi istri utuh untuk Kevin.
Gani acung jempol beri kode ok. Niat Kevin untuk sekamar dengan Gina akhirnya tercapai juga.
"Selamat ya! Jangan lupa keponakan imut! Jangan yang model maminya ya! Terlalu mengerikan." bisik Gani membuat Kevin terbahak-bahak. Rasa bahagia menyelimuti seluruh tubuh Kevin. Semuanya terasa lega plong. Hubungan mereka telah maju selangkah. Semoga ke depan makin lancar.
"Aku ke kamar ya!" Kevin segera bangkit untuk menyusul Gina.
Gani tentu saja beri izin walau dia akan kesepian habiskan malam ini sendirian. Mau pergi keluar cari kawan main takut kebablasan terseret arus kawan satu geng. Nanti diajak main di perempatan ngamen dulang yang receh. Ketahuan Gina bisa dirjmur sampai kering kerontang.
Gani pilih masuk kamar berkhayal apa yang bisa masuk alam khayalan. Dalam hati Gani berdoa semoga Kevin berhasil menaklukkan adiknya. Mungkin setelah mempunyai keluarga kita bisa lebih bertanggung jawab dan merubah sedikit sifat kasarnya.
Kita masuk ke kamar Gina lihat apa yang dilakukan oleh gadis itu. Ternyata Gina telah baringkan badan di atas ranjang menutup mata bersiap berlayar di alam mimpi. Gayanya tenang tanpa bersikap genit mau merayu Kevin.
Kevin yang terpana melihat Gina telah kuasai ranjang kecil mereka. Kalau Kevin nekat naik ke ranjang pasti akan bersatu dengan Gina. Mereka akan tidur saling berdempetan. Jujur Kevin ragu untuk ikut baringkan badan di kasur kecil ini.
Kalau Kevin ikut naik tentu mereka akan jadi pasangan romantis berbagi ranjang mungil. Saling beri kehangatan di bawahan hembusan kipas angin. Kamar Gina tidak dipasang AC karena takut tagihan listrik naik drastis. Hanya kamar Bu Sarah dilengkapi AC sebab keduanya ingin memanjakan ibu mereka. Mereka berdua hanya gunakan kipas angin untuk ademkan tubuh bila udara panas.
Kevin main cap cip cup mau bergabung sama Kevin atau harus rela tidur di lantai beralas selimut. Tidur di lantai seratus persen tak nyaman bikin tulang rontok. Apalagi laki manja model Kevin. Laki itu mana ngerti tidur apa kadar.
Lama mematung akhirnya Kevin mencoba bertaruh dengan nasib. Paling kena semprot Gina bila tak sengaja menyentuh kulitnya. Seharusnya Kevin berhak atas seluruh tubuh Gina namun Kevin sudah janji tak memaksa untuk buktikan perasaan tulusnya.
Kevin membuka baju kaosnya lalu perlahan baringkan tubuh di sisi Gina. Tak ada reaksi Gina selain bau harum tubuh Gina menggoda cuping hidung Kevin. Kevin mati kutu tak berani sembarangan bergerak takut menyinggung Gina.
Ini tidur paling sengsara buat Kevin. Sukses bawa Gina tidur seranjang namun tersiksa. Harusnya Kevin bagaimana baru bisa disebut punya istri tulen. Langsung tancap gas paksa Gina lakukan ritual malam pengantin?
Kevin harus pikir ulang untuk minta Gina menyerah padanya. Kevin laki sejati takkan jilat ludah sendiri. Kevin mau Gina betulan takluk barulah dia akan lega bersama Gina.
__ADS_1
Waktu berjalan sangat lamban menyongsong fajar. Kevin tak bisa tidur walau Gina tidak menolak tubuh Kevin berdempetan dengannya. Gadis malah tidur nyenyak diwarnai dengkuran halus berirama. Tidak berisik namun cukup ganggu kuping Kevin. Mau bangunkan Gina lebih tak mungkin.
Jadilah malam pertama mereka jadi derita sepanjang malam buat Kevin. Orang saling memberi kehangatan dan luapan cinta. Yang ini saling membeku mengharap fajar segera hadir. Kalau Gina bangun berakhir sudah derita Kevin.