
Gina juga bukan gadis yang bisa kenyang hanya makan gombalan. Malahan Gina tak tertarik pada semua rayuan recehan. Yang ingin dia lihat adalah kenyataan bukan hanya bunyi mulut diabetes. Manis bawa penyakit.
"Sekarang katakan ada masalah apa?" Gina berujar tanpa peduli pada semua rayuan Kevin. Gina menangkap ada bayangan kelam tersirat dalam mata Kevin. Seperti ada selapis selaput mendung tutupi cahaya terang di mata laki.
Benar kata orang tua kalau mata itu jendela hati. Semuanya tertulis jelas di mata. Kevin mau akting ceria tetap saja tak bisa kelabui kejelian mata Gina. Gina sudah hafal semua tindak tanduk Kevin sehingga cepat menangkap bila ada yang tak beres.
Dalam hati Kevin memuji kejelian mata Gina. Gina pasti selalu memperhatikan dia maka tahu ada perubahan walaupun Kevin berusaha tampak ceria. Kevin tak mau Gina berpikiran sementara kesehatan belum pulih benar.
"Masalah apa?" Kevin masih coba berkelit tak mau ungkap apa yang jadi beban dia. Kevin hindari kontak mata dengan Gina untuk menutup kegalauan hati.
"Ok...aku mau pulang sekarang biar kucari tahu ada apa?" Gina menyibak selimut mau turun dari ranjang.
Secara reflek Kevin menahan Gina untuk turun. Kevin menahan kedua bahu Gina agar tetap tiduran di atas ranjang. Kevin kuatir kalau Gina nekat hendak pulang. Siapa bisa tahan kekerasan hati gadis ini.
"Sayang...abang sudah bilang hanya masalah kantor. Setiap orang punya masalah di kantor selama kita masih mau terjun di bisnis. Abang masih sanggup handel kok!" bujuk Kevin tetap memegang bahu Gina agar gadis itu tak bergerak dari ranjang.
"Bang...mungkin aku ini orang kasar kurang peka terhadap yang namanya romantis. Tapi aku mengenal abang...abang takkan gugup bila tak ada masalah besar. Aku tak tahu bagaimana abang kelola perusahaan sampai sebesar ini tapi abang bukan aktor yang baik. Abang tak menjiwai peran abang. Katakan apa yang telah terjadi! Aku bukan orang lemah yang tak bisa terima berita buruk. Pisau tembus jantungku saja tak bikin aku mati apalagi hanya satu kabar berita. Ayo cerita biar kita pecahkan bersama."
Kevin bergidik dengar Gina ngoceh seakan tak takut pada maut. Cewek model apa ini? Di mana jiwa feminim dia? Kevin berpikir ulang kalau Tuhan itu salah tempat raga Gina. Harusnya anak ini terlahir sebagai laki baru cocok. Mental melebihi Kevin yang jelas terlahir jadi pejantan.
"Gin...nanti setelah kau sehat baru kita bahas. Itu tak urgen kok!"
"Aku akan makin sakit bila abang pendam rahasia dari aku. Abang tau sifatku bukan?"
Kevin memejamkan mata menimbang apa dia harus buka semua kesulitan yang sedang dia hadapi. Kebin juga tak lupa nasehat dokter tak boleh pancing emosi Gina. Kesehatan Gina memang makin membaik tapi tetap saja ada resiko bila terjadi pendarahan lagi.
Gina dapat merasakan keraguan Kevin yang penuh pertimbangan itu. Mau tak mau Gina menjadi kesal pada sikap plin plan Kevin mengulur waktu buka cerita. Gina menepis kedua belah tangan Kevin dengan satu gerakan. Gina mau Kevin tahu kalau dia sedang marah pada kebodohan lelaki itu.
"Baiklah...papaku sakit setelah diusir dari rumah oleh Mince. Bibik menemukan dia di depan pintu pagar dalam kondisi sekarat. Tapi setelah dirawat dia sudah baikan." Kevin bercerita cepat biar Gina tak dengar jelas.
Gina mengucek kuping belum yakin berita yang dia terima. Akhirnya laki brengsek itu kena batunya. Hati Gina kok tak merasa iba pada papa Kevin walau telah jadi gelandangan. Gina punya kisah buruk terhadap laki tukang selingkuh maka hatinya telah membatu terhadap orang yang campakkan keluarga demi perempuan lain.
Kevin tak lanjut cerita lihat Gina terdiam. Kevin tak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam hati Gina. Ekspresi wajah Gina datar saja tidak menunjukkan rasa senang maupun sedih. Gina mematung tak beri tanggapan. Kevin makin susah Gina tak beri reaksi. Harusnya dia tak cerita buat Gina tambah pikiran.
"Kapan kejadiannya?" lirih Gina nyaris tak terdengar oleh Kevin. Kevin dekatkan kuping ke wajah Gina biar jelas apa ayng dikatakan oleh istrinya itu. Suara Gina hampir tak keluar bila menyangkut laki jahat.
"Kau bilang apa sayang? Sudah Abang bilang kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang tak penting. Fokus pada kesehatan kamu saja. Di luar sana masih banyak orang menunggu kehadiran kamu."
Gina menarik badan agar sejajar dengan Kevin. Gina bosan bicara hanya berbaring. Gina seperti kehilangan kekuatan bila tak duduk tegak. Maunya berdiri di atas kedua kaki untuk menjejakkan kaki ke bumi rasakan betapa keras tanah di ats permukaan bumi. Sekeras kehidupan yang dia jalani sekarang.
"Aku tanya kapan terjadi?" Gina mengulang pertanyaan sama minta jawaban Kevin.
Kevin sudah tahu kalau dia sudah memulai maka tak ada jalan untuk mundur lagi. Kevin akan jujur kepada Gina walaupun harus menanggung rasa kuatir.
__ADS_1
"Sehari setelah kamu dioperasi. Aku tak bisa abaikan dia walaupun rasa sakit di hati belum sembuh. Aku tak mau jadi anak durhaka."
"Itu tergantung pada hati nurani abang. Sekarang gimana dia?"
"Besok akan keluar dari rumah sakit. Aku harus sembunyikan dia dari Mince. Mereka pasti akan paksa papa tanda tangan semua harta yang tinggal seupil. Aku takut mereka anarkis."
Gina tak punya hak melarang Kevin memberi perhatian kepada bapaknya. Gina merasa itu bagus juga Karena Kevin bisa berdamai dengan masa lalu yang pasti akan mempercepat penyembuhan penyakit traumanya. Penyakit trauma Kevin berasal daripada kejadian masa lalu. Kalau dia bisa berdamai dengan masa lalu maka dia akan berdamai juga dengan penyakitnya.
"Lalu rencana abang?"
Kevin merasa ragu mau utarakan niat hatinya menempatkan papanya di rumah Gina. Semuanya perlu izin dari Gani dan Gina Karena itu adalah rumah mereka.
"Abang minta ijin tempat kan papa di rumahmu. Jay berjanji akan rawat papa. Jay akan minta ibunya perhatikan kesehatan papa. Apa kamu setuju?"
Gina mengangguk penuhi keinginan Kevin. Kalau Gina menolak ini akan menyakiti Kevin. Biarlah semua berjalan sesuai dengan keinginan suaminya agar hidupnya pun bisa tenang.
"Terimakasih sayang. Kamu telah membantu Abang menyelesaikan suatu masalah."
Gina menyipitkan mata mendengar kalau Kevin menyebut satu berarti masih ada dua tiga dan empat. Seberapa banyak masalah yang sedang dihadapi oleh Kevin sampai laki ini kehilangan gairah.
"Masalah kedua?" pancing Gina menyebabkan Kevin tersentak karena keceplosan membongkar kemelut yang sedang dihadapi.
"Tak ada lagi...abang akan teleponi Jay untuk minta ibunya bersiap terima papa." tukas Kevin cepat sebelum pikiran Gina bergerilya ke mana-mana.
Kevin hilang akal punya istri terlalu cerdik. Tak ada yang bisa lolos dari kelihayan Gina analisa raut wajah sang suami. Kevin menjadi kerdil bila dibanding dengan kehebatan Gina baca raut wajah seseorang. Tebakan Gina jitu. Andai saja ada judi togel mungkin Gina diandalkan untuk tebak angka. Sayang itu tak pernah terjadi karena dalam agama judi dilarang keras.
"Sayang... kenapa merepotkan diri sendiri untuk hal tak perlu. Sudah abang bilang tak usah pikirkan hal tak penting. Cepat sehat biar kita pergi ke pulau Sumatera untuk liburan. Abang tak sabar mau nikmati hari tanpa ingat tugas."
Bagi Gina liburan untuk bersenang masih terlalu dini. "Kita pasti liburan bang. Pergilah teleponi Jay!" Gina tak memaksa lagi. Gina yakin persoalan Kevin bukan sebatas kehadiran papanya. Pasti masih ada masalah lain menyita semua pikiran Kevin. Gina berjanji akan cari tahu tanpa membuat Kevin susah hati.Kevin mengangguk berjalan jauhi Gina. Kevin tak mau Gina nguping apa yang akan dia katakan pada Jay. Kevin harus beri pesan pada Jay tutup mulut mengenai beberapa hal terutama kehadiran Peter yang bakal bawa dampak buruk pada kesehatan Gina. Laki itu jamin akan merongrong Gina dengan segala rayuan agar mau beri ijin renovasi hotel.Kalau Gina ijinkan sama saja korek lubang tanam diri sendiri. Kevin mesti cegah Gina terlalu dekat dengan Peter. Alasan Kevin banyak tak ijinkan Gina dekat Kevin. Yang paling utama tentu saja soal perasaan. Kevin bakal cemburu pada Peter yang pernah bilang suka pada Gina.Kevin bicara di luar kamar rawat biar Gina tak dengar sedikitpun. Kevin lupa dia punya istri cerdik. Kevin makin menghindar makin besar kecurigaan Gina kalau Kevin sedang menyimpan rahasia lain. Gina akan bongkar semua rahasia tersembunyi dari Kevin.Tak sampai sepuluh menit Kevin sudah balik bersikap tak ada apa-apa. Kevin kembali dekat Gina mau memberi rasa nyaman pada Gina. Kevin mau Gina buang semua pikiran negatif biar cepat pulih.Kevin naik ke ranjang duduk di samping istrinya supaya lebih mesra. Kalau Gina sehat Kevin pasti takkan biarkan Gina nganggur. Kevin siap ajak Gina lakukan olahraga malam untuk segarkan pikiran."Sudah?" Gina duluan buka mulut."Sudah... terima kasih sudah ijinkan papa aku nginap di rumahmu. Kau istri yang baik." Kevin meraih tangan Gina membawanya ke bibir. Dua kali kecupan mendarat di punggung tangan Gina."Selama abang rasa itu benar silahkan! Toh aku dan Gani juga tinggal di rumah abang. Jadi impas.""Kamu ini istri abang wajar tinggal bersama suami. Atau kamu mau pisah ranjang?""Boleh...aku pulang ke rumah lama tinggal bersama papa kamu." sahut Gina seenak dengkul memancing delikan tajam Kevin. Sampai matipun Kevin takkan beri ijin Gina dekat papanya. Image papanya terlalu buruk. Mata keranjang tak punya tanggung jawab."Coba kalau berani! Aku akan minta Gani jual rumahmu.""Cemen...tak usah pancing aku! Aku bukan ikan bodoh mudah terpesona oleh seekor cacing. Oya...ada dengar kabar Subrata?""Perhatian juga toh! Dia sudah pulang tapi ntah bagaimana cerita keluarga itu. Subrata mungkin sudah tahu Angela lakukan hal tak pantas padamu. Aku tak dapat kabar dari Lucia. Anak itu sibuk sama pak polisi ganteng. Dia abaikan aku."Gina surprise Lucia cepat move on dari Kevin. Semoga saja Lucia mendapatkan laki lebih baik dari Kevin. Gina tak berharap Lucia hidup menderita seperti dirinya. Cukup dia rasakan gimana sedihnya jadi anak tak punya orang tua lengkap. Hidup serba kekurangan. Harus bantu ibu sejak kecil. Anak lain huru hara dengan harta orang tua sedang dia pontang-panting cari uang untu tutupi kebutuhan hidup keluarga."Pak polisi yang mana?""Dia pernah datang beberapa kali menjenguk kamu tapi kamu belum sadar. Dia akan datang lagi setelah kamu betul-betul sehat untuk memberi keterangan mengenai rencana pembunuhan ini."Gina seperti diingatkan kembali kejadian yang menimpanya. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menunggu kelahiran adik-adiknya maka dia diberi umur panjang. Satu tusukan dekat lever tidak sampai merenggutnya nyawa Gina."Apa ibu dan ayah tahu kejadian ini?" tanya Gina sampingkan cerita Kevin tentang polisi yang sedang digandrungi oleh Lucia. Gina teringat kepada ayah dan ibunya yang jauh di mata. Apa jadinya bila mereka mengetahui kejadian ini terutama Bu Sarah yang sedang hamil muda. Gina tak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu kepada ibunya. "Tidak... kami tidak berani memberi kabar ini kepada mereka. Yang harus kami jaga adalah perasaan opa oma dan ibumu. kalau ayahmu mungkin masih bisa terima tetapi kami rasa Ibumu belum tentu bisa terima kenyataan ini maka kami memilih merahasiakannya." Penjelasan Kevin ibarat air surga menenangkan jiwa. Gina bersyukur Kevin cs punya otak cemerlang tak lapor kejadian ini. Kehadiran bayi di dalam perut Bu Sarah sedang dinantikan oleh keluarga Om Sabri. Apalah jadinya bila terjadi sesuatu. Gina tak bisa membayangkan akibat daripada kejadian bila terjadi sesuatu pada ibunya. "Terimakasih bang...sudah kuduga abang bisa diandalkan." Kevin bangga mendapat pujian dari istrinya walaupun semua itu bukan semata-mata hanya jasanya. Pak Julio dan Gani juga berperan dalam hal ini tidak mengizinkan berita ini tersebar sampai ke Jerman. "Senang punya suami peka?" gurau Kevin mau naikkan derajat di hati Gina. "Senang dong... ngomong-ngomong kapan aku boleh pulang? aku sudah sangat bosan di sini yang kerjanya hanya makan tidur. Apa tak ada kegiatan yang lebih baik daripada terkapar di sini?" "Ya ampun nona...kamu ini bukan sedang liburan tapi sedang sakit. Sebelum ada instruksi dari dokter kamu tidak akan kemana-mana. Aku mau kamu cepat pulih biar kita bisa menjalankan misi kita mencetak generasi baru." Kevin mengerling genit dengan mata tertuju pada perut Gina. Gina melindungi perutnya walau tertutup pakaian. Tatapan Kevin seakan menembus benang-benang halus terbentuk kain. Gina merasa telanjang di depan Kevin gara-gara niat mesum laki itu. "Sejak kapan pak Kevin jadi cabul? Sering ketemuan sama Lucia?" "Kok Lucia? Apa hubungannya dengan kakakmu itu?" "Dia kan ahli soal asmara." Begitu Gina selesai berbicara pintu ruang rawat Gina diketuk dari luar. Kedua orang yang di dalam itu saling berpandangan menduga siapa yang datang di saat begini. mereka hanya bisa menduga karena orangnya belum masuk ke dalam.
"Kita pasti liburan bang. Pergilah teleponi Jay!" Gina tak memaksa lagi. Gina yakin persoalan Kevin bukan sebatas kehadiran papanya. Pasti masih ada masalah lain menyita semua pikiran Kevin. Gina berjanji akan cari tahu tanpa membuat Kevin susah hati.
Kevin mengangguk berjalan jauhi Gina. Kevin tak mau Gina nguping apa yang akan dia katakan pada Jay. Kevin harus beri pesan pada Jay tutup mulut mengenai beberapa hal terutama kehadiran Peter yang bakal bawa dampak buruk pada kesehatan Gina. Laki itu jamin akan merongrong Gina dengan segala rayuan agar mau beri ijin renovasi hotel.
Kalau Gina ijinkan sama saja korek lubang tanam diri sendiri. Kevin mesti cegah Gina terlalu dekat dengan Peter. Alasan Kevin banyak tak ijinkan Gina dekat Kevin. Yang paling utama tentu saja soal perasaan. Kevin bakal cemburu pada Peter yang pernah bilang suka pada Gina.
Kevin bicara di luar kamar rawat biar Gina tak dengar sedikitpun. Kevin lupa dia punya istri cerdik. Kevin makin menghindar makin besar kecurigaan Gina kalau Kevin sedang menyimpan rahasia lain. Gina akan bongkar semua rahasia tersembunyi dari Kevin.
Tak sampai sepuluh menit Kevin sudah balik bersikap tak ada apa-apa. Kevin kembali dekat Gina mau memberi rasa nyaman pada Gina. Kevin mau Gina buang semua pikiran negatif biar cepat pulih.
Kevin naik ke ranjang duduk di samping istrinya supaya lebih mesra. Kalau Gina sehat Kevin pasti takkan biarkan Gina nganggur. Kevin siap ajak Gina lakukan olahraga malam untuk segarkan pikiran.
"Sudah?" Gina duluan buka mulut.
__ADS_1
"Sudah... terima kasih sudah ijinkan papa aku nginap di rumahmu. Kau istri yang baik." Kevin meraih tangan Gina membawanya ke bibir. Dua kali kecupan mendarat di punggung tangan Gina.
"Selama abang rasa itu benar silahkan! Toh aku dan Gani juga tinggal di rumah abang. Jadi impas."
"Kamu ini istri abang wajar tinggal bersama suami. Atau kamu mau pisah ranjang?"
"Boleh...aku pulang ke rumah lama tinggal bersama papa kamu." sahut Gina seenak dengkul memancing delikan tajam Kevin. Sampai matipun Kevin takkan beri ijin Gina dekat papanya. Image papanya terlalu buruk. Mata keranjang tak punya tanggung jawab.
"Coba kalau berani! Aku akan minta Gani jual rumahmu."
"Cemen...tak usah pancing aku! Aku bukan ikan bodoh mudah terpesona oleh seekor cacing. Oya...ada dengar kabar Subrata?"
"Perhatian juga toh! Dia sudah pulang tapi ntah bagaimana cerita keluarga itu. Subrata mungkin sudah tahu Angela lakukan hal tak pantas padamu. Aku tak dapat kabar dari Lucia. Anak itu sibuk sama pak polisi ganteng. Dia abaikan aku."
Gina surprise Lucia cepat move on dari Kevin. Semoga saja Lucia mendapatkan laki lebih baik dari Kevin. Gina tak berharap Lucia hidup menderita seperti dirinya. Cukup dia rasakan gimana sedihnya jadi anak tak punya orang tua lengkap. Hidup serba kekurangan. Harus bantu ibu sejak kecil. Anak lain huru hara dengan harta orang tua sedang dia pontang-panting cari uang untu tutupi kebutuhan hidup keluarga.
"Pak polisi yang mana?"
"Dia pernah datang beberapa kali menjenguk kamu tapi kamu belum sadar. Dia akan datang lagi setelah kamu betul-betul sehat untuk memberi keterangan mengenai rencana pembunuhan ini."
Gina seperti diingatkan kembali kejadian yang menimpanya. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menunggu kelahiran adik-adiknya maka dia diberi umur panjang. Satu tusukan dekat lever tidak sampai merenggutnya nyawa Gina.
"Apa ibu dan ayah tahu kejadian ini?" tanya Gina sampingkan cerita Kevin tentang polisi yang sedang digandrungi oleh Lucia. Gina teringat kepada ayah dan ibunya yang jauh di mata. Apa jadinya bila mereka mengetahui kejadian ini terutama Bu Sarah yang sedang hamil muda. Gina tak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu kepada ibunya.
"Tidak... kami tidak berani memberi kabar ini kepada mereka. Yang harus kami jaga adalah perasaan opa oma dan ibumu. kalau ayahmu mungkin masih bisa terima tetapi kami rasa Ibumu belum tentu bisa terima kenyataan ini maka kami memilih merahasiakannya."
Penjelasan Kevin ibarat air surga menenangkan jiwa. Gina bersyukur Kevin cs punya otak cemerlang tak lapor kejadian ini. Kehadiran bayi di dalam perut Bu Sarah sedang dinantikan oleh keluarga Om Sabri. Apalah jadinya bila terjadi sesuatu. Gina tak bisa membayangkan akibat daripada kejadian bila terjadi sesuatu pada ibunya.
"Terimakasih bang...sudah kuduga abang bisa diandalkan."
Kevin bangga mendapat pujian dari istrinya walaupun semua itu bukan semata-mata hanya jasanya. Pak Julio dan Gani juga berperan dalam hal ini tidak mengizinkan berita ini tersebar sampai ke Jerman.
"Senang punya suami peka?" gurau Kevin mau naikkan derajat di hati Gina.
"Senang dong... ngomong-ngomong kapan aku boleh pulang? aku sudah sangat bosan di sini yang kerjanya hanya makan tidur. Apa tak ada kegiatan yang lebih baik daripada terkapar di sini?"
"Ya ampun nona...kamu ini bukan sedang liburan tapi sedang sakit. Sebelum ada instruksi dari dokter kamu tidak akan kemana-mana. Aku mau kamu cepat pulih biar kita bisa menjalankan misi kita mencetak generasi baru." Kevin mengerling genit dengan mata tertuju pada perut Gina. Gina melindungi perutnya walau tertutup pakaian. Tatapan Kevin seakan menembus benang-benang halus terbentuk kain. Gina merasa telanjang di depan Kevin gara-gara niat mesum laki itu.
"Sejak kapan pak Kevin jadi cabul? Sering ketemuan sama Lucia?"
"Kok Lucia? Apa hubungannya dengan kakakmu itu?"
"Dia kan ahli soal asmara."
__ADS_1
Begitu Gina selesai berbicara pintu ruang rawat Gina diketuk dari luar. Kedua orang yang di dalam itu saling berpandangan menduga siapa yang datang di saat begini. mereka hanya bisa menduga karena orangnya belum masuk ke dalam.