
Bu Sarah dan Afif ikutan melihat ke arah pintu siapa yang datang. Bu Sarah belum pernah jumpa bos Gani jadi agak segan. Bos besar datang jenguk anak buah artinya Gani punya prestasi di kantor barulah bos ada perhatian. Ada rasa bangga di hati Bu Sarah sudah produksi anak berguna.
"Pak Kevin ya?" Ibu Sarah ingin menyalami Kevin namun ditahan Gina. Gina tahu Kevin alergi pada wanita maka Gina menahan ibunya tak salami Kevin.
Sayang Gina terlambat selangkah. Tangan Bu Sarah terlanjur meraih tangan Kevin. Kevin terpaku sesaat lantas mundur selangkah ke belakang. Wajah berubah agak putih seperti menahan sesuatu.
Gina yang sudah pernah melihat hal begini langsung menarik tangan Kevin keluar kamar. Gina mau jaga wibawa Kevin di depan orang lain. Jangan sempat mual dan muntah di situ.
"Maaf Bu! Aku ada penting dengan pak Kevin. Kami keluar sebentar." ujar Gina segera bawa Kevin tinggalkan ruang rawat Gani sebelum keadaan tambah parah.
Kevin bersyukur Gina cepat tanggap mengenai kondisi tubuhnya. Kevin mulai menggigil menahan rasa mual. Keadaaan akan berlanjut Kevin gatal-gatal dan muntah.
Gina agak kuatir kondisi Kevin akan memburuk di depan umum. Berada di tempat aman jauh dari publik mungkin tak masalah. Tapi ini di depan orang ramai seorang Kevin drop karena wanita.
Gina mencari tempat agak sepi biarkan Kevin menenangkan diri. Tangan Gina masih memegang tangan Kevin beri kekuatan agar tidak kumat di sini.
"Pak ..maafkan ibu tak tahu masalah bapak!"
"Maukah kamu peluk aku? Dadaku sesak mau meledak rasanya." ujar Kevin sambil menumpukan satu tangan ke dinding rumah sakit. Laki ini membungkuk badan menahan sesak di dada.
Gina tertegun dengar permintaan tak masuk akal. Dia seorang cewek mana mungkin peluk lelaki bukan pacar apalagi suami. Ini menyalahi hukum agama.
Tapi kondisi Kevin membuat Gina tak tega menolak. Laki ini memang tidak sedang sandiwara karena wajahnya pucat dan keringat mulai cucuran di kening. Hal ini tak bisa direkayasa seketika.
Gina memejamkan mata lantas memeluk laki itu seraya menepuk punggungnya. Tepukan lembut Gina menyebabkan Kevin tenang dan nyaman.
Perlahan nafas Kevin teratur tanpa ada gejolak mual dalam perut lagi. Kevin merasa gejala ingin muntah mereda menjadi nyaman. Gina bisa menjadi obat buat Kevin. Hanya Gina satu-satunya wanita bisa dekat dengan Kevin. Bahkan bisa tenangkan cowok ini di kala kumat penyakitnya.
"Terimakasih.." bisik Kevin di telinga Gina. Kevin merasa sayang bila harus lepaskan Gina. Sudah cukup lama dia tak pernah rasakan gimana hangatnya pelukan seorang wanita. Betapa damai berada di pelukan orang tepat.
"Sudah enakan pak?" Gina sendiri merasa ketegangan tubuh Kevin perlahan kendor. Bahasa tubuh Kevin isyaratkan bisa terima Gina.
Kevin harus pertahankan Gina di sampingnya dengan segala upaya. Jika perlu main curang akan dia lakoni demi pertahankan Gina ada di sisinya.
"Aku sedikit tenang. Maukah kau antar aku pulang?"
"Baiklah! Anggap ini balas jasa bapak cari darah untuk Gani. Bapak tunggu sini. Aku pamitan dulu sama ibu."
Kevin mengangguk biarkan Gina pamitan pada ibunya. Kevin tak bisa larang Gina lakukan hal benar. Kabur tanpa ijin justru mendidik anak itu jadi kurang ajar.
Gina ayunkan langkah kembali ke kamar rawat Gani. Hati Gina agak tenang Gani sudah dapat donor darah dan lagi kondisi anak itu membaik setelah dapat pertolongan pertama. Untunglah mereka sigap membawa Gani sebelum kondisi memburuk.
Gina masuk ke dalam ruang rawat Gani hendak pamitan pada ibunya. Gina lihat Gani sudah bisa bercanda dengan Afif buktikan laki itu mulai membaik.
"Sudah sehat toh! Sudah bisa ditendang kan?" Gina mengejek Gani yang tertawa lebar bersama Afif.
"Mami...lihat anak monster mami! Orang sakit mau ditendang. Mau jadi anak tunggal ya?" rengek Gani sok imut.
"Sakit apa? Suaranya nyebar sampai ke ujung lorong sana. Mending suaranya bagus. Ini kayak burung gagak birahi."
Gani buang muka diejek Gina. Baru sembuh dikit sudah dibully lagi. Maunya tadi tetap sakit saja biar diperhatikan.
"Dasar monster Rambo!"
__ADS_1
"Bu...aku antar pak Kevin pulang dulu ya! Dia tampak kurang sehat. Darah untuk bebek sudah ada. Dapat dari darah vampir." Gina kembali ejek Gani yang besarkan mata dua kali lipat dibilang mau transfusi darah vampir. Ada saja akalan Gina bikin Gani sewot.
Afif tertawa cekikan dengar Gani dapat donor darah dari vampir. Bisa jadi dracula si Gani ini. Siang tidur malam ngelayapan.
"Kamu ini adik kualat! Kudoain kamu dapat laki super jelek. Boncel, tua, keriput dan miskin." umpat Gani disambut tawa Gina.
"Doa orang sirik biasanya terbalik. Suamiku ganteng, kaya, tinggi tegap dan muda. Ya kan Bu?"
"Kayak pak Kevin dong!" sambut Afif ingat sosok bos Gani yang barusan datang.
"Pak Kevin mana doyan cewek kayak kamu? Dua hari kawin hari ketiga jadi almarhum. Sudah pergi sana! Rusak suasana saja." usir Gani tak mau jadi bahan ejekan Gina. Demamnya bisa naik dua kali lipat bila debat terusan dengan Gina. Dari sehat jadi sakit.
"Ok.. assalamualaikum!" Gina pergi keluar untuk jumpai Kevin yang masih menunggunya. Sebenarnya Gina malas urusan sama orang kaya tapi berhubung Gina sudah tanam budi pada Kevin dia harus balas kebaikan orang. Gina bukan orang tak tahu balas jasa orang.
Kevin masih menunggu Gina di lorong sepi. Sekilas mata tampak kalau lelaki itu sedang tidak fit. Air wajahnya keruh seperti menahan sesuatu.
Gina menyesal tak sempat tahan ibunya salami Kevin. Kalau tidak Kevin takkan drop. Gina makin tak tega biarkan Kevin menderita sendirian sepanjang jalan. Gina akan membawa Kevin sampai ke rumah dengan selamat sebagai tanda dia orang tahu balas budi.
Gina ambil alih setir agar Kevin bisa menyesuaikan diri setelah alami trauma salaman dengan wanita. Ternyata penyakit Kevin belum sembuh. Tubuhnya hanya bisa terima Gina seorang. Kevin juga tak tahu mengapa imun tubuhnya hanya kebal pada Gina. Namun Kevin takkan lewatkan kesempatan ini walaupun sekecil apapun kesempatan untuk sembuh total.
Mobil dipegang oleh Gina meluncur ke jalan raya. Kevin duduk di samping Gina tetap posisikan diri sebagai bos.
Tak ada suara musik maupun suara dalam mobil. Hanya terdengar ******* AC mobil temani keduanya dalam mobil. Gina dan Kevin masih segan untuk berbincang setelah lalui malam aneh di kota M. Mereka tidur seranjang kayak suami isteri. Kini keduanya jadi canggung ingat semua itu.
"Di mana rumah bapak?" tanya Gina setelah mobil jauh berjalan. Dari tadi mobil hanya putar-putar tanpa arah pasti. Ke mana Gina harus antar Kevin tanpa alamat pasti.
Kevin menyebut alamat rumahnya. Gina tidak jawab tahu daerah itu daerah orang tajir. Rumah sana gedongan semua. Harganya rata-rata dihitung pakai ember. Beda dengan dirinya tak punya rumah. Rumah ratusan juta tak terbeli apalagi rumah pakai em em.
"Gina..untuk sementara kau gantikan Gani dulu ya! Aku sangat butuh asisten karena tugasku sangat banyak."
"Nanti aku cerita padamu."
"Kenapa tunggu nanti? Sekarang kupingku juga berfungsi baik."
Kevin mendesah tak biasa di bantah. Yang satu ini mulutnya selalu berlawanan dengan Kevin. Apa dia tak tahu Kevin itu majikan?
"Aku masih muda belum mau cepat mati. Kamu konsentrasi nyetir saja! Sesampai di rumahku baru kita bicara."
"Takut mati toh? Kalau ajal belum janjian sama malaikat maut takkan lepas dari tubuh kita. Hidup mati di tangan Tuhan. Kalau sudah ajal duduk nonton tv saja bisa lewat."
Sungguh makhluk pemberani. Berani beri kuliah gratis pada bos. Yang lain bertekuk lutut sama Kevin tanpa berani membantah. Ini luar biasa bernafsu jatuhkan Kevin ke jurang.
"Terserah kamu mau omong apa! Aku cuma mau cerita di rumah setelah minum obat."
"Ok...cuma kuharap ceritanya jangan sepanjang rel kereta api. Gani sedang menunggu aku."
"Kau mau ganti Gani kan?"
"Orang sakit tak perlu diganti. Kan ada cuti sakit."
"Punya hati dikit neng! Aku kan baru dapat proyek pak Julio. Jadi cukup repot." Kevin menatap pipi kiri Gina yang mulus cuma agak kusam karena kurang perawatan. Kalau dirawat pasti akan lebih kinclong.
"Pak Julio ada cerita kalau proyek sudah di berikan pada kalian. Kuharap kalian bekerja sepenuh hati karena pak Julio itu orangnya sangat baik."
__ADS_1
"Aku tak mau tutupi kendala kami dari kamu. Proyek itu akan dicabut bila kau tak ikut dalam proyek. Pak Julio pesan kamu harus terjun dalam proyek ini."
Gina terdiam dengar deadline dari pak Julio. Apa tujuan pak Julio libatkan dia dalam pekerjaan ini. Padahal Gina buta soal proyek ini. Basic Gina jauh banget dari konstruksi. Herannya Pak Julio sering telepon dia namun tak pernah cerita tentang proyek. Mereka hanya bahas soal mobil saja. Hal ini sangat membingungkan Gina.
"Tapi aku bukan karyawan pak Kevin."
"Kau bisa kerja setiap saat kau mau. Aku harap kau pertimbangkan nasib ratusan karyawan. Banyak pekerja akan menganggur bila proyek ini batal."
Gina dilanda dilema. Bekerja di kantor bukan impian Gina. Dia paling tak betah harus duduk berjam-jam di depan komputer. Pantatnya bisa berasap bila duduk terusan. Andaikata di tolak gimana nasib ratusan pekerja. Belum lagi kuli di lapangan. Apa Gina tega pecahkan piring nasi orang kecil?
"Aku tak bisa tinggalkan bengkel karena pekerjaanku banyak di sana. Dan lagi gimana nasib muridku?"
"Kau bisa cari guru ganti untuk sementara. Paling tidak sampai proyek berjalan lancar."
"Tunggu aku pikir dulu pak! Tak bisa bilang tinggal langsung tinggal. Kita wajib tepati janji pada anak-anak."
Kevin tak ingin memaksa Gina untuk menjawab seketika. Kevin harus memberi ruang pada Gina untuk menentukan apa yang akan dia lakukan.
"Kau pikir dulu. Tapi nggak pakai lama."
Gina tidak bersuara karena mobil sudah masuki komplek rumah para kamu borjuis. Deretan rumah mentereng mengusik jiwa miskin Gina. Kapan dia akan punya bangunan rumah semewah ini? Mimpi saja tak boleh apalagi di kenyataan.
"Yang mana rumahnya pak?" tanya Gina setelah bosan pelototi satu persatu rumah mewah itu. Semua punya pesona masing-masing. Gina tak tahu berapa banyak biaya dikucurkan untuk bangun rumah gedongan begini. Kalau dihitung gunakan tangan pasti kontan kram.
"Woi...mau ke mana kamu? Ini rumahku!"
Gina asyik melamun sampai tak lihat kode tangan Kevin minta berhenti di salah satu rumah. Gina rem mendadak menyebabkan Kevin nyaris terbanting. Untunglah ada sabuk pengaman tahan tubuh Kevin barulah aman di tempat duduk.
"Dasar gila.!" omel Kevin segera turun dari mobil tak peduli mobil belum masuk pintu pagar. Mobil masih siaga di depan pintu pagar menjulang tinggi.
Gina panjangkan leher lihat bentuk rumah Kevin. Apa juga norak seperti rumah lain sarat dengan pernak pernik hiasan di depan rumah.
Untunglah selera Kevin jauh dari kesan norak. Rumah di cat warna putih campur hitam. Rumah dua warna dominasi cat rumah. Kesannya bersih namun berwibawa karena ada warna gelap. Gina suka dekorasi rumah Kevin, semoga kelak calon isteri Kevin juga suka.
"Hei...masukkan mobil!" teriak Kevin dari balik tembok pagar. Suaranya kencang sanggup usir serangga berterbangan di udara. Kalau ada capung lewat jamin pulang rumah minta obat jantung pada isterinya.
Pintu pagar otomatis terbuka lebar beri jalan buat mobil untuk pindah ke dalam pagar. Sambutan cukup ramah dari satpam rumah. Ada senyum hangat dari wajah satpam berusia empat puluhan itu.
"Selamat datang nona!" sapa satpam itu ramah sekali.
"Terima kasih pak!" Gina lajukan mobil ke dalam halaman rumah Kevin.
Halaman depan gersang tak banyak tanaman. Malah nyaris tak ada selain satu batang mangga cangkokan di sudut halaman. Selain itu hanyalah parkiran mobil mewah. Semua mobil terparkir rapi sesuai letak menurut ukuran.
Gina tak berani parkir mobil Kevin di parkiran sarat mobil. Tugasnya hanya mengantar Kevin sampai di rumah. Sekarang Kevin sudah berada di rumah maka dia juga harus segera pergi meninggalkan kawasan rumah elit ini. Gina masih harus mengurus Gani yang sedang sakit.
Gina turun dari mobil lantas menyerahkan kunci mobil pada satpam. Tugasnya sudah selesai untuk hari ini. Masih ada tugas lain menanti yakni cari uang untuk bayar pak haji.
"Nona tidak masuk ke dalam dulu?" tanya satpam tetap simpatik.
"Tak usah pak! Aku harus segera pergi karena ada pekerjaan lain. Pak Kevin itu kurang sehat. Mintalah seseorang urus beliau!"
Satpam itu ragu terima kunci mobil dari Gina. Jarang-jarang ada tamu cewek di rumah ini. Bukan jarang lain melainkan tak pernah ada. Sejak Pak satpam kerja di situ belum pernah dia melihat ada cewek masuk ke dalam halaman rumah ini. Mungkin Gina adalah cewek pertama yang dibawa pulang oleh Kevin. Gadis ini pasti istimewa di mata Kevin barulah mendapat kesempatan emas ini.
__ADS_1
"Gina...masuk!" suara Kevin terdengar sampai keluar memanggil Gina.