
Sayang sekali hidup Gina telah kena virus dendam pada laki yang menjadi ayah kandungnya. Gina tak bisa terima Subrata mencampakkan ibunya yang baik untuk seorang perempuan malam macam Angela. Sampai matipun Gina mau Subrata sekeluarga tahu arti rasa sakit tak berdarah.
Kevin pergi mandi dengan sejuta kegalauan. Jujur Kevin takut Gina terjatuh dalam pesona orang kaya macam Pak Julio. Gina masih muda mudah terbawa arus perasaan bila ada orang beri perhatian lebih. Pada kesempatan ini Gina memeriksa file yang diberikan oleh pak Julio tentang kontrak kerja Subrata dengan perusahaan pak Julio. Gina akan pelajari sedetailnya semua kontrak serta jalannya keluar masuk orderan. Gina takkan lewatkan satu huruf pun untuk cari kesalahan Subrata. Sekecil apapun kesalahan Subrata akan jadi titik awal kehancuran laki itu. Gina singkirkan nilai kemanusiaan demi keadilan untuk ibunya.
Gani juga sudah pulang berkumpul kembali membentuk keluarga bahagia. Tak ada konflik dalam keluarga ini selain canda tawa yang bikin hati riang gembira. Kevin dapat merasakan betapa hangatnya keluarga ini. Om Sabri juga sangat baik pada anak tiri dan isterinya.
Seusai magrib mereka bersiap makan malam bersama seperti biasa. Perlahan Kevin mulai bisa beradaptasi dengan kehidupan keluarga Om Sabri dan anak-anaknya. Kevin dapat merasakan betapa tulusnya keluarga itu kepada dirinya. Tidak sedikitpun mereka menganggap Kevin itu orang luar walaupun Kevin merepotkan keluarga itu. Di rumah ini yang bersikap arogan hanyalah Gina.
Kevin ikutan menyiapkan meja makan berhubung om Sabri tidak izinkan bininya terlalu banyak bergerak. Om Sabri wanti-wanti Bu Sarah harus menjaga kehamilan yang dia idamkan dari dulu. Om Sabri tidak keberatan terlahir laki atau perempuan. Yang penting ibu dan anak terlahir sehat.
"Pak...duduk saja! Biar aku dan Gina yang kerja!" Gani jengah lihat bosnya bolak balik dapur bantu mereka. Gina melirik tajam ke arah Gani tidak suka Gani terlalu segan kepada Kevin. Di kantor Kevin adalah pemimpin mereka namun di rumah Kevin tetap orang rumah yang mesti ikut kerja sama menciptakan keadilan dalam bertugas. Bukan hanya duduk numpang makan.
Gani menunduk kena kerlingan tajam Gina. Laki kemayu itu langsung bungkam kena intimidasi adiknya itu. Kevin paham tujuan Gina mau dia ikut kerja di rumah. Saatnya mengajarkan Kelvin arti dari sebuah keluarga. Punya keluarga harusnya saling membantu untuk majukan satu kesatuan.
"Pak Kevin punya kaki tangan bisa ikut siapkan meja makan! Mulai besok kita bagi tugas. Aku akan buat jadwal siapa yang masak dan cuci piring. Dan lagi siapa yang akan menyapu rumah dan ngepel. Nyonya Sabri tak mungkin kerjakan semua itu untuk kita lagi. Tuan Sabri bisa bor kepala kita kalau suruh isterinya layani kita!" kata Gani sambil menyusun lima buah piring di atas meja makan.
Gani meragukan kemampuan Kevin kerjakan pekerjaan rumah tangga. Apa laki itu tahu yang mana sapu dan alat ngepel? Seumur hidup Kevin. tentu belum pernah kerjakan pekerjaan kasar itu. Hanya Gina yang bisa buat Kevin menjadi seorang pembantu rumah tangga. Nyali Gina patut dapat acung jempol.
"Ssttt...bapak sudah lihat gimana judesnya anak Papi itu? Makanya kami sebut dia monster Rambo! Bapak tak usah kuatir. Aku yang akan kerjakan semuanya." bisik Gani begitu dapat kesempatan dekat dengan Kevin.
"Tak usah Gan! Biar kita ikuti perintah Gina! Dia itu berniat baik melatih kita agar jangan manja! Bisakah kau tidak panggil bapak bila di rumah? Di rumah aku ini anak tertua jadi panggil Kak Kevin saja! Aku merasa menjadi bagian dari kalian bila kau panggil kakak!"
Mata Gani berbinar-binar mendapat restu anggap Kevin sebagai kakak sendiri. Dia tak perlu takut kehilangan jabatan manager lagi. Untuk sementara jabatannya akan aman karena bosnya adalah kakak sendiri. Gani hanya perlu berprestasi biar merangkak lebih tinggi lagi ke atas.
"Siap kak!!! Cuma kumohon jangan kecil hati bila si monster berkata pedas. Mulutnya isinya cabe rawit semua tapi dia itu orangnya baik dan setia. Kakak beruntung bisa merebut perhatiannya." kata Gani mulai ceria. Siapa tak bahagia punya saudara seorang CEO kaya raya walau ada sedikit kelainan jiwa.
"Aku sudah mulai terbiasa dengan lidah tajamnya! Mana dia? Ke dapur kok lama?"
"Paling salin nasi..aku panggil papi dan mami dulu ya! Kita makan bareng!"
Kevin mengangguk sambil mencuri pandang ke arah dapur lihat ke mana sosok keras hati itu. Kevin mau tahu terbuat dari apa hati gadis? Mengapa tak mau bertingkah seperti gadis muda umumnya? Kalau Gina sedikit manja maka Kevin akan merasa berguna terlahir sebagai cowok namun Gina terlalu perkasa hendak dilindungi. Bukan Kevin lindungi Gina malah sebaliknya. Di sini nilai Kevin sebagai cowok terluka.
Kevin berdiri bengong di depan meja makan sambil menunggu penghuni rumah hadir di sini untuk isi perut. Rumah kecil ini hangat oleh ketulusan penghuninya. Kevin jadi betah di sini tak terpikir untuk pulang lagi ke rumahnya yang mewah.
__ADS_1
Gina membawa nasi masih panas. Asap tipis masih mengepul di atas nasi membawa harum beras wangi. Tanpa sadar Kevin meraba perut menimbang berapa banyak perut itu sanggup menampung makanan di meja. Masakan sini sederhana namun tampak lezat. Makanan tak perlu mewah yang penting rasanya maknyus.
Gina perhatikan gerakan tangan Kevin meraba perut. Laki itu seolah ingin lapor doa sudah lapar. Gina tak segera izinkan Kevin makan sebelum kedua orang tuanya datang ke meja makan. Gina tetap menghormati kedua orang tuanya. Sebelum keduanya datang acara makan tidak akan dilaksanakan.
Untunglah Gani berhasil membawa dua petinggi rumah ini untuk bergabung di ruang makan. Gina tak perlu menyiksa Kevin lebih lama lagi.
"Wah pepes ikan teri kesukaan ayah! Siapa yang masak hari ini?" tanya om Sabri ceria seperti biasa. Laki itu kelihatan lebih muda setelah isterinya hamil. Sudah persiapkan mental menyambut anggota baru di rumah ini.
Gani dan Gina bungkam karena yang masak tetap Bu Sarah. Mereka berdua telat pulang kerja kapan sempat masak lagi. Keduanya takut kena semprot ayah yang lagi bahagia akan segera jadi ayah untuk sekian kali.
"Siapa masak tak penting! Yang penting bersyukur saja! Ayok nak Kevin! Silahkan duduk!" Bu Sarah mencairkan suasana mencekam biar keduanya anaknya tidak kena ceramah gratis dari ayah over protektif itu.
"Iya Bu...terima kasih!" Kevin segera duduk di samping Gani. Kevin tak berani ambil tempat di samping Gina untuk menghindari segala kecurigaan dari Om Sabri. Selama tinggal di sini dia harus menjaga sikap agar mendapat kepercayaan dari kedua orang tua Gina.
"Ok...kita baca doa dulu! Ayok Gani! Kau pimpin baca doa!" ujar om Sabri mulai mengajak anak-anak dan keluarganya makan. Semua menghormati Om Sabri sebagai kepala keluarga.
Gani tak menolak perintah om Sabri segera tengadahkan tangan membaca doa diikuti oleh yang lain. Kevin mulai belajar hal yang jarang dia lakukan. Tinggal di sini bawa angin positif bagi Kevin.
"Wah enak sekali ikan terinya!" Kevin juga suka pepes ikan hasil olahan Bu Sarah. Kevin tak hanya sekedar memuji tapi memang sangat lezat menggoyangkan lidah. Kevin tak tahu kapan di pernah makan makanan sederhana namun lezat ini. Biasa di rumah selalu masak daging dan ayam. Semua makanan mengandung kolesterol tinggi. Di sini masakan lezat dan sehat.
"Mau makan masakan monster harus ke penghulu dulu kak!" Olok Gani membuat Gina mendelik.
"Mulut mau masuk kuliah lagi?" kata Gina bernada mengancam.
"Iya rencana mau ambil S 3...!" Gani imbangi kekonyolan Gina.
Kevin tersenyum mulai ngerti cara kedua anak buahnya saling beri kasih sayang. Berantem tapi tetap saling beri perhatian.
"Aku siap ke penghulu kok asal tukang masaknya mau ikut!" Kevi beri kode siap meminang Gina bila gadsi itu bersedia. Om Sabri besarkan mata dengar niat Kevin ingin jalin hubungan serius dengan Gina. Om Sabri belum siap kehilangan anak gadisnya dalam waktu dekat ini. Om Sabri anggap Gina dan Gani masih kecil belum bisa mandiri.
"Kerja dulu capai prestasi tinggi baru pikir kawin! Cepat makan! Ayah mau ke rumah pak RT sebentar bikin acara syukuran di balai desa. Karena balai desa ayah akan momong bayi lagi. Dulu momong kalian berdua kini momong adik kalian!"
"Aduh papi...apa tidak terlalu berlebihan bikin acara di sana? Mami sudah berumur hamil lagi! Ini memalukan!" rengut Gani keberatan papinya seakan ingin umumkan kehamilan Bu Sarah ke penjuru dunia.
__ADS_1
"Huuusss kok memalukan? Ayah dan ibu pasangan sah punya anak ya wajar! Mereka berdua kan tidak terlalu tua! Aku dukung sebar berita bahagia ini! Bagusnya kita santuni anak yatim piatu agar ikut doakan keselamatan ibu dan adik bayi!" Kevin angkat bicara wakili isi hati om Sabri.
Om Sabri menunjuk Kevin dengan bangga. Ternyata Kevin tidak sebodoh yang dia duga. Laki ini masih bisa beri masukan berguna dan mematahkan rasa minder Gani punya adik lagi di usia cukup dewasa.
"Cocok sama pemikiran ayah! Ayok makan! Nanti Kevin ikut ayah ke rumah RT ya!"
"Ya ayah..!" Kevin cepat tanggap segera ubah cara panggil om Sabri biar lebih dekat lagi dengan om Sabri.
Bu Sarah hanya tersenyum tipis tak keberatan apa yang direncanakan oleh Om Sabri. Niat baik hendaknya dibarengi ketulusan baru ada pahalanya. Bu Sarah bukan mengharap pahala namun doa dari orang sekeliling. Bu Sarah bangga juga bisa beri om Sabri seorang anak walaupun di usia cukup tinggi. Semoga semua berjalan lancar hingga hari lahiran.
Kevin tertolong oleh ajakan om Sabri. Dia terbebas dari tugas tugas cuci piring di dapur. Tugas mulia itu dilimpahkan kepada Gani dan Gina. Keduanya kembali bertugas di dapur gantiin Bu Sarah yang pensiun dari dapur. Om Sabri dan Kevin pindah ke ruang tamu sambil menyusun rencana ke ruang ketua RT. Bu Sarah juga ikut ke ruang tamu supaya Om Sabri tak bernyanyi bila dia tinggal di dapur. Untuk tak merusak hati Om Sabri yang lagi bahagia Bu Sarah tak tega merusak yang sudah ada. Bu Sarah cukup menjaga kandungan sebaik mungkin.
Gani dan Gina berlomba bersihkan ruang makan dan dapur agar bisa mengerjakan pekerjaan kantor. Gina tak sabar ingin lanjut cek mengenai kontrak kerja Subrata. Gina sudah tak sabar ingin segera akhiri semua kemegahan Mahabarata dan bongkar kebohongan Lucia. Semua sudah capai titik *******. Harus segera berakhir. Saatnya Mahabarata gulung tikar pulang kampung.
Pas Om Sabri dan Kevin hendak ke rumah ketua RT sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah sederhana Om Sabri. Om Sabri dan Kevin terpaksa tunda langkah karena ada orang datang bertamu. Om Sabri belum jelas siapa yang datang namun Kevin sudah bisa menebak siapa yang datang. Pak Julio sudah janjian sama Gina akan berkunjung ke rumah anak gadis itu. Kevin mau lihat apa yang diinginkan laki itu. Kalau dia datang merayu Gina berarti Pak Julio itu bandot tua. Berani bertandang ke rumah anak gadis cari perhatian. Kevin puji nyali Pak Julio berani berhadapan dengan om Sabri selaku ayah dari Gina.
Benar saja dugaan Kevin. Pemilik mobil mewah itu pak Julio. Laki itu turun dari mobil mahal dengan wajah cerah seperti baru petik bulan purnama. Wajah itu berseri-seri tanda sedang bahagia.
Kevin merasa dadanya sedang mendidih hasilkan hawa panas. Kalau ditumpahkan pasti akan bakar laki itu. Namun Kevin harus pandai kontrol diri karena dia sedang kerja sama dengan pak Julio. Amarah setinggi langit tetap harus dibanting ke tanah agar tak membara.
"Selamat malam!" sapa pak Julio ramah.
Om Sabri tertegun sejenak lantas tertawa menyambut adik dari isterinya itu. Tamu tak terduga datang berkunjung di malam hari.
"Selamat malam...ayok masuk! Sarah ada di dalam bersama anak-anak!"
"Oh iya terima kasih! Tunggu isteriku sebentar!"
Kevin melongo mendengar pak Julio ajak isteri berkunjung ke rumah Gina. Apa maksud pak Julio datang ajak isteri. Dia datang sekedar bertamu atau ada tujuan lain. Kevin pilih diam lihat kelanjutan drama pak Julio memancing hawa panas dalam dadanya.
Dari dalam mobil muncul satu sosok wanita seumuran dengan pak Julio. Wajah wanita itu juga cerah tak tampak gundah suami bertandang ke rumah cewek. Malah di tangan ada beberapa paper bag yang isinya masih jadi tanda tanya.
"Pak Kevin???Kok di sini?" Pak Julio surprise melihat rekan bisnis ada di rumah kakaknya.
__ADS_1
"Kevin tinggal di sini! Ayok kita masuk dulu! Tak enak ngobrol di depan rumah." om Sabri memutar badan membuka pintu rumah hingga terkuak lebar siap menerima tamu. Pak Julio dan isterinya menyusul masuk tinggalkan Kevin masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
Om Sabri tampak kenal baik dengan pak Julio. Bahkan Kevin merasa sambutan om Sabri cukup beri kesan senang pak Julio bertamu. Kevin menyusul ke dalam setelah kedua tamu masuk. Kevin mau tahu kelanjutan drama pak Julio.