JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Maju Perang


__ADS_3

Gina kembali membawa secangkir kopi asap masih mengepul. Harum bijian warna hitam itu mencolek hidung Kevin membuatnya tak sabar ingin cicipi minuman pertama di pagi ini. Hari baru semangat baru pula. Kevin merasa sempurna punya istri walau belum dapat jatah utama yakni belah duren. Ntah berapa lama lagi Kevin harus menunggu moment itu tiba. Namun Kevin yakin waktu itu akan tiba.


Gina meletakkan cangkir persis di depan Kevin lantas duduk di samping laki itu menanti laki itu cicipi kopi buatan Gina.


Kevin ulurkan tangan mencapai cangkir berisi cairan hitam itu. Dengan tak kesabaran Kevin segera mendekatkan cangkir itu ke mulutnya walaupun uap panas masih terlihat mengepul. Gina khawatir mulut Kevin bakal terbakar bila langsung meminum cairan hitam itu.


"Hati-hati panas bang!" Gina peringatkan Kevin.


"Abang tahu sayang..." Kevin majukan bibir meniup cangkir beberapa kali barulah menyeruput kopinya. Gerakan Kevin pelan tidak tergesa-gesa cerminkan orang terpelajar.


Gina merasa sia-sia kuatir mulut Kevin kena cairan panas. Laki itu lebih pengalaman menikmati minuman itu.


"Aku duluan berangkat ya bang!"


"Tidak boleh...Abang harus dampingi kamu hadapi Subrata. Abang juga kuatir Subrata cari keuntungan darimu."


"Semua konsep pengalihan diurus oleh pak Julio. Beliau lebih ngerti dari kita toh!"


"Abang tak mau Subrata menyusahkan kamu. Kita hadapi bersama-sama ya biar Subrata tahu kalau kamu ada yang jaga! Abang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kamu. Kamu istri Abang.." Kevin menatap Gina tajam biar wanita ini ngerti dia punya suami yang siaga.


"Yang bilang istri Jay siapa? Abang ini aneh deh! Ok kita pergi barengan. Lalu kedua kurcaci gimana?"


"Biar mereka ke kantor gunakan mobil lain. Kan ada beberapa mobil nganggur."


Gina tidak membantah lagi menganggap keputusan Kevin adalah yang terbaik. Sekali-kali menjadi istri yang patuh mungkin bisa menyenangkan hati lelaki itu. Tak mungkin juga selalu Gina yang mengeluarkan pendapat untuk didengar oleh Kevin.


"Iya bang!" sahut Gina lembut membuat hati Kevin adem. Coba kalau tiap hari Gina seperti ini. Tidak garang seperti macan betina. Kevin bakalan serasa punya istri rumahan setia.


Bibik sudah menyiapkan sarapan memanggil semua untuk sarapan di ruang makan. Gina dan Kevin sudah siap untuk menuju ke sana tetapi kedua bawahan Kevin belum juga keluar dari kamar. Keduanya masih belum puas menikmati mimpi Yang tertunda.


Kevin menghela nafas tahu kalau ini tugasnya memanggil kedua anak itu. Di sini Kevin tak ubah seperti sahabat mereka bukan Bos mereka. Kevin harus masuk kamar mereka untuk membangunkan keduanya. Tak mungkin juga Gina yang melakukannya karena sekarang dia berstatus istri orang.


Kevin juga tidak tega menyuruh Gina masuk ke kamar anak lelaki. Ini akan merusak reputasi Gina sebagai seorang istri.


"Biar Abang yang panggil mereka. Kamu langsung ke ruang makan saja!" Kevin bangkit dari sofa berjalan menuju ke kamar di mana Jay dan Gani sedang tidur. Kalau Gina yang panggil keduanya pasti akan kena hajar. Kapan Gina mau ramah tamah pada Gani.


Gina tidak menyahut. Gadis ini segera ke ruang makan untuk lihat persiapan makan pagi mereka. Memang bibik sudah sediakan makanan untuk mereka namun Gina sebagai istri wajib pantau menu mereka pagi ini.


Di ruang makan hanya ada bibik sedang menunggu mereka datang. Wanita paro baya itu setia menanti para majikan isi perut sebelum pergi aktivitas. Sudah lama rumah ini sepi tanpa majikan. Kini pagi ini semarak dihadiri beberapa orang baru dan majikan utama.


"Sudah beres bik?" sapa Gina lembut imbangi kebaikan bibik.


"Sudah nak Gina...mana yang lain?" Bibik mencari para cowok yang belum tampak batang hidung.


"Gani balik tidur. Oya bik...nanti tak usah sediakan makan siang. Kami makan di kantor saja."


"Makan malam?"


"Nanti kuteleponi bibik bila pulang makan. Kami makan sangat sederhana bik! Tak perlu menu istimewa."

__ADS_1


"Biasa nak Kevin makan sendirian. Kadang ditemani Nak Peter. Sudah lama nak Peter tak datang. Ke mana dia?"


Gina tak mungkin cerita pada bibi kalau Peter adalah orang yang bermasalah. Kevin telah memindahkan Peter ke tempat lain untuk menghindari kerugian lebih besar.


"Pak Peter sedang bertugas di tempat lain. Nanti juga pulang."


"Oh gitu ya! Oya nak Gina...ada keponakan bibik yang lain mau cari kerja di kota. Dia sudah dapat majikan sekitaran komplek sini tapi calon majikan masih di luar kota. Apa boleh dia nginap sehari dua hari di sini sampai majikan pulang?"


Gina mengangguk sambil tersenyum. Keluarga bibik pastilah orang baik. Bibik saja sudah puluhan tahun kerja di sini tanpa bawa masalah buat Kevin. Keluarganya pasti tidak akan menambah beban buat Gina dan Kevin.


"Silahkan bik! Dan Mai gimana? Mau netap di rumah ini atau mau cari kerja di luar juga."


"Kalau nak Gina mengijinkan biarlah Mai bekerja membantu bibik di rumah ini. Bibik mulai tua tidak segesit dulu. Kuharap nak Gina tidak keberatan Mai kerja sini."


"Tentu tidak bik! Rumah ini sangat luas memang butuh tenaga ekstra untuk bersihkan rumah. Yang penting bekerja baik dan jujur. Masalah yang lain nanti aku langsung bicara sama Mai ya!"


"Terima kasih nak...Bibik ke belakang dulu. Kalian langsung makan biar tidak terlambat ke kantor."


"Ya bik!" Gina biarkan bibik ke belakang kerja yang lain. Gina puji ketangkasan bibik urus rumah ini sampai demikian bersih. Dulu dia kerja sendirian tanpa ada pembantu lain. Pekerjaan bibik tentu saja seabrek.


Gina menarik kursi tempatkan pantat sambil menunggu kehadiran para cowok. Lama berdiri bikin laki pegel juga. Gina tak ada bakat jadi satpam bank yang berdiri terus berjam-jam.


Tak lama muncul tiga cowok dengan wajah segar. Wajah batere soak tak tampak lagi hiasi wajah ketiganya. Mereka tampak gagah maskulin menarik mata kaum hawa. Gina menopang dagu di meja perhatikan ketiga cowok ini. Semua menarik punya ciri khas masing-masing. Yang paling ganteng tentu saja suami tersayang Kevin.


"Puas tidur?" tegur Gina mulai keluarkan nada sinis.


Gani menangkap naga-naga bakal menyembur api segera pasang perisai anti panas.


"Bukan mulut ember tapi mulut gentong. Makanya jangan suka begadang kalau tak mampu. Kemampuan seupil mau sok-sokan jadi kalong. Bertapa di gunung Semeru biar sakti. Tahan ngantuk."


"Yaelah... begadang saja harus bertapa! Teori dari pakar mana? Menyesatkan..." omel Gani mulai kesal diusik Gina.


Kevin tahu kalau keduanya sudah berdebat takkan ada selesainya. Keduanya ngoceh tak ada ujung pangkal bisa habiskan waktu berjam-jam. Kevin harus melerai mereka untuk fokus menyantap sarapan dan segera pergi melakukan tugas masing-masing.


"Sudah... bismillah saja! Hati ini kita banyak tugas. Jay dan Gani berangkat ke kantor sedang aku temani Gina dulu. Kalau Hadi ada telepon bilang tunggu aku balik."


"Kami pergi dengan taksi online pak?" tanya Jay.


"Kalian boleh pakai salah satu mobil yang masih hidup. Mobil yang lain jarang dipakai takut baterainya telah tidak ada casnya. Nanti coba kamu periksa mana yang bisa dihidupkan. Kalian pilih sendiri mana yang bisa digunakan."


Jay dan Gani saling lempar senyum senang dapat berangkat ke kantor dengan mobil keren milik Kevin yang tersimpan di garasi. Soal menghidupkan mobil itu salah satu keahlian Jay. Jay kan termasuk montir pilihan di bengkel Om Sabri.


"Siap pak! Serahkan pada kami." seru Jay penuh semangat.


Selanjutnya keempat anak muda ini menyantap sarapan yang dihidangkan oleh Bibik. Masakan bibik lumayan enak apalagi di saat perut sedang membutuhkan asupan makanan. Mereka makan dengan lahap tanpa menyisakan makanan untuk menghormati jerih payah bibik memasak untuk mereka.


Selesai sarapan Kevin membawa Jay dan Gani untuk lihat mobil mana bisa dijadikan transportasi sementara buat Jay. Gani paling senang seakan dia yang jadi majikan disupiri oleh Jay. Pamor Gani langsung naik berapa puluh derajat.


Setelah di test hanya ada satu yang bisa distarter seketika. Mobil berbadan besar warna hitam. Harganya juga menguras kantong. Kevin jarang pakai sebab kurang leluasa dibawa di jalan macet. Kalau untuk keluar kota mungkin sangat nyaman. Tapi pagi ini mobil ini harus pamer di jalanan antar dua insan muda menuju ke kantor.

__ADS_1


Gina dan Kevin tinggalkan Jay dan Gani sebab mereka harus jemput pak Julio untuk berangkat bersama-sama ke kantor Gina. Pagi ini Kevin yang jadi supir untuk nona cantik pendamping hidup. Kevin sengaja manjakan Gina supaya dia tahu kalau berharga untuk seorang Kevin.


Jalanan belum begitu macet membuat keduanya agak santai melaju menuju ke rumah Pak Julio. Di dalam mobil suasana adem ayem dibantu hembusan angin dari AC mobil. Kevin tak lupa menyetel musik menambah suasana romantis di dalam mobil.


Sekali-kali Kevin melirik ke arah istrinya yang diam tidak mengeluarkan suara. Kevin tahu kalau Gina sedang memikirkan rencana hari ini mengambil alih perusahaan Mahabarata. Kevin tahu kalau sebenarnya Gina tidak ingin melakukannya tetapi dendam dan perdagangan sah mengharuskan Gina melakukan hal kejam ini. Gina bukanlah orang jahat seperti yang terpahat di wajahnya. Gina selalu bertindak kasar tetapi jauh di lubuk hatinya tersimpan rasa kasih sayang yang tak bisa dijangkau oleh siapapun. Hanya Gina sendiri yang mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati itu.


"Kok diam sayang? Galau?" tebak Kevin.


Gina tertawa kecil menghalau keresahan di dalam jiwanya. Hari ini merupakan momen yang sangat penting bagi Gina karena dia telah menuntaskan kekesalan yang telah dipendamnya puluhan tahun. Gina berhasil membalaskan rasa sakit hati ibunya karena perbuatan Subrata dan Angela yang semena-mena. Siapa menanam bibit jahat dia yang akan menuai buah busuk.


"Ach tidak bang... aku cuma sedang berpikir kalau kehidupan ini persis roda yang berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Tak mungkin juga kita selalu di atas. Suatu saat kita juga akan merasakan posisi di bawah."


"Beginilah hidup Gin! Kita harus pandai menyiasati hidup kita agar tidak selalu tergilas di bagian bawah. Abang harap setelah ini kau berhenti memendam rasa benci pada keluarga Subrata. Kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Abang harap cukup sekian. Kita memulai hidup baru dengan keluarga kecil kita. Anggap saja mereka merupakan memori yang harus kita hapus selamanya."


"Aku akan usaha bang. Tak ada yang ingin ku kejar lagi setelah memberi pelajaran kepada mereka yang sombong dan angkuh. Aku akan fokus bekerja sebaik mungkin memajukan perusahaan yang kalian percayakan kepada aku."


"Ini baru istri Abang!" Kevin gunakan sebelah tangan menyentuh pipi Gina yang mulus. Gina tak sempat menghindar atau memang sudah lelah hindari terus. Telapak tangan Kevin tak pindah dari pipi Gina dalam tempo lumayan panjang.


Ponsel Gina berbunyi menunjuk ada panggilan masuk. Gina menundukkan badan mencari benda pipih itu untuk lihat siapa yang memanggil. Sedikit susah Gina keluarkan juga benda canggih ini dari saku celana panjang.


Benda pipih itu tak henti menjadi meminta perhatian. Gina menggeser bulatan hijau untuk jawab panggilan masuk. Kevin ikutan curi pandang ke layar ponsel lihat siapa yang telepon.


"Assalamualaikum pak..." Gina duluan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam nak...kamu di mana?"


"Dalam perjalanan ke rumah bapak."


"Tak usah kemari lagi. Kamu langsung ke kantor dan menunggu bapak di sana. Pagi ini bapak harus mengantar adik-adik kamu ke sekolah karena sopir tidak datang. nanti dari sekolah bapak langsung berangkat ke kantor kamu. Pengacara sudah sampai di kantor kamu. Dia datang pagi sekali untuk memberimu pengarahan sebelum menandatangani kontrak dengan Subrata."


"Bapak harus datang lho! Gina tak pede tanpa bapak."


Pak Julio terdengar menyuarakan tawa derai senang keponakan bergantung padanya. Pak Julio merasa berguna untuk membantu keponakannya yang sedang dalam kesulitan. Ini juga untuk membayar waktu mereka yang terbuang selama puluhan tahun. Pak Julio ingin memberi yang terbaik kepada Gina dan Gani agar masa depan mereka terjamin.


"Bapak pasti datang. Kau sendirian?"


"Ada bersama pak Kevin... pak Kevin ingin menemani aku sekaligus memantau semua gerak-gerik Subrata."


"Baguslah! Nak Kevin itu pengusaha yang cukup bisa diandalkan. Kamu pasti aman bila bersama Kevin. Dia pasti takkan membuatmu rugi."


Gina melirik kearah wajah Kevin yang serius bawa mobil. Gina akui kalau Kevin adalah lelaki baik yang bisa diandalkan. Mereka berdua saling membutuhkan dan saling melengkapi.


"Aku tahu pak! Pak Kevin sangat perhatian."


"Kamu ini gimana sih? Sudah menjadi suami istri masih memanggilnya dengan sebutan Pak. Ini hanya akan membentang jurang pemisah antara kalian. Cobalah dengan panggilan yang lain yang bisa membuat kalian makin dekat!"


"Bapak tidak usah khawatir soal ini. Gina harus memisahkan antara urusan pribadi dengan urusan kantor. Di kantor beliau adalah atasan Aku sedang di rumah Aku adalah istrinya. Jadi aku harus bisa memisahkan antara urusan pribadi dengan urusan kantor."


"Baguslah kalau kau sadar itu. Ya sudah kamu tunggu saja bapak di kantor. Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..."


__ADS_2